
Ardian menarik tangan Dania masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan para bawahan yang di perintahkan nya yang kini telah keluar dari restoran, menaiki mobil masing-masing dan mengikuti Ardian dari belakang.
Suasana dari Ardian dan Dania seakan suram, Ardian yang tidak berbicara hanya diam menatap keluar jendela, begitu juga Dania yang diam meredakan tangisannya.
Sementara Ardo dan supir hanya fokus dengan tugas mereka.
Iris mata Ardian kini menatap Dania yang hanya menunduk diam.
"Dania apakah kau harus sangat sedih?" Tanya Ardian yang merasa kesal.
"..."
"Apakah lebih penting restoran itu, dari pada dirimu?!"
"Tidak" Ucap Dania pelan.
"lalu kenapa kau masih menangis?" Tanya Ardian.
"Kau telah kelewatan Ardian" Ujar Dania menatap mata Ardian matanya kembali berkaca-kaca.
"Apa maksudmu Dania? Kenapa kau menyalahkan ku!" Marah Ardian tidak terima.
"Ardian apakah puas bagimu merusak usaha orang lain? hiks..hiks tidakkah kau berpikir, bagaimana dia membangunnya!" Bentak Dania membuat Ardian terkejut.
"Dania mereka menyakitimu!"
"Lalu?"
"Aku tidak bisa membiarkan mereka!!"
"Bukan pemilik dari resto itu yang menyakitiku Ardian! Lalu kenapa kau merusak usahanya! Ardian kenapa kau begitu egois?!" Marah Dania .
"Egois? aku egois Dania? itu kah pikiranmu!" marah Ardian kembali
Suasana semangkin memanas, Ardo dan supir hanya berharap jawaban dari Dania tidak membuat tuan muda mereka marah. Ardo dan supir hanya bisa diam tanpa membuka suara di sana takut mereka akan menjadi sasaran empuk untuk pelampiasan marah Ardian.
"Iya kau egois Ardian! " Ujar Dania menatap mata Ardian, Ardian cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Dania.
"cih" Ujar Ardian membuang mukanya perasaan kesal di hatinya kini menghantuinya.
"Maaf tuan muda kita akan kemana?" Tanya supir itu takut.
"Kenapa kau banyak tanya! aku menjadikan mu supir bukan untuk banyak tanya!" Marah Ardian yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya. Dania melihat Ardian marah juga ikut merasa kesal di hatinya.
__ADS_1
Dan benar bahwa mereka akan menjadi pelampiasan Ardian di mobil ini.
"Pak antarkan ke apartemen saya" Ujar Dania membuat Ardian kini melihat ke arah Dania.
"Tidak. langsung ke rumah" Ujar Ardian.
"Ardian aku ingin pulang!" Bentak Dania tidak terima.
"Lukamu belum sembuh kau harus ke rumahku!" Bantah Ardian.
"Aku ingin pulang. jika tidak aku akan turun disini" Ujar Dania tidak mengalah.
"Dania!!"
Supir semangkin bingung mana yang harus diikutinya karna jika dia salah sedikit takut tuan mudanya akan lebih marah.
"Jadi tuan muda, nona kita akan kemana?" Ujar supir itu.
"ke apartemen ku pak!" Ujar Dania mutlak.
"ck"
Ardian yang tidak bisa lagi melawan Dania terpaksa harus mengalah dengan gadis keras kepala yang berada di sebelahnya. Kini Dania menggeser kan duduknya lebih menjauh dari Ardian. Ardian yang melihat itu lagi-lagi bertambah kesal namun hanya bisa diam untuk saat ini, dari pada dirinya harus berdebat lagi dan itu akan melukai hati Dania.
Kini mereka tiba di apartemen milik Dania.
"Ardian mungkin kita harus menenangkan diri masing-masing" Ujar Dania dengan mata yang berkaca-kaca melepaskan sabuk pengamannya dan akan membuka pintu mobil namun Ardian menahan tangan Dania.
"apa maksudmu Dania?" ujar Ardian denga kening yang berkerut tidak mengerti.
"Ardian melihat dirimu yang tadi, aku merasa bahwa Ardian yang ku kenal bukanlah orang lemah lembut seperti biasanya hikss" Tangis Dania langsung pergi dari mobil itu masuk apartemen miliknya.
"Dania!" panggil Ardian namun tidak di hiraukannya
Dania masuk ke dalam apartemennya, mengurung dirinya disana dan menangis merasa bersalah kepada Kenzo dan Sani.
Dia tidak tahu harus bagaimana bahkan dirinya terlambat datang dan membantu menangani Ardian pasti restoran itu akan baik-baik saja pikir Dania dalam hati. Bahkan sekarang dirinya takut Sani dan pelayan lainnya akan mengalami trauma akan kejadian itu.
"Maafkan aku hikss" gumam Dania di sela-sela tangisannya.
Ardian masih di dalam mobil melihat apartemen Dania dari kejauhan.
"Tuan muda" panggil supir itu.
__ADS_1
"Jalan!" perintah Ardian.
"Tuan apakah bekerja hari ini?" Tanya Ardo was-was.
"Tidak!"
"Tuan kita ke rumah atau kantor?" Tanya supir itu takut.
"apakah kau tidak mengerti aku tidak bekerja,langsung pulang!" ketus Ardian menatap supir itu membuat bulu kuduk supir itu merinding dengan tatapan dingin tuan mudanya.
"Ba..baik tuan muda"
di perjalanan Ardian hanya diam sekali-sakali mendengus kesal lalu berdecak. Supir dan Ardo hanya diam tidak ada yang berani bersuara.
kring...
Handphone milik Ardo berbunyi suara telepon dari Ardo membuat Ardian merasa terganggu dan terpaksa Ardo harus mengangkatnya.
"Permisi tuan muda" Ujar Ardo mengangkat telepon berbicara pelan di sana.
"ck" decak Ardian membuang wajahnya.
Ardian melihat keluar mobil disana banyak pemandangan indah namun tidak mengobati kesalnya.
"apakah mobil ini sudah tua? atau dirimu yang sudah tua? lambat sekali!" Marah Ardian kembali.
"Ma..maafkan aku tuan muda" Ujar supir itu, langsung menambahkan kecepatan mobil itu.
Kini mereka tiba di rumah mewah Ardian, Ardian keluar mobil menutup kuat pintu mobil membuat orang yang di dalam mobil berserta pelayan terkejut di buatnya. Suasana sekarang sangar dingin, walaupun biasanya memang dingin saat tuan mudanya sendiri namun berbeda saat bersama Dania suasana seakan hangat karena kehadiran nya. Wajah tuan muda mereka sangat datar namun biasanya tidak ada ekspresi saat ini sangat ketara bahwa Ardian terlihat sedang marah.
Ardian mondar mandir di ruang tengah nya membuat para pelayan bertanya-tanya karna itu. Saat seorang pelayan memberi Ardian minum, Ardian malah menghadiahkannya dengan tatapan tajam.
Ardian tidak menyentuh minuman yang di berikan untuknya, Ardian memasuki kamar mengunci dirinya disana mengacak rambutnya frustasi.
"Aghhh!"
Bayangan saat Dania membentak dirinya masih terbayang-bayang di pikirannya, dirinya cukup terkejut saat di bilang egois padahal yang di lakukan nya hanya untuk melindungi Dania mengapa Dania tidak mengerti.
"Dania kenapa kau berkata aku egois" gumam Ardian.
Ardian kini hanya memikirkan itu tidak perduli yang lainnya saat ini Ardian merebahkan tubuhnya yang lelah di kasur kembali memikirkan Dania. dirinya berharap segera mengantuk agar dapat tertidur namun tetap tidak bisa pikirannya tetap hanya terarah ke Dania. mengingat bahwa Dania menangis hanya karna sebuah restoran yang bahkan Ardian bisa langsung membelinya.
"Dania kenapa kau menangis hanya untuk sebuah restoran, pemiliknya saja tidak menangis" gumam Ardian.
__ADS_1
Handphone milik Ardian berbunyi sebuah panggilan bertulis nama Ardo disana namun Ardian tidak mengangkatnya.
Di sisi lain Dania kini melihat handphone nya ingin menghubungi Kenzo menanyakan bagaimana keadaan restoran namun niat itu di urungkan Dania karna mungkin saat ini Kenzo sedang sangat sibuk dengan urusannya,dirinya kembali berpikir untuk datang ke resto itu dan membantu-bantu namun dirinya merasa bersalah karna kejadian sana yang di cekik oleh Ardo tadi.