Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo

Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo
Dania dan Rilyi bertemu


__ADS_3

Dania diam bingung harus menjawab apa dia ingin menjawab ayah Rilyi hanya Rey itu lah yang dia kenal tapi belum bisa di pastikan bahwa dia lah pelakunya.


"Aku tidak tahu Ardian"


Keributan keluarga Rilyi di mulai barang berserakan dimana-mana dari mulai vas hancur, gelas yang pecah dimana-mana hanya karna Rilyi yang menentang Rey ayahnya.


"papa aku tidak bisa menikahi Ardian" Tangan Rilyi kini memegang pipinya yang merah ulah dari Rey.


"Diam! kau tidak berhak membuat keputusan, Ardian pria luar biasa begitu juga keluarganya. Kau tetap harus menjalankan pernikahan ini agar perusahaan kita semangkin jaya!"


"papa dia memiliki kekasih, dia mencintai kekasihnya"


"Aku tahu! mangkannya aku menyuruh orang menghabisi Dania! Tapi tidak ku sangka, Ardian datang menyelamatkannya"


Rilyi melotot tidak menyangka ayahnya akan melakukan kegiatan sekeji itu bahkan mencelakakan orang lain demi keuntungan pribadinya, Rilyi menggeleng tidak percaya dengan orang yang didepannya ini dia bukan seorang ayah melainkan monster.


"Pa aku tidak bisa menikahinya! apa kau ingin aku menikahi orang yang sudah mencintai orang lain"


"Heh jika kau tidak menikah dengannya, adikmu akan jadi istri dari tuan Tama" Tunjuk Rey kepada adiknya Rilyi, Kethie yang sedari tadi menangis di pelukan mamanya.


"Ti...tidak jangan" Ujar Rilyi menutup mulutnya, dia tidak mungkin membiarkan adiknya menikahi pria tua yang terkenal mesum itu.


"Menurut lah" Rey meninggalkan ruang itu, Rilyi langsung berlari ke pelukan mama dan adiknya mereka menangis disana, mereka tidak bisa meninggalkan Rey dia pasti akan mencari lagi dan membawa mereka.


Dia tahu ambisi Rey untuk menjadi kaya dan lebih kaya sangat kuat tidak peduli cara apa pun dia lakukan asal tujuannya tercapai.


Keadaan Dania berangsur-angsur membaik dia sudah kembali bekerja, padahal Ardian sudah melarang keras tapi bukan Dania namanya jika tidak keras kepala.


Dania pulang kerumahnya dalam ke adaan lelah, lagi-lagi dia melihat Belia didepan apartemen miliknya, kali ini Dania hanya melewati tanpa menegurnya.


"Tunggu" Ujar Belian mencakal tangan Dania


"Ada yang ingin kuberi tahu ini tentang Ardian"


Dania mempersilahkan Belia untuk duduk belum ada yang memulai pembicaraan hanya saling melihat satu sama lain.

__ADS_1


"Aku akan langsung ke topik saja, aku tidak suka berbasa-basi denganmu sejujurnya"


Sombong Belia melipatkan kakinya.


"Apa yang ingin kau katakan?"


"Rilyi harus berjodoh dengan Ardian tidak perduli kau setuju atau tidak, jika kau ingin tahu Rilyi adalah gadis baik bahkan ingin membatalkan perjodohan ini sudah jelas dia mencintai Ardian, hal itu membuat ayah Rilyi murka kau bisa melihat ada beberapa luka yang terlihat di tubuh Rilyi"


Dania menutup mulut tidak percaya ada ayah yang Setega itu pada anak sendiri. Dania tidak langsung percaya perkataan dari Belia bisa jadi ini hanyalah siasat agar dia menjauhi Ardian.


"Apakah yang kau katakan itu benar?"


"Kau bisa membuktikan sendiri"


"Jadi maksud kedatanganmu hari ini?"


"ya aku ingin kau meninggalkan Ardian" Belia berdiri melangkah ke pintu keluar.


"Itu tidak mungkin" Ujar Dania yang membuat Belia menghentikan langkahnya tersenyum sinis.


Kini Dania sudah percaya dalang dari penyebab dirinya diculik adalah benar-benar Rey ayah dari Rilyi, bagaimana bisa padahal awalnya Dania percaya bahwa Rey benar-benar orang baik siapa sangka.


Dania kembali tenggelam ke pikirannya lagi dia memainkan ponselnya seraya mencari tahu tentang Rilyi dan mengajaknya ketemu di sebuah cafe.


Dania duduk rapi memainkan ponsel menunggu kedatangan Rilyi malam ini.


"Maaf ya, kau menunggu lama" Rilyi menarik kursi didepan Dania untuk disana.


"Tidak masalah, pesan lah terlebih dahulu baru kita berbicara" Dania tersenyum lalu dibalas juga dengan Rilyi.


Dania sadar Rilyi baik tidak mempermasalahkan kejadian sewaktu di kantor lalu, dilihat terdapat beberapa memar di lengan bahkan sedikit luka kecil diujung bibir Rilyi. Mereka makan dengan tenang dan sesekali mereka saling melempar senyum.


"Apa yang ingin kau bicarakan kepada ku Dania" Ujar Rilyi ramah.


"Aku hanya ingin meminta maaf atas kejadian kantor itu, tapi aku memang benar kekasihnya Ardian bukan adiknya" Dania menunduk Rilyi menggenggam tangan Dania.

__ADS_1


"Dari awal aku tahu Dania, dari tatapan Ardian kepada dirimu aku tahu Ardian menatapmu sangat lembut, aku tahu juga perbedaan tatapan untuk seorang adik dan untuk seorang kekasih. Aku lah yang salah tidak seharusnya mengganggu kalian, tapi Dania" Ucapan Rilyi terhenti matanya berkaca-kaca.


"Tapi apa Rilyi"


"Bisakah kau benar-benar memberikan Ardian untukku? kumohon Dania aku benar-benar membutuhkannya jika tidak adikku" Rilyi tidak sanggup lagi menahan air matanya dia sudah menangis dengan menggenggam tangan Dania


"Adikmu kenapa dengan adikku"


"Adikku akan dijodohkan dengan direktur Tama kau tahu dia direktur tua yang mesum, aku tidak ingin dia seperti itu. Jika aku juga tidak menikahi Ardian ayahku pasti akan menghabisi ku"


Dania diam berpikir seperti inikah dunia orang kaya, apa pun akan dilakukan. Dania tidak tega melihat Rilyi seperti ini, tapi dia sangat mencintai Ardian, Ardian adalah satu-satunya keluarganya.


"Dania aku mohon kumohon pahami perasaanku sebagai kakak, apa kau punya adik atau keluarga kau pasti paham"


"Aku tidak punya keluarga, Ardian lah satu-satunya keluarga ku"


Deg!! Rilyi tersentuh bagiamana mungkin seorang gadis kecil ini menghidupi dirinya sampai saat ini. Senyumnya tidak pernah melambangkan kesedihan selalu ada ketulusan. Dia punya keluarga saja sudah banyak mengeluh, bagaimana Dania bisa tidak pernah mengeluh. Rilyi merasa bersalah ingin merebut satu-satunya yang Dania miliki tapi dia juga membutuhkannya bahkan sangat.


"Ma..maafkan aku Dania"


"Tidak masalah Rilyi, aku tetap tidak bisa menyerahkan Ardian aku mencintainya dia juga mencintaiku" Mata Dania berkaca.


"Dania aku mohon aku akan memberikanmu uang walau tidak sebanyak yang diberikan Ardian"


"Aku tidak butuh uang!!" Bantah Dania dengan nada tegas.


"Dania aku hanya perlu Ardian"


"Aku juga memerlukan Ardian Rilyi"


Dania langsung pergi tanpa mengatakan apa pun lagi namun dari belakang punggung itu Rilyi bisa tahu Dania sedang menangis tangannya menyeka air mata.


Dania maafkan aku egois, tapi salah satu di antara kita harus mengalah, aku lah yang salah merebut Ardian maafkan lah aku, batin Rilyi.


Rilyi bagaimana kau bisa begitu kejam merebut satu-satunya keluarga seseorang batin Rilyi membenci dirinya.

__ADS_1


malam begitu dingin sedingin hati Dania dia bingung apa yang harus dilakukannya saat ini, begitu banyak perkataan yang muncul di benaknya sekarang, ingin sekali rasanya Dania berteriak.


__ADS_2