Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo

Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo
Ardian sakit


__ADS_3

Setelah bertarung dengan pikirannya Dania kembali ke restoran itu. Dania melihat semua pelayan restoran sibuk membenahi semua perabotan ,memindahkan yang rusak bahkan hancur, hari ini restoran tidak di buka karna kejadian tadi.


"Bolehkah aku bantu?" Tanya Dania kepada seorang pelayan yang sedang mengangkat barang-barang, namun pelayan tersebut memutar bola matanya malas menanggapi Dania membuatnya bingung.


"Apakah Giva tidak apa-apa?" Tanya Dania dengan wajah sendu kepada sahabat baik Giva Agit.


"Berhentilah berpura-pura polos. Jika bukan karena mu ini semua tidak akan terjadi!" Ujar Agit marah.


"aku..."


"Apa? lihat wajahmu yang berlagak polos, MENJIJIKKAN!" Ujar Agit penuh penekanan.


"Agit, diam lah" tegur seorang pelayan.


Agit yang sadar akibat jika berani menggangu Dania pun hanya berdecih dan langsung pergi menjauh dari Dania, Dania bingung semua orang mengacuhkannya saat ini, tidak ada yang bisa di tanya.


"Dania!" Panggil seorang pelayan yang merupakan senior direstoran tempatnya bekerja.


"Hah iya"


"Kenapa kau datang kemari?" Tanya pelayan itu.


"Aku hanya ingin membantu kak" Ujar Dania.


"Tidak perlu! Dania sebaiknya kau pikirkan pak Kenzo, restoran ini bukan restoran kecil. kau pikirkan bagaimana orang tadi merusaknya, tidak kah kau berpikir pak Kenzo akan menangani ini? Dania sebaiknya kau paham! jika aku jadi kau, aku akan menyuruh orang tadi untuk menangani hal yang di lakukan nya tadi di restoran ini, dan pergi dari sini" Ujar wanita itu emosi.


"Ba...baik aku paham kak"


.


Tiba-tiba Ardo datang di restoran Dania bekerja, membawa beberapa pengawal namun Ardian tidak bersamanya saat itu.


"Apakah saya bisa bertemu bos kalian?"


"Ma..maaf tapi bos kami sedang ada urusan" Ujar seorang pelayan takut-takut.


"kalau begitu saya tidak akan basa-basi lagi, ini cek untuk mengganti rugi yang kami lakukan" Ujar Ardo memberi cek kepada pelayan itu, pelayan itu sangat kaget dengan angka yang tertera di sana.


"Ba...baik nanti akan saya berikan" Ujar pelayan itu.


"Dan satu lagi" Sambung Ardo

__ADS_1


"iya"


"bos kami ingin Dania tidak berurusan atau bergabung di restoran ini"


"Tidak! kami tidak butuh cek itu" Ujar Kenzo dari belakang yang tiba-tiba saja datang.


"Kembalikan ceknya" Ujar Kenzo pada pelayan itu, pelayan itu pun menurut dan mengembalikkan nya namun Ardo tidak mengambilnya kembali.


"Maaf ini perintah dari tuan kami" Ujar Kenzo santai.


"Dania adalah karyawan ku jadi aku yang memutuskan"


"Aku rasa itu tidak perlu pak" Ujar Dania yang berada disana membuat Ardo terkejut yang tidak menyadari bahwa ada Dania disana.


"Apa maksudnya Dania?" Tanya Kenzo


"Aku memundurkan diri" Ujar Dania.


"Dania kenapa?" Tanya Kenzo.


"itu keputusan ku pak" Ujar Dania mengambil tasnya dan langsung pergi, Ardo dan beberapa pengawalnya pun mengikuti Dania.


Dania kini berada di dekat mobil Ardian, dia heran kenapa Ardo membawa mobil Ardian, namun dia tidak ingin memikirkan panjang lebar tentang itu dia hanya melewati mobil itu dan pergi.


"Maaf Ardo tapi saya akan pulang sendiri" Ujar Dania.


"Masuk" suara berat laki-laki mengangetkan Dania dia tahu itu adalah Ardian namun Dania tidak perduli dan kembali meneruskan langkahnya tanpa melihat kebelakang.


"Dania masuk" Ujar Ardian namun tetap tidak dipedulikan tapi Dania sedikit heran suara Ardian tampak serak.


Ardian mengikuti langkah Dania namun Dania dengan cepat berjalan menjauh namun secepat apa pun langkah Dania, Ardian dengan mudah menyeimbangi nya dan langsung menarik tangan Dania, Dania sempat memberontak tidak mau namun Ardian tetap menariknya.


"Ardian!" Marah Dania namun Ardian hanya diam.


"Baik terserah" Ujar Dania yang sekarang ikutan Diam, mereka saling diam di mobil tanpa bicara, Dania merasa sangat kesal sekarang bahwa arah untuk ke apartemen miliknya baru saja di lewati, Dania sempat protes namun tidak diperdulikan.


Kini mereka tiba di rumah mewah milik Ardian, Ardian sudah turun dan membukakan pintu untuk Dania namun Dania tidak turun.


"Dania!" panggil Ardian namun Dania malah membuang wajahnya membuat Ardian geram mengangkat tubuh mungil Dania ke bahunya menggendongnya disana.


Dania yang di gendong seperti itu sangat malu dia meronta-ronta namun Ardian biasa saja.

__ADS_1


"Ardian turunkan aku!" bentak Dania namun Ardian tetap diam pelayan di sana hanya melihat heran kedatangan tuan mudanya sambil menggendong Dania.


"Ardian kau sangat menyebalkan! turunkan aku"


"berhenti meronta Dania kau akan jatuh jika kau lakukan lagi" Ujar Ardian bukannya membuat Dania berhenti malahan Dania kembali memberontak.


Ardian tetap diam walaupun Dania terus meronta minta di turunkan hingga mereka tiba di kamar Ardian, Ardian menurunkan Dania di sana.


"Ardian!!" Marah Dania kepada Ardian, namun Ardian hanya diam menatap wajah Dania.


"Kau menyebalkan!" Ujar Dania ingin pergi berbalik namun tangannya langsung di tarik Ardian memeluk erat Dania, Dania heran dengan Ardian yang sekarang.


"Dania jangan marah padaku, aku tidak egois" Ujar Ardian memeluk tubuh Dania, menyembunyikan kepalanya di bahu Dania.


"Ardian ada apa dengan mu?" Tanya Dania namun Ardian tidak membalas, Dania memegang kening Ardian ternyata panas begitu juga nafas Ardian tatapan matanya kini tidak tajam seperti biasanya, sekarang Ardian tampak linglung, melihat Ardian yang sekarang Dania merasa sedih.


"Ardian" Ujar Dania memegang pipi Ardian namun Ardian hanya diam.


"Kau sakit, kenapa? Bagaimana bisa?" Tanya Dania sambil mengusap perlahan keningnya Ardian. Ardian masih saja diam Dania menarik tangan Ardian mengajaknya ke tempat tidur mereka duduk di sana tatapan Ardian masih saja linglung.


"Ardian istirahat yaa" Ujar Dania sedih.


"Asal kau tetap disini." Ujar Ardian.


"Aku di sini bersamamu Ardian. Sekarang istirahat oke" Ujar Dania, Ardian pun merebahkan dirinya di tempat tidur. Dania menarik selimut untuk Ardian.


"Mau kemana?" Tanya Ardian menahan tangan Dania saat di lihatnya Dania melangkah pergi.


"Ardian aku akan menghubungi dokter pribadi mu, dan mengambil kompres" Ujar Dania lembut.


"tidak perlu. Dania kau tetap disini" paksa Ardian.


"Ardian aku hanya sebentar, setelah itu aku akan di sini bersamamu" Ujar Dania menatap Ardian.


"kau selalu bersamaku kan"


"Iya Ardian aku selalu bersamamu" Ujar Dania, Ardian pun melepaskan tangan Dania membiarkannya untuk menghubungi dokter pribadinya.


Dania pun mengambil kompres untuk Ardian, dia heran kekasihnya kenapa bisa sakit membuat Dania sedih, Dania pun menghubungi dokter pribadi Ardian untuk datang dan cepat-cepat kembali ke kamar Ardian. Ardian belum tertidur hanya tatapannya yang tidak tajam seperti biasanya wajahnya sedikit pucat karna sakit, Dania datang mengelus kening Ardian yang saat ini terlihat seperti anak kecil dari pada pria yang mendominasi.


Kini Ardian tertidur tenang namun mulutnya masih saja mengigau.

__ADS_1


"Dania jangan marah"


"Aku tidak marah Ardian" Ujar Dania duduk di sebelah Ardian yang tertidur


__ADS_2