Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo

Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo
kumohon


__ADS_3

Seminggu telah berlalu dimana Ardian tampak begitu gusar tak melihat Dania selama itu keluar dari kos"an yang ia sewa, hampir setiap hari Ardian mempercepat pulangnya dari kantor demi menunggu Dania memastikan kabarnya hari ini.


"Hari ini dia juga tak terlihat" Rutuk Ardian mengepal tinjunya. Kemana wanita itu?"


Ada wanita yang masuk ke dalam gang kecil kos"an itu tapi bukan Dania melainkan wanita lain, Ardian berdecih sebal langsung melajukan mobilnya kembali ke rumah mewahnya.


Terdapat Wanita cantik tengah menunggu di depan pintu, layaknya seorang istri yang tengah menyambut kepulangan suami yang penat akan pekerjaan kantor yang menumpuk.


Mobil hitam masuk ke pekarangan rumah menandakan Ardian telah pulang, seperti biasa Rilyi harus menelan pahitnya ekspresi Ardian yang tidak pernah memperlihatkan senyum sedikit saja padanya. Rilyi paham itu karna Ardian belum mencintainya, Namun ia tak menyerah ia masih berpegang teguh pada komitmennya bahwa Ardian akan jatuh cinta dengannya.


"Malam mas. Bagaiman pekerjaan kantor hari ini?" Tanya Rilyi ingin mengambil sebuah jas yang tersandar di lengan kiri Ardian namun niat baik Rilyi langsung di tepis Ardian, ia masuk ke dalam rumah meninggalkan Rilyi yang membeku.


Ini masih permulaan bukan? batinnya lalu langkahnya mengikuti Ardian.


"Mas besok kan hari libur apakah aku boleh pulang ke rumah orang tuaku?"


Ardian yang tadinya mengendurkan dasinya kini menatap Rilyi "Silahkan aku tidak melarang mu melakukan apa pun" Tutur Ardian tidak perduli.

__ADS_1


"Tapi mas apakah mas tidak ingat besok hari ulang tahun papa jadi mas harus ikut" Rilyi memelas yang sama sekali tidak memengaruhi Ardian.


"Aku tidak bisa ikut sampaikan salamku kepada orang tuamu" Tutur Ardian berdiri ingin meninggalkan Rilyi disana.


Rilyi menarik ujung kemeja Ardian menggigit bibir bawahnya mencoba mengambil keberanian yang tersisa "Papa bilang mas harus datang agar orang-orang melihat pernikahan kita bukan sekedar untuk bisnis antara dua keluarga" Ujar Rilyi tersenyum kecut.


Ardian menyeringai layaknya senyum mengejek apa yang baru saja Rilyi katakan " Bukankah itu memang fakta kenapa aku harus menutupi Fakta"


Rilyi hanya mampu melihat lantai terbungkam dengan ejekan Ardian air matanya tanpa ia sadari jatuh. Ardian yang tak perduli langsung pergi menuju kamarnya di lantai atas. Rilyi hanya dapat menghapus jejak" air matanya ia bingung apa yang nanti ia akan sampaikan pada ayahnya.


dringg....


Suara telepon menyadarkannya dari lamunan ternyata telepon dari ayahnya. Yang biasanya bahkan sebulan sekali belum tentu ada telepon masuk dari sana.


"Ada apa?." Ketus Ardian merasa malas dengan orang yg sedang berbicara dengannya.


"Besok adalah hari ulang tahun papa mertuamu, jangan lupa datang bersama istrimu perlihatkan bahwa kita adalah keluarga bahagia." Tegas Diandra penuh penekanan.

__ADS_1


"Aku tidak bisa, aku sibuk. Jangan paksa lagi aku lelah" Tutur Ardian yang ingin segera mematikan telepon.


"Ardian aku tidak menerima satu bantahan pun, ini perintah aku tidak perduli. Kau harus datang bersama Rilyi datanglah membawa nama baik keluarga Alzy" Tutur Diandra langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Ardian hanya dapat menarik nafas kasar, lalu mengambil sebuah foto yang sempat ia banting beberapa hari lalu ia hanya tersenyum sinis lalu meletakkan kembali foto itu.


Rilyi mendapati Ardian turun dari tangga ia tidak tahu harus bagaimana membujuk Ardian. Ia harus memaksa Ardian ikut karena baru saja menerima telepon dari Rey papanya sendiri dengan seperti biasa menggunakan adiknya sebagai ancaman.


"Mas ingin sesuatu? Mau ku buatkan kopi? Atau yang lain?" tanya Rilyi mengikuti Ardian yang hendak pergi ke arah taman depan rumah mereka.


"Mas mau ke taman depan mau kubawakkan makanan? tapi setelah itu kita mengobrol yaa"


"katakan disini jangan ikuti aku" Tutur Ardian dingin.


Rilyi terdiam sesaat menarik nafasnya, mengepalkan tinjunya erat seraya mengumpulkan keberanian didalam dirinya "Mas kumohon pikirkan tawaranku tadi" Mata Rilyi berkaca-kaca takut dengan jawaban Ardian.


"Baik besok kita pergi"

__ADS_1


__ADS_2