
Malam Dania pulang dari pekerjaan, ada yang menunggu di depan pintunya, seorang wanita mamakai jaket hitam menutupi kepalanya sedang bersandar di dinding
"Siapa kau? Kenapa kau menunggu di depan apartemen ku?" Ujar Dania bingung karna selain Ardian tidak ada yang datang ke apartemen nya.
Wanita itu mengangkat kepalanya membuka penutup kepala yang tadi menutupinya dan terlihat wajah yang sedikit tidak asing menurut Dania, dia adalah sahabat dari Rilyi Belia.
"Kau?" Tunjuk ya pada Rilyi. Wanita itu tersenyum miring.
"Yups aku sahabat Rilyi. Belia, ada sesuatu yang ingin ku sampaika?n padamu"
"Kalau begitu silahkan masuk" Ujar Dania membuka pintu mempersilahkan tamunya. Belia duduk di ruang tamu melihat keadaan apartemen Dania. Apartemen yang mewah, sudut bibir Belia terangkat, Dania datang membawakan teh untuk tamunya.
"Silahkan di minum" Ujar Dania duduk di depan Belia, Belia melipatkan kakinya meminum teh yang di berikan Dania.
"Kau tahu tujuan ku kesini?"
Dania hanya menggelengkan kepala tidak mengerti sama sekali.
"Jauhi Ardian" Ujar Belia yang membuat Dania melotot.
"Tidak!"
Dania melotot tidak terima, Belia hanya tersenyum miring mendengar jawaban itu.
"Ardian sudah punya tunangan"
"Tapi aku lah yang pertama bersamanya"
"Siapa kau? Apakah orang tuanya mengakui mu?" Tanya Belia menusuk membuat Dania bungkam
"Itu bukan urusan mu! kau tidak berhak ikut campur!" Dada Dania naik turun emosi kini tersirat di matanya.
"Hahaha tentu saja aku berhak. Dan lagi kau hanya memanfaatkan hartanya bukan?" Belia menatap mata Dania yang tajam menjadi senyuman puas di wajah Belia.
Dania berdiri dari duduknya sorot matanya tajam "JAGA OMONGAN MU!" tidak terima dengan perkataan yang di lontarkan untuknya
__ADS_1
"Kau emosi berarti aku benar bukan?"
"Tolong keluar! aku tidak menyambut mu!"
Belia berdiri dari bangkunya, namun dia berhenti di depan pintu mengatakan sesuatu untuk Dania yang membuatnya duduk lemas.
"Tolong sadar diri, kau tidak pantas untuknya"
Dania terduduk lemas memegang kepalanya yang seakan berdenyut dengan pikiran kacaunya. Tidak pernah terbayangkan di benak Dania bahwa mencintai Ardian begitu berat halangannya. Seakan Dania menginjak bara api untuk pergi mengambil berlian.
Sadar diri itulah yang selalu di dengarnya hampir muak dengan perkataan itu.
Dania mengambil sebuah foto yang berada di sebuah meja foto yang di dalamnya bergambar Ardian, Dania tersenyum mengelus gambar itu.
"Ardian aku mencintaimu"
Dania memeluk foto Ardian rasanya menenangkan pikirannya. Dania tertidur di lantai memeluk foto Ardian, malam ini dirinya terlihat sangat lelah.
pagi ini Dania terbangun dengan selimut yang sudah berada di atas tubuhnya. Dia sekarang sudah ada di atas tempat tidur, padahal seingatnya dia tidur di lantai dia tidak melupakan itu. Dania bangkit dari atas tempat tidurnya melihat sekeliling tidak ada seorangpun di dalam kamarnya. dan yang pertama dilakukannya adalah membereskan tempat tidur lalu keluar dari kamarnya nutup pintu. dirinya kita berjalan di ke arah dapur dan melihat Ardian di sana. Ardian yang tadinya memasak kini menatap wajah Dania.
Dania hanya terdiam dengan perkataan Ardian, dirinya hanya tersenyum lalu berlari ke arah pelukan Ardian membuat Ardian cukup terkejut ada apa dengan kekasihnya hari ini.
"Dania" Bingung Ardian tidak ada balasan dari Dania, mungkin Dania bermimpi buruk pikir Ardian membalas pelukan Dania semangkin lama semangkin erat. Kenyamanan semangkin mengalir dari keduanya. Ardian memegang dagu Dania mendekatkan bibir keduanya hingga benda kenyal itu menyatu.
CUP
Ardian menggigit bibir Dania langsung memasukan lidahnya saat mulut Dania terbuka, menjelajahi setiap inci dari mulut kekasihnya. Lumaatan dan sesapan yang di berikannya membuat Dania terbuai hingga lemas kedua kakinya, dengan sigap tangan kekar Ardian menahan pinggul kekasihnya memeluk erat Dania. Mereka berciuman cukup lama sampai ketika Dania memukul-mukul pelan dada bidang Ardian tanda bahwa dirinya kehabisan nafas dengan terpaksa Ardian harus menghentikan aktivitas mereka.
Dania menghirup banyak oksigen.
Ardian kembali memeluk pinggang Dania.
"Ayo kita lanjutkan" Ujar Ardian membuat mata Dania membulat.
"Dasar Ardian" Ujar Dania memukul pelan Dada Ardian membuat Ardian tersenyum, saat Ardian ingin menutup matanya tanda bahwa dirinya akan segera mencium Dania dengan cepat tangan Dania menahannya.
__ADS_1
"Ardian ayo makan, Setelah itu kita bekerja"
Ardian hanya diam menggelengkan kepalanya lalu memperlihatkan Dania jam tangan mewah miliknya, yang menunjukan waktu sudah sangat lewat jika dirinya pergi bekerja.
"Apa!!" Ujar Dania tidak percaya bahwa dirinya tertidur selama itu.
"Jadi apa yang menyebabkan mu tidur di lantai sambil memeluk fotoku?" Tanya Ardian menaikan sebelah alisnya.
"Aku hanya merindukan mu" bohong Dania.
"Bukankah kita bertemu setiap hari?"
"Bagaimana jika aku merindukan mu setiap saat?"
"Aku akan ada bersamamu setiap saat" Ujar Ardian serius tidak terlihat kebohongan di sana membuat Dania tercengang.
"Bagaimana jika kau harus menerima perjodohan itu dan kita tidak bersama bukankah itu?? Ujar Dania terputus saat jari Ardian menutup mulutnya.
"Itu tidak akan terjadi" Ucap Ardian menatap lembut Dania, tatapan yang membuat Dania mabuk dengan pesona Ardian.
"emmm a..aku akan memasak" Dania langsung berlari ke arah kompor wajahnya memerah membuat Ardian tertawa kecil.
Dania melihat apa yang Ardian lakukan dirinya di dapur tadi yang hanya memasak air entah untuk apa. Dania menepuk jidatnya memilih untuk memasak sup.
Mereka seperti suami istri baru, sang istri yang memasak dan suami yang menunggu hidangan istrinya, sambil sesekali mengganggu apa yang di lakukan dengan melakukan hal-hal romantis.
Ardian tidak memperdulikan pekerjaannya yang menumpuk, hari ini dia ingin menghabiskan waktu dengan kekasih manisnya.
"Makanan selesai" Ujar Dania meletakan beberapa makanan di meja, tidak hanya sup tetapi juga ada menu lain yang sungguh menggugah selera siapa pun mencium masakannya. Tanpa basa basi Ardian langsung menyantapnya masakan kekasihnya masih sangat enak tidak pernah bosan untuk dicicipi.
Dania sengaja meletakan banyak sayur disana agar Ardian tidak punya pilihan lain selain mengambilnya namun, Ardian tetap mengambil hidangan yang lain yang tidak memiliki sayur di dalamnya. sungguh heran pria dewasa di sampingnya tidak menyukai sayur. Dania menyuapi Ardian begitu juga sebaliknya tidak ada orang yang bisa menggangu mereka.
kringg.....
Telepon dari Ardian berbunyi tidak ada nama tertera di sana, nomor asing. tapi siapa yang mengetahui nomor miliknya? selain Dania, orang kantor, atau orang tuanya. Tanpa basa basi Ardian mengangkat nomor itu siapa tahu itu penting.
__ADS_1
"Emm sayang aku merindukan mu aku memimpikan mu tadi malam. Aku jatuh cinta padamu"