
"Dania bisakah kau menemaniku pada acara besok?" Tanya Abra kepada Dania yang sedang makan siang.
"Pak Abra besok aku tidak bisa, besok aku akan cuti sehari aku tau aku baru bekerja tapi ku mohon sehari saja ini sangat penting bagiku"
"Tidak masalah Dania, kalau boleh tau acara apa?"
"Tidak hanya menghadiri pernikahan teman" Belum sempat Abra kembali bertanya jam makan siang habis membuat Dania buru-buru kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.
Dania sedikit demam namun dia harus menuntaskan semua pekerjaannya untuk menghadiri pernikahan Ardian dan Rilyi besok, Dania berjanji pada diri sendiri dia harus tegar dia harus sebisa mungkin tersenyum.
Padahal Dania sudah minum obat tapi kepalanya masih pusing, dia tidak tahu kenapa dirinya bisa demam. Dania sebisa mungkin menutupi wajah pucatnya dengan sedikit polesan make up.
Dania pulang sore pekerjaannya selesai memutuskan untuk membeli baju sederhana untuk menghadiri pernikahan.
Malam tiba, Ardian tidak bekerja tadi karna mengurus pernikahan yang tinggal beberapa jam lagi akan dilaksanakan. Ardian menjadi lebih frustasi namun ini pilihannya. Ardian tidak enak badan beberapa hari ini karna makan yang tidak teratur jujur saja, dia merindukan masakan Dania namun pikirannya berkata dia tidak boleh lagi mengingat Dania.
Ardian memutuskan merebahkan dirinya untuk tidur secepatnya, sementara Rilyi ada masih di rumah orang tuanya sangat gugup dengan acara besok. Masih tidak menyangka Rilyi akan menikah dengan Ardian.
***
Tepat hari ini disebuah gedung yang terkenal cukup megah, Ardian dan Rilyi melaksanakan pernikahan diliputi beberapa awak media pernikahan yang menyatukan 2 keluarga terpandang di negara tempat mereka tinggal.
Rilyi sedang sibuk didandani para penata rias disana juga terdapat Belia yang sedang melihat sahabatnya itu.
"Kau begitu cantik Rilyi aku sangat iri padamu" Ujar Belia memuji penampilan Rilyi.
"Haha Bel kau pasti menemukan pria yang kau cintai"
"Itu pasti"
"Acara sudah mau dimulai pengantin dipersilahkan keluar"
__ADS_1
Belia menarik nafasnya dalam-dalam dia sangat gugup di hari pernikahannya yang akan terjadi sekali didalam hidupnya.
Ardian terlihat sangat tampan menunggu Rilyi dengan pakaian jas nya, Dania melihat melalui bangku tamu hatinya sungguh sangat teriris.
Dania tahan kau pasti bisa, ayo tersenyum Batin Dania berbicara menyaksikan kedua mempelai yang akan mengucapkan sumpah pernikahan.
"Aku bersedia" Kata-kata yang didengar dari mulut Ardian membuat mata Dania memanas hingga berkaca-kaca hatinya seperti terobek, Rilyi dan Ardian bertukar cincin, Dania juga menyaksikan bagaimana Ardian mencium kening Rilyi kini tidak lagi sanggup menahan tangisnya, Dania menangis dia menutup mulutnya untuk menahan suara tangisan itu, butiran air itu mengalir begitu saja. Runtuh sudah janji Dania yang berkata untuk tegar, dia sungguh tidak bisa menyaksikan orang yang paling dicintainya harus Dania lepaskan begitu saja.
Tanpa Dania sadari Ardian melihat ke arahnya, pandangan mereka bertemu Dania menatap mata Ardian dari kejauhan lalu tersenyum walaupun air matanya mengalir deras.
Deg!! Ardian tertegun entah kenapa hatinya terasa sakit, Ardian memegangi dadanya, menyaksikan Dania tersenyum padanya sambil menangis. Ardian sungguh tidak menyangka Dania akan menghadiri pernikahan nya.
Dania kenapa kau menangis? Kenapa kau datang ke pernikahan ku? Kau yang sekarang seperti aku yang meninggalkan mu padahal kau Luan lah yang memilih menghianatiku batin Ardian berkata masih terus melihat senyum Dania yang begitu menyayat hatinya.
Pernikahan impianku dengan Ardian sekarang sudah terlaksana tapi bukan aku pengantinnya, Ardian aku sungguh sanggat berharap kau bahagia lebih dari saat bersamaku batin Dania memalingkan wajahnya dari Ardian mengambil tasnya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah.
Ardian hanya mematung ditempat, Rilyi tahu bahwa Ardian dari tadi menatap Dania namun apa yang bisa diperbuatnya dialah orang yang memisahkan Dania dan Ardian. Sama seperti Abra yang melihat Dania menangis tersedu-sedu, Abra bisa langsung menebak alasan Dania menangis. Abra ingin mengikuti Dania namun dia sadar Dania menginginkan waktu pribadi.
"Kau tidak perlu menangis mereka sudah menikah" Ujar suara dari balik pintu, Dania membuka pintu yang ternyata adalah Belia sahabat baik Rilyi.
Dania hanya diam mencuci wajahnya menatap cermin didepannya, dia merias tipis wajahnya kembali agar tidak ada yang tahu dia baru saja menangis.
"Kau sudah membiarkan mereka menikah itu bagus dan selanjutnya kau pastikan dirimu tidak menggangu Ardian, kau harus melupakannya" Ujar Rilyi mempoles lipstik merah ke bibirnya.
"Memang itu yang ku mau" Ujar Dania tanpa basa basi lagi meninggalkan Rilyi seorang diri di toilet.
Dania melihat sekeliling bingung harus apa dia merasa dingin apakah karna demamnya dia tidak tahu bisa jadi juga akibat dress yang digunakannya bermodel bagian bahu sedikit terbuka.
tiba-tiba sebuah jas bersandar di punggungnya membuat Dania tersentak kaget refleks langsung menoleh kebelakang mendapati Abra yang sedang memakaikan jas berwarna putih.
"Kau kedinginan" Tanya Abra yang melihat dari tadi Dania memeluk tubuhnya.
__ADS_1
"Hmmm sedikit pak" Ujar Dania tersenyum.
Sementara Ardian yang sedang berbicara dengan tamu pandangannya malah tidak lepas dari Abra yang memakaikan jas ke Dania, gelas minuman dipegang Ardian hampir pecah untung Ardian bisa mengendalikan diri bahwa ini adalah acara pernikahannya.
"Ayo makan kue" Tawar Abra yang langsung di angguki Dania mereka makan dengan senyum Dania yang begitu manis. membuat Ardian mengerutkan alisnya.
"Ardian mau kemana?" Tanya Rilyi memegang lengan Ardian, Ardian langsung saja menepisnya tadinya dia ingin mendekati Abra juga Dania namun dia kembali sadar.
"Dania kau demam wajahmu sangat pucat" Ujar Abra khawatir dengan Dania, Dania juga merasa bahwa dia semangkin kedinginan.
"Aku akan pulang duluan, ayo kita pulang bersama sebelum itu kita harus menemui tuan rumah"
"Tidak usah pak"
"Tidak aku memaksa, dan lagi aku sudah bilang panggil saja kak" Ujar Abra tersenyum.
Abra dan Daniamendekati 2 pengantin baru itu mengucapkan selamat atas pernikahannya. Kini Dania berada di hadapan Ardian, Dania yang semula menunduk kini mengangkat kepalanya.
"Selamat" Ujar Dania tersenyum lalu kembali menunduk.
Ardian melihat wajah Dania begitu pucat tidak seperti biasanya namun Ardian hanya diam saja tanpa membalas ucapan dari Dania. Abra melihat ke arah Dania lantas merangkulnya membuat tatapan Ardian menjadi setajam pisau.
"Maaf kami tidak bisa lama-lama karna Dania sedang tidak enak badan aku akan mengantarnya pulang"
"OOO baiklah terima kasih sudah datang yaa hati-hati" Ujar Rilyi.
"Ck"
Ardian berdecak mengambil sebotol bir langsung saja meneguknya hingga habis.
"Ardian jangan nanti kau bisa mabuk"
__ADS_1