
Telapak sepatu high heels beradu kasar dengan lantai. Embusan napas Dinar memburu, waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit. Wanita manis ini ketiduran di ruang kantornya. Saat manik mata indahnya terbuka, menatap jam dinding yang tergantung di dinding kantor, hampir saja bola matanya keluar dari tempatnya. Pukul menunjukkan jam 3 lewat 37 menit, membuat ia langsung menggelepar turun dari kursi. Membiarkan catatan pemasukan dan pengeluaran butik terkapar terbuka di atas meja kerjanya. Yang ia kejar adalah makan malam untuk sang suami. Gilanya lagi, jalan Jakarta begitu macet di jam sore. Jam pulang kantor, yang semakin membuat deretan mobil akan antri panjang. Hal hasil, sampai di kediamannya. Ia harus bekerja ekstra cepat.
KLIK!
Pintu rumah utama terbuka. Dinar cepat-cepat mencopot kunci dari lubang kunci. Membuang asal high heels yang membuat kaki belakangnya harus rela lecet, demi terlihat kedua tungkai kakinya terlihat jenjang.
"Apa yang harus dikerjakan dulu, ya?" ujarnya di sela embusan napas yang memburu.
Manik mata indah milik Dinar, bergerak liar di seluruh penjuru ruangan, di dalam rumah. Ah, beruntung sekali sebelum ke butik ia telah menyelesaikan tugas rumah, membereskan rumah. Dinar bergerak menuju sofa. Tas sandang dibuang asal di atas permukaan sofa yang empuk, yang menjadi fokus Dinar saat ini adalah pekerja selanjutnya. Ia berlari menuju dapur yang tak jauh dari ruang tamu, mengingat rumah yang ditempati adalah rumah minimalis. Yang tidak harus memiliki banyak ruangan, dan membuat wanita cantik satu ini kerepotan.
"Bikin makanan yang bisa jadi dalam waktu kurang dari satu jam saja," monolognya sebelum kedua tangan Dinar membuka pintu kulkas.
Mata indah itu kembali bergerak liar, dengan tangan yang berkerja. Sepertinya membuat telor ceplok dengan sayur asem lebih cepat selesai. Kepala Dinar mengangguk kecil, ia melangkah cepat ke arah kitchen setnya.
TING!
Di tengah memotong sayuran yang sudah dikeluarkan dari dalam kulkas, ponsel yang ada di dalam saku jaketnya bergetar. Membuat pergerakan lincah Dinar memotong sayuran berhenti mendadak. Ia melepaskan pisau yang digenggam oleh tangan kanannya. Sebelum bergerak merogoh saku jaketnya, yang masih terbalut di tubuhnya. Meraih ponsel persegi panjang itu. Senyumnya merekah, saat menemukan siapa sang pengirim pesan.
📩 My love husband
Sayang, maaf. Ada acara makan-makan di luar. Gak usah masak banyak dan istirahatlah lebih awal.
Kedua sisi pipi Dinar mengembung. "Huff! Aku udah kebut-kebutan di jalan tapi dia malah makan di luar," keluhnya.
📨Ya, udah. Aku tunggu di rumah Mas.
Hanya itu jawaban yang dikirimkan oleh Dinar untuk sang suami, bisa apa? Jika sang suami ada rapat di luar. Benda persegi panjang itu di letak asal dia atas meja dapur. Semangat empat lima dan kerja kebut yang awalnya dilakukan menguar begitu saja, kehilangan nafsu untuk membuat makanan. Seolah kehilangan semangat pacunya, dalam hitungan detik. Meskipun ingin bertanya makan malam dengan siapa dan di mana. Ia menahan diri untuk mengirimkan pesan balas seperti itu, bukan lantaran Dinar tidak peduli. Hanya saja takut terkesan posesif dan mengekang sang suami tercinta, bukankah di dalam mahligai rumah tangga yang dibutuhkan adalah rasa percaya. Namun Dinar lupa, jika itu hadir lantaran diikuti oleh kejujuran.
...***...
Lilin-lilin bergoyang kala diembus angin, senyum di wajah cantik itu kunjung luntur. Pria dengan mata tajam dan rahang tegas itu ikut tersenyum, melirik sang gadis. Menatap penuh damba pada gadis remaja begitu cantik, imut dan menggemaskan. Angka delapan belas tahun, tertancap di atas kue ulang tahun yang terkesan mewah.
"Ayo, berdoa dulu!" titah sang pria dewasa itu.
Gadis itu mengangguk kecil, sebelum kedua tangan beradu menjadi satu. Kedua mata kelopak mata bulan sabit itu bahkan ikut terpejam. Hati kecil mulai merapalkan doa, kedua kelopak matanya mulai terbuka perlahan-lahan.
HUFT!
Seketika api mati dalam satu tiupan panjang dari bibir sang gadis, tepukan tangan menggema kecil di ruangan khusus VIP yang sengaja di sewa untuk ulang tahun gadis remaja cantik satu ini.
"Nah, ini!"
Suara bariton serak itu memberikan kado dan bunga secara berganti-gantian, pada sang gadis remaja. Yang membuat hatinya menjadi berbunga-bunga, dan harinya jadi berwana karena kehadirannya gadis cantik satu ini.
"Wah! Aku dapat kado dan bunga secara sekaligus, romantis sekali." Ujarnya ceria kala menerima kado dan bunga berganti-gantian dari sang kekasih.
Pria itu tersenyum senang, ingin rasanya tangan besar itu mencubit kedua sisi pipi sang gadis remaja. Saking tak kuatnya, melihat kecantikan sang kekasih, pujaan hati.
"Gimana? senang, gak?" tanyanya dengan nada serak.
Kepala Anjani mengangguk cepat, dan berkata, "Senang dong, Mas!"
Damar tersenyum lebar. "Buka dong kadonya," titah Damar dengan lembut pada sang gadis pujaan hati.
Anjani meletakan buket bunga mawar merah di samping tempat duduknya, sebelum tangannya bergerak membuka kotak kado berukuran kecil. Ia menarik cepat pita cantik yang tersemat di atasnya, Anjani membuka penutup kado. Sebelum sang gadis terpekik pelan saat kotak kado terbuka. Kedua manik matanya terlihat berbinar-binar, karena bahagia.
__ADS_1
"Mas Damar ini cantik sekali," seru Anjani sebelum melayangkan tatapan pada Damar yang tersenyum melihat bagaimana bahagianya Anjani.
"Syukurlah kalau kamu suka," jawab Damar dengan raut wajah bahagia.
Anjani berdiri dari posisi duduknya, meletakan kotak perhiasan kalung dengan motif kunci. Ia melangkah terburu-buru pada kursi Damar, hanya untuk masuk ke dalam pelukannya sang pujaan hati.
HAP!
Anjani memeluk leher Damar, Damar membalas pelukan Anjani. Mengusap pelan punggung belakang Anjani, keduanya merasakan perasaan berdebar keras.
"Terima kasih ,sayang," bisik Anjani dengan nada hangat di daun telinga Damar.
"Sama-sama Honey," balas Damar.
Anjani menarik dirinya, Damar melepaskan pelukannyanya. Gadis itu terlihat masih membungkuk, menyaman tinggi posisi wajah mereka.
CUP!
Kecupan hangat melayang di pipi kiri Damar. Pria itu terkekeh kecil, sebelum menunjuk pipi sebelah kanannya dengan jari telunjuknya. Hanya untuk mendapatkan kecupan yang sama dari sang pujaan hati, bibir Anjani terangkat tinggi.
"Yang kanan juga dong, nanti dia cemburu, loh. Karena kamu cuma kecup yang di sebelah kiri aja!" Damar menunjuk bagian sisi pipinya yang satu lagi.
Anjani semakin menarik lebar garis senyumnya, bibir merah merekah di itu berpindah mengecup pipi kanan pria yang berstatus sebagai seorang dosen di salah satu Universitas di Jakarta. Bahkan cincin yang melingkar di jari manisnya seakan tak mampu menghalangi hubungan antara keduanya. Dua orang yang memiliki usia yang terpaut jauh. Usia Anjani yang baru delapan belas tahun sedangkan Damar sudah berusia kepala tiga.
Dengan satu istri yang setia menunggu di rumah, selalu menjaga hati karena telah termilliki. Menjaga diri untuk tidak dijamah lelaki lain, karena menjujung tinggi harga dan martabat sebagai seorang wanita sekaligus seorang istri. Hanya dengan keyakinan, jika sang suami juga akan seperti itu. Anjani dengan berani duduk di paha Damar, menyamping. Tangannya meraih kotak beludru berwarna merah maron, sebelum menyodorkannya pada Damar.
"Pasangkan Mas," ujarnya manja.
Damar kembali terkekeh kecil, tangannya bergerak meraih kalung yang ia beli. Memasangkannya ke leher jenjang putih bersih milik Anjani.
CUP!
Anjani mengangguk dan tersenyum, sebelah tangannya yang bebas mengusap penuh kasih sayang liontin. Anjani sangat bahagia mendapatkan kejutan dari sang kekasih, sungguh sangat.
"Liontin kunci ini memiliki arti jika hati Mas itu milikku seorang, bukan?" tanya Anjani memastikan.
"Ya, tentu saja," sahut Damar dengan ringan.
"Lalu bagaimana dengan Mbak Dinar?" tanyanya lagi tanpa hati.
"Dinar," ulang Damar pelan.
"Ya, istrinya Mas." Anjani mengangguk tegas.
Damar terdiam untuk sesaat, keduanya mendadak bungkam. Diamnya Damar membuat bibir merah Anjani mencabik kesal. Pukulan kecil di dada bidang Damar membuat pria ini tersentak.
"Mas! Masih cinta sama Mbak Dinar?" tanya Anjani dengan nada sebal.
"Aku tidak tahu, apakah masih ada kata cinta untuknya. Kami sudah menikah 5 tahun. Aku rasa, perasan itu luntur karena kesibukan kami masing-masing," jawab Damar pelan.
Senyum bahagia terbit di wajah cantik remaja ini. "Kalau begitu, setelah aku tamat SMA. Mas janjikan mau ceraikan Mbak Dinar," desak Anjani akan janji manis Damar.
Damar mengulas senyum. "Ya," jawabannya mantap.
Kembali kecupan di bibir Anjani terlihat, Anjani berstandar di dada bidang Damar. Kedua akan menghabis waktu bersama selagi bisa. Dan selagi ada kesempatan. Tanpa hati Damar, mengkhianati sang istri. Yang menunggu Damar di rumah, sendiri.
__ADS_1
...***...
Harumnya aroma masakan menari-nari di udara, rambut hitam legam basah itu terlihat membuat hujan kecil di bahu kekarnya. Dinar meletakan lauk terakhir di atas meja, wanita itu tersenyum ke arah sang suami.
"Kok, rambutnya gak di keringkan dulu, Mas," sapa Dinar melihat Damar duduk di kursi meja makan.
"Habisnya aku sudah lapar, Sayang," jawab Damar tak lupa mengulas senyum kotak khas miliknya.
Dinar menggeleng kecil, ia melangkah masuk ke dalam kamar mereka. Sebelum keluar membawa handuk kecil di tangan, mendekat ke arah sang suami.
"Kebiasaan, ih! Udah keramas gak suka keringin rambutnya," cerocos Dinar sebelum kegiatan Dinar mengusap rambut hitam legam Damar yang lebat.
Damar hanya tersenyum canggung, terkadang Damar berpikir Dinar itu seperti kakak perempuan atau bahkan seperti ibunya sendiri. Karena sifat keibuannya, bukan seperti pasangan yang didambakan oleh Damar.
"Udah, kita makan aja dulu." Damar berucap sembari mencegah pergerakan tangan Dinar mengusap rambutnya.
"Tapi, ini masih basah," tolak Dinar.
"Aku lapar," jawab Damar.
Dinar menghela napas, ia meletakan handuk kecil melingkari leher Damar. Agar baju sang suami tidak basah. Dinar bergerak menyendok beberapa centong nasi ke atas piring, sebelum mencomot beberapa lauk pauk dan sayur. Sepiring nasi dengan lauk pauk dan sayur telah terhidang di depan Damar. Tak lupa sendok diletakan di atas meja. Dinar bergerak kembali mengambil sepiring nasi dan lauk pauk untuk dirinya, sebelum duduk di samping Damar.
"Selamat makan, Mas!" serunya lembut.
Damar tersenyum. "Ya, selamat makan juga istriku," jawabnya berat.
Keduanya makan dengan khidmat, sesekali Dinar melayangkan pandangan pada sang suami sembari mengunyah.
"Apa yang ingin kamu tanyakan, Din?" tanya Damar setelah menelan makanan yang selesai ia kunyah dan ditelan.
Dinar menelan makanan yang berada di mulut nya. "Itu... bagaimana dengan acara makan malam kalian tadi malam?" tanya Dinar agak ragu.
"Ya, lancar," sahut Damar sekenanya.
"Jam berapa Mas pulang tadi malam?"
Tangan yang awalnya ingin menyendok makanan terhenti, mulai lagi Dinar. Mungkin Dinar tidak banyak tanya saat membalas pesannya. Tapi, sikap posesif dan keingintahuannya akan keluar setelah dia ada di rumah. Bak wartawan yang ingin mewawancarai narasumbernya.
"Jam sebelas malam," jawab Damar jujur.
"Tadi malam makan malamnya sama rekan kerja perempuan juga ya, Mas?" tanya Dinar takut-takut jika Damar merasa risih.
"Ya, kalau makan malam para Dosen, ya pasti ada Dosen wanitanya juga," dusta Damar.
Dinar mengangguk kecil, memaksakan senyum. Seolah tengah mengontrol diri untuk tidak menanyakan banyak hal pada Damar. Raut wajah Damar terlihat mulai berubah.
"Di dalam lemari meja rias ada bingkisan untukmu. Aku membelinya tadi malam," ucap Damar setelah mereka terdiam cukup lama.
"Ah, terima kasih Mas," balas Dinar.
Keduanya kembali diam, tanpa sepatah kata hanya denting sendok dan garpu yang beradu. Lima tahun menikah bukan waktu yang sebentar untuk keduanya, banyak hal yang mereka lalui. Dinar berjuang untuk membuat rumah tangga mereka lebih berwarna. Sayangnya, hanya ia yang berusaha sendiri.
Ia tak ingin rumah tangganya gagal. Seperti kedua orang tuanya. Menjadi anak dari keluarga broken home bukan lah hal mudah. Dinar tubuh dewasa lebih awal dan mandiri membuat banyak orang yang menyukai. Akan tetap tak sedikit juga yang membencinya.
Dinar hanya berpikir untuk hidup dengan baik, memiliki keluarga yang kokoh. Seperti orang lain, memiliki anak-anak yang akan ia cintai dengan sepenuh hati. Anak yang tak akan merasakan apa yang ia rasakan. Itulah yang wanita malang itu inginkan. Namun sepertinya, Tuhan tidak mengabulkan permintaan sederhana itu.
__ADS_1
...Bersambung......