
Belia tiba didepan rumah yang sangat megah, dia memang sering main kerumah Rilyi yang juga megah namun yang didepannya kini lebih megah lagi, bahkan Belia terkagum-kagum melihat bangunan didepannya begitu mewah.Belia menekan bel pagar rumah yang di buka oleh satpam.
"Cari siap non?" Tanya satpam melihat gadis yang asing tiba-tiba saja datang, jika ada gadis biasanya adalah Dania, kalaupun ada itu adalah fans-fans tuan muda nya mungkin juga gadis ini termasuk pikir satpam disana.
"Saya cari Rilyi pak, saya sahabatnya"
Satpam mencoba mengingat Rilyi ternyata nyonya rumah baru disini, sangat disayangkan bukan Dania, padahal Dania gadis yang sangat baik Batin satpam itu bengong.
"Pak" Ujar Belia melambaikan tangan ke depan wajah sang Satpam dan dilihat dari namanya adalah pak Yanto.
"Maaf non, sebentar yaa saya bertanya ke nyonya Rilyi dulu" Satpam menggunakan handy talky atau biasa alat komunikasi yang di gunakan satpam. Belia kembali geleng-geleng takjub betapa mewahnya kehidupan Rilyi bahkan satpam saja harus melalui alat untuk menghubungi karna begitu luasnya rumah milik Ardian. Coba saja dia yang menikahi Ardian, mendapat pria tampan bertubuh bagus, harta yang tidak bakal habis, pasti dia akan menjadi wanita yang begitu beruntung dan di iri kan banyak wanita tiba-tiba saja Belia menjadi iri kepada kehidupan Rilyi.
"Non boleh masuk, Nyonya Rilyi Uda nunggu didepan pintu" Ujar sang Satpam menunjukan arah lurus rumah Ardian.
"Owh" Belian melengos begitu saja melewati satpam tanpa mengucapkan kata-kata lain. Satpam itu hanya geleng-geleng, tidak seperti Dania yang akan tersenyum bahkan mengucapkan terima kasih.
Rilyi dan Belia bertemu berpelukan seperti hal nya sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Rilyi mengundang Belia masuk. Rumah Ardian lebih besar lagi saat di masuki barang-barang di dalamnya sangat mewah Belia tidak henti-hentinya kagum.
"Ardian kemana?" Tanya belia yang tidak melihat kehadiran Ardian saat duduk di sofa.
"Dia sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali"
Belia diam masih memperhatikan setiap sudut rumah Ardian terdapat beberapa lukisan yang diperhatikan Belia pasti harganya sangat fantastis.
"Oiya Belia aku sudah memasak sarapan banyak, ayo kita makan pasti kau lapar" Rilyi menarik tangan Belia menuju ruang makan, bahkan ruang makan Ardian lebih besar dari tempat yang ditinggalinya Batin Belia.
"Kemampuan masak mu mangkin membaik Ril, Ardian pasti suka"
"Sebenarnya makanan ini miliknya seharusnya, namun aku tidak tahu dia pergi sangat pagi jadi aku terlambat memasaknya, aku bodoh sekali yaa Bel" Ujar Rilyi matanya berkaca-kaca, Belia hanya memakan melanjutkan mendengar Rilyi bercerita.
__ADS_1
"Dan lagi dia berkata bahwa setelah menikah dua tahun kami harus bercerai"
Belia heran menaikan sebelah alisnya tidak mengerti atas perkataan Rilyi. Rilyi lantas bangkit meninggalkan Belia yang masih bertanya-tanya. Rilyi mengambil beberapa lembar kertas lalu memberikan ke Belia.
Belia membacanya perlahan dan matanya melihat ke arah Rilyi.
"Aku sangat sedih Ril, aku mencintai Ardian namun dia tidak mencintaimu"
"Kau harus berusaha membuatnya memandang mu Ril" Belia memegang tangan Rilyi mengusapnya seakan menenangkan.
Sungguh beruntung dirimu, bagaimana kau bisa mengeluh di berikan suami seorang CEO , tampan, dan kaya raya dan kau masih saja mengeluh hidupmu sekarang sangat mewah aku sangat iri padamu Rilyi! Batin Belia.
***
Dania kini buru-buru berangkat kerja dirinya berpikir pasti akan terlambat karna binvu g menutupi ciuman yang belum juga hilang, padahal dia sudah mengompres matanya namun masih saja bengkak. Dania kini menggunakan baju yang panjang menutupi leher dan rok dibawah lutut. memasuki kantor dengan keringat bercucuran di kening hasil berlari.
"Tepat waktu" Ujar Dania kini tiba di ruangannya.
"Enggak papa kak Dewi takut terlambat mangkannya lari-lari" Dania langsung menerima air itu menegaknya hingga habis tak bersisa.
"Alah palingan juga dia baru sama sugar Daddy nya" ujar Rere
"Tolong jaga omongan mu!" Dania tidak terima di katakan begitu tentu saja dia marah walaupun Rere adalah atasannya.
"Kenapa kau berani melawanku! Kau tidak tahu aku siapa?"
"Tentu aku tahu, tapi aku hanya akan menghormati orang yang menghargai ku"
"Dania sabar, Rere sudahlah!" Dewi melerai pertikaian Dania dan juga Rere namun Rere semangkin dekat dengan Dania.
__ADS_1
"Diamlah Dewi ini bukan urusanmu!" Rere menatap sinis Dania yang kini tepat berada di depannya, begitupun sebaliknya Dania yang tak takut akan tatapan dari Rere.
"Kenapa kau marah aku bilang begitu, apakah kau benar j*Lang, orang yang mengaku dirinya benar pasti bukan ******* iyakan?"
"Tidak ada yang tidak marah dipanggil seorang j*Lang, lalu kau begitu santai mengataiku j*Lang apakah kau sudah sering menjadi seperti j*Lang di luar sana?"
Rere yang marah tidak terima di Katai begitu lantas melayangkan tangannya, namun belum sampai tangan itu ke pipi Dania, Dania sudah menahan tangan itu matanya menajam.
"Kau marah ku panggil seorang j*Lang bukankah berarti kau seorang j*Lang? Rere melotot bahwa Dania berhasil membalikkan kata-katanya tadi, Rere mendelik marah, kini karyawan kantor sedang melihat kearah mereka berdua.
"Kaulah j*Lang!! Seluruh keluargamu ******!!"Dania geram langsung mendorong Rere di meja kantor membuat tubuh Rere terbentur cukup keras hingga dia meringis.
"Ada apa ini" Tanya Abra yang tiba-tiba masuk, Rere dengan seringainya kini memulai aktingnya.
"Pak Abra Dania lihat apa yang dia lakukan ini sangat menyakitkan huhu" Ujar Rere dengan pandangan mata memelas menatap Abra. Abra diam lalu melihat ke arah Dania yang juga diam.
"Benarkah Dania?" Abra menatap Dania yang tunduk seakan meminta penjelasan untuknya.
Dania harus menjawab apa bukti dia mendorong Rere sudah jelas, lagian kalau dia menjawab sebenarnya tidak ada gunanya.
"Iya pak saya yang menyakitinya dan saya juga yang mendorongnya" Ujar Dania membelikan badannya ingin menuntaskan pekerjaan tidak peduli Abra yang sudah jelas notabene adalah bosnya. Abra melihat punggung Dania yang berbalik.
"Aku percaya padamu Dania!" Ujar Abra hingga satu koridor kantor melihat mereka.
Dania hanya tersenyum lalu duduk di kursinya.
***
Ardian sedari tadi tidak berhenti marah selama meeting bahkan kesalahan kecil bisa membuatnya sangat kesal entah kenapa di dirinya hari ini.
__ADS_1
"ini hasil kerja yang kau kerjakan dalam satu bulan ini? apakah kau menggunakan otak mu hah?"
para bawahan Ardian diam menunduk takut Ardian yang entah kenapa menjadi sering marah biasanya sangat jarang padahal dirinya baru nikah dimana para pengantin akan bermanja pada pasangan nya.