
Disisi lain Dania menatap kosong foto yang ia terima, dia baru membuka handphone pagi tadi dikejutkan dengan nomor yang tak dikenal foto Belia dan Ardian. Ia sudah tiba dikantor namun foto itu masih dipandang padahal itu bukanlah urusan Dania lagi mau apa pun yang Ardian lakukan, tapi entah kenapa Dania merasa sangat sedih dan kecewa. Dewi melihat Dania menatap foto itu sangat lama, Dewi sangat ingin bertanya namun tak berani mungkin itu adalah kehidupan pribadi Dania, Dewi hanya bisa mengantarkan secangkir susu untuk Dania karena Dania masih sakit. Dania tidak bisa karena dia sudah banyak mengambil cuti.
Dewi hanya dapat mengelus punggung belakang Dania setelah itu pergi dari sana karena sudah waktunya bekerja. Dania mengusap wajahnya lembut untuk melupakan hal yang baru dilihatnya tiba-tiba dari belakang Abra menghampirinya kehadiran Abra secara tiba-tiba membuat Dania tersentak kaget.
"Pagi kak Abra" Sapa Dania dengan menyunggingkan sedikit senyuman.
"Pagi Dania, Hari ini aku akan melakukan makan siang di restoran dekat sini kau bisakan ikut dengan ku?" Tanya Abra disertai harapan diwajahnya nya.
Dania berpikir sejenak lalu mengangguk "Boleh kak jam berapa?"
"Setelah istirahat makan siang kita pergi" Ujar Abra tersenyum.
Dibalas senyuman manis Dania di wajah pucat yang ditutupi make up.
Rere sedari tadi mendengarkan percakapan mengepalkan tangan, geram dan emosi menjadi satu. Hal yang menjadi tugasnya diambil Dania seharusnya Rere yang menemani Abra sebagai sekretaris tapi malah Dania yang diajak sungguh lucu.
Dania tidak fokus sedari tadi menatap monitor dihadapannya pikirannya terbagi dengan pria yang dulunya setia dan tidak memandang wanita lain mengapa sekarang menjadi pria yang gampang tergoda. Dania mengingat saat Ardian menidurinya dan berpikir bahwa dia adalah wanita murahan apakah semua wanita seperti itu Dimata Ardian sekarang.
"Heh! Kerja itu fokus bukan bengong gak jelas!" Bentak Rere sambil memukul meja dengan kuat sehingga mata karyawan lain fokus terhadap mereka berdua.
"Maaf ini aku kerjain"
"Ngerjain kok belum selesai dasar pemalas!!"
"Ada apa?" Tanya Siska yang datang menghampiri keributan itu.
__ADS_1
"Dia bengong sambil kerja apa perlu kuadukan pak Abra biar sekalian kau yang mengurus, bukannya kau HRD" Sarkas Rere sambil berkacak pinggang.
"Seharusnya aku mengurusmu. Ini jam kerja mengapa kau sibuk mengurus orang lain? apakah kerjamu telah selesai agar kuberi tahu pak Abra untuk memberi pekerjaan tambahan?" Ujar Siska tak kalah dengan perkataan Rere yang keduanya berlagak sombong.
Namun kali ini yang kalah Rere langsung terbungkam dengan perkataan Siska dan pergi dari sana membuat senyum seringai keluar dari sudut bibir Siska.
Siska berbalik menatap Keinna yang tengah melihatnya Siska tersenyum yang dibalas senyuman manis Dania.
"Makasih yaa kak Siska"
"Gak masalah udah kerjain sana tugasmu" Tutur Siska tersenyum yang dibalas anggukan oleh Dania. jika dilihat Siska memang sangat cocok menjadi lawan Rere sifat sombong mereka sama namun bedanya Siska tidak mempunyai rasa iri ia hanya membela siapa yang benar dan siapa yang salah dan juga temannya. Cukup heran bagi orang sekantor Siska dan Rere sekawan orang yang paling ditakuti didalam kantor selain para atasan menjadi musuh dalam waktu singkat.
Pekerjaan Dania belum selesai namun istirahat makan siang sudah tiba, Dania memutuskan untuk tetap melanjutkan pekerjaan karena Abra berkata di restoran berarti Dania akan memesan makanan disana jadi lebih baik Dania menyelesaikan tugas yang belum selesai.
Dania makan siang bukan di restoran dekat kantor melainkan sebuah resto berkelas dan hanya orang kaya yang bisa masuk kesitu, Dania sudah tidak asing dengan tempat yang didatanginya, Ardian telah berkali-kali membawanya kesini. Mengingat Ardian lantas Dania menggelengkan kepala dengan cepat untuk apa mengingat masa lalu batinnya.
"Ada apa Dania ada yang mengganggumu?" Tanya Abra sambil melihat Dania.
"Hah tidak restorannya sangat mewah" Ujar Dania tersenyum kaku
"Kau suka? Tanya Abra tersenyum puas.
"Emmm suka" Ujar Dania namun sebenarnya Dania lebih menyukai restoran yang sederhana makan ditempat mewah sangat mahal menurutnya.
Pelayan menyambut dan mengantar kemeja yang sudah dipesan Abra terlebih dahulu. Abra menarik kursi untuk Dania duduk membuat Dania tersenyum canggung karena menurutnya tak sopan untuk bos seperti Abra melayani Dania.
__ADS_1
Saat Abra dan Dania berbincang pelayan tengah mengantar kedua tamu lain tepatnya dua pasangan kaya Raya yang baru saja menikah dan sangat dikenal banyak orang , Dania sangat mengenali orang itu Ardian dan Rilyi yang tengah menatap balik Dania dan Abra.
***
Ardian awalnya sedang bekerja di kantor namun tiba-tiba saja dihampiri Rilyi yang datang ke perusahaannya. Ardian tidak menyukai hal itu namun dia juga tak bisa lari dari pertaruhan dengan Rilyi. Rilyi datang mengajaknya untuk pergi ke restoran yang di rekomendasikan nya awalnya Ardian menolak namun karena papanya berada disana juga memaksa Ardian untuk pergi terhitung-hitung kencan untuk pasangan yang baru menikah. Paksaan papanya serta bujukan dari Rilyi membuat Ardian terpaksa pergi jik ia dik antor maka ia kembali mendengar perkataan tak masuk akal apalagi papanya yang datang ke kantor menanyakan perkembangan hubungannya tahap apa membuat Ardian jengah.
Diperjalanan Ardian duduk disebelah supir sementara Rilyi dibiarkan duduk di bangku belakang, Rilyi tak berani berkata-kata lagi Ardian ikut dengannya itu saja sudah bagus, jika ia meminta Ardian duduk disebelahnya bisa jadi Ardian tak mau pergi makan dengannya dan malah kembali bekerja.
Mereka terus saling bertatapan dengan tangan Ardian terkepal erat, Rilyi melihat itu sementara Dania kembali menunduk tak ingin menatap kedua orang disana .
Ardian dan Abra bersalaman sebagai partner bisnis seperti yang biasa dilakukan namun salaman yang terlihat seperti layaknya musuh.
"Dania" panggil Rilyi membuat Dania tersenyum berdiri dan bersalaman formal.
Begitupun sebaliknya dimana Rilyi bersalaman dengan Abra saling melemparkan senyum dan memperkenalkan diri. Ardian dan Dania juga begitu layaknya orang yang pertama kali bertemu seasing ini kah kita berdua sekarang.
Tangan yang saling bersentuhan mata yang saling memandang namun dengan pandangan dingin tak ada senyuman antara keduanya.
"Ardian"
"Dania"
Sentuhan itu terlepas saat mereka berdua selesai memperkenalkan nama masing-masing. Wajah Dania diam menunduk begitupun pandangan Ardian yang melihat kearah lain. Hingga keadaan menjadi sangat canggung diantara mereka yang hanya dapat tersenyum.
Mereka kembali kemeja masing-masing keduanya layaknya kekasih kaya namun keempat orang disana punya pikiran masing-masing didalam hati.
__ADS_1