Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo

Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo
Pertengkaran Di Restoran


__ADS_3

"Aku percaya itu" Ujar Dania tersenyum.


Kini Dania sedang memasuki pintu restoran namun melihat sang pemilik sedang berada di depan membuat Dania tersenyum ramah.


"Pagi pak" Ujar Dania tersenyum.


"Pagi Dania" balas sang pemilik resto otu tersenyum.


Ardian masih di dalam mobil melihat bahwa kekasihnya tersenyum kepada orang lain menjadi kesal.


"ck"


Ardian langsung pergi dari resto tempat Dania bekerja menuju kantornya.


Ardian yang baru saja memasuki kantor dengan Ardo yang berada di belakangnya, seperti biasa banyak mata yang tertuju padanya namun pagi ini tidak banyak gadis yang berani mendekatinya, Ardian yang biasanya dingin hari ini seperti muram auranya berbeda jika di dekati maka kemungkinan terjadi masalah membuat yang lain hanya tunduk takut.


Ardian kini termenung di kantornya belum menyentuh pekerjaannya yang menumpuk diatas meja.


Ceklek (Suara pintu)


Suara pintu terbuka masuk seorang pengantar minum untuk Ardian, biasanya dia memiliki karyawan yang yang akan mengantar hari ini berbeda.


"Permisi pak,ini kopinya"


"Lain kali ketuk pintu" Ujar Ardian dingin menatap orang yang baru saja masuk.


"Ba...baik tuan, kalau begitu saya permisi."Ujar Wanita itu takut.


Setelah wanita itu pergi Ardian memijat keningnya yang sedikit pusing lalu mengambil handphone.


"Ardo keruangan ku"Ujar Ardian langsung memutuskan sambungan telepon.


tidak beberapa lama pintu dari luar ruangan Ardian berbunyi dan Ardian langsung menyuruh orang itu masuk.


"Ada perlu apa tuan muda?" Tanya Ardo.


"kenapa karyawan yang biasa membuat kopi diganti?" Tanya Ardian.


"Maaf kan aku tuan dia sedang meminta cuti"


"Baiklah jangan lupa beritahu orang lain jika ada keperluan jangan lupa untuk mengetuk pintu"


"Baik tuan, saya permisi"


Ardo pergi dan Ardian kembali dengan pekerjaannya yang menumpuk.


...****************...


"Dania antar ini ke meja 8"


"Dania meja no 4 ingin mengganti pesanannya"

__ADS_1


"Dania ini juga perlu di antar"


"Huh" Ujar Dania mengelap keningnya yang lelah.


Hari ini dirinya benar-benar sibuk karna dua orang pelayan tidak bekerja membuat Dania sangat kerepotan melayani seorang diri apalagi hari ini keadaan resto sangat ramai.


"Dania kau boleh isitirahat" Ujar Kenzo pemilik resto padanya yang melihat Dania sudah sangat kelelahan.


"Apa tidak apa-apa pak?" Tanya Dania yang memang lelah.


"Tidak apa-apa, kau sudah terlihat sangat lelah"


"Baik, terimakasih pak" Ujar Dania.


Dania beristirahat selama setengah jam untuk duduk dan minum menghilangkan sedikit lelahnya, namun dia merasa tidak enak hati kepada palagan lain yamg bekerja.


Dania berdiri untuk melayani tamu yang datang ke resto.


"Enak yaaa, Di kasih istirahat sama pak kenzo" Sindir salah satu pelayan di sana.


"Aku juga mau deh pura-pura capek biar di suruh istirahat"


"Biasa namanya juga cari perhatian"


Sindiran demi sindiran di terima Dania dia sudah biasa akan hal itu, lebih baik dirinya diam dari pada harus melayani kata-kata yang tidak berguna bahkan tidak membuahkan hasil.


Dania kini sedang memberikan minuman kepada wanita sosialita yang sedang makan resto itu.


pelayan dengan sengaja menyenggol baju Dania membuat minuman yang di hidangkan tumpah di baju wanita itu, Wanita itu langsung berdiri terkejut dengan air yang tumpah di pakaiannya.


"Kamu bisa kerja gak sih!!" Bentak wanita itu kepada Dania dengan pandangan tajam.


"Ma..maafkan saya, saya tidak sengaja" Ujar Dania tunduk merasa bersalah.


"Hah maaf?" Ujar wanita itu memegang sebuah gelas yang berisi air langsung menyiram ke Dania membuat Dania terkejut sambil memegang nampan di dadanya.


"Baju ku basah karna mu apakah kau tau!!" Marah wanita itu membuat keadaan Cafe semangkin riuh sorot mata banyak tertuju padanya.


"Nona pekerjaan dia memang seperti itu, mungkin dia iri padamu" Ujar salah satu pelayan membuat banyak mata tertuju pada Dania.


"Iya nona mungkin dia sengaja"


Dania hanya menggelengkan kepalanya bahwa dia murni tidak sengaja.


"ck kau hanya pelayan sampah" Ujar Wanita itu melipatkan tangan di dadanya angkuh.


"Tidak nona aku benar-benar tidak sengaja menumpahkannya, tanganku di senggol seseorang"


"Sudah jelas kamu yang menumpahkan masih menuduh orang!!"


plakk....

__ADS_1


Pipi Dania menjadi panas menerima sebuah tamparan di pipinya, dia mematung di tempat memegang pipinya yang sudah pasti merah.


"Maafkan saya nona"


"Baiklah aku sudah puas kau boleh pergi" Ujar wanita sambil tersenyum miring, Dania langsung berlari pergi menjauh.


Kini Dania sedang berada di toilet mencuci wajahnya dan menatap cermin wajahnya masih merah dan terukir bercak tangan di sana.


"Hahaha Bagaimana" Ujar Pelayan yang tadi menyenggol dan memfitnahnya bernama Giva


"Apa maksudnya" Ujar Dania menatap Giva melalui pantulan cermin sedang bersandar di sana.


"****** sepertimu pantas mendapatkannya" Ucap Giva mendekati Dania.


"Jaga omongan mu!" Geram Dania.


"Haruskah ku panggil kau Dania? Bukan kah panggilan ****** lebih cocok untukmu?"


Plakk!!


Tamparan kini mendarat di pipi Giva membuat Giva melotot bahwa biasanya Dania akan diam menunduk jika dirinya di kata kan begitu namun hari ini berbeda Dania justru menamparnya.


"Kau!!" Marah Giva langsung mendorong Dania ke dinding membuat kepala Dania berdarah namun Dania masih bisa bangkit membalas memukul Giva serta mencakarnya.


Para pelayan lain mendengar keributan itu datang beramai-ramai memisahkan mereka yang sudah babak belur akibat saling pukul.


"Ada apa ini Giva dan Dania"


"Dania marah karna dia di tampar lalu dia melampiaskannya ke diriku" Ujar Giva yang sekarang berakting sedih.


"Apa itu benar Dania"


"Tidak dia yang memulai di Luan"


"itu tidak mungkin Giva adalah karyawan yang jujur!" potong salah satu pelayan yang merupakan sahabat baik dari Giva.


"tapi"


"Sudah-sudah obatin diri kalian, Dania apa perlu ke rumah sakit?"


"Tidak" Ujar Dania padahal sekujur tubuhnya sakit namun dia harus menahannya.


"Bagus memang sepertinya tidak perlu. Orang mencari masalah seperti mu tidak harus repot-repot di antar ke rumah sakit"


"Dasar tidak berguna"


Kata-kata menusuk yang di lontarkan itu membuat semua pelayan di sana hanya tersenyum miring menyaksikan dirinya yang kini memegang kepalanya yang berdarah pipinya yang merah badan yang babak belur.


Kini Giva menatap wajahnya seakan menertawakan Dania melalui wajahnya.


Kini beberapa pelayan sedang mengobati luka yang di dapat Giva, bahkan membawakan makanan juga minuman jika di bandingkan dengan luka Dania luka Giva bukanlah apa-apa. Kini Dania seorang diri kesusahan mengobati luka di keningnya yang berdarah dia menahan sendiri rasa sakitnya. Dia melihat ke arah Giva yang di sana sangat ramai yang baik padanya mengobatinya dengan tulus, bahkan di sana di penuhi canda tawa, Dania hanya menertawakan dirinya yang cukup menyedihkan sekarang jangankan di perhatikan seperti Giva bahkan tidak ada orang yang melihatnya jika ada mereka bukan prihatin namun lebih ke mengejeknya. Dia juga kini kesusahan mengobati sikunya yang juga mendapatkan luka. Bahkan kotak medis dia harus mengambil sendiri tidak seperti Giva dia di ambilkan oleh teman-temannya yang sedang bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2