
Berbeda dengan Ardian bahkan tidak pergi untuk liburan bahkan sering lembur dalam pekerjaan. Kesalahan kecil bahkan bisa membuat Ardian naik darah.
Rilyi menunggu kehadiran Ardian dia sudah menyiapkan banyak masakan malam ini di bantu beberapa Oleh Belia, Rilyi tersenyum terus-terusan menatap hidangan.
"Nasi itu tidak akan habis sendirinya, walaupun kau lihatin begitu Rilyi" Canda Belia berhasil membuat Rilyi tertawa.
"Haha terima kasih telah membantuku Bel"
"Tidak masalah, oiya aku ingin menginap untuk beberapa hari disini tidak masalah bukan?" Rilyi diam nampak seperti berpikir, Bagaimana pun Ardian pemilik rumah dia harus menanyakan persetujuan Ardian.
"Akan aku tanya pada Ardian yaa Bel, aku tidak berani bilang begitu saja bagaimana pun Ardian lah yang berhak mengijinkannya" Ujar Rilyi, belia hanya mengangguk padahal hatinya sungguh tidak senang apa susahnya Rilyi menjawab iya padahal dia bebas melakukan apa pun disini.
Suara pintu terbuka membuat Rilyi dan Belia begitu semangat, Dasi Ardian telah mengendur kancing atasnya terbuka satu buah seperti layaknya orang yang lelah. Belia bengong sungguh dia merasa Ardian semangkin tampan di setiap harinya ingin sekali Belia mengelus dada Ardian itu. Belia membayangkan bagaimana rasanya bila dia berada di bawah Ardian, membayangkan itu saja membuat Belia sangat senang.
"Mas kau sudah pulang, makan dulu ini khusus untukmu" Ardian melirik hidangan juga matanya yang melihat sosok lain dirumahnya.
"Ini temanku Belia, dia akan menginap disini beberapa hari bolehkah mas?"
"Terserah padamu, dan lagi aku sudah makan kau tidak perlu repot" Ardian langsung pergi dengan memasukan tangannya di kantong tanpa minat sedikitpun dengan jerih payah Rilyi. Rilyi sungguh merasa sakit hati makanan yang disiapkannya dengan penuh cinta tidak di makan suaminya itu bahkan sesendok pun.
Belia melihat kearah Rilyi, Ardian sangat dingin kepadanya membuat sebuah sudut bibir Belia sedikit terangkat.
"Bel malam ini kita tidur bersama yuk, kamarku berbeda dengan Ardian" Ujar Rilyi tetap tersenyum memakan makanan yang di masaknya walaupun sebenarnya dia sudah tidak ada mood untuk memakan semua ini.
"Baiklah"
__ADS_1
***
Dania sedang makan diapartemen setelah beberapa hari nafsu makannya tidak baik sama seperti hari ini, Dania makan namun pikirannya mengajaknya untuk berpikir Ardian lagi-lagi. Bagaimana pun mereka akan melewati malam panas untuk pengantin baru jujur saja Dania cemburu namun dia ini siapa hanya seorang mantan.
"Hentikan itu Dania, Ardian sudah menikah" gumamnya tanpa sadar matanya meliris sebuah kalender yang dia ingat sebentar lagi adalah wisudanya, Dania membayangkan bagaiman dia meminta Ardian untuk hadir namun itu tinggal hanya angan-angan Dania semata, tidak mungkin Ardian akan menemaninya. Belum lagi Rere yang seakan menyimpan dendam mendalam untuk Dania karena tadi Abra membelanya, tapi Dania sangat bersyukur Dewi masih mendukungnya.
Dania lebih memilih menghabiskan waktu dengan tiduran sekaligus melupakan Ardian berusaha move on untuk menjalani kehidupannya tanpa ada bayang-bayang Ardian lagi dipikirannya.
***
Ardian kini berdiri di balkon rumahnya memandangi langit gelap segelap matanya yang hitam, Ardian melihat jam tangan yang waktu telah menunjukan untuk tidur malam, dia bahkan belum ada memakan apa pun dari pagi perut Ardian terasa perih namun dia dapat menahannya dengan baik.
Ardian sangat ingin menghancurkan restoran milik Kenzo namun dia tidak bisa Dania telah melarangnya, padahal jika saja Ardian keras kepala dia akan membuat tempat itu kosong seketika. Ardian selalu membohongi dirinya bahwa dia tidak merindukan Dania namun tubuhnya bereaksi lain bahkan terkadang tangannya tanpa sadar membuka album foto untuk melihat Dania, namun terkadang dia juga merasa Dania sangat murahan ataupun sebagainya.
Ardian lebih memilih ke bawah untuk mengambil minuman soda, ketika dibawah justru dia melihat Belia dengan piama tidur yang kancingnya sudah terbuka sebagian memperlihatkan belahan buah dadanya.
"Aku takut gelap bolehkah tunjukkan aku kamar mandi" Ujar Belia memelas, Ardian lantas langsung menepisnya seakan jijik.
"Gunakan matamu, tanya pelayan!"
Belia lantas menyeringai lalu tersenyum menatap belakang punggung Ardian seperti sorotan menantang.
Pagi-pagi sekali Ardian sudah selesai berbenah dan akan berangkat bekerja.
"Mas aku Uda buatin masakan, makan yuk" Tawar Rilyi.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak punya waktu dan lagi kau tidak perlu lelah memasak untukku itu percuma" Rilyi lantas melotot memegang dadanya yang seakan ditusuk.
"Tidak apa, Uda kewajiban aku sebagai istri mas minum susunya aja yaa"
"CK aku buru-buru" Ujar Ardian langsung pergi begitu saja, Rilyi hanya memandang dengan tatapan kebisuan.
"Tidak apa Rilyi biarkan aku yang makan" Belia menyemangati Rilyi yang tampak murung, lantas Rilyi menatap Belia matanya berkaca-kaca, Belia pasti akan mendengarkan curhatan Rilyi yang panjang lebar sejujurnya dia sangat muak mendengar itu apalagi melihat Rilyi yang seakan-akan paling tersakiti.
Hari ini Ardian akan mengadakan pertemuan kerja sama antara dirinya dan Abra, sesungguhnya Ardian sangat malas melakukan kerja sama apalagi mengingat bahwa Abra seperti sedang mengejar Dania sungguh membuat alis Ardian berkerut.
Disini mereka bertemu di restoran tempat Dania bekerja sekaligus tempat selingkuhan Dania, Ardian sungguh sangat tidak ingin ada disini namun dia harus tetap melakukan kerja sama.
Mata Ardian melirik semua bangku disana terlihat Abra yang melambaikan tangan disebelahnya terdapat seorang wanita, Ardian yang seperti melihat wanita itu sangat tidak asing lantas langsug mendekat benar saja tidak lain dan tidak bukan itu adalah mantan kekasihnya Dania yang sedang menunduk.
Astaga kenapa kerja sama dengan Ardian Batin Dania sesungguh dia harus mengerjakan beberapa dokumen namun atasannya mengajaknya ke sebuah pertemuan, Dania sudah menolak namun Abra terus memaksanya dengan terpaksa Dania ikut walaupun Rere semangkin memusuhinya toh Dania juga cuman menjalankan perintah Abra disini.
Abra Dan Ardian saling menjabat tangan namun mata Ardian melirik ke Dania, Dania diam bingung harus apa disana. Ardian dan Abra sibuk membahas kerja sama Dania sesekali melirik Ardian begitu pun sebaliknya.
"Dania kau disini" Ujar Kenzo tiba-tiba mendekati mereka. Dania lantas mengangkat kepalanya tersenyum menatap Kenzo.
"Iya"
"Apakah aku boleh mengajak kekasihku?" Ujar Kenzo bertanya ke Abra yang paham aktingnya dan Dania harus di lanjutkan. Mata Ardian melotot begitu pun dengan Abra. Dania lantas berdiri.
"Kau punya kekasih" Abra mencekal tangan Dania membuat hawa hitam seakan keluar dari tubuh Ardian.
__ADS_1
"Iya tuan, saya permisi sebentar dengan pacar saya yaa" Ujar Keinna membuat Abra sedih, Ardian cukup terkejut kata-kata itu keluar dari mulut Dania.
"Heh tuan Abra, barang yang kau jual sungguh sangat MURAHAN"