
Abra memilih obrolan ringan dengan Dania untuk mengakhiri kecanggungan diantara mereka berempat sementara meja Ardian hanya diisi kebisuan tidak ada obrolan yang keluar dari mulut Rilyi maupun Ardian .
"Dania apakah kau menyukai mawar biru itu?" Tanya Abra sambil memasukan makanan pembuka ke mulutnya.
Mata Dania terbelalak "maksud kak Abra bunga Mawar biru di acara wisuda aku?"
Abra tersenyum menatap Dania dengan lembut "iya, maaf aku tidak memberinya secara langsung ada panggilan rapat yang sangat mendadak" sesal Abra.
Dania tersenyum manis sampai menyipitkan matanya "Makasih bunganya kak, aku suka" Ujar Dania yang tak mengerti maksud Abra memberikan bunga itu, Tapu yang jelas rasa penasaran Dania terbayar.
Tangan Ardian terkepal dikala melihat pemandangan yang membuat perasaannya berapi. Senyuman yang ditunjukkan Dania apalagi panggilan kakak untuk Abra yang membuat Ardian berapi-api. Ardian menggenggam erat garpu yang dipegangnya yang sebentar lagi akan bengkok jika Rilyi tidak memanggilnya. Ardian sudah menduga bunga itu tak mungkin didapat Dania dari dari anak laki-laki kampus itu, tebakan Ardian benar bunga itu memang dari Abra.
"Ardian kau tidak suka makanan ini?" Tanya Rilyi diiringi rasa cemas melihat Ardian yang memasang wajah semangkin masam.
"Suka" Tutur Ardian namun tatapannya tak lepas dari meja seberang dimana Dania tampak mengobrol dan mengeluarkan tawa Ringan.
"Dania apakah kau dengan pacarmu masih bersama?" Tanya Abra memberanikan diri ia tahu pertanyaannya sedikit aneh terlalu penasaran dengan kehidupan pribadi bawahannya.
Dania sedikit terkejut dengan perkataan Abra namun ia harus menjawab dengan tenang"Kami sudah berakhir pak" Ujar Dania canggung memainkan sedotan minuman dihadapannya.
Dania harus bisa ia tak ingin Kenzo bermasalah karenanya juga tak ingin lagi Kenzo terlibat. Dania tidak ingin gadis yang menyukai Kenzo patah hati jika mendengar Dania kekasih Kenzo padahal hubungan mereka hanya rekayasa semata.
Ardian mendengar percakapan disana matanya terbelalak disaat itu juga. ia tak percaya Dania putus dengan Kenzo padahal saat ia memaksa Dania mengatakan dengan tegas Dania berkata bahwa dia sangat mencintai Kenzo dan telah berselingkuh.
Abra merasa lampu hijau kini berada didepannya ia benar-benar tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang datang untuknya sekarang, ingin sekali rasanya ia berlompat yes sekarang namun itu akan menghilangkan citranya.
"Kalau aku boleh tau kenapa kalian berakhir?" Tanya Abra basa-basi tidak ingin memperlihatkan tekadnya mendapatkan Dania secara terang-terangan.
Dania tersenyum ringan menatap Abra dengan mata yang menyipit "Kami memutuskannya bersama karena itulah yang terbaik untuk kami berdua"
Heh memutuskan bersama dengan sangat mudahnya kau berpaling Dania dari satu pria ke pria lainnya sungguh aku ingin tahu hatimu itu sedingin apa Batin Ardian geram.
Rilyi kini merasa cemburu yang sangat dalam melihat Ardian cemburu namun bukan karenanya namun karena Dania mantan kekasihnya jelas-jelas Rilyi kini didepannya dengan status sebagai istri sah.
__ADS_1
Abra kini memegang tangan Dania membuat Dania tersentak kaget dengan apa yang dilakukan direktur didepannya.
"Dania jika kau tidak keberatan"
Brakk...
Bunyi pukulan meja mengagetkan ketiga orang disana, pelakunya yang tak lain dan tak bukan adalah Ardian sendiri yang tengah berdiri matanya menajam dikala menatap wajah Abra dan Dania secara bergantian. Ardian hampir tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Ardian" panggil Rilyi pelan seraya memegang lengan suaminya yang tampak sedang emosi.
"Abra kenapa kita tidak duduk bersama dan mengobrol bersama agar bisa lebih saling mengenal" Ujar Ardian yang di setiap perkataan yang keluar dari mulutnya penuh penekanan.
"Baik Ardian aku juga ingin mengenalmu lebih dalam" Balas Abra tak kalah menekan mata mereka seakan bisa saling menyambar.
Dania dan Rilyi sangat takut dengan apa yang akan terjadi diantar kedua pria disana mereka bekerja sama dalam urusan pekerjaan namun saat bertemu ini pandangan mereka berdua layaknya bertemu musuh.
Dania bingung begitupun Rilyi namun hati Rilyi juga sakit dimana Ardian tampak melakukannya untuk Dania seorang.
Abra memesan meja untuk 4 orang, Abra kembali menarik kursi untuk Dania rasa panas Ardian kini kembali.
Ardian juga menarik kursi untuk Rilyi membuat Rilyi tersenyum senang sebenarnya Ardian ingin melihat respon Dania, namun Dania hanya tunduk diam saja disana membuat Ardian kesal.
"Dania kau melamun?" Tanya Abra menunduk melihat wajah Dania yang seakan tertekan.
Dania yang tersadar langsung menggeleng "Hah tidak"
Abra tersenyum, hidangan utama datang kemeja mereka dengan pesanan Dania dan Ardian yang sama persis.
Bukankah ini makanan kusukaanku batin Dania namun ia lebih memilih tidak menghiraukannya, ia lebih memilih memakan ia ingin cepat-cepat pergi dari sana.
"Dania kau suka?"
"Mas kau suka?" Ucap Rilyi bersamaan dengan Abra membuat mereka berempat kaget.
__ADS_1
"Suka kak" Ujar Dania tersenyum terus memakan makanan itu.
Dania sedikit terkejut mendengar panggilan Rilyi untuk Ardian namun ia hanya bisa diam
"Mas, mas sepertinya suka itu apakah mas mau ku masakan makanan ini untuk makan malam?" Tanya Rilyi semangat.
"Hmmm"
"Oke kalau begitu kita nanti berbelanja kebutuhan dapur kebetulan habis dan berbelanja kebutuhan lain" Ujar Rilyi sambil melirik kearah Dania.
Dania diam tersenyum namun hatinya sakit kebutuhan lain mungkinkah kebutuhan untuk kehamilan, tapi baguslah Ardian mendapatkan istri yang tepat dapat menjada Ardian dengan baik Batin Dania.
"Oke" Ujar Ardian singkat lanjut memakan makanannya.
"Dania setelah ini aku akan mengantarmu pulang" Tutur Abra.
"Tidak kak aku masih ada pekerjaan di kantor"
"Baik akan kuantar ke kantor" Tutur Abra yang diangguki Dania.
"Heh Abra apakah kau memerintahkan bawahanmu memanggil kakak?" Tanya Ardian dengan senyum sinis.
"Tidak juga, hanya dia" Ujar Abra menatap Ardian.
"Apakah cocok seorang Direktur dipanggil kakak?" Tanya Ardian membuat dada Dania sedikit sakit, menerka maksud perkataan Ardian. Apakah Ardian mengingatkan tentang status? Tutur Dania dalam hati bertanya-tanya.
"Ardian ini antara aku dan Dania orang luar tidak perlu tahu" Abra santai menanggapi Ardian namun berbeda Ardian kini tampak kesal tangannya mengepal saat Abra mengatakan orang luar.
Dania makan kue, tak sengaja cream kue berada diujung bibirnya membuat Abra tertawa pelan.
"Pfff Dania kau seperti anak-anak" Tutur Abra sambil mengelap sisa makanan itu.
Dania bengong sementara Ardian sudah tidak bisa menahan lagi garpu yang digenggamnya sudah bengkok sempurna, Rilyi bingung hanya bisa memegang kemeja Ardian agar Ardian dapat menahan dirinya disana.
__ADS_1
Dania tak sengaja melirik Ardian pandangan Ardian sangat sangat marah disana bahkan Dania takut melihatnya apakah Ardian akan mengatakannya murahan lagi? Karena makan dengan Abra lalu dan sudah berakhir dengan Kenzo.