Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo

Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo
Di tepi Danau


__ADS_3

"Dania itu manis yaa"


"..."


"Dania beruntung memiliki kau sebagai kakaknya" Ujar Rilyi sambil melihat ke arah Ardian


"Aku lah yang beruntung memilikinya"


Ujar Ardian.


Mendengar jawaban dari Ardian Rilyi bungkam


Sebagai kakak? Hahaha kata-kata ini sungguh ironis ujar Ardian dalam hati.


...****************...


Dania sedang melihat ke arah kaca mobil pandangannya terpaku pada satu arah.


"Pak stop pak!" Ujar Dania kepada supir yang mengantarnya agar berhenti.


Supir itu pun memberhentikan mobilnya dan melihat sekeliling.


"Tapi non ini belum sampai tujuan rumah nona"


"gak papa pak saya liat temen saya ada di sana tadi" Ujar Dania membuka pintu mobil.


"non yakin ini gelap loh" Ujar supir itu.


"Iya pak, saya di Luan yaa" Ujar Dania pergi berlari meninggalkan supir itu.


Di malam ini Dania berada di pinggir Danau, dia duduk di tepi pohon yang berada di tepatnya. angin malam kini menerpa wajah dan tubuhnya namun dingin malam ini tidak ada arti untuknya pemandangan malam yang gelap di temani beberapa lampu jalanan. Sepi kata-kata yang sesuai dengan keadaan Dania saat ini. Dia duduk termenung di sana menatap pandangan di depannya dengan tatapan kosong cairan bening itu kini jatuh lembut membasahi pipinya.


"Mereka keluarga yang rukun" Ujar Dania kini menghapus lembut air matanya.


Mengingat kejadian tadi bahwa dia sadar dirinya hanya sebatas orang asing di sana, yang hanya bisa diam saat kedua keluarga itu saling bercanda dan tertawa.


Dania mengingat Foto yang di berikan Vivi sewaktu berbicara berdua kepadanya, dia tahu bahwa wanita itu adalah yang saat ini berjalan berdua dengan Ardian.


"Dia sangat cocok untukmu Ardian hiks...." Isak tangis kini lolos dari mulut Dania yang tidak dapat di tahannya lagi.


Saat ini Dania sangat membutuhkan teman untuknya bercerita namun siapa?, di dunia ini hanya Ardian lah yang dekat dengannya mendengarkan keluh kesahnya bahkan dia lah yang satu-satunya dia miliki saat dia tidak memiliki keluarga bahkan teman.


Dia tidak sebanding dengan Rilyi dia wanita berwawasan luas, dari keluarga yang hebat, cantik.

__ADS_1


"Aku tidak sebanding dengannya" Ujar Dania perlahan menutup matanya karna angin malam yang membuatnya merasa ngantuk.


Di sisi lain Ardian kini tiba di rumah orang tuanya dia hanya membawa Rilyi berkeliling tanpa mengunjungi satu tempat pun.


Ardian melihat supir yang mengantar Dania juga tiba bersamaan dengan tibanya Ardian.


"Malam tuan muda" Ucap sang supir sopan


"Apakah dia sudah di apartemen nya?" Tanya Ardian.


"Nona tadi minta berhenti di tepi Danau yang berada di dekat taman"


"Hah?!" Tatapan Ardian kini menajam membuat supir maupun Rilyi merasa takut.


"No...nona itu tadi berkata bahwa temannya ada di sana"


Ardian yang emosi langsung mencekram baju yang supir itu gunakan mendorongnya ke mobil.


"Apa yang kau bilang!" Ujar Ardian dengan emosi.


"Nona itu minta di antar ke sana" Ujar supir itu ketakutan dengan emosi Ardian saat ini.


"Apakah kau tau! disana adalah kawasan yang berbahaya!" Ujar Ardian dengan mata yang memerah tanda bahwa dia sangat marah dan juga khawatir.


"Ardian tenang lah" Ujar Rilyi menenangkan Ardian.


Ardian langsung menghempaskan supir itu mengambil mobil yang biasanya dia kendarai bersama Dania. Dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke tempat Dania berada.


"Ardian!!" Teriak orang-orang yang baru keluar dari rumah namun tidak di hiraukannya.


"Rilyi, Ardian pergi kemana?" Tanya Vivi namun Rilyi tidak menyahut dia hanya sibuk melihat kendaraan Ardian yang semangkin menjauh.


"Rilyi" panggil Vivi kembali.


"Ahh dia berkata ada urusan" Ujar Rilyi tersenyum menatap Vivi.


"Dasar anak itu benar-benar sibuk" Ujar Diandra.


"Maklum lah Diandra dia CEO muda pasti sangat sibuk" Ujar Rey.


"Hahaha benar, ayo masuk" Ujar Diandra mengajak tamunya masuk namun Rilyi masih melihat ke arah gerbang rumah keluarga Ardian.


Benarkah dia hanya seorang adik? Ujar Rilyi dalam hati dengan wajah sendu.

__ADS_1


Kini Ardian telah tiba di tempat supir itu memberhentikan Dania iris matanya tidak pernah berhenti menjelajahi setiap sudut begitu juga dengan suaranya tidak pernah berhenti meneriakkan nama Dania.


"Dania!"


"Dania kau dimana"


"Dania!


Ardian melihat handphone miliknya ingin menelepon Dania namun sayang Dania tidak mengangkat telepon darinya membuat Ardian semangkin kesal.


Astaga kenapa kau berhenti di tempat ini kau tahu tempat ini bahaya Dania ujarnya dalam hati. Suasana sangat gelap membuat Ardian semakin khawatir dengan keadaan Dania, jantungnya berdegup kencang takut sesuatu terjadi pada kekasihnya.


Hingga dirinya berlari ke dekat danau dan di lihatnya di bawah pohon besar seorang wanita tengah terlelap dengan tidurnya saat ini, helai demi helai menutup wajah cantiknya. Ardian kini mendekatkan diri ke Dania yang tertidur tersenyum lega karna dapat menemukan Dania saat ini. Ardian mengelus pelan pipi Dania menggunakan tangannya.


"Kau membuatku khawatir Dania" Ardian duduk di sebelah Dania saat ini memperhatikan wajah yang terlelap.


Ardian melihat sekeliling mengingat bahwa katanya Dania pergi bersama temannya namun nihil tempat itu hanya ada mereka berdua disana.


"Apakah kau kelelahan Dania" Ujar Ardian masih mengelus pipi Dania.


"Apakah kau tidak takut di gigit nyamuk kulitmu akan merah kau tau" Ujar Ardian menarik pelan hidung Dania.


"Hmmm" Gumam Dania yang merasa tidurnya terganggu


Ardian merasa hawa semangkin dingin di tempat mereka duduk membuka jas yang di gunakan Ardian dan memakaikannya ke Dania mengangkat tubuh ringan kekasihnya dan membawanya ke mobil dengan hati-hati agar tidak membangunkan Dania.


Di perjalanan Dania masih tertidur hingga sampai ke dalam rumah ke adaan Dania juga masih sama yaitu tertidur lelap.


Para pelayan seperti biasa menyambut Ardian dengan baik.


"Tuan apa perlu kami bantu" Ujar salah satu pelayan muda di sana.


"Tidak" Ujar Ardian terus memandang wajah Dania yang terlelap di pelukan Ardian.


Ardian menaiki tangga rumahnya menuju kamar miliknya dan membaringkan tubuh Dania disana, Ardian menarik selimut untuk Dania agar tidak kedinginan namun Dania membuang selimut itu membuat Ardian geleng-geleng kepala melihatnya.


"Dania aku tidak mau kau kedinginan" Ujar Ardian kembali memakaikan selimut yang tadinya terjatuh.


"emm tidak" Ujar Dania mengubah posisi tidurnya ke arah lainnya dan kembali membuang selimut yang di pakaikan ke tubuhnya.


Ardian tersenyum lembut melihat itu namun tetap berusaha memakaikan selimut untuk Dania dia tidak mau kekasihnya akan sakit.


Ardian mengelus pelan rambut Dania di sana meredupkan lampu agar tidak terlalu terang.

__ADS_1


Ardian mendekatkan wajahnya ke Dania menggeser rambut Dania dan mengecup pelan kening milik Dania.


"Goodnight Sweetheart"


__ADS_2