
Hari dimana yang dijanjikan Belia kepada Rilyi pun telah tiba, dimana mereka bertemu di sebuah Cafe biasa dekat apartemen yang dulunya milik Dania. Rilyi datang terlebih dahulu sebelum Dania, menyesap capuccino yang sempat ia pesan terlebih dahulu.
"Maaf Rilyi kau sudah dari tadi?" Tanya Dania dengan tergesa-gesa karena terburu-buru.
Rilyi tersenyum meletakkan kembali minumannya "Aku baru tiba Dania pesan lah dahulu sebelum kita mengobrol"
Dania hanya mengangguk melemparkan senyum manisnya kepada Rilyi di balas lagi senyuman, Rilyi memperhatikan wajah Dania dengan teliti matanya memicing dikala melihat wajah Dania sedikit pucat seperti orang yang sedang sakit cukup heran.
"Aku ingin memesan ice krim serta " Ujar Dania kepada pelayan terpotong akibat ditahan Rilyi.
"Jangan Dania kau seperti kurang enak badan wajahmu sedikit pucat ganti saja dengan yang lebih hangat"
Dania terkejut bagaimana bisa Rilyi menyadarinya, padahal ia telah menutupi pucatnya dengan make up namun masih ketara. Dania menunduk sesekali melirik wajah anggun Rilyi ia sangat canggung antara rasa bersalahnya kepada wanita didepannya atas apa yang dilakukan bersama Ardian.
Pesanan tiba dihadapan mereka berdua, tatapan kembali bertemu namun hanya lempar senyum lah yang bisa dilakukan sebelum hidangan itu di makan.
"Dania bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?"
Dania tersenyum atas pertanyaannya Rilyi "Aku baik bagaimana denganmu?"
"Aku baik, Dania sejujurnya aku memanggilmu kemari ini menanyakan sesuatu" Tutur Rilyi yang langsung membuat Dania mengatupkan bibirnya.
"Katakanlah" titah Dania, dia telah menyiapkan hati jika Rilyi ingin mengatakan sesuatu yang menyakitkan maka dia akan siap.
"Dania apakah kau masih mencintai Ardian? Ahh tidak maksudku apakah kau belum melupakannya?" Tanya Rilyi ragu ditambah melihat wajah Dania yang seakan suram atas pertanyaan itu.
"Rilyi kalau mencintainya? Aku tidak bisa menjawab itu mungkin kau tahu Ardian cinta pertamaku dan aku tidak akan tahu kapan habisnya cinta ini, dan soal melupakannya aku sedang berusaha" Tutur Dania diiringi dengan mata yang telah penuh dengan gumpalan air yang akan siap jatuh jika tidak ia tahan.
"Dania" Gumam Rilyi pelan.
__ADS_1
"Dan Rilyi aku ingin minta maaf" Ujar Dania namun ucapannya terhenti antara dirinya bingung ingin mengatakan atau tidak.
"Aku tahu Ardian ke tempat mu bukan?" Ujar Rilyi tepat sasaran yang air matanya telah jatuh. Dania mendelik menatap wajah Rilyi rasa bersalah mangkin menggores hatinya.
"Aku tahu itu Dania, tujuanku memanggilmu ingin kau menjauhi Ardian, lupakan dia kumohon Dania kumohon jangan muncul dihadapannya itu akan membuatnya semangkin mengingatmu"
Rilyi terisak, Dania mengangkat wajahnya menatap Rilyi.
"Rilyi aku sudah menjauhinya sebisaku aku keluar dari perusahaan Ardian, memblokir nomornya, sebisa mungkin tidak melihatnya. Sangat berat kau tahu? Bahkan aku sekarang tidak tinggal diapartemen yang Ardian beri demi menjauhinya, Rilyi aku ingin dia bahagia aku tidak ingin membuatmu sedih" Ujar Dania yang juga ikut terisak beruntungnya cafe hanya ada mereka."Tapi aku benar-benar minta maaf Rilyi aku juga salah aku dan Ardian telah hikss...hikss maaf" Tutur Dania kini dia membungkuk dihadapan Rilyi tidak peduli dengan dirinya sendiri. Kini Rilyi telah tahu bahwa Ardian dan Dania memang melakukan hal itu, hati Rilyi sangat terpukul air matanya semangkin berlinang.
Rilyi sangat bingung merespon apa dia salah pikir Dania telah menjauh ke Ardian tapi justru Ardian yang gencar mencari Dania. Rilyi berusaha membangkitkan Dania namun Dania masih bersih keras menunduk dihadapan Rilyi.
"Rilyi lakukanlah semaumu kepadaku, jika kau ingin lampiaskan amarahmu lakukanlah aku siap "
Wajah Dania semangkin pucat, Rilyi menutup mulutnya tidak tega dengan wanita dihadapannya. "Tidak Dania kumohon bangkitlah" Ujar Rilyi menarik Dania bangkit. Mereka sama-sama berdiri dan saling pandang.
"Dania aku mohon jauhi lah Ardian karena" Ujar Rilyi terpotong membuat Dania semangkin penasaran dengan jawaban dari Rilyi.
Deg! Bagaikan disambar petir di siang bolong mendengar perkataan Rilyi tapi apa yang Dania buat selain menerima itu karena Rilyi istri Ardian sudah wajar dia hamil.
Dania diam hatinya sakit, Rilyi melambaikan tangannya tepat dihadapan wajah Dania yang tengah melamun hingga membuatnya tersentak. Dania kini menatap Rilyi tersenyum Sambil memicingkan matanya."Selamat yaa Rilyi kau akan menjadi seorang ibu" Ujar Dania.
"Terimakasih Dania"
"Jadilah ibu yang baik Rilyi semoga kau bahagia, aku harus pergi aku akan berbelanja kebutuhan daa" Ujar Dania beranjak pergi tidak lupa ia membayar tagihannya juga Rilyi.
Rilyi hanya dapat melambaikan tangan dibelakang punggung yang menjauh itu
Aku juga berharap kau bahagia Dania, maaf aku berbohong ini demi kebahagiaan semua orang agar kau bisa melupakan Ardian batin Rilyi mengusap perutnya yang sebenarnya belum ada janin yang dimaksud.
__ADS_1
Dania mengusap air matanya di tengah jalan dia masih menangis.
Kenapa aku menangis? Itu bagus jika Rilyi hamil mereka akan menjadi orang tua yang baik bukan, tapi kenapa aku sakit hati? Batin Dania terus berjalan kearah mall yang terdekat membeli beberapa perabotan yang ia butuhkan.
Kepalanya semangkin pusing demamnya bertambah ia bahkan tak tahu akibatnya apakah memang dia sakit? Atau hatinya yang lebih sakit menerima perkataan Rilyi. Apa haknya untuk sakit hati ton juga dia bukan siapa-siapa.
Rilyi berbelanja sangat banyak cukup berat pusingnya lagi-lagi bertambah membuatnya hampir terhuyung jika saja ia tidak sigap menahan tubuhnya, ia secepat mungkin memanggil taksi untuk kembali ke kos agar bisa istirahat.
Pandangan mata Dania kosong saat di depan pintu kos matanya sembab hingga kesadarannya melemah pandangannya menjadi gelap, Dania pingsan.
"Dania...Dania"
Panggil seseorang membuat Dania perlahan membuka matanya, kesadarannya masih remang-remang hingga kini terpapar jelas wajah Dewi yang tengah khawatir, dia masih berada di kamar kosnya.
"Dania kau sudah sadar baguslah"
"Kak Dewi" panggil Dania.
"Ada apa Dania? Kita akan ke rumah sakit sebentar aku akan memesan taksi"
"Tidak aku sudah mendingan kak" Ujar Dania berusaha bangkit dari tidurnya.
"Jangan bangkit dulu kau masih lemah, tidurlah aku sudah membuat teh sebentar" Ujar Dewi bergegas ke dapur.
Dania memijat pelipisnya kepalanya masih sakit, tapi dia tidak ingin merepotkan Dewi untuk mengantarnya ke rumah sakit dan lagi dia besok harus bekerja, Dania kembali mengingat-ingat kejadian tadi dimana Rilyi berkata dia tengah mengandung anak Ardian, lagi dan lagi Dania tak sengaja menjatuhkan air mata harusnya ia bahagia Ardian akan mencintai Rilyi.
"Hikss...hikss"
Dewi kembali mendekati Dania, cukup terkejut dengan Isak tangis yang pertama kali ia lihat dari Dania biasanya Dania hanya akan melemparkan senyum manis dan tak pernah tampak kesedihan apa pun di wajah cantik itu.
__ADS_1
"Dania ada apa?"
Hai semua author mau ngucapin makasih banyak yang masih setia nungguin update novel ini jangan lupa tinggalin jempol dan komentar kalian yaaa teman-teman.