Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo

Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo
Biarkan aku gantikan posisinya


__ADS_3

Rilyi menunggu Ardian di depan rumah langkahnya tak henti berputar-putar mengelilingi kanan dan kiri, dia menggigit kukunya tanda bahwa Rilyi sangat khawatir bagaimana keadaan Ardian yang pergi dengan pengaruh obat sampai tidak pulang.


Kadang kala air mata Rilyi tumpah mengingat bahwa Ardian akan mencari wanita penghibur untuk memuaskan dirinya, apa gunanya ia sebagai istri jika ia tidak bisa memuaskan Ardian. Rilyi memilih duduk memijat pelipisnya pusing.


Pernikahan hanya sebatas kertas apa gunanya. Rilyi ingin Ardian mencintainya berlaku selayaknya suami istri, mereka memang satu atap tapi tidak berbagi ranjang ataupun suka dan duka. Rilyi mengepalkan tangan kesal, sedih, marah menjadi satu.


Apa aku tidak bisa menggantikan posisi Dania di hati mu apa kurangnya aku Ardian? Aku bisa seperti Dania batin Rilyi, dia menangis bingung.


Rilyi cukup lelah menunggu Ardian ia tidak tidur semalaman bahkan menghubungi kantor tapi hasilnya nihil Ardian tidak datang bekerja perasaan Rilyi semangkin kacau.


Suara mobil mengalihkan perhatian Rilyi, hatinya kini merasa sedikit lega mobil Ardian terparkir di depannya tapi matanya menyipit di kala yang keluar supir yang memapah Ardian yang tengah mabuk.


Rilyi menutup mulutnya dengan tangan, apa yang terjadi dengan dengan suaminya sampai mabuk berat seperti itu.


"Ada apa ini pak"


"Mabuk non, tadi saya di suruh jemput tuan muda Uda seperti ini"


.


Rilyi mengatupkan bibirnya bingung "Kemarin malam suami saya kemana pak?"


Supir mengalihkan pandangan ke arah lain takut bicara sejujurnya ke Rilyi yang akan sakit hati mendengar arah tujuan semalam. Meskipun supir di suruh turun tetapi Ardian dari awal telah menyuruhnya ke arah apartemen Dania.


"Emmm saya gak tau non, tuan mengendarai sendiri semalam"


"OOO begitu pak biar saya aja yang mapah"


"iya non hati-hati yaa"


Dengan kesadaran yang tinggal setengah Rilyi memapah Ardian, Rilyi sedikit kerepotan karena Ardian yang cukup berat Rilyi hanya mampu mengangkat tubuh Ardian ke sofa.


Rilyi menatap wajah suaminya yang tampan ingin sekali rasanya Rilyi mengecupnya, Ardian seperti terganggu dari tidurnya.


"Mas" panggil Rilyi sedikit mengguncangkan tubuh Ardian.


"Dania"


Mata Rilyi memanas, matanya berkaca-kaca saat Ardian mabuk masih sempat memanggil nama Dania, sebegitu pentingkah nama Dania. Iri sangat iri melihat Ardian memperlakukan Dania.

__ADS_1


Rilyi mengusap air matanya "Mas semalam kau kemana?"


Rilyi menanyakan ke Ardian dia berpikir bahwa Ardian tidak mabuk sepenuhnya dan masih sadar jika dia menanyakan sesuatu.


Rilyi menunggu tapi tidak ada jawaban dari Ardian Rilyi berbalik ingin mengambil sesuatu untuk di makan.


"Ke apartemen Dania"


Deg! Hati Rilyi tercabik tatkala mendengar itu meskipun hanya igauan tapi itu kejujuran. Rilyi menutup wajah dengan telapak tangannya menangis.


"Kapan kau akan menyadari cintaku Ardian" gumam Rilyi.


Rilyi sangat yakin bahwa Ardian melakukan sesuatu dengan Dania tidak mungkin dengan nafsu Ardian yang memuncak mereka tidak melakukan apapun.


Rilyi tidak jadi mengambil makanan dia membiarkan perutnya kosong menunggu suaminya bangun di sofa.


Ardian bangun dengan keadaan masih pusing pengaruh dari alkohol yang ia minum, Ardian duduk dan melihat sekeliling ternyata dia sudah di rumah di sana dia melihat Rilyi tengah duduk menatapnya.


"Dari mana kamu mas?"


Ardian diam jengah menjawab pertanyaan yang tidak berguna untuknya.


"Bukan urusanmu, jangan campuri urusanku"


"Mas kamu dari rumah Dania kan? hikss ya kan mas! Kamu ke rumah mantanmu itu!" Rilyi berdiri nafas memburu sesak dalam dadanya tidak dapat ditahan lagi.


"Jika iya apa urusannya denganmu!"


"Mas sadar dia Uda jadi mantanmu aku ini istrimu mas!! Hargai aku walaupun aku cuman istri kontrak"


Mata Ardian menajam dikala mendengarnya "Aku tidak melarang mu memiliki lelaki lain jadi bukan urusanmu aku dengan siapa!"


Rilyi menggigit bibir geram mendengarnya, Rilyi langsung berlari memeluk Ardian dengan erat, mata Ardian mendelik tajam karena perilaku wanita di hadapannya.


"Mas aku mencintaimu. Aku menyayangimu izinkan aku mengganti posisi Dania, ku mohon"


Mendengar perkataan dari Rilyi lantas Ardian langsung melepaskan pelukan itu hingga membuat Rilyi jatuh ke sofa.


"Akhh" Ringis Rilyi.

__ADS_1


"Tidak ada hak mu bicara seperti itu jika kau memaksa aku akan mempercepat proses perceraian denganmu!"


Rilyi melotot menatap Ardian "jangan ceraikan aku mas kumohon"


Ardian diam menatap prempuan yang tengah menangis sesenggukan disana, ia lebih memilih melangkahkan kakinya ke kamar meninggalkan Rilyi yang memanggil namanya berkali-kali.


Rilyi berusaha lah bukan menangis Ardian tidak akan mencintai orang cengeng sepertimu batin Rilyi mengusap air matanya bangkit dari tempat dia jatuh.


Rilyi mengambil handphone menghubungi nomor Dania mengajak bertemu di Minggu depan.


Rilyi lebih memilih ke dapur membuat makanan agar Ardian bisa menghilangkan efek mabuknya juga. Rilyi kini sudah cekatan dengan urusan dapur tanpa bantuan pelayan rumah.


Walaupun ujung-ujungnya Rilyi tahu bahwa makanan ini tidak akan di makan dan di buang begitu saja.


Rilyi membuat sup tapi dia memikirkan cara agar sup ini diminum Ardian, ia memanggil pelayan meminta tolong membantu untuk bersandiwara seolah-olah makanan ini adalah buatan pelayan.


Tokk...tokk


Pintu kamar Ardian di ketuk, kepala pelayan mengatakan bahwa ia sedang membuat sup di bawah dan hanya di angguk oleh Ardian.


Ardian menatap sup yang saat ini di genggaman nya tanpa pikir panjang langsung meminum sup yang masih hangat itu tanpa berpikir siapa yang membuatnya.


Rilyi memperhatikan Ardian dari balik tembok melihat sup yang di buatnya dinikmati Ardian membuat Rilyi senang bukan main meskipun berpura-pura bahwa pelayan yang membuatnya itu lebih dari cukup bagi Rilyi.


Ardian menghabiskan sup yang di mangkok lalu mengambil sebuah kue yang ada di kulkas yang memang asli buatan pelayan, Rilyi melihat itu menerka-nerka bahwa Ardian menyukai kue.


Rilyi selangkah demi selangkah harus kau jalani demi kebahagianmu sendiri kau harus berjuang walaupun itu sakit batin Rilyi mencoba bangkit dari kesedihan itu.


"Tidak peduli sebaik apa dulunya Dania aku pasti bisa lebih baik darinya. Ardian ku pastikan kau jatuh cinta padaku"


Rilyi menata barang-barang yang akan di gunakan membuat sebuah cake dia memang belum bisa membuatnya tapi ia belajar dahulu sampai kue itu benar-benar bisa di sajikan untuk Ardian, Rilyi memanggil beberapa pelayan untuk membantunya.


Rilyi semangkin gencar dengan tekadnya membuat hari Ardian luluh untuknya meskipun pahit yang ia terima Rilyi tidak peduli toh juga Ardian adalah suaminya dan tidak akan mungkin bisa kembali kepada Dania pernikahan mereka sudah sah sebelum dua tahun pasti Rilyi bisa.


**Hai para pembaca author semua 🥰


Seneng banget dapat banyak komentar dan like dari kalian setia terus yaaa baca novel ini💋 yang udah mampir jangan lupa like, komen, tambah ke favorit, vote dan hadiahnya ya jika kalian mau hehe...


kalian tim mana ini Dania atau Rilyi**?

__ADS_1


__ADS_2