
"Ada syarat jika ingin aku makan banyak"
"Hmmm... apa syaratnya" bingung Dania.
"Cium aku" Ujar Ardian memegang dagu Dania dengan jarinya.
blush merah sudah wajah Dania saat ini mendengar perkataan Ardian.
"Hah?cium"
"iya ada yang salah? Cobalah untuk berinisiatif mencium ku"
Dania menundukkan wajahnya malu mendekatkan bibirnya ke Ardian, mencium pipinya disana dan langsung memalingkan wajahnya.
"Hanya itu?" Tanya Ardian berharap lebih.
"Dasar mesum apa yang kau harapkan Ardian"
"Aku hanya ingin bilang di sebelah satu nya belum, sebenarnya apa yang ada di dalam kepala mu Dania" Ujar Ardian menaikan sebelah alisnya menggoda kekasihnya hingga wajahnya memerah, dan membuat Dania salah tingkah.
"ka...kau makan cepat" Ujar Dania langsung menyerahkan bekal yang di bawa nya untuk Ardian jika tidak, Dania akan Di goda habis-habis olehnya. Ardian terlihat sangat dingin di luar tapi tidak jika sedang bersama Dania, dia justru menjadi pribadi yang jahil dan terkadang manja.
"Bawakan segelas susu dan makanan ke ruangan ku" Ujar Ardian memerintahkan seseorang melalui telepon.
"Baik tuan" Ujar seseorang yang berada diseberang telepon itu.
***
Tok...tok (Suara pintu)
"Masuk" Ujar Ardian dengan nada dingin andalannya.
Seorang Wanita masuk dengan kemeja ketat serta rok pendek di tubuhnya.
"ini yang kau minta tuan"
"Berikan kepadanya"
Wanita yang mengantar minuman itu terkejut bahwa itu adalah seorang wanita berada di dalam ruangan bos nya jika bisa di bilang, bos nya sangat benci jika ada orang yang berada lama di dalam ruangannya. Wanita itu cukup lama menatap Dania dan menduga bahwa Dania adalah adik atau sepupu dari CEO nya.
"apa yang kau lihat dari kekasih ku"
Ardian merasa bahwa wanita itu terlalu lama menatap kekasihnya, dan juga membuat Ardian risih wanita itu cukup lama di ruangannya.
"kekasih" gumam wanita itu dengan mata yang melotot terkejut.
"ehem" Ujar Ardian merasa wanita itu belum juga menyerahkan minumannya.
"hah maaf tuan Ardian, ini minuman mu nona"
"Baiklah, terima kasih" Ujar Dania tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi dahulu"
Wanita itu pergi menutup pintu Ardian dengan pelan, setelah wanita itu pergi Dania menatap wajah Ardian. Ardian yang merasa di perhatikan pun melirik kekasihnya.
"Ada apa sayang?" Tanya Ardian dengan mata yang berada di laptop dan tangan yang sibuk berkutik di keyboard, sesekali mengambil makanan.
__ADS_1
"Kau tidak boleh begitu pada bawahan mu Ardian"
"kenapa tidak boleh"
"Dia itu bawahan mu, kenapa tidak coba sedikit lebih ramah"
"Aku hanya merasa dia melihat mu sangat lama, kau kekasih ku kenapa harus di tatapnya seperti itu"
"ehem...kau cemburu pada wanita Ardian" Ujar Dania menahan tertawa.
"tidak"
"hahaha baiklah" Dania mendekatkan diri ke Ardian menjauhkan laptop milik Ardian dari matanya.
"Kau harus makan Ardian, jangan melihat laptop terus"
"Baiklah tapi habiskan susu juga makanan itu,kau terlihat kurus" Ujar Ardian memperhatikan wanitanya dari atas hingga bawah.
"tubuhku memang segini dari dulu" Ujar Dania cemberut membuat Ardian gemas.
"Maka dari itu,kau harus makan yang banyak"
"Baiklah tuan muda"
Dania meminum susu nya dan memakan makanan yang di bawa untuknya sambil memperhatikan wajah Ardian. Betapa menawannya kekasihnya itu hidung mancung, kulit putih, mata yang selalu membuatnya terpesona, bibir yang seksi badan tinggi dan tegap bahkan saat makan dia sangat tampan.
"Dania kenapa melamun?"
"hah? tidak apa-apa" Ujar Dania kembali makan dengan fokus.
"Hah? kau ini sangat narsis" Ujar Dania memalingkan wajahnya yang memerah.
"wajah dan kupingmu memerah berarti yang ku katakan benar" Ujar Ardian kepedean.
"Sok tau"
"Sudah terlihat jelas Dania" Ujar Ardian meminum minumannya.
Kini Dania mendekatkan diri ke Ardian dan jongkok tepat disebelah kursi kerja yang di duduki Ardian, mengapa kekasihnya dengan wajah yang berbinar-binar.
"Ada apa dengan mata mu Dania. kau terlihat seperti anak kucing yang menginginkan sesuatu" Ucap Ardian menunduk menatap wajah kekasihnya.
"Kenapa anak kucing"
"Karena kau terlihat sangat imut dan menggemaskan"
"Hehehe"
"kenapa tertawa hmmm" Tanya Ardian mengelus pipi Dania.
"Tidak ada, wajah mu sangat menawan"
"Aku sudah tau, jadi apa yang kau inginkan" Tebak Ardian melihat tingkah laku Dania yang seperti menginginkan sesuatu.
"Ardian"
"Ada apa sayang?"
__ADS_1
"Sebulan lagi apakah kau ada waktu" Tanya Dania ragu.
"Untuk mu aku akan selalu ada waktu"
Tatapan Ardian begitu lembut kepada kekasihnya ini sangat jarang diperlihatkan kepada orang lain bahkan Dania lah orang yang selalu melihat tatapan itu.
"Sebentar lagi adalah hari wisuda ku, aku ingin kau menghadirinya Ardian bisakah?"
Mata Dania kini penuh harap juga tersirat kesedihan didalamnya, dia sangat ingin kekasihnya menghadiri hari itu.
"Hanya itu?" Tanya Ardian heran kepada kekasihnya kenapa sangat segan dengan permintaan sederhana itu.
"iya itu bolehkah Ardian?"
"Tentu saja boleh. lalu apa yang kau inginkan di hari itu?" Ujar Ardian berharap kekasihnya akan mengharapkan hadiah mewah dari dirinya.
"Tidak, aku hanya ingin kau datang" Ujar Dania tersenyum.
"Baiklah aku pasti akan datang dan melihat kekasih kecil ku" ucap Ardian tersenyum.
"Terima kasih Ardian" ujar Dania langsung memeluk tubuh Ardian.
"bodoh" Ujar Ardian membalas pelukan kekasihnya dengan erat.
"Oiya kau belum menghabiskan makanan dan susu mu, habiskan terlebih dahulu sebelum mereka dingin"
"Baik, siap bos" Ujar Dania dengan tangan hormat di keningnya membuat Ardian geleng-geleng kepala.
Makanan Ardian telah habis kini dia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Dania kini memakan makanannya dengan lahap karna dia belum ada makan dari malam itu, dan hanya meminum segelas Susu. Makanan itu di habiskan Dania tanpa tersisa.
"Hoamm" Ujar Dania menutup mulutnya serta mengucek matanya yang mengantuk.
"Kau ngantuk Dania" Tanya Ardian memperhatikan Dania seperti kelelahan.
"Iya sedikit"
"Tidurlah di dalam kamar ini, aku akan membangunkan mu setelah ini selesai"
Di dalam kantor Ardian, ruangannya cukup luas ada sebuah ruang kamar dan kamar mandi untuknya jika Ardian merasa lelah.
"Tidak aku ingin tidur di sofa" Ujar Dania yang menyiapkan diri merebahkan badannya.
"Tapi Dania tempat tidur luas, sofa akan sempit untukmu dan badanmu akan sakit jika kau tidur disitu"
Dania tidak menyahuti perkataan Ardian karna sudah tertidur nyenyak. Ardian melihat itu hanya tersenyum mengambil sebuah selimut untuk Dania dan menyelimutinya agar kekasihnya tidak kedinginan, mencium kening kekasihnya itu.
"Selamat tidur Dania" Ujarnya mengelus rambut kekasihnya.
Ardian kembali kemeja tempatnya bekerja.
Kringg...
Baru saja ingin melanjutkan pekerjaannya handphone miliknya berbunyi dan melihat disana bahwa Papanya sedang menelpon.
"Hallo ada apa pa?"
"Ardian lusa kita akan mengadakan perjamuan"
__ADS_1