Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo

Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo
pertengkaran Siska vs Rere


__ADS_3

Terserah Ardian mau berkata apa tentang dirinya toh mereka juga sudah berakhir, dan lagi Ardian akan memiliki anak dengan Rilyi.


"Kak yuk kekantor masih banyak yang harus dikerjakan" Tutur Dania berdiri sambil menggandeng tasnya dibahu.


"Baiklah Dania" Abra berdiri dengan sedikit merapikan jas nya.


"Ardian kami pergi terlebih dahulu" pamit Abra sopan namun pandangan tajam tak lepas dari keduanya.


Dania ingin melangkahkan kakinya namun tiba-tiba ia sangat pusing sehingga langkahnya tak seimbang, membuatnya terpeleset.


"Dania" Teriak Ardian dan Abra secara bersamaan. Dengan sigap Abra menangkap Dania lebih dahulu sebelum Ardian padahal Ardian telah melangkah berdiri. Ia terlambat selangkah tangannya terkepal dikala melihat pemandangan dimana Dania jatuh ditangan Abra.


"Makasih kak" Ujar Dania langsung bangkit.


"Kau kenapa bisa hampir jatuh Dania? Kau harus lebih hati-hati lagi" Tutur Abra cemas namun dibalas senyuman manis Dania.


"Aku gak papa kok kak"


"Benarkah?"


"Iya"


Alis Ardian berkerut, emosinya sudah diujung tak tahan lagi melihat orang yang didepannya yang sudah terlihat dengan jelas Abra memperlihatkan tekadnya mendapatkan Dania.


"Mereka cocok yaa mas, aku harap Dania bisa menikah dengan Abra lalu dia bisa menemukan kebahagiannya" Tutur Rilyi dengan mata berbinar melihat pemandangan romantis tadi.


Ardian yang mendengarnya menjadi panas ia berdecih "Heh, aku harap tidak" Ardian jengkel dengan perkataan Rilyi.


Rilyi langsung menoleh kearah Ardian"Kenapa mereka terlihat serasi padahal"


Serasi lucu sekali Abra dan Dania bersama tidak akan mungkin Abra tidak pantas untuknya Batin Ardian.


"Yaudah yuk mas kita pulang" Rilyi tersenyum sambil menarik tangan Ardian, namun Ardian malah melepaskannya begitu saja.


"Kau pulang sendiri terlebih dahulu aku masih ada urusan" Tutur Ardian dingin.


"Tapi mas, bukannya kita mau belanja kebutuhan kenapa gak jadi"


"Aku ada urusan, kau telepon supir di rumah untuk menjemputmu"

__ADS_1


Ardian berjalan dingin keluar dari restoran meninggalkan Rilyi yang tengah mematung disana dengan mata yang telah berkaca-kaca.


Mas bukannya sepakat kita tengah bertaruh cobalah ikuti permainan ku, kau pasti jatuh cinta padaku aku yakin itu batin Rilyi membendung air mata yang akan tumpah.


Ardian mengebut melajukan mobilnya entah kemana tujuannya ia pun juga bingung, ia juga merasa jijik jika harus mabuk lagi dan lagi entah kenapa hatinya merasa tidak senang hati ini.


***


Abra mengantar Dania sampai di perusahaan namun ia hanya mengantar didepannya, ia tidak masuk kekantor karena ada suatu urusan mendesak ditempat lain jadi ia memilih meninggalkan pekerjaan sebentar.


Dania masuk biasa tampang permusuhan selalu diperhatikan Rere untuknya, Dania coba mengabaikan langsung duduk kemejanya namun Rere mendatangi Dania dengan langkah sombongnya langsung menggebrak meja Dania.


"Ke hotel mana sama pak Abra?" Pertanyaan aneh langsung dilontarkan Rere. Dania lebih memilih mengabaikan hal yang tidak seharusnya diurus ia lebih memilih menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.


"Hebat juga yaaa anak baru bisa keluar masuk hotel sama pak Abra!!" Tutur Rere dengan suara cukup kencang, yang bisa membuat orang yang mendengar akan salah paham padanya.


Dania berhenti mengetik menatap kearah Rere membuat Rere tersenyum puas "Tolong jika tidak tahu apa-apa mending diam saja!"


"Udahlah gak usah sok polos semua juga tahu Lo godain pak Abra, kenapa? Baru pertama kali yaa ketemu cowok ganteng terus sukses jadi kegatelan ngedeketin. Kau gak tau keluarga pak Abra, wanita sepertimu tidak pantas mendekatinya. sadari diri!" Tutur Rere dengan pandangan merendahkan.


Sadar diri, sadar diri! Kata-kata yang Dania sudah muak mendengarnya, Dania bangkit dari tempat duduknya mendekat kearah Rere dengan pandangan tajam.


Rere tak menyangka ada pandangan seperti itu Dimata Dania. Tapi entah kenapa rasa pusing Dania tak dapat tertahankan membuat Dania lemas ingin jatuh membuat sudut bibir Rere tersenyum licik. Rere langsung mendorong Dania hingga membuat Dania jatuh di bangku tempatnya duduk.


"Heh jangan sok melawanku kau terlalu lemah" Tutur Rere sambil memegang segelas air yang ia dapat dari meja Dania.


Dania memegang kepalanya yang berdenyut sangat pusing untuk melawan Rere balik sekarang ia hanya dapat terduduk. Tiba-tiba kepalanya dingin ternyata Rere menyiram Dania dengan air. Dania marah namun tidak bisa melawan ia hanya pasrah dengan yang dilakukan Rere padanya.


"Dasar j*Lang baru pertama kali aku melihat j*Lang yang tak berani melawan sepertimu" Tutur Rere yang tangannya mengambil lagi kopi yang siap disiram ke Dania.


Tangan Rere tiba-tiba tertahan membuat Rere terkejut, ia melihat kebelakang siapa yang berani melawannya ternyata Siska dengan mata yang menyala kini menatapnya tajam, Siska merebut kopi yang akan menyiram Dania. Siska langsung menyiram ke Rere.


"Akhhhh" Teriak Rere, bajunya yang rapi kini terkena noda kopi rambutnya yang wangi kini menjadi wangi kopi.


"kau" Tangan Rere hendak terangkat namun dengan sigap Siska menangkisnya.


"Dewii" Panggil Siska dengan cepat Dewi datang. Dewi cukup terkejut dengan apa yang terjadi namun matanya kini beralih kearah Dania yang tampak Manahan sakit.


"Ada apa Siska?" Bingung Dewi.

__ADS_1


"Ambil aku air cepat" Tutur Siska.


"Untuk apa Siska?" Tanya Dewi kebingungan.


"Ambil saja" Ujar Siska dengan pandangan menyeramkan menatap Dewi membuat Dewi bergidik takut.


Dewi langsung berlari mengambil segelas air didekat meja langsung menyerahkan ke Siska.


"Terima kasih"


"Heh kau senang sekali sepertinya mengganggu orang yang dibawahmu"


"Apa yang kau lakukan Siska jangan coba-coba berani padaku!!"


Siska langsung menyiram air tepat diwajah Rere "Kenapa aku harus takut padamu? Aneh sekali" Tutur Siska langsung menghempaskan Rere hingga terjatuh.


Rere merasakan nyeri dipinggulnya, ia hampir lupa wanita didepannya sedikit gila ia tak peduli apa pun mangkannya itu Rere menjadikan Siska temannya.


Siska langsung menunduk menatap remeh Rere.


"Kak Siska sudah" Ujar Dania lemas.


"Diam Dania ini urusan dia denganku, aku juga lupa belum balas dendam karena dia menjebakku" Ujar Siska sambil menyeringai membuat Rere takut.


"Kenapa kau takut aku lihat kau mengganggu orang cukup berani" Ujar Rere sambil memegang gelas memainkan didepan Rere.


Dewi bingung ia harus apa Siska terlihat seperti peran antagonis sekarang. Rere yang tak tahu harus apa memilih berlari dari sana.


"Heh dasar pengecut"


Siska langsung mendekati Dania "Kau tidak apa-apa Dania kau terlihat sakit"


"Dania kau sebaiknya pulang, tinggalkan saja pekerjaan" Tutur Dewi khawatir.


"Tidak apa-apa kak aku bisa melakukannya kok" Ujar Dania seperti biasa keras kepala.


"pulang saja kau tidak akan kena marah pak Abra" Ujar Siska memaksa.


"Pekerjaannya sebentar lagi selesai, bentar lagi juga pulang kak tenang aja" Ujar Dania tetap melanjutkan pekerjaan.

__ADS_1


__ADS_2