
"aku hari ini ke kampus" Ujar Dania menatap wajah Ardian, Ardian kini menatap wajah Dania sekilas lalu kembali makan tanpa menjawab perkataan Dania.
Ardian sudah selesai makan dia tidak menghabiskan makanannya, Ardian menunggu Dania selesai makan, setelah selesai Dania, Ardian langsung berdiri dan keluar dari ruang makan menuju mobil dan di susul Dania, Ardian membukakan Dania pintu mobil namun anehnya Ardian membukakan pintu belakang untuknya dan juga tidak memakai mobil yang mereka berdua biasa gunakan.
"Apa mungkin dia tidak ingin duduk di sebelahku" Ujar Dania dalam hati kini mimik wajah Dania terukir kesedihan namun harus kembali tersenyum seperti biasanya.
Dania masuk ke dalam mobil ternyata di dalam mobil terdapat Ardo dan juga seorang supir yang duduk di depan.
"Aneh kenapa Ardian membawa supir dan juga Ardo" Curiga Dania namun dengan cepat Dania menghilangkan rasa curiganya, Ardian duduk di sebelah Dania namun Ardian tidak menatap dirinya malahan menatap pandangan di luar mobil, Dania kini hanya menatap wajah Ardian yang tidak menatap wajahnya.
"Ardian apakah kau marah?" Tanya Dania.
"..."
"Ardian kenapa kau dari tadi tidak berbicara padaku" Tanya Dania namun bukannya menjawab Ardian hanya diam saja tetap melihat ke arah jendela.
"Tuan kita kemana terlebih dahulu" Tanya supir itu kepada Ardian.
"Kampus" Ujar Ardian dingin.
"Kau mau berbicara dengan supir kenapa tidak mau berbicara denganku" Ujar Dania dalam hati kesal. namun Dania menyadari Ardian masih mau mendengar kata-katanya dan mengantarnya ke kampus.
Kini mobil Ardian tiba di kampus Dania, Ardian kembali membukakan pintu untuk Dania.
Dan mata kagum seperti biasa tertuju untuknya padahal sudah tau bahwa Ardian adalah milik Dania.
Dania turun pandangan kagum ke Ardian kini berpindah saat melihat Dania menjadi benci seakan Dania adalah kuman yang harus di basmi.
Ardian langsung masuk mobil tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Dania.
"Sepertinya dia benar-benar marah" Ujar Dania dalam hati.
Dania kini melihat mobil milik Ardian yang semangkin lama semangkin menjauh dari kampusnya, Dania merasa sedih bahwa Ardian marah namun dia juga paham Ardian marah karna dirinya terluka.
Di dalam mobil Ardian kini termenung pandangan matanya seakan bisa membunuh siapa saja saat ini.
"Tuan pagi ini ada meeting" Ujar Ardo memberi tahu, tidak biasanya Ardo akan di panggil ke rumah Ardian tapi hari ini dirinya dan supir di panggil seperti bukan ciri Ardian yang lebih senang melakukan sendiri.
"Batalkan"
"Baik tuan muda" Ujar Ardo patuh tuan mudanya tidak pernah membatalkan meeting namun hari ini tiba-tiba membatalkan membuatnya sedikit bingung.
"Kita pergi ke resto tempat Dania bekerja" Ujar Ardo kepada supir itu.
Ardo melihat ekspresi Ardian yang cukup menakutkan tatapannya sekarang setajam pisau dia yakin ada sesuatu yang terjadi di cafe itu.
__ADS_1
"Hubungi beberapa pengawal" perintah Ardian kepada Ardo.
"Baik tuan muda" Ujar Ardo langsung cekatan dengan ponselnya disana.
"Apa yang akan kita lakukan tuan muda?" Tanya Ardo.
"Meratakan sebuah tempat" Ujar Ardian dengan nada yang penuh penekanan.
Sepertinya Ardo langsung paham bahwa restoran itu akan terjadi sesuatu, tidak heran Ardo diangkat menjadi tangan kanan Ardian dirinya langsung memahami tuan mudanya, langsung datang jika ada perintah dan tidak pernah terlambat bahkan berhianat. Ardo paham betul apa yang terjadi jika bawahan Ardian berkhianat, Ardian benci di khianati.
dalam beberapa menit sudah banyak mobil berada di belakang mobil milik Ardian sudah bisa di pastikan bahwa itu adalah bawahan-bawahan Ardian yang di perintahkan tadi.
Tidak lama mereka tiba di sebuah restoran tempat Dania bekerja saat Ardian turun dari mobil seleuruh mata tertuju padanya dari pembeli hingga pelayan restoran itu.
Ardian memerintahkan Ardo untuk memboking resto itu, Ardo pun menjalankan perintah itu.
Seluruh pembeli yang berada di sana meninggalkan restoran satu persatu karna Ardian membokingnya, tidak lupa juga mengganti makanan yang sudah di pesan para pembeli itu 2 kli lipat.
Setelah di rasanya pembeli sudah tidak ada lagi Ardian masuk ke dalam bersama para pengawalnya.
Ardian menghentikan jarinya pengawalnya langsung paham akan hal itu langsung saja menendang kursi, meja menghancurkan kaca dinding membuat para pelayan berteriak dan berlari ketakutan, namun pintu untuk keluar di hadang oleh pengawal Ardian membuat mereka tidak bisa keluar kemana-kemana hanya bisa berlari ketakutan dan melindungi diri sendiri.
"Tu..tuan ada apa ini" Tanya seorang pelayan di sana ketakutan.
"Hah?"
"Dania"
"oh dia si pencari masalah hari ini masuk siang, tuan jika kau punya masalah padanya tolong jangan hancurkan tempat ini" Ujar Giva.
"Heh" Ujar Ardian mengeluarkan smirk nya melempar sebuah vas bunga tepat di sebelah Giva yang hampir mengenai wajah Giva membuat Giva bergetar ketakutan langsung terduduk.
"Jadi kau" Ujar Ardian mengeluarkan tatapan tajam nya yang siap mengiris Giva.
Dania kini pulang cepat karna dosen tidak masuk ke kelasnya hari ini dia cepat-cepat menuju resto tempatnya bekerja.
Betapa terkejutnya Dania setelah tiba disana tempat itu sangat berantakan bangku berserakan begitu juga meja-meja banyak kaca yang pecah bahkan ada banyak orang yang berusaha menghancurkan tempatnya bekerja dan betapa terkejutnya Dania melihat Ardo sedang mencekik Giva disana yang sudah terlihat lemah tak berdaya.
"Berhenti!!" Teriak Dania.
Semua sorot mata kini menatap Dania yang baru tiba nafas Dania tersenggal-senggal langsung berlari menuju Ardian.
"Ardian ku mohon lepaskan Giva kumohon" Mohon Dania dengan panik sambil memegang tangan Ardian.
"Dania dia kan?" Tanya Ardian dengan mata yang tajam menatap Giva.
__ADS_1
"Ardian ku mohon hiks...hiks" Tangis Dania.
Ardian kembali menyaksikan tangis Dania yang membuatnya tidak tega.
"Huh Ardo lepaskan" Perintah Ardian.
"Baik tuan muda" Ujar Ardo langsung menjatuhkan Giva.
"uhuk...uhuk" Batuk Giva saat dirinya di jatuhkan
"Ardian ku mohon perintahkan bawahan
mu berhenti"
"Tidak, sebelum pemiliknya tiba kesini"
"Ardian kumohon aku janji melakukan apa pun" Ujar Dania kini terus menangis.
Dengan jentikan dari jari Ardian pengawalnya berhenti menghancurkan resto itu.
"Kau jika kau berani menyakitinya atau mengganggunya kau akan tahu akibatnya lebih dari ini" Ancam Ardian kepada Giva begitu juga sorotan matanya kepada pelayan lainnya.
Tak lama Kenzo datang ke restonya yang sudah berantakan.
"Ada apa ini?" Tanya Kenzo panik.
"Tanyakan pada bawahan mu" Ujar Ardian yang kini memegang pinggang Dania.
"Arya, Giva, yang lain ada apa ini" Ujar Kenzo menatap bawahannya yang terlihat sudah sangat ketakutan.
"Giva dia mengganggu Dania, dan tuan ini marah kepadanya dan yang lain"
"Itu tidak benar" Bantah Giva"
"Itu benar" Ucap pelayan yang lain Giva merasa sangat terpojok sekarang tidak ada yang membelanya.
"Apa itu benar Dania" Tanya Kenzo pada Dania, namun Dania tidak menjawab hanya tunduk terdiam.
"Dia diam berarti aku tidak melakukannya, tuan dan pak kenzo percayalah padaku" Ujar Giva berusaha membela diri.
"jika kau terus berbohong aku punya seribu cara membuatmu berbicara jujur" Ancam Ardian membuat Giva terdiam takut.
"Aku akan membawa kekasihku, dan aku tidak ingin hal ini terjadi lagi jika tidak restoran ini bisa saja ku tutup" Ancam Ardian saat melewati Kenzo.
Kenzo hanya diam tidak membalas perkataan Ardian.
__ADS_1