Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo

Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo
Mengantar makanan


__ADS_3

Panggil dari Dania membuat Ardian langsung menatapnya.


"Ada apa hmm?'


"Apakah yang kau berikan tadi pagi memang benar pekerjaan ku?"


"iya Dania apakah sulit?" Tanya Ardian takut kekasihnya kesulitan .


"Tidak. Tapi Ardian bisakah aku mendapatkan pekerjaan yang adil seperti lainnya?"


"Dania kau tidak suka?" Tanya Ardian.


"Bukan aku sangat menyukainya, namun aku hanya ingin seperti yang lainnya aku ingin mempunyai pengalaman seperti asisten yang sesungguhnya"


Ardian membuang nafasnya kasar mengusap kepala Dania.


"Baiklah"


ujar Ardian terpaksa membuat Dania senyum ceria.


Satu Minggu kini Dania sudah bekerja di perusahaan Ardian. Pekerjaannya memang hal yang sulit namun dia harus terbiasa akan hal itu. Dia berkutik dengan laptopnya pagi ini dengan secangkir kopi berada di dekatnya, tangannya memegang keningnya yang sedikit pusing.


Jam makan siang telah tiba seperti biasa Ardian pasti menelpon Dania ke ruangannya untuk makan bersama.


"Bolehkah aku masuk CEO Ardian" Ujar Dania membuat-buat suaranya seakan karyawan lainnya.


"Sayang suara tidak enak di dengar" Ujar Ardian matanya lurus menatap layar monitor.


Dania datang menutup layar monitor dengan bukunya membuat Ardian menatap mata Dania.


"Kau memanggilku hanya untuk melihat mu menatap monitor Ardian?" Dania cemberut membuat Ardian gemas tersenyum menatap wajahnya.


"Tentu saja tidak, aku merindukanmu"


"hmph bohong sewaktu aku datang kau tidak menatap ku" Ujar Dania melipatkan tangan di dadanya.


"Sekarang aku menatapmu bukan?"


Dania menatap Ardian kembali memberikan senyum manisnya.


Disisi lainnya kini Rilyi datang bersama sahabatnya ke kantor Ardian.


"Permisi apakah bisa bertemu dengan CEO Ardian?"


"Maaf apa sudah buat janji"


"Belum tapi aku tunangannya" Ujar Rilyi tersenyum membuat resepsionis yang menyambutnya terkejut.


Tunangan? Bukannya CEO Ardian memiliki kekasih batin resepsionis itu bingung. Dan bingung juga wanita mana yang sebenarnya, wanita di depannya terlihat tidak berbohong pakaian yang di pakainya adalah pakaian mewah. Jika benar wanita ini adalah tunangan Ardian dia tidak mempersilahkan masuk bagaimana dengan pekerjaannya?

__ADS_1


"CEO ada di ruangannya di lantai atas biar saya antar"


"Baiklah terimakasih"


Resepsionis itu mengantarkan Rilyi dan sahabatnya ke depan ruangan Ardian lalu resepsionis itu pergi takut jika pekerjaannya salah.


Rilyi membawa sahabat karibnya untuk menemui Ardian dia adalah Belia, sahabat Rilyi yang merupakan wanita dari keluarga sederhana dia bisa bersahabat dengan Rilyi karna sebuah beasiswa yang dia punya.


tok...tok


Suara pintu di ketuk namun tidak ada sahutan dari dalam Rilyi coba mengetuk lagi hingga suara masuk yang terdengar seperti nada tidak senang didengarnya.


Pandangan pertama yang di lihatnya adalah dimana tangan Dania menyuapi Ardian kedua orang yang berada di pintu terkejut sama hal nya dengan Ardian begitu juga Dania. pikiran Rilyi saat ini hanya mengatakan itu hal wajar Ardian menganggap Dania sebagai adik namun entah kenapa hatinya sakit padahal dirinya hanya bertemu Ardian baru sekali.


"Rilyi tunangan mu selingkuh!!" Ujar Belia dengan nada suara keras, alis Ardian berkerut menatap wajah Belia pandangan Belia terpaku pada Ardian terpesona.


"Tunangan" Batin Dania kembali sadar diri akan posisinya.


"Kenapa kau di sini!"


Raut wajah Ardian seakan tidak senang.


"Aku mengantarkan mu makanan" Ujar Rilyi tersenyum paksa.


"Tidak perlu!!"


"Kak?" Beo Ardian merasa kesal dan marah di panggil seperti itu.


"Ahhh iya Dania ayo kau makan juga" Ujar Rilyi tersenyum menatap Dania.


"Rilyi kau terlalu baik! sampai-sampai mengajak perusak hubungan seseorang makan!!!!!!!" Belia menatap tajam ke arah Dania, Dania hanya tertunduk. Ardian kembali menatap tajam Belia membuatnya takut.


"Belia dia adik angkat Ardian"


"HEH...ADIK?" Ujar Ardian tersenyum miring.


Ardian menarik Dania mencium bibirnya membuat Dania melotot.


Rilyi hanya mematung di tempatnya berdiri memegang dadanya yang sakit.


Dania melepaskan ciumannya karna kehabisan nafas. Dania menatap wajah Rilyi yang kini menunduk.


"Apakah seorang kakak angkat mencium adiknya?" Ujar Ardian membuat Rilyi bungkam. Ternyata memang benar bahwa Dania adalah kekasih Ardian sudah terlihat jelas dari tatapan Ardian ke Dania


"Aku tidak pernah setuju perjodohan ini, katakan itu pada orang tua mu"


"Ba...baik"


"Dan silahkan pergi dari kantorku"

__ADS_1


"Apa maksudmu bagaimana bisa kau lebih memilih gadis seperti itu dari pada Rilyi, dia itu tunanganmu!!" Ujar Belia.


"Dia bukan tunangan ku dan sekarang pergilah!! sebelum satpam datang" marah Ardian membuat Belia takut.


Rilyi langsung menarik tangan Belia, sementara Dania melihat belakang punggung Rilyi sangat tidak tega melihatnya. Dirinya bukan siapa-siapa jika di bandingkan Rilyi yang mendapatkan restu langsung dari orang tau Ardian bahkan sudah di jodohkan namun Ardian terus memilihnya.


"Ardian"


panggilan dari Dania membuat Ardian perlahan-lahan mangatur emosinya.


Ardian membalas senyuman Dania menarik pinggangnya memeluk tubuh Dania yang hanya sebatas dadanya.


"Ayo kita lanjutkan yang tadi" Ujar Ardian memegang dagu Dania mengarahkan bibir Ardian ke bibir Dania namun secepat kilat Dania langsung kabur, membuat Ardian kesal.


Dania di ruangannya memikirkan kejadian tadi merasa kasihan pada Rilyi, Dania memikirkan bagaimana pertemanan orang tua Ardian dengan orang tua Rilyi. apakah mereka masih di jodohkan?


Pertanyaan itu terus berputar di kepala Dania dan kini dia memegang bibirnya bekas dirinya di cium Ardian membuatnya salah tingkah sendiri.


Di sisi lain kini Rilyi Dan Belia keluar dari kantor Ardian menuju sebuah Cafe.


"Rilyi bagaimana bisa kau tunangan dengan seorang playboy!!"


"Dia bukan playboy Belia"


"Lalu apa itu tadi? coba jelaskan"


"Aku...aku tidak tahu"


"Bagaimana jika ku peringatan agar dia tidak mendekati Ardian?


"Jangan Bel kau lihat Ardian begitu menyayangi nya"


"Tidak mungkin saja dia hanya ingin menikmati kekayaan Ardian" Ujar Belia membuat Rilyi berpikir tentang Dania.


"Apakah dia hanya ingin harta Ardian?" Tanya Rilyi pada dirinya.


Mereka makan dengan mulut Belia yang terus-terusan mengoceh tidak jelas memberi solusi untuk Rilyi.


Di sisi lain Dania kini keluar dari ruangannya ingin melaporkan hasil kerjanya ke Ardian namun tatapan orang-orang kantor tertuju padanya, melihat diri Dania sambil bergosip. Dania bingung apa yang terjadi, dia mulai biasa di tatap karna kekasih Ardian atau bahkan karyawan yang iri padanya. Namun tatapan kali ini berbeda dari biasanya.


"Sudah ku bilang dia hanya simpanan"


"heh! Benarkan tunangan tuan Ardian yang asli datang kemari"


"Iya aku sudah dengar tadi, lihat kurasa wanita itu menggoda CEO Ardian dengan tampang polosnya.


"Tidak bisa di percaya"


Begitulah perkataan yang di dengarnya saat melewati kerumunan orang yang tadi menatapnya. Dania menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit dari perkataan orang-orang yang menilai dirinya begitu.

__ADS_1


__ADS_2