Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo

Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo
menjagamu


__ADS_3

Ardian yang tidur masih di periksa dokter pribadinya, Dania tahu bahwa Ardian sakit akibat kelelahan dan terlalu banyak pikiran itu yang di beri tahu dokter kepadanya.


"Kalau begitu saya permisi" pamit dokter.


"Baik dok"


"Oiya jangan lupa untuk tuan Ardian lebih banyak makan buah dan sayur jangan terlalu banyak bergadang"


"Baik dok akan saya berikan nanti"


Dokter undur diri meninggalkan Dania di sana bersama Ardian, Dania memegang kening Ardian yang masih panas. Hari mulai malam Ardian masih tertidur saat di bangunkan bahkan Ardian hanya mengigau, membuat Dania khawatir karna kekasihnya belum makan malam.


"Apa kau terlalu lelah" gumam Dania menatap sendu wajah Ardian.


Dania kini mengambil sebuah kursi menunggu Ardian bangun, bahkan dia tidak perduli pada dirinya sendiri yang belum makan dari tadi siang, dia hanya sarapan pagi bersama Ardian. Dania mengantuk namun juga lapar. Mata Dania kini sudah tidak karuan Dirinya terus menguap hingga kini Dania tertidur menuju alam mimpinya di pinggir kasur Ardian dengan posisi duduk di kursi dan kepalanya di kasur Ardian.


Pagi pun menjelang sinar matahari masuk melalui sela-sela jendela. Ardian mengerjap. matanya kini menyipit menyesuaikan cahaya yang berhasil membangunkan paginya.


Ardian kini sedikit heran kenapa dirinya bisa berada di kamar, dirinya kini duduk menyamankan posisi, namun kepalanya terasa pusing. Ardian melihat sekeliling kamarnya. Pandangan matanya cukup terkejut melihat Dania tertidur sambil menjaga dirinya. Ardian mengulurkan tangannya menyentuh rambut halus Dania membuat Dania sedikit tersentak, pelan-pelan membuka matanya dan bangun kaget melihat Ardian kini sedang duduk memperhatikan dirinya.


Dania langsung memeluk tubuh Ardian erat membuat Ardian cukup kaget.


"Dania?" Heran Ardian. Dania tidak menjawab Ardian, dirinya masih memeluk membuat Ardian tersenyum lembut dan membalas pelukan Ardian.


"Selamat pagi Ardian" Sapa Dania sambil melepaskan pelukannya.


"Pagi" Ujar Ardian tersenyum.


"Apa kau sudah baikan? Apa merasa lebih enak?"


"Hmmm? memangnya aku kenapa Dania?" Heran Ardian akan pertanyaan yang keluar dari mulut Dania.


"Apa kau lupa semalam kau sakit? Doker berkata kau kelelahan dan terlalu banyak pikiran ada apa Ardian?"


"Sakit?"


Ardian pun mengingat-ingat kejadian semalam apa yang sebenarnya terjadi. tiba-tiba dirinya sadar akan kelakuannya semalam dan seketika bungkam.


"Ardian ayo kita makan, tadi malam kau belum makan" Ujar Dania menarik tangan Ardian, Ardian hanya diam dan menurut saja.


Kini mereka di meja makan, Ardian sangat tidak berselera dengan makanan yang berupa sup dan bubur dan lagi yang membuatnya bukan Dania, Ardian tidak bernafsu makan dan enggan melihatnya. Dania yang sadar itu pun mendekatkan sup ke Ardian.

__ADS_1


"Ardian tidak boleh pilih-pilih makanan, kau harus makan"


"..."


"Ardian makan yaaa, kau belum makan malam dan lagi kau harus makan sayur dan buah! tidak ada penolakan!" Ujar Dania marah, Ardian dengan terpaksa mengambil bubur yang hangat itu dan memakannya dan benar saja mulutnya terasa hambar makanan yang masuk terasa tidak enak.


Dania memberikan sayur untuk Ardian namun Ardian memalingkan wajahnya.


"Ardian!" tegur Dania dengan terpaksa Ardian memasukan sayur itu ke dalam mulutnya dan menelannya padahal dirinya sangat benci sayur.


"Dania aku akan bekerja, apakah kau kuliah hari ini?"


"Ardian kau harus istirahat!"


"Tapi sayang di kantorku sangat banyak yang harus dikerjakan"


"Tidak ada tapi! hari ini kau harus memulihkan tubuhmu! ini perintahku"


"Lalu apa kau tidak kuliah biar aku mengantarmu"


"Hari ini aku akan menjagamu"


perkataan Dania membuat Ardian tersenyum dan kembali melanjutkan makannya.


"Dania dari tadi kau terus melihat handphone mu, kenapa?" Tanya Ardian dengan alis yang berkerut


"Aku sedang melihat info lowongan pekerjaan Ardian" balas Dania terus melihat handphone dan tidak melihat Ardian.


Ardian mengambil handphone milik Dania dan di masukan ke sakunya membuat Dania cemberut.


"bekerja di tempatku!" Paksa Ardian.


"hah? Ardian aku belum lulus kuliah bagaimana mungkin aku masuk ke kantormu"


"Aku pemilik perusahaan itu jadi terserahku"


"Ardian aku merasa kemampuan ku belum cukup"


"Tidak. kau sangat bijaksana Dania, kamampuan mu juga luar biasa. Aku tahu itu!"


"Benarkah?"

__ADS_1


"Tentu saja! Jadi kau harus masuk ke perusahaan ku" Ujar Ardian mutlak.


Dania membuang nafas panjang sambil berpikir


"hmmm baiklah, jadi posisi apa yang akan tuan muda berikan padaku?" Tanya Dania menunduk menatap mata Ardian sambil tersenyum.


"seperti yang aku pikirkan. Bagaimana kalau menjadi asisten pribadiku"


"hah! itu pekerjaan yang sulit Ardian! Bukannya asisten mu itu Ardo"


"tidak masalah untuk menambah satu asisten lagi, jadi besok asisten Dania, datang lah ke kantor ku dan jangan terlambat" goda Ardian memegang dagu Dania membuat pipi Dania merona.


Dania mengelus Ardian, Ardian yang di Elus merasa nyaman. Pelayan datang menghampiri mereka membawakan sebuah apel karna perintah Dania, Dania lah yang sudah mengupasnya tadi untuk Ardian, namun tadi Ardian menarik Dania ke sofa membuat Dania tidak jadi memberikannya.


Dania menyuapi buah apel ke Ardian, Ardian dengan senang hati memakannya.


kringg...


Handphone milik Arfian berbunyi tertera nama Ardo di sana, mereka sedang membahas masalah pekerjaan. Dania paham Ardian pasti sangatlah sibuk bahkan ketika Ardian sedang libur dirinya masih saja di telepon.


"Bahkan saat sakit saja kau di telepon. Ardian pasti kau sangat sibuk di kantor, pasti sangat melelahkan" batin Dania merasa kasihan melihat kekasihnya.


Namun sedetik kemudian Dania sedikit tersenyum karna pandangan Ardian tidak linglung seperti semalam, kini pandangannya sudah tajam seperti biasanya bicara dengan suara yang tegas.


"Kenapa kau tersenyum bengong seperti itu Dania" Ujar Ardian tersenyum sambil mendekatkan diri ke Dania.


"aku senang kau sudah mendingan"


"Lalu apa aku boleh makan yang lain bubur menjijikan" Ujar Ardian


namun Dania hanya tersenyum manis tanpa berkata, melihat itu Ardian memeluk Dania erat mencium dari bahu Dania dan harum seperti biasanya. Dania merasa nyaman di pelukan Ardian dada bidangnya dapat menyembunyikan dirinya, Ardian bagai sebuah perisai pelindung dirinya.


Kini malam tiba, Mereka makan. Tidak sesuai ekspektasi dari Ardian untuk makan makanan seperti biasanya, hari ini dirinya kembali memakan sup dan bubur Ardian sangat ingin membuang makanan ini namun dia tahu Dania pasti akan marah karena itu jadi Ardian dengan terpaksa memakannya Ardian sangat ingin memakan masakan Dania.


"Ardian setelah makan aku akan pulang" Ujar Dania.


"Menginap di sini saja"


"Ardian aku harus pulang"


"Dania aku sedikit tidak enak badan kau harus menjaga ku"

__ADS_1


"hah? kau sakit? bukannya tadi sudah mendingan" Ujar Dania kini menempelkan punggung tangannya ke wajah Ardian namun Ardian tidak panas namun Dania paham kekasihnya hanya ingin Dania untuk menginap.


"Baiklah aku akan menjagamu, tapi aku tidak menjadi asisten mu besok"


__ADS_2