Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo

Antara Pilihan Dan Cinta Sang Ceo
Makan bersama direktur Abra


__ADS_3

Ditengah keramaian kota yang dipenuhi kepadatan Ardian menyadarkan tubuhnya di mobil, menikmati segelas bir di depan pantai. Suara air yang menemani sepinya malam Ardian Hari ini. dirinya sungguh merasa bodoh percaya bahwa Dania mencintainya. Ardian tertawa miris untuk dirinya sendiri.


malam yang begitu panjang pikir Ardian kembali menyesap bir, hingga dirinya meninggalkan pantai kembali kerumah mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Dania menggenggam erat undangan yang diterimanya melalui Rilyi tetesan air matanya membasahi kartu undangan bertulis Ardian&Rilyi


"Dania kenapa kau begitu lemah, kau harus mengikhlaskan Ardian demi kebahagiaannya maupun Rilyi"


Seminggu lagi mereka menikah dan akan menggadang status sebagai suami istri yang sesungguhnya, Dania melihat sekeliling kamarnya foto kebersamaan dirinya dengan Ardian apakah dia harus membuang foto itu? seperti membuang kenangan mereka. Ini tidak akan mudah.


***


Hari pertama Dania bekerja dirinya cukup senang disambut sangat ramah dengan pegawai lainnya, baru kali ini dia merasakannya.


"Dania ini tempatmu, jika ada yang kurang mengerti kau boleh bertanya padaku"


"Baik kak Dewi"


Dewi adalah orang yang pertama yang tersenyum pada Dania sekaligus menyambut Dania di kantor.


Dania ingin menyerahkan dokumen namun dia menaiki lift yang salah, Dewi lupa memberi tahu Dania bahwa lift itu khusus atasan ataupun direktur.


brukkk


Dania tidak sengaja menabrak pria disana.


"Maaf tuan maaf" Ujar Dania menunduk hormat.


"Kau anak baru?" Tanya pria itu Dania mengangkat kepalanya lalu mengangguk.


Pria itu diam menatap intens wajah Dania entah kenapa jantungnya berdetak tak menentu seperti ada yang berdesir di dalam dadanya.


"OOO namamu?" Ujar pria itu, Dania menguluarkan tangannya tersenyum manis.


"Dania"


Dania nama yang manis pikir pria itu lalu membalas jabatan tangan Dania.

__ADS_1


"Abra Azkyel"


lift berhenti Dania keluar dari lift meninggalkan Abra disana.


Abra melihat ke arah Dania berpikir bahwa Dania adalah wanita yang menarik.


Dania kembali kemeja kerjanya Dewi berlari sekencang angin mendekat.


"Dania...Dania!"


"Hah kak Dewi kenapa?" Tanya Dania bingung.


"Kau salah naik lift tadi, itu lift khusus atasan atau direktur, apa kau baik-baik saja aku lupa memberi tahumu. kau tidak dipecat kan?"


Tanya Dewi.


"Tidak kok kak, malah tadi orangnya ramah kok"


"Hah!"


Dewi sangat terkejut karna biasanya ada karyawan baru yang tidak sengaja masuk akan dimarahin habis"an


"emm dia memperkenalkan diri tadi namanya Abra"


"Abra? dia direktur kantor kita! astaga bagaimana perasaan mu bertemu orang setampan Abra berbunga-bunga bukan?" Mata Dewi bersinar membayangkan direkturnya. Bagaimana tidak Abra Azkyel berusia 30 tahun berstatus sebagai direktur pria tampan dengan tinggi 185 cm yang mampu mengguncang hati banyak wanita.


Dania hanya menggeleng tersenyum bagaimana pun Ardian masih lah paling tampan di hatinya, membayangkan Ardian Dania hanya menggeleng. Tidak boleh Dania Ardian bukan lah milikmu lagi.


***


Ardian mabuk lagi pikiran dan hatinya sangat kacau, foto-foto Dania berserakan di lantai kamarnya Foto besar Ardian bersama Dania retak karna Ardian memukulnya. Ardian sangat menyayangi Dania hingga dia bingung apa yang harus dilakukannya di sisi lain Ardian juga membenci Dania yang sangat tega menyelingkuhi nya.


5 hari lagi pernikahan Ardian bersama Dania.


Dania yang yang sibuk bekerja tiba-tiba didekati Abra membuat orang yang berada di kantor tercengang tidak biasanya Abra akan berada disini.


"Dania bisakah kau menemaniku makan di restoran?" Tanya Abra yang membuat seisi kantor semangkin terkejut direktur terkenal dengan sifatnya yang acuh.

__ADS_1


"Tapi pekerjaan ku masik banyak pak" Sebenarnya Dania sangat ingin menolak tawaran dari Abra.


"Serahkan pada yang lain kau temani aku makan"


Dania pasrah tidak baik untuk menolak atasannya. namun tatapan menusuk dapat Dania rasakan dari belakang sepertinya dia akan mendapatkan musuh lagi.


Dania dan Abra makan dimana tempat dia membuat Ardian kecewa. Dania makan sesekali mengobrol hal-hal yang tidak penting. Ardian melakukan pertemuan dengan client tanpa sengaja iris matanya melihat Abra bersama punggung yang membelakanginya. Ardian dan Abra saling mengenal sebagai teman bisnis. Ardian merasa tidak asing dengan punggung itu. Ardian permisi ke kamar mandi untuk memastikan siapa itu, benar dugaannya itu Dania yang makan bersama Abra dengan penuh senyuman.


Matanya dipenuhi amarah sekarang, kini dia yakin bahwa Dania benar-benar wanita yang murahan begitu mudah berpaling kepada banyak pria, kemarin bos restauran tempatnya bekerja sekarang rekan bisnisnya. Ardian tertawa sinis memukul dinding yang berada di dekatnya.


Ardian mendekati Abra, Abra yang sadar kehadiran Ardian langsung berdiri.


"Tuan Abra" Ujar Ardian namun matanya melirik Dania, Dania yang menunduk tentu saja dapat mengenali suara itu, suara yang selalu dirindukannya.


"Tuan Ardian ada apa?"


"Aku ingin bertanya apa barang yang kau bilang jadi kau jual? aku ingin membelinya dengan harga yang sedikit mahal aku tidak suka barang MURAHAN" Ujar Ardian menekankan kata murahan itu, Dania tidak bodoh begitu juga Abra yang seperti mengerti kedatangan Ardian mempunyai maksud lain.


"Tentu" Ujar Abra tersenyum. Ardian memasukan tangannya ke dalam saku celana berjalan ke mana tempat duduknya diawal.


"Dania apakah kau mengenal Ardian" Tanya Abra tiba-tiba membuat Dania hampir tersedak.


"Haha tuan Abra siapa yang tidak mengetahui Ardian CEO dari perusahaan ALZY yang katanya pria idaman" Ujar Dania, Abra hanya tersenyum dan mengangguk.


Murahan? itulah yang Ardian pikirkan tentangnya sekarang, kenapa harus sedih Dania kau harus tahan ini demi kebahagiaan banyak orang Batin Dania. Abra merasa bahwa Dania bengong melambai-lambaikan tangan di depan wajah Dania membuatnya terkejut.


"Dania kau malamun" Ujar Abra tersenyum dan Dania membalas senyuman lalu mengobrol jika dilihat mereka seperti sepasang kekasih.


Sementara Ardian seperti kepanasan melihat Abra dan Dania yang saling melemparkan senyum manis.


Makan siang selesai Dania dan Abra harus kembali ke kantor, namun Ardian masih stay disana. Seperti dugaan Dania orang yang menatapnya tajam. Dewi melongo tidak percaya bahwa atasan mereka baru membawa Dania untuk makan.


"Dania kau dibawa pak Abra dimana? Apakah kalian jalan-jalan? Astaga aku sangat iri sekali Dania"


"Kami hanya makan kak Dewi setelah itu kembali kekantor" Ujar Dania sementara Dewi seperti orang kepo yang masih terus bertanya.


"Alah palingan juga caper ke pak Abra mangkannya dia bisa di bawa makan tuh. " Ujar Rere yang merupakan sekretaris dari Abra.

__ADS_1


Dewi sangat kesal namun berbeda dengan Dania yang menanggapi sebuah kata-kata dari Rere dengan santai dan tenang kembali bekerja, Dania melanjutkan pekerjaannya yang tertunda dia berkata dalam hati Dania berkata dia ingin bekerja bukan mencari musuh, dia harus bisa sabar.


__ADS_2