
3 hari lagi Ardian akan menikah, Dania terus membangun pertahanan dari hatinya agar tidak lemah dengan semua ini. Namun rindunya ke Ardian terus bergejolak seakan memaksa Dania untuk mendekap ke pelukan Ardian.
Mata Dania bengkak setelah setiap malam menangis, dia tahu ini sangat sulit. Bahkan untuk membuang semua foto merak Dania tidak sanggup melakukan nya.
"Mata mu bengkak" Ujar Abra menunduk melihat Dania yang termenung.
"Ahh tidak apa-apa pak, saya hanya kurang tidur" Ujar Dania, namun Abra paham mata bengkak Dania karna sebuah tangisan, namun apa yang membuat gadis kecil ini menangis entahlah itu privasi Dania walaupun Abra sangat penasaran.
"panggil aku Abra atau kak Abra juga boleh, ini pakailah" Ujar Abra menyerahkan sapu tangan ke Dania.
"Terima kasih pak" Ujar Dania tersenyum, entah kenapa dia melihat Dania hatinya menjadi tenang, Abra tidak pernah merasakan ini sebelumnya.
***
Rilyi sibuk dengan pernikahan nya dari gaun, tempat, dia memilih semuanya sendiri tanpa persetujuan Ardian karna Ardian hanya diam saja, melakoni pekerjaan tanpa memperdulikan Rilyi yang sedang bersusah payah.
Rilyi memutar-mutar kan tubuhnya di cermin melihat dirinya begitu cantik dengan gaun putih ini, dia membayangkan bagaiman dia akan menjadi putri dalam satu malam itu, pasti begitu cantik apakah Ardian juga akan merasa begitu? pikirnya.
"Ma cantik?" Tanya Rilyi sementara Sani tidak berhenti memandangi putrinya
"Anak mama pasti cantik"
Sani mendekati Rilyi mengelus pipi putri sulungnya itu.
"Anak mama kau harus bahagia yaa, jadilah istri yang baik bagi suami mu nanti, kau jangan terlalu memikirkan mama dan adik kami akan baik-baik saja" Mata ibu Rilyi berkaca-kaca begitu juga Rilyi mereka langsung berpelukan disana entah bagaimana nanti rumah tangganya dia akan menuruti ibunya.
Ardian sibuk dengan pekerjaan kantornya dia memijat pelipisnya, pusing dengan pekerjaan kantor, pernikahan nya, ayahnya yang sibuk menyuruhnya untuk menemani Rilyi bahkan memikirkan kisahnya dengan Dania. Berakhir benar-benar berakhir. Ardian masih saja frustasi padahal bisa saja dia mencari wanita lain sebagai pengganti Dania namun entah kenapa dia tidak bisa.
__ADS_1
pukul 9 malam Ardian pulang namun tidak dengan Dania yang lembur dipekerjaanya, jika saja Ardian tahu Dania masih bekerja pasti sudah marah padanya, Dania membayangkan bagaimana Ardian marah kepadanya membuat Dania marah sekaligus sedih.
Sekretaris dari Abra, Rere tidak ada habisnya merasa jengkel kepada Dania yang perlahan mendapat perhatian Abra, bahkan Rere berbicara dengan Abra saja seperlunya itu pun mengenai pekerjaan.
Dania mengambil kopi panas untuk menemani lemburnya, Rere yang dengan sengaja menyenggol Dania membuat kopi itu tumpah ditangan Dania. Tangan Dania terasa terbakar kopi yang dibawanya sangat panas, Rere yang tidak merasa bersalah meninggalkannya, Dania yang dengan cepat-cepat mencari air dingin.
Tangan Dania merah dan bengkak, dia baru saja keluar dari kantornya, Ardian tanpa sengaja melihat Dania keluar dari kantor Abra sedang memegangi tangannya. Ardian hanya melihat tanpa turun dari mobil, Ardian sudah tahu kalau Dania bekerja di tempat Abra.
Kenapa Dia pulang sangat larut, dia juga sangat kurus pikir Ardian namun dia sudahi pikiran itu secepatnya dia tidak mau lagi berusan dengan mantannya itu.
Ardian sebenarnya sudah pulang dari tadi dia kembali minum menjadikan minum sebagai tempat pelariannya disana dan tiba-tiba saja dia lupa mengambil handphone nya yang tertinggal.
Kringg....
Handphone Ardian berdering tidak tau siapa yang mengganggunya, langsung saja di angkatnya.
"Sayang walaupun kau menikah aku akan tetap mencintaimu, kau milikku. milikku."
Suara itu cukup menggelikan bagi Ardian, dia tahu ini suara orang yang pernah menghubunginya saat makan waktu itu. Ardian sudah tidak melihat keberadaan Dania disana mungkin saja Dania sudah pergi menaiki taksi untuk pulang kerumahnya.
Ardian langsung saja pulang kerumah tidak lupa dia memblokir nomor tadi yang menghubunginya, dia pulang ayahnya sudah berada dirumahnya membuat Ardian semangkin pusing bagaimana dia menghadapinya lagi.
"Kau pulang cukup larut" Ujar Diandra menyesap kopi yang di sajikan pelayan dia cukup lama menunggu Ardian.
"Ada apa" Ujar Ardian duduk memijat keningnya tanda dia sangat pusing sekarang.
"Sebentar lagi hari pernikahanmu, jadi kau dan Rilyi akan bulan madu dimana? dan juga tinggal dimana?"
__ADS_1
"Aku tidak punya waktu untuk bulan madu atau semacamnya aku juga belum memikirkan tinggal dimana, mungkin tinggal disini"
"Ardian kau juga harus mengajaknya jalan-jalan bagaimana pun dia itu istrimu"
Bujuk Diandra pada putranya itu.
"Aku menikahinya saja sudah cukup, kenapa banyak mau sekali!" Ujar Ardian tidak senang padahal dia minum tidak terlalu banyak namun entah kenapa dia bisa sangat pusing.
"Baiklah, mendekati pernikahanmu aku harap kau mengurangi minum mu" Ujar Diandra pergi dari rumah Ardian.
Ardian merebahkan dirinya dikamar, suasana di dalam kamarnya masih seperti kapal pecah vas yang hancur, bingkai Poto yang pecah, kaca berserakan,botol bir yang entah berapa jumblahnya Ardian belum niat membersihkan nya, pelayan tidak ada yang berani masuk kamar Ardian, karna Ardian berpesan tidak ada satu pun orang yang boleh masuk selain Dania.
Ardian merebahkan dirinya, dia belum makan namun langsung tidur dia cukup lelah hari ini dia ingin minum lagi, namun besok dia ada meeting penting tidak mungkin dia meeting dengan keadaan pusing.
***
Hari sudah begitu malam namun Dania belum juga bisa tidur, dia berdiri di balkon melihat bintang yang bersinar terang. Dania belum makan dia tidak mempunyai selera badannya cukup kurus matanya berkantung.
Hari semangkin dekat Dania sungguh berharap dia bisa memberikan senyumnya kepada Rilyi di hari pernikahannya dengan Ardian, senyum melepaskan Ardian untuk menjadi milik Rilyi namun Dania ragu apakah dia bisa.
Dania mengingat bahwa tangannya belum diobati, Dania mengambil kotak obat langsung mengobati lukanya tangannya putihnya sangat merah karna kopi tadi. Dia tahu Rere sangat kesal padanya padahal dia tidak pernah mencari musuh dengan siapa pun tapi kenapa banyak orang yang tidak menyukainya.
Dania ingat dia tidak pernah mengganggu Rere sama sekali apakah dia makan dengan Abra membuat Rere tidak senang? pertanyaan itu terus bermunculan hingga Dania jengah.
Dia bingung bagaimana dia menghadiri pernikahan Ardian, Dania menatap lagi undangan itu air matanya tumpah lagi.
Dania kenapa kau sangat cengeng cobalah untuk tegar ,kau pasti bisa Dania belum saja mereka menikah kau Uda menangis apalagi mereka menikah nanti ujar batin Dania menyemangati diri sendiri bukannya semangat air matanya semangkin banjir. Dania mengusap air matanya merebahkan diri berharap batin Dania bisa melaluinya.
__ADS_1