
Dania terus memaksa keadaan untuk bertahan padahal Pusing sudah tidak bisa ditahan lagi, namun untungnya pekerjaannya selesai tepat dengan waktu yang ia perkirakan. Dania merentangkan tangannya yang terasa pegal.
"Kak Dewi aku izin pulang terlebih dahulu pekerjaan ku telah selesai" Tutur Dania sambil membenahi tasnya.
"Baguslah Dania apa perlu ku panggilkan taksi untukmu kau tampak pucat Dania"
"Enggak masalah, aku pulang terlebih dahulu yaa"
"Tapi Dania"
"Udah gak masalah kak selesaikan saja pekerjaan Kakak aku gak papa aku juga nunggunya depan kantor, pekerjaaan kakak numpuk kan?"
"Iya aku bakal lembur hari ini Dania kamu di kos sendiri GK papa kan?"
"Iya kak tenang aja"
Dania kini berdiri matanya melirik ke kanan dan kiri mencari taksi untuk mengantarnya. Tak butuh beberapa lama taksi kini didepannya, namun tak disadari Dania ada sepasang mata yang tengah mengamatinya dari kejauhan.
Dania memegang kepalanya yang masih terus berdenyut matanya tak sengaja melihat apotek "pak berhenti ke apotek itu sebentar, ada yang mau saya beli"
"Baik neng"
"Mbak saya mau beli obat pusing terus mual" Tutur Dania
penjaga apotek itu tersenyum melihat Dania dari atas hingga bawah "Ini kak, diminum setelah makan yaaa" Ujar penjaga apotek yang terus tersenyum membuat Dania merasa canggung.
Dania tersenyum dengan wajah pucatnya mengeluarkan sejumlah uang untuk ia membayar obat.
__ADS_1
Ia telah tiba didepan kos-kosannya, Dania turun dari taksi tak lupa membayar ongkosnya, ia melihat kulkas yang terisi beberapa koleksi makanan yang akan ia masak entah kenapa ia tiba-tiba merasa lapar namun mencium harum makanan ia merasa mual entah kenapa Dania bisa begitu ia juga heran karena saat dia sakit tidak pernah begitu ia lebih memilih tidak berpikir panjang. Dania mual berkali-kali namun Dania tetap harus mengisi perutnya.
sepasang mata berhenti memperhatikan rumah yang sangat kecil dimatanya hatinya menggerutu, ia masih diam di dalam mobil.
Dania tersenyum senang dengan makanan yang dibuatnya sungguh terlihat menggiurkan entah kenapa rasa pusing yang tadi menghantamnya mendadak hilang begitu saja.
Dania makan dengan santai namun entah kenapa beberapa hari ini Dania merasa aneh dengan perutnya namun ia hanya menghiraukan hal itu dan lebih fokus dengan pekerjaannya yang menumpuk di kantor.
Dania telah selesai makan ia menunggu beberapa saat agar bisa meminum obatnya, Dania merasa sangat bosan sekarang tak ada yang bisa ia lakukan selain bermain handphone atau mendengarkan lagu. Dania melihat jam dan meminum obatnya rasa pusing itu hilang seketika Dania merasa heran namun sekaligus bersyukur.
tak beberapa lama pintu kosnya terbuka karena Dania lupa menguncinya membuat Dania terbelalak dengan apa yang dilihatnya, Ardian berdiri tegak menatap Dania. Dania hanya mematung namun ia mundur saat Ardian mendekat kepadanya hingga ia terpojok ke dinding.
"Ar.. Ardian kau mau apa?" Tanya Dania gugup mata Ardian seakan ingin menerkamnya.
"kenapa kau pindah? Bukannya apartemen itu milikmu?" Kesal Ardian sambil mengurung tubuh Dania didinding.
"Apa maksudmu itu milikmu sampai kapan pun itu milikmu!!" Bentak Ardian
air mata Dania menetes lalu matanya menatap Ardian membuat hati Ardian bergejolak "Tidak sampai kapan pun apa yang pernah menjadi milikmu Ardian tidak akan pernah menjadi milikku, sampai kapan pun"
"Cihh!"
Ardian kesal langsung mencium Dania dengan paksa membuat mata Dania terbelalak. Tangan Dania terangkat ingin memukul Ardian namun Ardian terlebih dahulu menahan tangannya dengan cukup kuat.
Apa yang kau lakukan Ardian istrimu hamil dan kau menciumiku mata Dania berkaca-kaca tidak sanggup membayangkan Rilyi yang tengah hamil sedangkan suaminya mencium wanita lain.
Dengan paksa Dania menggigit keras bibir Ardian hingga mengeluarkan darah, Ardian mendelik menatap tajam Dania dan melepaskan ciuman panas itu.
__ADS_1
Ardian mengusap bibirnya lalu melihat darah dan pandangannya beralih ke Dania yang tengah mengusap mulutnya. Bukannya sadar Ardian malah mengeluarkan seringainya dan berjalan mendekat ke Dania. Dania menggeleng dengan kuat melihat Ardian yang berjalan mendekatinya.
Ardian yang bukan pria lembut lagi kini lebih tampak seperti hewan buas yang tengah melihat mangsa, Dania sungguh bingung apa yang akan ia lakukan sekarang ingin berteriak area ini sangat sepi bahkan itu akan merusak reputasi dari mereka berdua.
Ardian kini telah berada diatas tubuh Dania, Dania memberontak sebisa mungkin jamuan tenaganya sama sekali tidak sebanding dengan pria kuat yang berada diatasnya Dania hanya bisa menangis.
lagi dan lagi Ardian melakukan hal itu padanya.
malam menunjukan pukul 8 Dania terbangun ia melihat punggung pria yang baru saja melakukan hal panas dengannya, Dania melihat tubuhnya terbalut selimut ia tau Ardian yang menyelimuti nya.
Ardian berbalik menatap Dania sementara Dania langsung memalingkan wajahnya tidak ingin menatap balik Ardian.
lagi dan lagi Ardian melemparkan sebuah kartu untuknya entah berapa banyak kartu yang Ardian miliki, Ardian juga pernah menyerahkan kartu tanpa limit untuknya namun mentah-mentah ia tolak.
"Pakai sesukamu kata sandinya hari dimana kita jadian" Tutur Ardian berdiri keluar menutup rapat pintu kos Dania.
"ukhhh" Dania mengeluarkan air mata yang ia tahan sedari tadi tangannya mengambil kartu yang Ardian tinggalkan meremasnya dengan kuat.
Ardian pria seperti apa dirimu sekarang kau tidur denganku Belia lalu Rilyi apakah kau sekarang seperti itu menjadi pria brengsek batin Dania sungguh tidak menyangka pria lembut yang dikenal Dania penuh kasih sayang akan menjadi seorang bajingan yang tidur dengan berbagai macam wanita.
Dania bangkit melihat ke cermin tubuhnya penuh dengan jejak ciuman membuat air matanya semakin deras jatuh ia merosot bingung harus bagaimana lagi dan lagi ia menjadi wanita yang lemah.
Dania melihat ke arah jam yang menunjukan pukul 08.30 sedangkan Dewi akan lembur malam ini. Dania tidak merasa selera untuk makan padahal dia harus mengisi perutnya yang kosong. Dania meletakan kartu itu diatas lemari kaca entah kenapa mual itu kembali menghampiri nya.
apakah karena ia belum makan jadi ia merasa mual karena lapar, Dania mencuci wajahnya sambil melihat-lihat ke cermin ia memang tak sepucat tadi siang tapi dari wajahnya tetap terlihat seperti orang yang tengah sakit.
Dania menatap obat yang siang tadi dibelinya karena sekarang ia merasa pusing kembali.
__ADS_1
apakah boleh diminum sebelum makan pikir Dania ia sungguh tak ada selera sama sekali yang ada hanya sesak di dadanya ia sudah menyakiti hati seorang istri yang tengah mengandung sungguh Dania merasa sangat sakit.