Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo

Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo
Obat didalam teh


__ADS_3

Ardian pulang setelah menjalankan hari yang begitu melelahkan, makanan berjejer rapi di meja makan dengan aneka rasa, hidangan yang terlihat enak tapi seperti biasa Ardian tidak minat dengan jerih payah sang istri yang telah lelah membuatkan ini semua dengan sepenuh hati.


Rilyi hanya menatap sendu makanan saat Ardian melewatinya begitu saja dan memilih meminum air yang ada di lemari pendingin, Rilyi masih dapat tersenyum.


"Mas makan dulu yuk" Ujar Rilyi.


"Aku tidak nafsu" Ardian meletakan gelas dan pergi dari ruang makan menuju kamar pribadinya.


Belia berada di dapur bersama seorang pelayan yang ada di rumah Ardian mereka berbincang.


"Minuman itu untuk siapa?" Tanya belia melihat pelayan menatap teh.


"OOO ini teh untuk tuan muda"


"ohhh... oiya bisakah aku minta tolong untuk mengambil barang ku yang tertinggal dekat kolam renang"


"tentu"


Pelayan pergi menjauh dari dapur, seringai licik terpampang jelas dari sudut bibir Belia, tangannya mengambil sesuatu dari saku menaburkan sebuah obat di dalam teh yang sebentar lagi disajikan untuk Ardian.


Suara langkah kaki mendekat ke arah dapur dengan cepat Belia memasukan kembali obat itu. Pelayan masuk tidak membawa apa pun karena barang yang di katakan oleh Belia memang tidak ada itu hanya karangan agar dia bisa lancar menjalankan aksi.


Pelayan mengetuk pintu mengantarkan teh untuk Ardian, pelayan tidak masuk paham sebuah aturan bahwa kamar Ardian tidak boleh di masuki, jadi pelayan hanya mengetuk pintu saja menunggu Ardian, pintu terbuka terlihat Ardian yang baru saja mandi rambutnya basah.


"Tuan ini teh yang anda minta"


"hmm"


Ardian menonton acara televisi yang berada di kamar, sesekali menyesap teh yang isinya sudah terdapat obat perangsang yang dia tidak tahu sama sekali. Selang beberapa menit Ardian merasakan suhu tubuhnya seakan memanas padahal AC nya sudah di suhu yang paling dingin namun tubuh Ardian memanas.


"huh panas"


Ardian turun ke bawah mencoba mengambil air dingin di kulkas wajahnya memerah nafasnya memburu seakan menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Belia memperhatikan Ardian dengan senyum liciknya yang sangat berbahagia melihat Ardian seperti itu dalam diri Belia bernafsu. Beliau menggigit bibir bawahnya lalu pergi ke kamar Ardian yang tidak terkunci.

__ADS_1


Belia cukup terkejut wajah Dania dan Ardian berada disana bahkan cukup banyak terlihat wajah Ardian yang menampilkan kasih sayang tulus kepada Dania, tangan Belia terulur mengambil bingkai foto menatapnha sebentar lalu menjatuhkannya, melihat bingkai foto itu hancur Belia merasa sangat senang.


Suara pecahan kaca terdengar di gendang telinga Ardian padahal kamarnya kedap suara, dia yang masih minum air es menghentikan aktivitas nya Ardian merasa percuma semangkin lama gairah nya semangkin memuncak tubuh nya juga terasa semangkin panas.


Ardian memutuskan untuk naik ke kamarnya melihat apa yang terjatuh itu, kamarnya gelap tv yang tadinya menyala kini mati Ardian heran padahal dia jelas belum ada menyentuhnya namun Ardian tidak peduli dia semangkin kesulitan mengendalikan dirinya sendiri, dia bingung apa yang baru saja dikonsumsi nya.


Ardian tidak melihat pecahan kaca dia mencoba duduk di kasur mengatur nafasnya agar tetap tenang.


lampu tidur Ardian menyala memunculkan wanita dengan pakaian sangat terbuka berjalan dengan sensual ke ranjang Ardian, gerakan tubuhnya berusaha menggoda pria yang tengah terpengaruh obat, dia memanjat ranjang Ardian, mata Ardian menyipit dengan cepat menghidupkan lampu kamarnya hingga kini terpapar jelas wajah Belia.


"Kau!" Belia tersenyum berjalan mendekati Ardian lagi.


"Tuan Ardian ayo kita lakukan" Belia membuat suaranya seperti ******* membuat Ardian mengingat sesuatu dengan suara itu, suara yang pernah dia dengar saat di telepon.


Ardian menahan dirinya dia menatap wanita di hadapannya dengan pandangan jijik, saat Belia di depannya membuka satu kancing kemeja Ardian, Ardian secara langsung menepisnya dengan keras mendorong Belia hingga terjatuh.


"Kau yang memberiku obat!!"


"Menyingkirkan! aku memperingatkan mu! Ancam Ardian dengan mata nya yang sudah setajam pisau"


Belia malah tersenyum dirinya semangkin mendekat tangannya menyentuh tangan Ardian mencoba mengarahkan ke dadanya. bukannya senang Ardian malah menarik paksa keluar Belia dari kamarnya dengan paksa lalu membenturkan tubuh Belia.


"Pergilah kau terlihat sangat menjijikan!!"


Belia terkejut padahal Ardian sudah di berikan obat tapi tidak tergoda. mendengar ada keributan Rilyi berlari keatas dekat kamar Ardian. Dirinya terkejut melihat Belia yang berpakaian sangat seksi hampir terlihat seluruh tubuhnya tengah terduduk dengan Ardian yang membentaknya.


"Ada apa ini mas bel"


Belia terkejut dengan kehadiran Rilyi disana, sebisa mungkin Belia membuat matanya berkaca-kaca agar Rilyi percaya padanya. Belia mendekat ke arah Rilyi yang kebingungan.


"Ril, tuan Ardian ingin memperkosa ku hikss"


Rilyi sangat terkejut dengan apa yang diungkapkan Belia " Benarkah itu mas"

__ADS_1


Ardian merasa marah mengepalkan tangannya" apakah kau bodoh?"


nafas Ardian naik turun apakah efek obat ya g digunakan Rilyi sangat kuat.


"Rilyi percaya padaku Ardian ingin memperkosa ku aku tidak mungkin mengkhianati mu" Belia menggenggam tangan Rilyi berusaha membuat Rilyi percaya padanya. Rilyi hanya diam menatap Belia dan Ardian secara bergantian.


Rilyi bingung melihat situasi sekarang kancing baju Ardian yang terbuka, Belia yang menangis entah siapa yang harus dipercayanya.


"Mas benarkah itu?"


"Rilyi aku ini sahabatmu" Akting Belia sekarang seakan nyata mata yang terus menangis seperti dia benar-benar mendapatkan pelecehan, Ardian benar-benar kesal bagaimana mungkin dia menyentuh wanita seperti ini.


panas tubuh Ardian menjadi-jadi dia tidak mampu lagi menahan dirinya "Jika aku memang benar melecehkannya bagaimana mungkin dia berpakaian seperti itu, bagaimana bisa dia di kamarku dan memberiku obat!"


"Apa obat!" Rilyi kaget menatap Belia yang tengah mematung tidak bisa menjelaskan apa pun lagi.


"Belia bagaimana bisa kau melakukan ini, obat apa yang kau berikan ke Ardian?!"


Belia mengepalkan tangan sorot matanya menatap Rilyi dengan amarah" Iya aku yang memberinya obat perangsang lalu kenapa!"


"Belia kenapa kau melakukan itu!"


"Rilyi kenapa kau hidup bergelimang harta! kenapa kau bisa mendapatkan laki-laki yang begitu sempurna! Kenapa apakah kau senang menunjukan semua keberuntungan mu di hadapanku hah? Rilyi kau sangat menjijikan! kau selalu pamer di hadapan ku karena aku tidak punya yang kau miliki bukan? Jadi aku ingin semua yang kau miliki!!"


"Belia aku tidak pernah pamer di depanmu!"


Pertengkaran yang sangat meributkan di telinga Ardian gejolak dari obat itu tidak dapat ditahan terus Ardian memutuskan untuk pergi.


Melihat Ardian yang pergi lantas Rilyi menahan tangan Ardian" mas aku bisa membantumu aku istrimu mas tidak masalah" Pertanyaan Rilyi tangan Rilyi langsung di tepis Ardian.


"Mas mau kemana?" Rilyi Melihat tubuh Ardian semangkin menjauh


"Mencari j*lang"

__ADS_1


__ADS_2