
Jika orang bertanya di mana Kenzo? kenapa saat perkelahian dia tidak ada? Kenzo jarang datang ke resto dia datang hanya sekedar melihat itu pun sebentar.
Waktu pulang telah tiba Dania dengan keadaan pincang saat ini keluar dari resto, namun di depan matanya terlihat mobil mewah milik Ardian sedang menunggu disini.
"Aduh bagaimana ini" Ujar Dania bingung dan panik jika Ardian tau dia terluka Ardian akan marah besar.
"Apakah aku harus pura-pura tidak lihat, ahhh tidak mungkin mobil Ardian yang di bawanya hanya satu di kota ini" Dania semangkin bingung karna itu, Dania tidak berpikir bahwa Ardian akan menjemputnya.
Kini Dania berjalan memberanikan diri ke mobil Ardian, namun rambutnya harus menutupi kening dan menyembunyikan sikunya yang terluka, Dania membuka pintu mobil namun arah wajahnya tidak melihat Ardian.
"Apakah lelah Dania?" Tanya Ardian.
"Sedikit" Ujar Dania berbicara tanpa melihat wajah Ardian.
"Dania kenapa kau tidak melihat wajahku" Heran Ardian melihat Dania seperti menyembunyikan wajahnya.
"Ti...tidak hahaha jalankan mobilnya Ardian" Gugup Dania.
Ardian hanya membuang nafasnya kasar lalu menjalankan mobil saat di perjalanan Ardian sesekali melihat ke arah Dania namun Dania masih saja belum memandang wajahnya.
"Dania"
"Iya Ardian"
"Apa pemandangan di luar sangat menarik hingga kau tidak mau melihat wajahku?"
"Tentu saja wajahmu sangat tampan Ardian" Ujar Dania.
"Dania tatap aku"
"..."
"Dania ku hitung sampai sampai tiga. Jika kau belum melihat wajahku, kita tidak akan sampai ke rumah!" Kesal Ardian.
"Satu"
"Dua"
Di hitungan ke dua Dania belum juga menolehkan kepalanya ke Ardian membuat Ardian semangkin kesal.
"Dania angkat kepalamu tatap aku!"
Paksa Ardian membuat Dania menolehkan kepalanya perlahan dan menatap wajah Ardian dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Deg! Ardian membelalakkan matanya kaget dengan keadaan kekasihnya kepalanya bahkan terluka.
Ardian memegang erat bahu Dania disana.
__ADS_1
"Maaf" Ujar Dania takut.
"Siapa?" Tanya Ardian.
"hah?"
"Siapa yang sudah membuatmu seperti ini Dania! katakan padaku!" Marah Ardian sekarang seperti tidak terkendali nafasnya naik turun membuat Dania takut.
"A..aku tidak sengaja terbentur" Bohong Dania.
"Jangan berbohong! Jika kau terbentur bagaimana kau bisa mendapatkan luka cakar" Ujar Ardian mengelus pipi Dania.
Dania kini memalingkan wajahnya membuat Ardian bertambah kesal.
"Aku tidak apa-apa" Ujar Dania.
"Dania jika kau tidak memberi tahuku siapa pelakunya, akan ku acak-acak restoran tempat kau bekerja!" Ancam Ardian kini wajah Ardian berubah menyeramkan seakan barang miliknya yang paling berharga di rusak seseorang. Kata-kata dari Ardian membuat Dania sangat terkejut.
"Jangan Ardian" Ujar Dania menggelengkan kepalanya.
"Tidak! sekarang jawab aku!" Ujar Ardian mencekram kuat bahu Dania membuat Dania kesakitan.
"A..Ardian sakit" Ujar Dania hampir mengeluarkan air matanya karna cengkraman yang begitu kuat. Ardian terkejut bahwa dirinya menyakiti kekasihnya langsung melepaskan cengkeramannya.
"cih"
"Dania ku katakan sekali lagi! katakan padaku siapa pelakunya!" marah Ardian dengan suara yang tinggi pelayan rumah Ardian yang menyaksikan itu kebingungan bahwa tuan muda mereka tidak pernah marah seperti itu karna apa pun. Dan kini tuan muda mereka datang dengan keadaan emosi sambil menarik kasar lengan Dania.
"Ardian tidak ada yang menyakitiku aku hanya tidak sengaja terbentur"
"Hahaha oke ini mau mu bukan? akan ku hancurkan restoran tempat kau bekerja" Ancam Ardian kini Ardian sedang di penuhi dengan amarahnya. Dania sangat terkejut dengan ekspresi Ardian sekarang seakan perkataannya tidak main-main.
"Ardian hiks...hiks jangan" Tangis Dania kini pecah Karena ancaman itu.
Ardian melihat ekspresi Dania sekarang menjadi tidak tega Dania menangis membuat luka di hati Ardian. Ardian kini melepaskan tangannya yang menarik Dania.
"Restoran itu tidak bersalah Ardian, ku mohon jangan hiks...hiks"
"huh" Ardian kini membuang nafasnya dan kembali menarik tangan Dania namun kini dengan lembut menuntunnya ke sofa.
"Ambilkan aku kotak obat!" Ujar Ardian kepada salah satu pelayan.
"Baik tuan muda"
Ardian kini melihat wajah Dania yang sibuk mengelap air matanya yang jatuh tadi, Ardian membantu Dania mengelap air matanya Dania.
"Jangan menangis" Ujar Ardian sendu.
__ADS_1
Dania hanya diam menunduk tidak tau harus menjawab apa.
Pelayan itu datang membawa kotak obat untuk Ardian.
"Tuan muda ini kotak obatnya" Ujar pelayan itu sambil menyerahkan kotak obat.
"hmmm"
"Apa perlu saya bantu" Tawar pembantu itu.
"Tidak"
Saat melihat ke arah Dania, Dania sudah berbaring tertidur di sofa besar Ardian dengan lelap.
"Apakah kau sangat kelelahan" Ujar Ardian mengelus rambut Dania.
"Maafkan aku, aku tidak melindungi mu saat kau terluka" Ujar Ardian merasa bersalah.
Ardian mengobati kepala Dania dan pipinya yang ada goresan kaca meskipun Ardian sangat emosi melihat itu.
"ughh" Ujar Dania terganggu tidurnya karna kepalanya yang terasa sakit saat di obati.
Dania memindahkan tangannya, Ardian terkejut bahwa terdapat luka lain di tubuh Dania yang cukup besar membuat Ardian semangkin kesal.
"Aku saja tidak tega membentaknya, tapi orang lain berani-beraninya melukaimu sampai seperti ini!" Geram Ardian.
"Lihat saja orang itu tidak akan bisa lari" Ujar Ardian penuh penekanan di setiap kata yang di lontarkan nya.
Hari sudah pagi Dania terkejut saat mendapati dirinya sudah berada di tempat tidur kamar Ardian yang berukuran besar, Dania sudah tahu bahwa Ardian yang mengangkatnya ke tempat tidur itu. Dania merasa badannya sangat lengket pergi ke kamar mandi yang berada di dalam kamar Ardian membersihkan tubuhnya di sana.
Dania sudah selesai mandi dia kini melihat lukanya kembali basah dan terasa sangat perih.
pintu tiba-tiba terbuka dan menampilkan Ardian di sana yang sudah rapih dengan kemejanya beserta jasnya.
Ardian membawakan kotak obat untuk Dania.
"Ardian"panggil Dania namun Ardian hanya diam saja, Ardian langsung ketempat tidur dimana Dania sedang duduk, Ardian langsung mengobati kening Dania di sana.
"Ardian biar aku saja" Ujar Dania namun Ardian hanya diam Dania tahu bahwa Ardian diam karna marah padanya raut wajah Dania menjadi sedih.
Saat Ardian ingin menggapai lengan Dania, Dania malah menyembunyikannya namun Ardian tetap menariknya perlahan.
"Dia tahu" Ujar Dania dalam hati.
"ahhh" Ujar Dania Marasa sakit saat lengannya di obati kini Ardian melihat ke arah wajah Dania namun sedetik kemudian Ardian kembali mengobati luka Dania.
Kini Ardian tahu, Dania paham bahwa dia harus mengikuti Ardian untuk sarapan dan bahkan saat sarapan Ardian masih saja diam tidak berbicara satu kata pun pada dirinya.
__ADS_1
"Aku hari ini ke kampus"