
Saat Ardian memasuki kamar aroma parfum sangat menyengat dari wanita yang menggodanya itu masih terhirup dengan jelas membuat ia mual langsung menutup pintu kamar.Ardian bingung bagaimana dia harus membersihkannya, dia tak mau ada orang lain yang memasuki kamarnya tapi dia tidak mungkin bisa tidur dengan aroma tidak sedap itu.
Ardian pergi ke gudang tempat perlalatan pembersih rumah mengambil apa yang dibutuhkan tanpa senagaja Rilyi melihat.
"Mas mau bersihkan yang mana biarkan aku yang bantu" Ujar Rilyi menahan barang yang di bawa Ardian.
"Tidak perlu" Jawaban dingin Ardian tidak mematahkan semangat Rilyi.
"Mas ada pelayan kenapa mas harus bersihkan sendiri aku juga bisa mas mau bersihkan yang mana?"
"Tidak ada orang lain yang bisa memasuki kamarku. Termasuk dirimu" Tatapan tajam Ardian sungguh menusuk Rilyi hingga Rilyi mendekap tangannya di dada.
Ardian pergi dengan perlalatan yang di butuhkan nya, langkah panjang Ardian Melawati Rilyi begitu saja hingga punggung itu menjauh. Rilyi terguncang penasaran kenapa kamar Ardian terlalu privasi bahkan untuk istrinya sendiri.
Bad cover, sprai, bantal, kain penutup jendela seluruhnya di buang Ardian, bahkan Ardian merasa jijik menyentuhnya. Ardian juga ingin membuang kasur tapi sesuatu mengingatkannya ada orang lain yang pernah tidur di sana jadi ia mengurungkan niat itu.
Ardian duduk frustasi dengan pikirannya apa yang salah dengannya hingga sangat terobsesi akan Dania. Ardian membenci Dania yang telah menghancurkannya tangan kekar Ardian memukul keras dinding hingga bercak darah keluar dari sana.
"Haha Dania akan kita lihat bagaimana bagaimana kau tanpa ku, jangan kau mengira aku tidak bisa membenci dirimu"
Di depan pintu kamar Ardian begitu berantakan banyak kain-kain yang berserakan di lantai. Rilyi mengetuk pintu kamar Ardian.
Tok...tok
"Mas!...kainnya aku cuci yaa mas buka dulu"
Pintu terbuka menampilkan Ardian yang berdiri tegak di depan Rilyi. Rilyi meneguk ludahnya susah payah gugup di depan suami yang begitu tampan apalagi jarak mereka begitu dekat.
"Buang"
"Mas kenapa di buang"
"Terlalu Menjijikan" lontar Ardian membuat Rilyi terdiam.
Sudut mata Rilyi berusaha mengintip kamar Ardian, tapi tatapan suaminya terlalu tajam membuat Rilyi tunduk takut. Adian masuk menutup pintu dengan keras membuat Rilyi mengelus dadanya terkejut.
Sabar itulah kata untuk Rilyi sekarang dia teringat bahwa Belia sempat memasuki kamar Ardian, hal yang paling tidak di sangka Rilyi mengingat bahwa Belia sahabat dekatnya. Rilyi bahkan mendapatkan lontaran menyakitkan saat Belia meninggalkannya, Sedih? Itu sangat di rasakan Belia di tambah suaminya bermalam dengan mantannya, Dania sangat tega kepadanya dia berkata bahwa dia akan melepaskan Ardian ternyata salah, Rilyi sangat bodoh percaya bahwa Dania itu baik.
"Rilyi dengan cepat menggendong barang yang berserakan itu membawanya ke tempat sampah agar segera di buang"
Samar-samar sebelum membuang kain itu harum maskulin Ardian
__ADS_1
memasuki Indra penciuman Rilyi, Rilyi memilih menyimpan bantal Ardian di kamar harum Ardian begitu menggoda baginya.
Rilyi memasak makan malam walaupun hari sudah lewat tapi ia tetap masak, dia hampir lupa karena keasikan membuat kue. Rilyi di bantu pelayan memasak beberapa hidangan.
"Selesai" gumam Rilyi.
Rilyi mengetuk kamar Ardian tapi tidak ada sahutan meskipun dipanggil berkali-kali, ia pasrah kembali ke meja makan menatap nanar makanan yang barusan di buatnya.
"Apakah harus di buang lagi" gumam Rilyi wajahnya tidak dapat berbohong untuk menyembunyikan rasa sedihnya.
"Sabar yaa non tuan emang jarang makan kecuali" Ujar pelayan terpotong takut menyakiti hati Rilyi.
Rilyi semangkin penasaran "Kecuali apa bik?" Tanya Rilyi tetapi pelayan hanya bungkam.
"Maaf yaa non"
"Gak masalah bik kasih tau aja" Rilyi tersenyum membuat pelayan lega mungkin Rilyi tidak akan sakit hati.
"Sebenarnya tuan muda jarang makan, tuan kurang suka masakan pelayan ataupun makanan luar tuan pemilih dalam hal makanan, tapi semenjak tuan pacaran sama nona Dania tuan sangat suka makan.
Hati Rilyi serasa tertusuk "Dulu Dania sering kemari bik?"
"Iya non Dania di bawa tuan muda sejak masih umur 16 atau 15 bibi juga lupa"
Di dalam kamar Ardian membaca buku, sangat malas menyahuti Rilyi yang memanggil untuk sekedar makan apalagi Ardian merasa kenyang dan lelah sekarang.
Telepon Ardian berdering sebuah panggilan dari sang papa Diandra. Dengan malas Ardian mengangkatnya.
"Ada apa?" Tanya Ardian ketus.
"Bagaimana kau dan Rilyi kalian baik kan"
"Kami baik-baik saja tidak perlu khawatir" Ardian kini berjalan ke balkon merasakan angin malam menerpa tubuhnya.
"Ajaklah Rilyi berbulan madu, dia sudah jadi istrimu tidak baik jika tidak mengajaknya bersenang-senang"
Ardian mengerutkan alisnya "Aku tidak sempat pekerjaanku banyak sebagai seorang CEO"
"Ardian libur sebentar tidak akan membuatmu bangkrut kita sudah sangat kaya, kau juga perlu istirahat dan lagi papa ingin mempunyai cucu"
Ardian melihat hp nya langsung mematikan panggilan sepihak, perkataan dari sang papa semangkin tidak mas uk di akal. Apa gunanya ia bulan madu mereka tidak saling mencintai dan dalam hitungan tahun mereka akan bercerai, dan tidak akan saling mengganggu.
__ADS_1
***
Diandra merasa kesal dengan tingkah putranya yang memutuskan panggilan begitu saja.
"CK"
"Ada apa pah"
"Ini putra kita memutuskan panggilan padahal papa menyuruhnya bulan madu"
"Biarkan saja pa, Ardian juga sibuk di kantornya"
"Bukannya ada Ardo asisten Ardian itu yang bisa gantikan pekerjaan Ardian sementara"
"Udah pa biarin aja mereka urusin rumah tangannya yang penting mereka sudah menikah"
Ujar mama Ardian bersandar di bahu Diandra.
***
Rilyi yang sedang berada di luar rumah tanpa sengaja melihat Ardian berdiri di balkon dengan tatapan tajamnya yang lurus tak tahu memandang kemana. Rilyi melihat Ardian sungguh merasa jauh dari dekapannya, sangat sulit di gapai namun tekadnya sudah bulat mendapatkan Ardian seutuhnya. Ardian yang merasa di perhatikan pun melihat ke arah itu mata Ardian dan Rilyi saling memandang, Rilyi merasa hatinya sangat senang namun selang hanya beberapa detik Ardian masuk ke dalam kamarnya mengunci diri.
"Dia belum tidur" gumam Rilyi.
Makanan telah telanjur di buang padahal Ardian belum makan sama sekali, ia dengan cepat-cepat kembali ke dalam masak sebelum Ardian kembali tidur dan makanan kembali sia-sia. Di bantu pembantu Rilyi berhasil membuat makanan sederhana untuk di makan.
Rilyi menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mengetuk pintu Ardian "Mas makan dulu yuk"
"Mas!"
"Mass!"
Setelah berkali-kali di panggil, pintu terbuka menampilkan Ardian dengan kaos yang membentuk tubuhnya, Rilyi meneguk ludahnya susah payah.
"Aku tidak lapar"
"Tapi mas makanan nya sayang kalau di buang"
"Terserah aku tidak lapar"
Bukk!! Pintu kembali tertutup keras membuat Rilyi tersentak kaget. Rilyi meremas kuat dress yang ia gunakan seraya menahan air matanya. Lagi dan lagi makanan yang telah ia buat susah payah di tolak mentah-mentah.
__ADS_1
Hai besti mii semuanya gimana kelanjutan masih penasaran gak pilihan Ardian?
Apa yang kalian mau kelanjutannya tulis di komentar yaa jangan lupa tinggalin jempolnyađź’‹đź’‹