
Dewi mendekatkan dirinya ke Dania mengelus pundak Dania yang kini tampak rapuh, Dania belum menjawab pertanyaannya, ia hanya melihat Dania menyandarkan kepala ke bahu Dewi pertama kali Dewi melihat Dania wanita yang rapuh dan bukan wanita yang ceria.
"Dania ceritalah, aku pasti mendengarkan mu" Tangan Dewi terus mengusap punggung rapuh itu seraya mencoba menenangkan Dania yang masih menangis.
Dania tak tahu harus bicara apa yang ia lakukan hanya bisa menangis kini. Dewi terus mengusap Dania tapi panas tubuhnya masih terus bertambah terus bertambah.
"Dania kita kedokter sekarang yaaa tubuhmu sangat panas" Dewi khawatir, ditambah wajah Dania yang pucat. Tapi balasan Dania hanya menggeleng.
Dewi bingung dia harus apa hingga ditengah-tengah tangisannya Dania terlelap tidur disandaraan Dewi, perlahan ia memindahkan tubuh Dania ketempat tidur menyelimutinya. Dewi menatap wajah Dania yang terlihat lelah tak seperti biasanya, ada kala juga Dania merasa lelah dan tak terlihat senyumnya.
Dewi mengambil kompres air hangat untuk meletakan dikening Dania dia berharap panas Dania sedikit menurun. Lalu Dewi pergi ketempat kosnya memasak bubur.
ia tak berani membawa Dania ke dokter tanpa izin dari Dania, ia sangat paham dengan Dania walaupun baru bertemu tapi sudah terlihat Dania adalah wanita yang sangat keras kepala ia hanya bisa merawat sementara dan jika panas Dania belum juga menurun dengan paksa Dewi harus membawa wanita keras kepala itu
***
Ardian tak bisa pungkiri dia merindukan Dania, benci dan rindu kini menjadi satu. ditengah-tengah rapat ia bahkan merenung. Membuat peserta rapat yang lain kebingungan bahkan ada yang takut jika berani sedikit saja bersuara.
Pukul 8 malam Ardian tengah menunggu didekat apartemen Dania namun hingga pukul 11 Dania tak kunjung pulang membuat Ardian berdecak sebal sambil melihat kearah jam tangan, Ardian memutuskan untuk naik melihat kesana. Pintu apartemen terkunci rapat saat Ardian berusaha membukanya.
"Tuan cari siapa?" Tanya petugas kebersihan yang kebetulan lewat.
"Cari penghuni apartemen ini" Tunjuk Ardian
"Maaf tuan, setahu saya penghuni apartemen ini telah pindah seminggu yang lalu" Tutur pembersih yang membuat alis Ardian berkerut.
__ADS_1
"Tidak mungkin"
"Benar tuan aneh, pemiliknya bahkan meninggalkan kunci begitu saja"
"Dimana kuncinya?" Tanya Ardian.
"Sebentar tuan akan saya ambil" Ujar pembersih berlari dengan cepat mengambil kunci.
Pembersih itu datang langsung menyerahkan kunci tanpa bertanya siapa Ardian, karena pembersih itu tau wajah Ardian terlihat tak asing apalagi ia sering kesana dahulu.
Ardian membuka pintu apartemen barang-barang masih tertata rapi tapi tidak dengan isinya lemari sudah kosong begitupun kamar tak ada catatan yang ditinggalkan, Ardian terduduk lemas sambil memegang keningnya ia tampak pusing.
Apa gerangan Dania pindah, menghindarinya? Ardian berusaha mengingat-ingat bahwa ia baru bertemu Dania saat akan pergi bekerja, Ardian langsung berdiri menerka bahwa Dania belum pindah jauh.
Ardian ingin melangkah keluar tapi langkah terhenti saat mengingat percuma mencari Dania. Siapa Ardian sekarang hanya orang asing yang telah menikah Dimata Dania. Dan lagi bukankah ia membenci Dania untuk apa mencarinya.
Belia ada didalam club itu sedang menari-nari tidak jelas tanpa sengaja pandangannya melihat Ardian yang tengah mabuk dirinya tergoda untuk mendekati Ardian. Ardian hampir ambruk namun ia terus menambah minumnya, Belia terus melihat Ardian apa gerangan yang membuat pria tampan itu mabuk.
Belia mendekat kearah Ardian"Hai tuan Ardian" Sapa Belia sambil mendekatkan buah dadanya ke lengan Ardian. Ardian tanpa dan sama sekali tak tergoda Bakan tak melihat wanita yang tengah menggodanya langsung menepis Belia.
"Menjauh dariku" Decak sebal Ardian. lalu tangannya kembali menyesap alkohol itu langsung berdiri mencoba pergi dari sana
"Ardian kau mau kemana" panggil Belia saat melihat Ardian pergi menjauh, Ardian menoleh pandangannya kabur sekejab dia melihat Belia sekejab lagi matanya melihat Dania.
"Dania" Gumam Ardian sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.
__ADS_1
Belia tampak terkejut, namun bibirnya langsung menyunggingkan senyum licik "Iya Ardian ini aku Dania"
Ardian berusaha menajamkan matanya atas yang dilihatnya namun tetap saja sama, dengan sigap Belia langsung memapah tubuh kekar Ardian membawanya ke sofa.
Ardian tidak melawan saat dirinya dibawa ke sofa karena memang dirinya pusing dan lagi ia berpikir itu Dania. Belia sangat senang kini jarak ia dan Ardian sangat dekat hingga parfum menggoda dari Ardian dapat tercium meskipun aroma itu telah tercampur alkohol.
Belia dengan sengaja membuka kancing baju Ardian hingga menampilkan perut sixpack yang sangat menggoda untuk disentuh, Belia mengambil handphonenya mendekatkan dirinya dengan Ardian memotret dengan pose dimana Belia yang memegangi dada Ardian yang terbuka sedangkan Ardian memejamkan mata efek dari dirinya pusing hingga siapa pun mengira bahwa Ardian tengah menikmati sentuhan itu. padahal aslinya tidak Ardian sangat pusing sehingga tidak sadar apa yang dilakukan wanita disampingnya.
Dengan seringainya Belia mengirimkan foto itu ke Rilyi dengan tulisan "Suamimu sepertinya lebih suka di ranjang hangat ku dibanding ranjang mu" pesan itu terkirim senyum sangat puas terpapar jelas di wajah Belia.
Belia kembali mengingat ada satu orang lagi yang harus dikirimnya. Belia langsung mengingat ia pernah mencatat nomor ponsel Dania Belia mengetik pesan "Menjauh lah dia milikku" isi pesan itu dan Belia langsung menekan tombol kirim.
Belia kembali menatap wajah Ardian, Ardian masih memegangi kepalanya yang berdenyut pusing. Belia semangkin merapatkan dirinya ke Ardian hingga parfum dari Belia mengganggu Indra penciuman Ardian.
"Ardian ayo kita kehotel" Tutur Belia memegang lengan Ardian.
Ardian berusaha mengumpulkan kesadarannya, ia langsung berdiri menatap tajam Belia.
"Kau bukan Dania!" Bentak Ardian mengambil jasnya berusaha pergi dari sana namun lengannya malah ditahan Belia.
"Ardian ini aku Dania, kau mabuk Ardian disini sama aku aja" Paksa Belia terus menahan lengan Ardian, Ardian langsung menepisnya membuat Belia terjatuh disofat.
"Kau bukan Dania, kau menjijikan" Ujar Ardian dengan cepat langsung pergi dari sana tanpa perduli Belia berkali-kali memanggilnya.
Ardian menelpon supirnya untuk membawa mobilnya ia tak akan bisa menyetir dalam keadaan yang mabuk seperti ini. Dia sudah mabuk parah namun masih bisa sadar sedikit untuk menelpon. Beberapa wanita melihat Ardian dengan tatapan mendambakan apalagi melihat tubuh Ardian sangat seksi, bahkan beberapa mencoba mendekati dan menggoda Ardian dengan berbagai macam cara namun yang didapatkan wanita-wanita disana hanyalah tatapan tajam Ardian.
__ADS_1
Supir datang melihat Ardian sedikit berantakan dengan kancing baju yang terbuka menampilkan perutnya dengan terburu-buru Ardian masuk kemobilnya sementara mobil yang ia gunakan tadi dibawa oleh supir yang lain.