Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo

Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo
perjanjian Ardian dan Rilyi


__ADS_3

Supir bahkan bingung melihat tuan mudanya yang selalu mabuk-mabukan tidak biasanya terjadi,ntuan muda tersebut selalu menghindari alkohol, ia hanya minum jika ada perjamuan khusus itu pun ia hanya minum sedikit berbeda sekarang alkohol seakan menjadi candunya, hampir tiap hari Ardian meminum alkohol walaupun kadang tidak sampai mabuk.


Cerita tentang Ardian yang putus dengan Dania hampir diketahui seluruh pelayan dan supir keluarga Alzy, supir membuang nafas lalu melihat melalui pantulan kaca mobil tuan muda yang tertidur tenang itu merasa kasian dengan Ardian dimana pertama klinya ia merasa jatuh cinta sedalam-dalamnya malah harus dihadapi dengan perjodohan yang membuatnya memutuskan hubungan dengan gadis baik itu.


Rumah megah Ardian kini telah terlihat, supir memanggil Rilyi melalui bel rumah, namun yang keluar pelayan dengan cepat pelayan memanggil Rilyi. Rilyi keluar dengan mata yang bengkak ia membopong Ardian yang mabuk namun bukan keruang tamu melainkan ke kamar Rilyi. Rilyi menidurkan Ardian disana melepaskan sepatu Ardian dan kemejanya yang menyerbak Alkohol, lalu menyelimuti Ardian dengan lembut.


Rilyi baru menangis atas apa yang dikirimkan Belia kepadanya, mereka baru saja bersenang-senang dan Ardian menikmatinya lantas apa gunanya ia sebagai istri Ardian? Rilyi kembali menangis.


"Ardian bukankah kau terlihat membencinya? Kenapa kau bersama sahabat baikku? Apakah aku hanya istri diatas kertas dimata mu? Lihatlah aku kumohon" Tutur Rilyi ditengah-tengah tangisannya air matanya jatuh tak terkendali Foto dimana Belia yang bergelut manja dengan Ardian, masih saja dipandangnya padahal ia tau jika itu dapat membuat hatinya malah bertambah sakit.


Ardian yang tertidur pulas tanpa terganggu akibat efek dari mabuk, Rilyi memandangi Ardian ia meneguk ludahnya jantungnya berdetak tak menentu dengan cukup keberanian Rilyi membuka bajunya hingga tanpa sehelai benangpun ia tidur disebelah Ardian sambil memeluk tubuh kekar itu.


Ardian bangun akibat sinar matahari yang mengganggu matanya, ia bangkit namun kesadarannya masih remang-remang ia memijat pelipisnya perlahan matanya terbuka sempurna dikala melihat ini bukanlah kamarnya apalagi terlihat Belia yang disebelahnya tanpa busana, saat Ardian melihat kearah Rilyi kebetulan wanita itu bangun.


"Selamat pagi mass" Sambut Belia dengan senyuman dan langsung duduk perlahan.


"Apa yang kau lakukan!" Tutur Ardian disertai dengan tatapan tajam y ang membuat Rilyi takut.


"Mas aku" Ujar Rilyi takut.


Ardian mencerna otaknya berusaha mengingat apa yang ia lakukan namun nihil ia tak mengingat apa pun kenapa ia bisa dikamar Rilyi apalagi melihat Rilyi telanjang yang hanya terbalut selimut. Apakah Ardian melakukan sesuatu yang kurang ngajar saat dirinya mabuk.


"Mas aku istrimu sudah seharusnya kita melakukan hubungan suami istri" Ujar Rilyi menggengam tangan Ardian. Ardian diam sejenak sambil melihat kearah Rilyi.


"Enyahlah" Ujar Ardian pelan sambil menepis tangan Rilyi.


Rilyi menunduk "Mas" Panggil Rilyi kembali sambil membuka selimut yang tadi menutupi tubuhnya, tubuh polos Rilyi terpapar jelas didepan Ardian. Setiap pria yang melihat tubuh itu pasti akan langsung tergoda dan menerkam Rilyi berbeda dengan Ardian yang mahal menatap tajam wanita didepannya.

__ADS_1


"apa yang kau lakukan!" Ujar Ardian alisnya berkerut pandangannya marah sama sekali tak tergoda dengan Rilyi.


Rilyi mendekat berusaha mencium Ardian namun yang didapatkannya hanyalah dorongan keras dari Ardian yang membuatnya terjatuh.


"Kau!" Tunjuk Ardian dengan mata yang menyala.


"Aku? Mas apa salahnya aku hah? Aku menikahimu memberikan hidupku untukmu namun yang kudapatkan apa? Kau malah terang-terangan menemui Dania lalu bersenang-senang dengan Belia apa aku Dimata mu?!" Teriak Belia sambil menangis.


"Apa maksudmu bersenang-senang?" Tanya Ardian tak mengerti.


Rilyi langsung memperlihatkan handphone nya yang berisi foto Ardian dan Belia yang bermesraan. Ardian terkejut dia kembali mengingat kejadian semalam yang membuatnya geram.


"Kau diam mas berarti foto itu benarkan? Haha" Tawa Belia sambil menangis.


"Mas aku mohon lihat lah aku, tolong" Mohon Rilyi.


Rilyi menahan tangan Ardian


"Ardian tolong cintai aku walaupun sedikit"


Ardian diam menepis pelan tangan Rilyi "Maaf tapi aku telah menghabiskan seluruh hatiku"


Rilyi mengatupkam bibirnya kecewa atas jawaban yang ia dengar.


"Mas bagaimana kita bertaruh?"


Ardian membalikan tubuhnya menatap balik Rilyi "Apa?"

__ADS_1


"Jika dalam hitungan satu tahun aku tak bisa membuatmu mencintaiku, kita bisa langsung bercerai tanpa menunggu dua tahun. Tapi, jika aku berhasil membuatmu jatuh cinta dalam satu tahun kita harus melanjutkan pernikahan kita selayaknya pasangan." Tutur Rilyi, Ardian berpikir sejenak.


"Aku setuju dan ingat untuk tidak menarik kata-katamu"


"Aku tidak akan menarik kata-kataku mas" Tutur Belia.


Ardian langsung melangkah pergi membuat Rilyi terduduk lemas, ia sudah tak menggunakan busana bahkan Ardian tak tergoda jangankan tergoda Ardian juga tak memandang tubuhnya. Rilyi menangis sejadi-jadinya berpikir apakah dia sungguh wanita Belia dan Dania saja dapat berhubungan dengan Ardian bagaimana dengan ia yang notabene adalah istri sah Ardian.


Ardian membuka kunci kamarnya ia telah terlambat untuk bekerja tak lupa menghubungi tangan kanan Ardian yaitu Ardo untuk menggantikannya bekerja sementara waktu ia harus membasuh diri sebersih-bersihnya ia tak tahu apa yang dia lakukan saat mabuk dikamar Rilyi namun itu membuat Ardian merasa sangat marah atas kelakuannya. Padahal sudah seharusnya ia tidur dengan Rilyi namun Ardian tak melakukannya.


Ardian berangkat dengan jasnya yang sudah rapih namun Rilyi memanggilnya untuk sarapan sejenak, sebenarnya Ardian malas melakukannya namun ia juga harus menghargai kerja keras Rilyi dan juga mereka taruhan dengan terpaksa Ardian harus mengikuti permainan sampai akhir.


Rilyi senang bukan main saat Ardian duduk dimeja makan bersama dengannya ini adalah pertama kali mereka makan berdua tanpa ada yang mengganggu. Rilyi tersenyum walau hatinya masih sakit ia mengambilkan makanan untuk Ardian selayak istri pada umumnya.


"Mas maaf makanannya gak terlalu banyak soalnya buru-buru"


"Tak masalah"


Rilyi kembali senang saat suara Ardian lembut menanggapinya tanpa ada tatapan yang tajam seperti biasa.


Rilyi semangat mungkin suatu saat Ardian akan tersenyum selembut Ardian tersenyum pada Dania untukmu ujar Rilyi dalam hati tak henti-hentinya menyemangati diri sendiri.


Ardian makan dengan perlahan, walau hidangan di piringnya tidak habis Rilyi tetap senang setidaknya Ardian mau maka nin. Rilyi berdiri ingin segera pergi dengan sigap Rilyi mengantarnya sampai teras.


"Hati-hati mas" Ujar Rilyi sambil melambaikan tangan namun Ardian Ardian hanya menjawab seadanya dan langsung pergi.


Rilyi menatap mobil Ardian yang semangkin menjauh dari perkarangan rumah tak bisa dipungkiri sakit hatinya belum hilang dari foto itu namun jika Rilyi terus memikirkannya itu akan membuat ia bertambah sakit hati, Rilyi lebih memilih melupakan dan mengganti kenangan baru.

__ADS_1


__ADS_2