
"Tunggu" Ujar Dania mengutip gorengannya yang telah kotor berjatuhan.
Ardian tertegun melihat itu, matanya tertuju pada guru yang tidak bertanggung jawab, para guru takut apalagi para murid yang membully Dania.
Ardian menarik tangan Dania menuju ke dalam mobil, ia duduk di sebelah Ardian yang tengah mengendarai. Dania tak henti-hentinya menunduk menangisi gorengan yang telah kotor diinjak-injak.
"Kenapa jualan gorengan di jam sekolah?"
"Biar anak panti bisa makan hikss"
"Berapa harga gorengan itu?"
"Satunya seribuan hikss...hikss" jawab Dania yang masih terisak.
"Semuanya"
"Dua ratus ribu...hikss"
"Aku beli semua"
Dania terkejut langsung menoleh ke arah Ardian, mata Dania berkaca-kaca kembali "Hikss...hikss gak dijual Uda kotor"
"Aku mau beli!"
"Emang mau makan gorengan campur tanah?"
"Terserah aku, aku beli buat di pajang"
"Hiksss hiksss huaaaa"
"Kok mangkin nangis" Ardian bingung melihat Dania yang menangis semangkin deras
"Air matanya keluar sendiri jadi gimana"
Ardian mengusap wajahnya bingung dengan gadis di sebelahnya, ia mengambil sesuatu di mobilnya terdapat amplop yang berisi uang sangat banyak lalu menyerahkan ke Dania.
Dania heran membuka amplop itu, terdapat uang yang sangat banyak. Ia mengambil dua lembar uang yang bernilai tunai dua ratus ribu rupiah lalu menyerahkan kembali amplop ke Ardian. Alis Ardian berkerut.
"Itu semua untukmu" Ardian mendorong amplop itu kembali.
Dania kembali menyerahkan "Gak mau kemahalan"
"Aku kaya terserah aku"
"Sombong bangett!! GK mau!"
"Ambil!"
__ADS_1
"GK mau!
"Ambil!!
"Enggk!!"
Ardian geram langsung menghentikan mobilnya kepinggir. Memasukan paksa uang itu ke tas milik Dania.
"Kok di masuki"
"Sebagian buat anak panti sebagian buat kau"
"GK boleh aku kasih semua ke anak panti"
Ardian mencubit keras pipi Dania "keras kepala sekali"
"Aduhhh duhh sakit!"
Dania mengelus pipinya yang terasa bengkak sementara Ardian puas telah membalas dendam.
"Tuan muda Alzy ini bukan arah panti"
"yang bilang mau ke panti siapa?"
"Hah culikk! Tolong!! Ada culikk!" Teriak Dania membuat Ardian mendelik langsung membekap mulut Dania.
"Jadi kita mau kemana tuan Alzy?"
"Jangan panggil tuan Alzy, panggil Ardian atau kakak"
"Aku panggil om atau paman bagaimana?" Tanya Dania.
Ardian hanya dapat tersenyum psikopat "apakah aku setua itu?"
"Iya"
Ardian tertusuk baru kali ini ada gadis yang yang berani berkata begitu padanya biasanya dia tidak pernah meminta orang untuk memanggilnya Ardian. Ardian melajukan mobilnya membuat Dania berteriak sangat keras.
Hingga mereka berhenti di pusat belanja yang sangat besar, tanpa sengaja mata Dania melirik sebuah Teddy bear berukuran besar. Tanpa pikir panjang Ardian langsung membelinya menyerahkan ke Dania.
"Ini?" Heran Dania menggendong boneka itu.
"Untukmu"
"Hah serius"
Ardian malas menjawab pertanyaan Dania hanya diam.
__ADS_1
"Makasih" Dania memeluk erat boneka itu dengan senyum yang sangat manis, Ardian tertegun melihatnya hanya mengelus kepala Dania.
Ardian mengira itulah pertemuan terakhirnya dengan Dania, namun salah Ardian merindukan Dania hingga berbagai alasan Ardian gunakan untuk bertemu dengan Dania di panti maupun sekolah hingga mereka semangkin dekat. Awalnya Ardian hanya menganggap Dania adik karena usia mereka yang terpaut jauh berbeda namun perasaan lain muncul di hati mereka berdua yang semangkin lama semangkin bermekaran, perasaan ingin memilik, ingin bersama dan juga perasaan saling membutuhkan.
Ardian mencoba mengubur perasaan anehnya dengan Dania namun tidak bisa hingga saat usia Dania cukup Ardian menyatakan cintanya, Dania langsung menerima itu.
Hubungan mereka sangat bahagia saling menerima kekurangan satu sama lain.
Ardian sangat menyayangi Dania begitu pun sebaliknya namun tembok mereka terlalu tinggi untuk bersama.
Dania sudah bisa menebaknya, orang kaya seperti Ardian akan seperti orang kaya pada umumnya yang sudah di siapkan segalanya mau kebutuhan atau pun jodoh.
***
Dania menatap nanar boneka di hadapannya lalu membuangnya ketempat sampah, air matanya turun melihat boneka yang telah di jaganya bertahun-tahun kini sudah hangus di telan api.
Dania mengelus pintu apartemen miliknya lalu menyeret koper pergi. dia meninggalkan apartemen itu tanpa pesan sedikitpun yang dia tinggalkan
"Kini semua hanya kenangan"
Tak apa Dania inilah yang terbaik batin Dania tidak ingin lagi melakukan penghianatan di belakang Rilyi yang begitu mencintai Ardian. Dania mengusap air setetes matan yang tumpah membasahi pipinya.
Tekad Dania meninggalkan apartemen itu bulat is tidak ingin kenangan mereka seperti lembaran film yang terus berputar di benak Dania.
Dania memanggil taksi lalu mengoyak cek yang di berikan Ardian sebelum dia memasuki mobil, koyakan kertas itu pun terbang terhembus angin
Dania telah menyuruh Dewi mencarikan sebuah kos-kosan dekat dengan kantor kebetulan sebuah kos bersebelahan dengan Dewi sedang kosong. Dania sudah membayar kos itu dia cukup senang bisa langsung mendapatkan tempat baru walaupun tidak sebesar dan semewah apartemennya yang sangat berkelas tapi ini sangat cukup bagi Dania.
Dania menyusun baju-bajunya, ia juga membeli perabotan baru untuk memenuhi isi kos agar tidak terlalu sedikit walaupun belum banyak karena ia belum gajian. Tidak lupa Dania membawa dua buket yang sudah di awetkan Dania memilih memajangnya agar dinding-dinding di sana terlihat lebih cantik.
Tidak ada lagi foto Ardian dan kenangan di sana hanya Dania yang memulai lembaran baru, move on dari semua yang terjadi. Tidak tahu apakah dia akan di marah kembali Karena sudah libur sangat banyak ia juga bingung alasan apa yang akan di berikan ya.
Dania membaringkan tubuh di kasur yang hanya cukup untuk satu orang Dania belum membelinya, ia terlalu lelah hari ini bahkan belum seluruh barang di rapikan.
Dania lebih memilih memasak makanan enak mengganjal perut, Dania memeriksa hp menghapus nomor Ardian tidak ada lagi kini hal berbau Ardian. Dania hanya masak mie instan ia tak sempat untuk membuat makanan yang lebih sehat karena sangat lelah.
Hingga Dania mendengar suara Dewi yang memanggil Dania dari luar pintu, Dania buru-buru membuka nya terlihatlah wajah manis Dewi dengan kaca mata yang terpasang tengah memandang senang mendapati ia memiliki tetangga baru dan satu kantor.
"Kak Dewi masuk yuk kak, aku baru masak nih kakak mau enggak tapi cuman mie gak papa ya"
"Kebetulan aku laper Dania, gak masalah aku aku juga pengen mie" Dewi melangkah masuk ke dalam melihat sekeliling.
"Dania kenapa, mata kamu bengkak kakak lihat jalan kamu juga kaya pincang gitu?" Ujar Dewi khawatir.
"Hah enggak papa kok kak ini aku kecapean aja"
"Dania kalau ada apa-apa itu cerita yaa, kakak siap kok dengerin"
__ADS_1
Mata Dania memanas namun dia memilih menahan air matanya "oke kak" ujarnya