
Rilyi menatap ke layar ponselnya melihat Ardian yang menggendong tubuh Dania, Rilyi menangis menggenggam handphone itu. Dia istrinya bahkan masakannya saja Ardian tidak memakannya.
"Rilyi jangan menangis Dania itu memang j*Lang!!" Belia mengelus punggung Rilyi yang bergetar.
"Mereka sudah berselingkuh dan menutupinya kepadamu" Belia seakan memanaskan suasana namun Rilyi hanya bisa menangis.
Ardian bingung melakukan apa pekerjaannya telah selesai namun dia belum berniat pulang, ingin mabuk tapi besok Ardian ada urusan penting, sungguh dia sangat bosan bahkan makan Ardian tidak teratur sekarang. Ardian tidak menerima pernikahan ini sejujurnya hanya untuk mengalihkan pikirannya dari perselingkuhan Dania.
Setelah bertarung dengan pikirannya, Ardian memtuskan untuk pulang. Ardian memilih untuk olahraga tanpa di sadari sedari tadi Belia sedang melihat Ardian yang begitu kuat, badannya atletis, perutnya yang seksi, sungguh Belia membayangkan bagaimana rasanya dibawah Ardian. Pikiran kotor Belia melayang entah sampai mana.
"Kau milikku sayang" Ujar Belia.
Ardian keluar dari ruangan olahraganya dan memutuskan mengambil buah-buah segar di kulkas, Terlihat disana ada Rilyi mereka saling diam.
"Dari mana mas?" Tanya Rilyi.
"Kerja"
"Bohong, mas baru menjumpai mantan mas kan Dania?" Alis Ardian berkerut dari mana Rilyi tau.
"Ya" Ujar Ardian dingin tanpa perduli air mata Rilyi yang sudah keluar.
"Mas aku istrimu, bahkan di malam pernikahan kita saja kau tidak menyentuhku, namun kau malah keluar mencari mantanmu!" Ardian menatap tajam mata Rilyi membuatnya mundur ketakutan.
"Dengan siapa pun aku itu bukan urusanmu! Tekan Ardian.
"Mas aku ini istri sah mu dia itu mantanmu!"
"Istri? kau hanya istri kontrak kau sama sekali tidak berhak mencampuri urusanku"
Ardian pergi meninggalkan Rilyi dia tidak jadi mengambil buah-buahan disitu. Belia mendengar pertengkaran dari balik dinding dia tersenyum puas. Belia mendekati Rilyi yang tengah menangis.
"Rilyi sabar yaa, pasti Dania j*Lang itu sudah menggodanya jadi dia seperti itu padamu" Ujar Belia membuat Rilyi diam.
Hingga tanpa terasa hari malam Ardian memtuskan keluar mencari pemandangan yang enak dimatanya. Ardian melihat Belia di depan tangga seperti menghadangnya, Baju Belia sangat terbuka sekarang menggunakan piyama tidur berwarna merah menggoda siapa saja yang melihatnya.
"Minggir" Mata Ardian menatap tajam Belia, yang seperti seorang j*Lang di matanya, Bau parfum sangat menyengat di Indra penciuman Ardian membuat Ardian ingin mual.
"Tuan mau kemana" Belia ingin mendekat ke Ardian.
__ADS_1
"Bukan urusanmu" Ardian langsung mendorong Belia menjauh, tindakan yang diluar dugaan Belia, sepertinya Ardian adalah pria yang sulit untuk di taklukan padahal Belia sudah berdandan seperti ini, Belia tersenyum licik memperhatikan tubuh Ardian yang menjauh dari pintu
Ardian pergi mencari makanan untuk nya malam ini udara dingin malam membuatnya merasa lapar Rilyi menyediakan banyak makanan di meja namun Ardian tidak ingin makanan itu. Sungguh dirinya berharap agar kontrak pernikahan ini cepat usainya sungguh dia sangat muak walaupun baru menjalankan beberapa hari.
Ardian pulang dengan membawa makanan Rilyi melihat itu sungguh sangat sakit hati padahal makanan yang dibuat cukup banyak tapi Ardian malah membeli makanan diluar, Rilyi lantas menghampiri Ardian tersenyum.
"Mas aku sudah membuat banyak makanan kenapa membeli?"
"Aku tidak suka, dan lagi suruh temanmu pergi rumah ini bukan sembarangan orang bisa masuk" Ujar Ardian matanya menatap Rilyi. Rilyi takut bibirnya mengatup.
"Mas akan aku bilang tapi bukan sekarang yaa"
"Terserah aku ingin secepatnya"
"Baik mas baik"
Belia tanpa sengaja mendengar percakapan itu dirinya lantas merasa kesal bagaimana bisa dia meninggalkan kediaman Ardian yang dipenuhi dengan kemewahan, apa pun yang dingin kan ada, tidak perlu repot ada pelayan, bahkan tempat tidur tamu sayang mewah.
"Tidak bisa aku harus membuat rencana" Ujar Rilyi bingung mondar mandir dan akhirnya sebuah ide muncul mengeluarkan seringainya.
Dania melihat tanggal lusa adalah wisudanya siapa yang akan datang, Ardian sudah menikah apa lagi yang diharapkan Dania dia memang seorang diri tidak peduli bagaimana pun dia menangis atau menjerit tidak akan mengubah keadaannya.
***
"Dania ikut keuanganku" Ujar Siska atasan Dania merupakan teman dari Rere.
"Baik" Dania mengikuti dari belakang, terlihat dari wajah Siska sungguh tidak mengenakan Dania takut dia berbuat salah ataupun menyinggung atasannya ini.
"Tau apa kesalahamu?" Siska duduk di bangkunya sementara Dania berdiri mereka hanya di halangi meja. Dania menggeleng tidak tahu, kenapa tiba-tiba ditanya kesalahannya.
"Tidak kak"
Brakk..
Meja dipukul membuat Dania tersentak kaget, wajah Siska semangkin tidak enak tepat di belakang muncul Rere yang membawa dokumen ke Siska.
"Siska ku serahkan padamu" Rere berbisik ke Siska sementara Siska hanya mengangguk.
"Bagaimana kau baru bekerja beberapa saat tapi kau sudah meninggalkan pekerjaan beberapa kli! Kau pikir kantor ini milik keluargamu!" Bentak Siska, Dania menunduk karena memang dia bersalah telah meminta cuti berkali.
__ADS_1
"Maaf kak Siska saya tidak akan mengulangi nya"
"Maaf? Heh pekerjaan mu saja tidak selesai semudah itu kau minta maaf!"
"Tapi saya sudah menyelesaikan semuanya kak"
Dokumen dilempar tepat di depan Dania, Dania mengambil beberapa dokumen itu matanya melebar tidak percaya padahal Dania sudah memeriksa seluruh nya tapi kenapa begini.
"Itu kau bilang selesai"
"Kak aku memang sudah mengerjakannya"
"Dania jangan karena wajahmu jadi kau bisa menggoda pak Abra, pak Abra tidak tertarik dengan wanita sepertimu yang hanya memanfaatkan wajah demi status"
Ucapan Siska begitu menusuk membuat Dania mengangkat wajahnya marah.
"Aku tidak pernah menggoda pak Abra, kak Siska tolong jaga omongan mu!"
"Kau berani melawanku!"
"Aku tidak melawanku kak tapi yang ku blng fakta"
Dania menatap mata Siska, Siska mengepalkan tangannya geram pada bawahannya yang begitu berani dengannya.
"Dania sekarang ke HRD ambil gaji mu!!"
Dania melotot tidak percaya dengan yang didengarnya namun Dania harus berusaha tenang.
"Siapa yang berani memecatnya hadapi aku!!" Abra muncul dari balik pintu sedari tadi dia sudah mendengar pertikaian itu. Berani sekali ingin memecat Dania.
"Pak Abra" Siska menunduk takut dengan direktur didepannya ini.
"Beri tahu aku siapa yang berani menyuruh Dania ke HRD" Abra menatap Siska yang menunduk.
"Dania sering pergi tiba-tiba dan tidak menyelesaikan pekerjaan pak"
"Heh, Dania pergi denganku, apakah kau tidak tahu"
"Saya tidak tahu pak tapi pekerjaan nya belum selesai, ini buktinya" Siska menyerahkan dokumen ke Abra, membuat Abra mengeluarkan senyum miringnya.
__ADS_1
"Pekerjaan ini sudah selesai bahkan temannya yang melapor kepada diriku, karena aku yang menyuruhnya gantikan pekerjaan Dania sebentar" Abra membuang sembarang dokumen itu.
"Benar aku yang membantu Dania mengerjakan nya dan sudah melapor bahwa pekerjaan ini selesai"