
Hari dimana ulang tahun Rey semua orang kolega dari perusahaan terkenal hadir disana dan yang membuat semua perhatian mata tertuju ialah penampilan Ardian dan Rilyi terlihat serasi dan anggun. Rilyi dengan gaun putih dan daerah punggung yang terbuka dan Ardian dengan jas nya.
Rilyi menggandeng lengan Ardian layaknya pengantin baru yang bahagia, wajah Rilyi yang dihiasi senyuman bersama Ardian yang terlihat sangat berwibawa.
Rilyi mendatangi papanya memeluk serta menempelkan pipinya ke Rey "Selamat ulang tahun pa" Tutur Rilyi
"Terimakasih sayang" Balas Rey mengalihkan pandangannya ke Ardian. Ardian menjabat tangan Rey ikut mengucapkan selamat ulang tahun kepada papa mertuanya yang telah bertambah usia.
Pandangan mata kagum serta iri terlihat jelas, mereka menganggap kedua keluarga disana adalah keluarga yang bahagia, dengan gabungan keluarga kaya serta menawan namun itu hanyalah tipuan semata hanya untuk menunjukan bahwa mereka adalah keluarga Cemara.
Ardian berkeliling bersama istrinya menyapa orang-orang yang mereka kenal.
"Terima kasih mas, kau sudah bersedia datang" Tutur Rilyi senyum sambil melihat Ardian yang hanya memasang ekspresi datar
Disana terdapat Abra yang berdiri disudut tanpa pasangan Ardian mencuri pandangan disana, ia mengira bahwa Abra akan bersama Dania ternyata salah Abra seorang diri disana. Pandangan mereka bertemu saling menatap tajam.
"Aku ingin menemui seseorang" Ujar Ardian.
"Mas ingin bertemu siapa aku ingin ikut" Tutur Rilyi melihat arah mata Ardian.
__ADS_1
"Tidak perlu"
Ardian melepaskan Rilyi langsung melangkahkan kaki panjangnya dimana Abra berada. Abra tersenyum sinis sama halnya yang dilakukan Ardian. Abra diam menggoyangkan gelasnya yang terdapat wine
"Selamat malam Ardian" Tutur Abra.
"Malam juga Abra" Tutur Ardian
"Apa yang hendak tuan Ardian lalukan mendatangi tempatku, meninggalkan istrinya diseberang sana?"
"Aku hanya ingin membicarakan bisnis denganmu" Tutur Ardian namun mata Ardian melirik-lirik sekitar.
Ardian melirik sekitar memasukan tangan di saku celananya "Kita bicara dibelakang ikuti aku"
Di Taman belakang yang hanya ada mereka berdua bahkan tidak membawa pengawal mereka masing-masing tempat yang dipastikan rahasia bagi mereka berdua untuk berbicara.
"apa yang ingin kau bicarakan tuan Ardian" Tanya Abra menyalakan sebatang rokok lalu menghisapnya.
"Aku langsung saja mana wanita yang memanggilmu kakak" Tanya Ardian menatap tajam Abra.
__ADS_1
"Apa urusanmu dengan karyawanku? Dan lagi bukankah tidak pantas seorang yang telah beristri mencari wanita lain"
Ardian terdiam namun matanya tak henti menatap tajam Abra yang tengah mengisap rokoknya.
"Aku tidak tau Dania dimana" Ujar Abra yang sebenarnya telah frustasi mencari Dania.
Mata Ardian mendelik menarik kerah kemeja milik Abra " Jangan bercanda!" Ujar Ardian penuh penekanan.
"Bercanda? Heh"
Abra mencekam kerah Ardian "Justru aku curiga dia mengundurkan diri karena mu!"
"Jangan bermain-main denganku Abra apakah perlu aku tunjukan siapa diriku kepadamu?" Tutur Ardian dengan penuh penekanan.
Abra melepaskan cengkraman Ardian kembali menyalakan rokok karena rokoknya telah terjatuh saat Ardian mencengkram kerahnya.
"Jagalah istrimu soal Dania tidak perlu kau pikirkan biar aku yang mencarinya dan menjaganya hal yang tidak bisa kau lakukan" Ujar Abra melangkahkan kaki meninggalkan Ardian.
"Kau pikir aku akan membiarkan hal itu terjadi? Jangan bermimpi!"
__ADS_1
Langkah Abra terhenti lalu menatap Ardian yang juga menatapnya terlihat kebencian disana.