Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo

Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo
aku pun juga merasakan sakit


__ADS_3

Di kamar masih terdapat Ardian yang hanya menggunakan Handuk sebatas pinggang, Ardian mengambilnya di lemari Dania, Dania hanya diam pandangan mereka bertemu namun mulut mereka membisu.


Mata Ardian menjadi tajam melihat Dania yang kembali tunduk tidak menatapnya kembali. Ardian mendekat, Dania menjadi was-was berjalan mundur hingga tubuh belakang kini sudah berada di tembok yang di depannya terdapat Ardian yang telah mengurungnya. Dania memalingkan wajahnya takut.


"tatap aku"


Dania bingung namun nada Ardian seperti memaksa dengan terpaksa Dania membalikan wajahnya menatap mata Ardian, wajah Ardian sangat dekat dengannya membuat Dania bisa merasakan deru nafas Ardian begitu dekat dengannya.


Debaran jantung Dania cukup kencang hingga membuat dia kembali menutup mata, agar hatinya tidak berharap lagi kepada Ardian agar dia tidak tergoyah dengan keputusan nya.


Ardian menggeram menatap tajam Dania lalu ke bibir ranum yang sangat menggoda, tangan Ardian memijit pelan bibir bawah Dania membuat mata Dania mendelik dengan lembut Ardian mencium Dania ciuman lembut namun menuntut


Dania memukul-mukul dada Ardian untuk menyudahinya dia tidak mau lagi hal itu kembali terjadi. Ardian melepaskan ciuman, dengan cepat Dania menghirup udara dengan terburu-buru seakan oksigen akan habis.


Dania menggigit bibir bawahnya menangis, tangan Ardian terulur mengelap buliran air yang mengalir di pipi manis Dania.


"Kuberi kau kesempatan untuk kembali padaku, tidak akan ku ungkit penghianatan mu. Aku sudah berbaik hati menawarkan ini padamu"


Dania terbelalak mendengar apa yang baru saja di dengarnya tidak mengira itu akan keluar dari mulut Ardian "Ardian kau sudah"


"Menikah bukan berarti tidak bisa bercerai"


Ucapan dingin Ardian membuat Dania menggeleng tidak menyangka, alis Ardian berkerut menanggapi respon yang tidak dia inginkan.


"Apa maksudmu Dania"


"Tidak bisa aku sudah punya kekasih aku tidak akan mengkhianatinya"


Ardian geram tangannya mencengkram Dania dengan kuat membuat Dania kesakitan. "Lalu bagaimana dengan aku yang kau khianati! bagaimana kau bisa memikirkan dia! apa yang kurang dari ku"


"Dia memberikan ku segalanya memberikan ku apa yang ku mau"

__ADS_1


Ardian kini mencengkeram pipi Dania "Aku bisa memberikan lebih darinya bahkan berkali-kali lipat! kau ingin sebuah restoran aku bisa membeli sebanyak yang kau mau, kau ingin perusahaan aku bisa membuatkannya untukmu! kau ingin di rumah aku bisa mengabulkannya"


Dania tertegun diam namun dia harus bisa membekukan hatinya untuk Ardian demi kebaikan semua orang.


"Ardian"


"Aku tanya padamu sekali lagi, kau kembali padaku. Tidak masalah kita mengulang semua dari awal"


"Ardian jawabanku tidak, Kenzo memberikan segalanya untukku, itu membuatku puas"


Ardian diam geram namun sedetik kemudian dia tertawa sinis lalu menyeringai "Aku salah menilai mu ternyata kau memang j*Lang"


Dania mendelik tidak menyangka Ardian akan berkata demikian.


"Kau murahan, Apa yang akan Kenzo lakukan saat mendengar semua ******* dan erangan mu tadi malam hmmm?


Mata Dania berkaca-kaca tangannya akan melayang ke pipi Ardian, namun Ardian dengan cepat menangkisnya lalu menahan tangan Dania di dinding.


Ucapan pedas dari Ardian membuat hati Dania terasa sangat sakit, bahkan ucapan orang tua Ardian tidak sesakit ini, Dania menahan sekuat tenaga air matanya walaupun matanya sudah berkaca-kaca.


Ardian yang biasanya memanggilnya Dania kini berubah menjadi kau, bahkan memuji istrinya di depan Dania tapi itu tidak menjadi masalah sudah sepantasnya seorang suami membela istrinya.


"J*Lang" bisik Ardian lalu mencium Dania dengan terburu-buru mendorong Dania hingga terjatuh di sebuah meja, Ardian melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya, menampilkan pusaka nya yang telah berdiri sempurna.


Dania terus mendorong Ardian sekuatnya, namun tenaga Ardian sangat kuat bahkan dorongan Dania tidak terasa baginya. Dania menangis namun bukan berhenti Ardian terus melanjutkan bahkan kembali menjamah tubuh Dania.


"Ahh Dania kau j*Lang" Desah Ardian ditengah-tengah permainan mereka, Dania hanya menangis tidak ada tenaga lagi untuk memberontak dia hanya menangis di bawah Kungkungannya Ardian. berbagai umpatan di lontarkan Ardian untuknya, Dania hanya dalat berpikir kapan ini berakhir.


Awan kini telah berganti malam Ardian masih di sana duduk di sebuah sofa di depan kasur Dania, mata Dania perlahan terbuka hal pertama yang dilihatnya adalah Ardian yang menatap rendah dirinya. Dania bangkit duduk punggungnya bersandar.


"Kau sudah bangun j*Lang?" Ujar Ardian, Dania hanya diam dengan pandangan lelah menatap Ardian

__ADS_1


"Kenapa kau mau lagi?" Ujar Ardian membuat Dania mendelik tajam. Ardian tertawa sinis mendekati tubuh Dania yang sepenuhnya di penuhi tanda. "Lihat dirimu sekarang" Ardian menunjuk sebuah cermin yang berada di sebelah Dania betapa kotornya dia sekarang.


Dania diam menunduk, Ardian mendekatkan wajahnya ke Dania yang masih membisu" Berapa yang harus ku bayar atas jasamu?"


"Tidak perlu!"


"haha munafik sekali bukankah kau pacaran dengan ku hanya untuk harta" Ardian melemparkan sebuah cek yang isinya sangat fantastis.


Dania hanya diam tidak berniat melihat cek yang di lempar Ardian, Dania hanya meringkuk memeluk tubuhnya. Tubuh dan hati Dania sangat lelah.


Ardian menggulung lengan kemejanya


"Kau sangat nikmat pantas Kenzo mendekati mu lalu setelah Kenzo, kau akan menggoda Abra bukan? berpura-pura menjadi gadis lugu heh"


Dania ingin sekali berteriak rasanya dengan semua lontaran pedas itu hatinya teriris mendengarnya mendengar langsung dari mulut orang yang paling dia sayangi juga cintai.


"Cukup" gumam Dania dapat di dengar Ardian.


"Tidak. tidak akan pernah cukup"


"Ardian apa mau mu!"


Ardian menyeringai mendengarnya "Mau ku? Aku mau kau merasakan sakit yang sama dengan apa yang kurasakan" Ujar Ardian penuh penekanan, membuat mata Dania mendelik dengan orang yang di depannya.


Ardian pergi dengan langkah panjangnya, Dania turun dari tepat tidur namun kaki dan ************ nya terasa sangat menyakitkan hingga dia terjatuh.


Mata Dania telah panas dan dipenuhi dengan butiran air yang kini mengalir di pipinya, Dania menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya.


"Akhhhhhh" Teriak Dania di sela-sela tangisannya, frustasi dengan yang dia rasakan.


"Andai kau tau Ardian sakit yang kurasakan lebih dari dari pada yang kau bayangkan, aku sangat sakit saat melepas mu, sangat sakit melihat pernikahan mu, sangat sakit dengan yang kau katakan" Ujar Dania ingin meluapkan semua yang di hatinya.

__ADS_1


Istriku lebih baik tidak murahan sepertimu kata-kata yang terus bergema di kuping Dania tapi Dania hanya tersenyum baguslah jika Ardian tidak menyukainya lagi, Ardian akan bisa mencintai Rilyi istrinya.


__ADS_2