
Entah kenapa rasa mual kembali datang membuat Dania harus berlarian ke toilet berkali-kali.
"Hoekkk....hoekk emmm kenapa aku mual terus" Tutur Dania sambil memegangi keningnya wajahnya pucat seperti tadi siang.
Dania membuka kulkas mencari segelas air dingin namun saat ia membuka isi kulkas rasa mual lagi dan lagi datang. ia menatap cermin bingung dengan dirinya sendiri.
apakah aku harus ke dokter batin Dania bingung ia duduk termenung di atas tempat tidur, ia membuka handphone untuk mengecek tanggal.
bukk!!
Handphone Dania jatuh karena ia sangat terkejut dengan yang disana sebuah tanggal yang ia tandai ternyata telah lewat jauh. tanggal yang dimana terakhir kali ia mentruasi.
Dania memegang perutnya yang masih tampak rata tanpa sadar air matanya keluar dengan sendirinya " ukhh...huhuhu" Dania frustasi.
berpikir bahwa selama ini Ardian tidak pernah memakai pengaman saat bersama dengannya, apa yang akan Dania lakukan jika dia benar-benar hamil, ia sangat bingung.
Dania mengambil jaketnya, segera untuk pergi ke apotek untuk membeli sebuah test pack untuk bisa memastikan yang sebenarnya, bisa jadi yang ia pikirkan itu salah.
Dania menghapus jejak air matanya yang masih tersisa lalu tergesa-gesa untuk pergi ke apotek yang tadi dikunjunginya membeli obat.
Dania tiba di apotek dan kembali dilayani oleh orang yang sama yang masih tersenyum seperti tadi siang "Kak mau beli test pack" Ucap Dania dengan suara yang sedikit berbisik.
"Ini kak" Tuturnya sambil tersenyum.
Dania yang hanya membalas senyum canggung langsung berburu-buru pergi dari sana ia menggenggam erat barang yang dibawanya dengan harapan semoga yang dipikirannya itu tidak benar.
ia membaca prosedur dari penggunaan alat test pack dan langsung memperaktekannya di rumah. Dania berputar-putar cemas menunggu hasil yang keluar dari test pack tangannya yang menggenggam erat kini perlahan terbuka dan memperlihatkan hasil yang sesuai dengan dugaannya.
Garis dua
Garis dua yang menandakan bahwa di dalam rahim Dania sudah terdapat janin. Dan yang dipastikan bahwa ayah dari anak itu adalah Ardian karena Dania hanya melakukan hubungan itu dengan Ardian.
__ADS_1
Hancur hati Dania sekarang air matanya kini sudah tidak dapat dibendung Dania menangis sejadi-jadinya. Dania terduduk lemas badannya pun terasa hangat sekarang ia sangat bingung dengan keadaannya.
" Dania ada apa?" Tutur Dewi yang tampak panik karena mendengar suara tangisan Dania terlihat dari caranya mendorong pintu dengan kencang.
Mata Dewi terbelalak melihat Dania dan matanya kini tertuju pada test pack yang ada dihadapan Dania.
"Kak" Ujar Dania dengan suara yang bergetar. dengan tergesa Dewi langsung menghampiri Dania dan memeluknya dengan erat tanpa bertanya terlebih dahulu.
Dania terkejut dengan pelukan hangat yang diberikan oleh Dewi ia kini menangis lebih kencang lagi sambil membalas pelukan Dewi tak kalah erat. "Huaaa kak"
"Sutttt... tenang Dania ada kakak tidak apa-apa" Tutur Dewi lembut mengusap punggung Dania.
perlahan Dania sedikit tenang melepas pelukannya dari Dewi " Dania sebenarnya ada apa? kenapa ada test pack"
" Kak aku hamil"
Deg!! Dewi sangat terkejut dengan apa yang barusan didengarnya "Dania aku percaya padamu, pasti sesuatu terjadi aku yakin" Ucap Dewi
Dania pelan-pelan menceritakan semua yang ia alami dari siapa dia, hubungannya dengan Ardian termasuk kehamilannya sekarang.
air mata Dewi tumpah tanpa di sadari nya "Maafkan aku Dania, tidak menemanimu disaat kau sedang dalam kesulitan"
"Tidak kak bagiku kakak sudah seperti kakak kandung. tapi sekarang aku harus bagaimana aku bingung"
"Kau harus memberi tahu kehamilanmu pada CEO Ardian, Dania agar anakmu memiliki seorang ayah"
"Tidak kak! Aku tidak akan menghancurkan kebahagiaan Rilyi dan sekarang Rilyi juga hamil aku tidak mau anak Rilyi hidup tanpa seorang ayah, biarlah anakku yang mengalah"
wajah Dewi menatap sedih Dania" Bagaimana jika suatu saat anakmu bertanya dimana ayahnya?" Tutur Dewi.
Wajah Dania tampak bingung benar dugaan Dewi Dania tidak berpikir sampai kesana "Soal itu akan ku pikirkan nanti kak"
__ADS_1
"Dania biarkan aku menjadi mama angkat untuk anakmu" Tutur Dewi mengusap perut Dania, Dania tersenyum simpul, menatap Dewi lalu mengangguk.
"Kak pesankan aku tiket keluar negri aku ingin hidup disana tanpa gangguan dari Ardian" Ujar Dania dengan tekat yang telah bulat.
Dewi tampak terkejut atas perkataan Dania"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?" Tanya Dewi
"Aku akan berhenti dan bekerja diluar bantu aku mengurusnya yaa kak maaf aku merepotkan mu"
"Baik Dania bisakah aku mengunjungimu" Ujar Dewi terlihat raut wajah yang sedih terpapar jelas.
Dania memegang tangan Dewi sambil tersenyum "Tentu saja kak Dewi kan mama angkatnya"
Dania berberes pakaian dan perlengkapan yang akan di bawanya kesana, dibantu oleh Dewi tanpa sadar Dewi meneteskan air mata merasa tidak rela Dania pergi begitupun Dania yang belum siap melepaskan jutaan kenangan yang dibangunnya selama ini.
Esoknya hari dimana Dania akan meninggalkan negara yang sangat dicintainya ini telah tiba, Dania menyeret kopernya dengan Dewi yang disebelahnya, Dewi ikut mengantar Dania ke bandara.
Dewi memakaikan syall di leher Dania "pakai ini negara yang akan menjadi tempat tinggal mu sedang musim dingin"
Dania hanya tersenyum menghirup harus syall yang khas aroma dari Dewi.
"Aku sudah memesan tiket negara B berhati-hatilah jadilah ibu yang baik untuk anakmu" Tutur Dewi dengan mata yang berkaca-kaca.
Dani yang memang sudah menangis mendengar perkataan Dewi lalu mengangguk "pasti kak, jangan lupa berkunjung nanti"
"Pasti aku akan berkunjung dan jika kau siap kembali lah ke negara ini" Tutur Dewi namun Dania hanya diam.
"pesawat ku akan segera berangkat kak" Ujar Dania sambil melihat jam yang melekat ditangan kirinya.
"Baiklah hati-hati"
Dania dan Dewi berpelukan erat yang masing-masing dari mereka mengeluarkan air mata seolah tidak rela untuk melepaskan.
__ADS_1
Dania melambaikan tangannya dibalas Dewi yang juga melambaikan tangan, terlalu berat langkah Dania untuk meninggalkan semua hal menyenangkan yang pernah ia lakukan disini namun ia harus tegar dan siap, ia tidak bisa tinggal disini dan membiarkan banyak orang tau tentang kehamilannya apalagi Ardian. Biarlah Ardian menjadi ayah yang baik untuk anaknya nanti bersama Rilyi, Dania bisa merelakan itu ia tidak mau merusak rumah tangga orang lain apalagi menjadi istri kedua.
Dania memainkan handphone nya satu persatu nomor yang ada dikontraknya ia blokir Ardian, Rilyi, Abra, Kenzo, teman kerja dan hanya menyisakan kontak satu orang yaitu Dewi dan satu-satunya orang yang tahu ia pergi keluar negri dan satu-satunya orang yang Dania percaya sekarang.