
Dewi tiba-tiba masuk Siska mendelik tidak percaya bahwa dia baru saja di tipu teman baiknya Rere, yang mengatakan bahwa Dania hanya bermalas-malasan dan menggoda Abra, Rere juga berkata dia sering dipojokkan Dania di depan direktur Abra mangkannya dia meminta bantuannya untuk membereskan Dania
"Maafkan saya pak karena tiba-tiba menerobos masuk" Dewi menunduk hormat pada atasannya.
"Tidak masalah"
"Aku yang bertanggung jawab atas pekerjaan Dania saat dia pergi bersama direktur dan pekerjaan itu sudah selesai apa kau perlu bukti?" Ujar Dewi, Siska mematung bingung mau menjawab apa karna Dewi punya bukti.
"Rere yang memberi tahuku bahwa Dania hanya bermalas-malasan"
"Perintahkan Rere kesini" Ujar Abra kepada Dewi.
"Baik pak"
Dania sungguh terharu baru pertama kali ada orang yang membelanya selain Ardian biasanya dia akan pasrah dilakukan orang dengan seenaknya kali ini berbeda ada dua punggung seakan memberinya pelindung.
Rere masuk dengan langkahnya yang cukup cepat karena mendengar Abra yang marah.
"Ada apa pak?"
Siska menatap Rere dengan pandangan marah, Rere yang bingung hanya melihat keadaan sekitar semua orang menatap seakan dia yang menjadi sasaran.
"Apa benar kau yang berkata bahwa Dania hanya bermalas-malasan?"
"Apa?" Tanya Rere berpura-pura tidak mengerti dengan tampang polos membuat Siska geram bahkan Dewi merasa geli melihatnya.
"Benar! kau tidak perlu berbohong Rere! kau yang menyuruhku untuk menargetkan Dania"
"Aku tidak pernah berkata Dania bermalas-malasan hanya menggoda direktur" Ujar Rere tampangnya sangat polos bahkan membuat Dewi dan Siska ingin muntah.
Abra mengeluarkan seringainya menatap dalam Rere membuat Rere takut.
"Kami tidak ada mengatakan Dania menggoda ku"
Terdiam Rere sudah karna omongannya sendiri, Rere membisu sementara Siska dan Dewi ingin sekali tertawa, Rere menatap tajam Dania.
"Tapi Dania memang bermalas-malasan" Ujar Rere menunjuk Dania.
"Akulah yang menyuruhnya libur" Jawab Abra membuat Rere terkejut.
Rere sangat geram sekarang semua orang membela Dania bahkan temannya tidak bisa diandalkan untuk membantunya.
"Rere aku menghargai kerja kerasmu di perusahaan, namun aku tidak ingin hal ini terjadi lagi jika tidak kau tahu akibatnya" Ujar Abra keluar dari ruangan Siska meninggalkan mereka disana. Dania dan Dewi pun ikut keluar tersisa Siska dan Rere. Siska mendekat ke arah Rere.
__ADS_1
"Rere sungguh aku ingin memukulmu tapi kau terlalu menjijikan"
"yang ku bilang itu benar Siska"
"pergi! selama ini aku selalu baik padamu namun kau malah menjebak ku"
"Siska aku tidak mungkin menjebak mu percayalah"
"Bukti sudah jelas aku tidak ingin bersama teman busuk seperti mu silahkan pergi!" Bentak Siska membuat Rere terkejut lantas langsung pergi.
Kau pikir aku mau punya teman bodoh sepertimu lihat tanpa teman sepertimu aku juga bisa bersama direktur Abra, kau pikir dirimu sangat hebat. Batin Rere ngedumel.
Dania kini membawakan segelas kopi untuk Dewi, Dewi tersenyum menerimanya kebetulan sekali bahwa Dewi sedang mengantuk.
"Terima kasih ya kak"
"hmm? bukankah seharusnya yang berterima kasih itu aku?"
"Terima kasih sudah membelaku hari ini" Dania tersenyum di balas senyuman Dewi juga, Dewi mengelus rambut Dania membuat Dania terdiam.
"Aku hanya membela yang benar Dania itu sudah menjadi kewajiban"
Dewi adalah wanita hebat dia juga sesosok mandiri yang merantau demi mencari cuan di perusahaan milik Abra. usianya baru 24 tahun dan belum memiliki pacar, Dania membayangkan andai saja Dewi adalah kakaknya.
"tidak usah Dania sebentar lagi pekerjaan ku selesai"
"Tidak apa-apa kak pekerjaan ku sudah selesai"
"Hah? cepat sekali kau sangat jenius Dania" puji Dewi Dania tersenyum senang mendengarnya.
Dewi sedari tadi terus menguap menyesap kopi yang dibuat Dania hingga tidak sadar kopi itu sudah habis mata Dewi seakan dipaksa tidur.
"Ngantuk banget ya kak?" Ujar Dania matanya tidak lepas dari monitor.
"Iya ini, tadi malam ngeliat film sampai malam ehhh kemalaman malah gak bisa tidur"
"Tidur aja sebentar kak aku liatin"
"Gak papa nih"
"Gak papa kak udah tidur sana"
"Tolong yaa Dania, ngantuk banget soalnya maaf yaa ngerepotin.
__ADS_1
"Enggak kok kak"
Baru sebentar saja Dewi sudah tidur, Dania memperhatikan nafas Dewi yang sudah teratur. Pasti Dewi sangat kelelahan. Dania mengerjakan pekerjaan Dewi padahal Dewi adalah atasannya namun pekerjaan Dewi tidak terlalu susah bagi Dania sebentar saja Dania sudah dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
"Selesai" Ujar Dania merentangkan tangannya.
***
Rilyi sedang membersihkan rumah Ardian padahal banyak pelayan disana namun Rilyi bersih keras ingin membersihkan rumah, Rilyi menyapu sampai di depan kamar Ardian dia tahu tidak boleh masuk kamar itu, namun dia istrinya, toh dia hanya membersihkan tidak mengambil barang yang lain. Rilyi memegang kenop pintu saat didorong pintu itu terkunci. Rilyi sungguh sangat penasaran apa yang ada didalam kamar Ardian namun tidak ada celah untuk mengintip.
Rilyi sudah menjadi ibu rumah tangga namun belum seutuhnya, dia yang awalnya tidak pandai memasak jadi bisa, tidak pernah membersihkan menjadi bisa, dan tidak mengerti soal tanaman menjadi mengerti semua itu Rilyi pelajari saat bersiap untuk menikah dengan Ardian itulah syarat menjadi seorang istri namun Ardian belum menjadi kan nya seorang istri bahkan mereka sudah menikah beberapa lama Ardian tidak pernah menyentuhnya bahkan memasuki kamarnya saja Ardian tidak pernah.h
Rilyi memasak banyak makanan entah itu dimakan ataupun tidak dimakan Ardian dia tetap harus memasak itu sudah menjadi tugasnya walaupun Rilyi sakit hati saat Ardian tidak memakannya.
Belia kini mendatangi Rilyi yang berada di dapur memotong-motong beberapa sayuran.
Belia mendekat sambil membawa segelas minuman soda. Rilyi sadar dengan kehadiran Belia yang ada disebelahnya sedang melihat yang dia lakukan, Rilyi bingung bagaimana menyampaikan ke Belia bahwa Ardian tidak ingin Belia ada di sini namun dia takut Belia akan sakit hati mendengar perkataannya.
"Bel"
"Hmm"
"Betah enggk tinggal disini"
"ya jelas betah dong kamu kan tahu kontrakan aku itu kecil tinggal di rumah besar kaya gini mana mungkin gak betah"
"Kamu kan udah lumayan lama disini ya Bel kan"
Rilyi diam saat Belia menatap tajam ke arahnya. Rilyi meneguk ludahnya susah payah.
"Maksud mu apa ya Ril"
"Bel sebenarnya aku mau kamu tinggal cuman Ardian"
"Jadi maksudmu Ril kamu menyuruhku pergi, Ril aku ini sahabat mu loh aku gak akan ganggu kehidupan kamu sama Ardian. kok kamu tega sih sama aku"
"Bukan gitu maksud aku Bel tapi suami aku itu Ardian dia"
Mata Belia berkaca-kaca membuat Rilyi menjadi tidak tega. Rilyi menarik dalam nafasnya
"Nanti aku coba omongin lagi ke Ardian ya bel"
Belia diam meletakan minuman soda itu namun pergi dengan senyuman liciknya
__ADS_1