Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo

Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo
Bertemu orang tua Ardian 2


__ADS_3

Hai yang Uda mau mampir ke novel aku jangan lupa dukungannya yaaa.


"Maafkan kami Dania, tapi Ardian telah kami jodohkan"


Deg! Bagaikan disambar petir disiang bolong, mendengar jawaban dari Vivi ibunya Ardian bahwa kekasihnya sudah dijodohkan.


"Ma! apa maksud mu?!" Teriak Ardian dengan fakta yang cukup mengejutkan ini.


"Ardian kau harus menerima fakta ini!!"


Air mata kini hanya mampu dibendung oleh Dania, meremas kuat dress yang digunakannya, seraya memperkokoh dirinya.


"Aku hanya ingin Dania tidak yang lain"


"Ardian melihat statusnya, apakah dia pantas bersama mu?" Dania mengatupkan mulutnya bungkam.


"sangat pantas!" Ujar Ardian dengan lantang


Dania tau perbedaan nya dengan Ardian sangat jauh dari dengkapannya, hati Dania seakan terisi mendengar kata-kata itu.


"Dia tidak akan pernah pantas, bahkan dia tidak tau siapa orang tuanya"


"Apakah kalian sangat peduli dengan status?!" Ujar Ardian dengan amarah yang sudah berkobar di dadanya ditambah melihat raut wajah kekasihnya saat ini, dia tahu bahwa Dania pasti sangat sedih sekarang.


"Tidak ada orang yang tidak peduli akan status Ardian"


"Hahaha aku tidak perduli dengan status ku!"


Dania yang merasa Ardian sedang emosi sekarang menggenggam tangan Ardian menatapnya dalam diam.


"Aku tidak apa-apa" ucap Dania tersenyum sambil menggunakan mimik dari mulutnya tanpa mengeluarkan suara, Dania sudah tidak sanggup lagi mengeluarkan suaranya dadanya sudah menampung banyak kata-kata hinaan untuk dirinya namun dia harus menahan sesak di dalam dadanya.


Menangis dalam hati itulah yang bisa dilakukannya sekarang sangat sakit bukan?


"Ardian apa pun yang kau katakan! kami akan tetap menjodohkan mu"


"Dan apa pun yang kalian katakan Aku tetap menolak perjodohan ini"


Ardian adalah orang yang tidak akan mengalah, sejak kecil sifat itu selalu mendominasi padanya.


"Ardian!!" Bentak Diandra melihat putranya yang tidak menurut.


Kini Vivi menenangkan Diandra yang telah emosi, mereka pun saling tatap satu sama lain seperti mencari cara agar Ardian menerima kenyataan ini.


"Dania, ikut lah dengan ku sebentar"


Vivi mengajak Dania pergi kesebuah tempat untuk berbicara.


"Ma kemana kau bawa Dania!"


Ardian merasa bahwa mama nya akan berkata sesuatu yang menyakitkan untuk kekasihnya itu.


"tenang lah aku hanya mengajaknya berbicara"

__ADS_1


Dania mengelus pundak belakang Ardian memberikan senyuman andalannya untuk memberikan Ardian ketenangan, merendahkan dia dari amaraha.


Disinilah Dania dan Vivi berada sebuah taman belakang yang luas, sangat sejuk dan indah.


"Kau tau Dania? kau boleh mencintai orang lain tapi tidak Ardian"


"ke...kenapa Tante"


Suara Dania kini sangat pelan takut akan jawaban dari Vivi.


"Dari dia kecil kami sudah merencanakan perjodohan untuknya, dengan anak seorang CEO yang merupakan anak dari sahabat Diandra, pernikahan mereka telah diatur cukup lama"


"...."


"Dan satu lagi Dania coba kau pikir kan apakah kau dan Ardian setara"


Apakah aku dan Ardian setara kami memang tidak setara, sangat jauh bahkan untuk menggapai Ardian aku memang tidak pantas untuknya siapa lah aku ini? seorang gadis biasa yang bahkan tidak tau siapa orang tua ku. pikir Dania dalam hati.


"Iya Tante aku tahu kami memang tidak setara, tapi aku benar-benar mencintainya"


"simpan lah cinta mu Dania. Jika dilihat pakaian yang kau kenakan adalah hadiah dari Ardian, apakah aku benar?"


"iya Tante"


"apakah gaji mu cukup membelinya?"


Terbungkam sudah mulut Diana saat ini tidak tau harus mengatakan apa, gaun yang digunakannya sekali lihat orang sudah tahu harganya sangat fantastis.


"Perlu kukatakan Dania status mu merupakan aib bagi Ardian"


"maksud Tante aib itu?"


"Tidak kah kau berpikir Dania? apa kata orang lain jika Meraka tahu bahwa kau seorang gadis biasa bahkan tidak tahu siapa orang tua mu menikah dengan seorang Ardian seorang Ceo? Cobalah kau pikir kan apa perkataan orang tentang Ardian."


Dania memikirkan kata-kata dari vivi, bahwa yang dikatakannya ada benarnya.


Vivi memberi Dania selembar foto seorang gadis cantik dan anggun.


"ini?"


"itulah calon yang kami persiapkan untuk Ardian, mungkin dari segi wajah kalian seimbang, tapi soal status kau sangat jauh darinya" ujar Vivi menusuk.


Dania melihat selembar foto yang diberikan Vivi mengamati gadis itu, gadis yang terlihat seperti wanita yang baik dan cocok untuk Ardian, dirinya merasa bingung dan sedih.


"Sudah kau pikirkan Dania statusmu dan dia?" Dania hanya diam mendengar perkataan Vivi harus menjawab apa.


yaaa sangat jauh tidak bisa dibandingkan diri Ardian dan aku, kami sangat jauh pikirannya dalam hati


"Ini ada cek kosong kau bisa isi sendiri"


"apa maksdnya ini Tante"


"Tinggalkan Ardian, kau bebas menulis angka didalam cek itu"

__ADS_1


Dania meletakan cek itu dan sama sekali tidak tergoda dengan apa yang dikatakan oleh Vivi.


"Maafkan aku Tante, tapi aku bukanlah wanita seperti yang kau pikirkan. Terima kasih atas kemurahan hatimu"


Diana berbalik ingin segera meninggalkan Vivi disana.


"Dania tolong sadar diri lah!!"


Dania melotot mendengar kata-kata itu sangat menyakitkan baginya namun dia tidak bisa bilang apa-apa dan pergi meninggalkan Vivi disana. Dia harus bertahan berdiri tegar dibalik punggungnya yang lemah itu.


Dania menjumpai Ardian yang sedang mondar-mandir kebingungan disana.


"Dania" Ujar Ardian menatap Dania dengan raut gelisah juga penasaran.


"Tidak apa-apa aku ingin pulang" Ujar Dania.


"Baiklah"


Ardian membawa Dania pulang dengan mobilnya, disepanjang jalan Ardian hanya melihat Dania termenung sedang memperhatikan jalan diluar jendela mobil, tidak seperti biasanya Dania yang selalu mengajak ngobrol Ardian, tiba-tiba menjadi termenung seperti ini membuat Ardian sedih melihatnya.


"Dania"


panggil dari Ardian namun tidak didengar Dania yang masih termenung.


"Dania!" panggil Ardian kembali dengan suara sedikit lebih keras namun tetap saja belum didengar.


Ardian menggenggam tangan Diana membuat sang empunya tersentak kaget.


"Diana, jawab jujur apa yang ibu ku sampaikan pada mu"


"Hahaha tidak ada Ardian, ibumu hanya berkata kau sangat tampan dari kecil" ujar Dania tersenyum menyembunyikan rasa sakit yang seakan ingin meledak dari hatinya.


"Dania jangan berbohong pada ku, aku tau saat kau berbohong kau tidak berani menatapku"


"Ardian hari ini aku sedikit lelah, aku ingin langsung pulang" ujar Dania kembali melihat kearah luar mobil.


"Dania ke rumahku saja dulu" Ujar Ardian menatap Dania tatapan mereka bertemu membuat Dania merasa lebih sedih.


"Ardian hari ini aku ingin sendiri. Bolehkah?" Tanya Dania memalingkan wajahnya kearah jendela mobil


Ardian yang berusaha mengerti keadaan kekasihnya saat ini hanya bisa mengiyakannya, Ardian saat ini hanya menggenggam tangan Dania mengelusnya dengan perlahan.


Mereka sampai Di apartemen milik Dania. Dania langsung cepat-cepat pergi masuk ke apartemennya tidak lupa memberikan Ardian senyuman menutupi sedihnya agar Ardian tidak khawatir.


Kini dia membuka pintu apartemen nya perlahan lalu membantingnya.


"hikss....hiks"


Pecah sudah tangis Dania yang sudah dibendungnya dari tadi, Dia memeluk lututnya sendiri menyembunyikan wajahnya disela-sela tangannya. hatinya sangat sakit saat ini mengetahui orang yang dicintainya telah di jodoh kan dengan orang lain, mengingat semua kata-kata menyakitkan yang dilontarkan untuknya.


"Tidak pantas? Aib? Sadar diri? hiks...hikss"


**Hai makasih yang uda mau mampir ke novel aku ini, jika kalian berkenan jangan lupa like, komen, vote juga tambah ke favorit yaaa agar kalian tahu update selanjutnya.

__ADS_1


Jika masih ada kata yang kurang jelas mohon maaf yaaa makasih semuanya**.


__ADS_2