Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo

Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo
Menolong lagi


__ADS_3

Dania melotot menunduk mengerti bahwa kata-kata menusuk itu untuk dirinya. Dania mengigit bibir bawahnya. Abra melihat ke arah Dania, dia tidak bodoh untuk mengerti maksud Ardian.


"Menurut ku tidak, Itu harga paling tinggi" Tatapan mata Abra mengarah ke Dania hingga Dania mengangkat kepalanya pandangan mereka bertemu, Dania kembali menunduk, Ardian kesal sungguh ingin menarik Dania pergi, namun Dania lebih dahulu di bawa pergi Kenzo.


"CK"


Abra hanya melihat punggung Dania yang menjauh berpikir apakah dia terlambat? Tentu tidak masih banyak kesempatan untuk mengejar Dania.


"Pak Kenzo makasih" Dania melepaskan gandengan tangan Kenzo kini Kenzo berbalik melihat Dania.


"Tidak masalah ayo makan terlebih dahulu, kau sudah lama bukan tidak makan disini"


"Iya pak, tapi setelah ini bapak tidak perlu membantuku lagi"


"Maksudnya Dania"


"Bapak tidak perlu berakting lagi denganku kita jalani kehidupan seperti biasa bapak adalah mantan bos ku bukan pacarku" Kenzo tersenyum mengelus Surai rambut Dania. Dia hanya bisa bilang iya kepada gadis mandiri didepannya.


Tepat setengah jam Dania kembali ke Abra, dia harus kekantor lagi melanjutkan pekerjaannya.


"Tuan Ardian semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar"


"Iya"


"Aku harus mengantar gadis ini ke kantor lagi"Ujar ane Tiba-tiba saja seringai Ardian muncul.


"Heh gadis? apakah kau tidak tahu dia bukan lagi gadis dia sudah ku"


Plakk..


Belum Ardian melanjutkan kata-katanya sebuah tangan sudah melayang ke pipinya. Ardian melihat ke arah Dania sorot mata Dania marah dan berkaca-kaca. Dania menarik tasnya langsung pergi meninggalkan restoran dengan berlari.


"Dania" Panggil Abra.


"Ardian aku tidak tahu apa yang terjadi, namun ucapan mu sungguh menyakitkan" Abra lantas berlari mengejar Dania. Ardian diam mematung di tempat, dia sungguh tidak menyangka mengucapkan kata-kata itu.

__ADS_1


"apa yang baru saja kukatakan" Ardian mengucap rambutnya gusar.


Dania berlari hingga ke sebuah gedung tua, kakinya keseleo dia melepaskan heels yang dia gunakan memijat tumitnya yang sudah membiru, Dania meringis namun hatinya lebih sakit lagi apa salah nya ke Ardian hingga dia mengucapkan kata-kata itu.


"Kau yang mengambilnya Ardian hikss" Dania memeluk tubuhnya meringkuk di gelapnya bangunan yang hanya disinari cahaya matahari.


"Hai manis, Kenapa kau menangis" Ujar seseorang yang muncul di balik tangga yang gelap itu, samar-samar muncul dua orang pria, Dania takut.


Abra mencari Dania berlari sekitar restoran namun dia juga belum menemukannya, Ardian yang tidak sengaja melihat Abra yang seperti kebingungan berlari cepat-cepat ke mobil lantas menghampiri nya.


"Kenapa?" Tanya Ardian heran.


"Aku mau mencari gadis itu, dia belum ketemu"


Ardian kaget, apakah Dania berlari sangat jauh. Ardian tidak memperdulikan Abra langsung masuk mobilnya, melajukan secepat mungkin ke mana Dania.


***


Dania mundur beberapa langkah saat dua orang pria itu mendekatinya, Dania tidak sadar tubuhnya telah menempel ke dinding, dirinya bergetar ketakutan dengan dua orang yang di depannya, matanya sungguh menatap Dania dengan penuh nafsu.


"Pergi!!" Bentak Dania.


"Wow galak sekali, aku suka" Pria itu mendekat memegang lengan Dania, Dania lantas menggigitnya dengan kuat, membuat pria itu refleks memukul Dania hingga terbentur ke dinding.


"Sepertinya kau memang ingin kami menggunakan cara kasar" Pria itu mendekat merobek lengan baju Dania, Dania berteriak sangat keras, kepalanya berdarah akibat benturan namun dia sebisa mungkin melawan.


"Ardian!!" Tanpa sadar Dania mengucapkan suara itu.


"Wow, itu kekasihmu yang tadi membuatmu menangis? dia tidak akan menolong mu sayang" Pria itu memegang dagu Dania.


"Dania" Panggil Ardian dengan keringatnya yang bercucuran, Ardian melotot melihat keadaan Dania yang menangis, kepalanya berdarah pakaiannya terobek dengan dua orang pria yang memeganginya. Seketika Ardian seperti di masuki iblis, Hawa sekitarnya seakan menghitam.


"Woii ini pahlawan yang kau teriakin tadi cantik?" Ujar preman itu berjalan maju mendekati Ardian. sementara yang satu lagi memegangi Dania.


"Pergilah jika masih ingin hidup" ujar Kedua pria itu sambil tetawa, Ardian tanpa pikir panjang meninju pria itu hingga tersungkur, pria itu mengeluarkan pisau membuat Dania melotot.

__ADS_1


"Jangan!!"


Ardian dengan sigap menendang pisau menjatuhkan pisaunya lalu kembali mengajar sang preman hingga tersungkur. Ardian mengambil pisau mendekat ke arah orang yang memegangi Dania, orang itu takut kepada Ardian melihat temannya sudah pingsan di hajar habis-habisan. Sungguh Ardian sekarang bagaikan harimau yang siap menerkam mangsanya, tanpa pikir panjang Ardian langsung menendang kepala sang preman hingga membuatnya jatuh, preman itu berlari mendekati Ardian dengan sigap seluruh serangannya dipatahkan Ardian.


krekk..


Suara tangan patah, Dania melotot mendengarnya. Ardian mematahkan tangan preman itu. Teriakan keras terdengar dari mulut sang preman, Ardian lalu tersenyum menyeramkan memegang pisau yang akan mendarat ke dada kedua preman yang telah pingsan, jika bukan karna teriakan Dania.


"Ardian jangan!"


Seolah sadar, Ardian langsung menghampiri Dania, melepaskan jas nya untuk menutupi pakaian Dania yang sudah terobek meskipun hanya bagian lengan saja yang terkoyak. Ardian lantas langsung menggendong tubuh mungil Dania. Dania merasakan kehangatan tangan kekar Ardian menjalar ke tubuhnya, bohong jika Dania bilang dia tidak merindukan kehangatan Ardian, namun dia harus menyadari Ardian bukan lah miliknya. Hanya ada keheningan di dalam mobil, Ardian diam dengan wajah dinginnya sementara Dania diam menunduk. keheningan terus terjadi sampai didepan apartemen Dania. Dania turun dengan kakinya yang membiru berjalan pincang. Ardian melihat itu menjadi geram langsung keluar mobil menggendong tubuh Dania membuat Dania sangat terkejut.


"Ardian jangan" Ujar Dania sementara Ardian hanya berwajah datar seolah tak mendengar.


Belia tanpa sengaja melihat Ardian yang menggendong Dania tersenyum licik mengambil ponselnya memotret nya dan mengirimnya ke Rilyi. Belia memutar ponselnya dengan senyumannya, entah apa maksudnya.


Ardian mengantar Dania hingga ke kamar mengobatinya dengan kotak medis, Ardian langsung memperban kepala Dania, padahal Dania baru saja di culik namun ini sudah terjadi kembali Dania hampir diperkosa.


"Lukamu sudah membaik?" Tanya Ardian melihat mata Dania.


"Ardian kau sudah menikah, tidak boleh begini Rilyi"


Buk!!


Ardian membanting kotak obat membuat Dania kaget, namun hanya menunduk langsung pergi. Dania bungkam menggigit bibir bawah dia harus bisa. Dania membuka membuka handphone miliknya terdapat banyak panggilan yang tidak terjawab dari Abra.


"Siang Kak Abra, Maaf tadi pergi aku Udah di rumah"


"Hah Dania syukurlah aku sangat khawatir dari tadi mencarimu, tenang saja kau tidak perlu bekerja hari ini istirahat di


rumah saja"


"Baik kak, terimakasih"


Dania memutuskan panggilan telepon, merebahkan diri ke kasur, sungguh Abra adalah bos yang baik tidak mempersalahkan Dania yang baru bekerja namun sudah berkali-kali mengambil cuti.

__ADS_1


Dania memutuskan untuk mandi menghilangkan rasa lelahnya, dia harus berterimakasih pada Ardian jika bukan karna Ardian datang tepat waktu dia mungkin sudah di perkosa, namun dia hanya bisa mengungkapkan perasaan terima kasih itu di dalam hatinya saja.


__ADS_2