Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 28. MENYESAL, TIADA GUNA!


__ADS_3

Sorot mata keduanya jelas sangat khawatir pada Dinar, bagaimana caranya mereka berdua membiarkan Dinar untuk pergi begitu saja. Apalagi Dinar akan membawa Anggun ikut serta untuk pergi ke luar negeri, Dinar sendiri pun belum tahu untuk berapa tahun ia akan hidup di luar sana.


"Apa gak bisa cari jalan lain aja, Din? Ketimbang harus pergi ke luar negeri," bujuk Putri dengan ekspresi wajah berharap.


Eva mengangguk. "Bener, Din! Toh, si Mark itu gak akan tahu kalau kau hamil anak dia. Ingat aja gak loh dia, kalau kalian pernah tidur bersama, bisa aja kalau kau mengklaim anak ini adalah anak dari mantan suamimu," timpal Eva ikut menyahut.


"Kalau itu yang terjadi, maka giliran keluarga Damar yang akan menggila. Seperti yang kalian berdua ketahui, keluarganya sangat gak mau kalau aku berpisah dengan Damar. Apalagi sampai melihat perutku membesar, yang ada aku bisa saja dipaksa untuk rujuk sama Damar," kata Dinar menjelaskan, setiap pilihan yang ia ambil ada risikonya.


"Ya, sih. Cuma kalau kau ke luar negeri, kita berdua akan sangat kehilangan. Jika kau masih di sini bersama anak ini, setidaknya aku maupun Putri gak akan begitu khawatir. Kita berdua bisa berganti-gantian untuk terus berada di sisimu," sahut Eva lirih.


Dinar menghela napas kasar, suara bel mengalun membuyarkan pembahasan ketiga sahabat, ini. Dinar bangkit dari posisi duduknya, sementara Eva dan putri saling adu lirikan mata. Siapa yang bertamu datang di jam yang sudah larut malam, Dinar melangkah menuju pintu apartemen. Ia berdiri di depan pintu, memicingkan sebelah matanya. Mengintip di lubang pintu, Dinar berdecak kesal.


"Siapa, Din?" tanya Putri, lantaran mendengar decakan kesal mengalun dari bibir Dinar.


"Si kadal gurun," jawab Dinar, sebelum melongok ke arah belakang.


"Ngapain dia ke sini? Ini dah jam 11 lewat," celetuk Eva, terdengar tak percaya akan kedatangan Mark Louis.


Kedua sisi bahu Dinar diangkat tinggi ke atas sekilas, menyatakan akan ketidak pahaman Dinar dengan kedatangan Mark. Suara bel pintu kembali mengalun, Dinar menghela napas kasar.


"Nah, kalian berdua lihat 'kan! Dia ini orang gila, gak karuan. Kayak gak ada hari lain untuk datang ke sini," keluh Dinar. "Bagaimana caranya aku bisa hidup tenang kalau masih di sini, yang ada aku jadi stress."


Keduanya paham, para lelaki mulai seperti semut yang mengerumuni gula. Jika bel pintu tidak mempan untuk membuat si pemilik apartemen untuk membukkan pintu, maka sekarang sang pria beralih untuk menggedor pintu apartemen, beberapa kali.

__ADS_1


"Honey! Ayo, buka pintunya. Aku tahu kalau kamu ada di dalam!" seru Mark setelah tangannya mengetuk keras pintu apartemen.


"Udahlah, Din! Bukain aja, kalau dia mau macam-macam kita hajar bareng nanti," usul Eva, si bar-bar.


Dinar mengangguk, ia bergerak membuka pintu apartemen. Senyuman lebar terbit di bibir Mark, berbanding terbalik dengan wanita yang sudah ia ganggu.


"Selamat malam Honey, bunga yang cantik untuk wanita yang tercantik." Mark mengulurkan buket bunga ke arah Dinar. Ekspresinya dibuat se-cool mungkin, untuk menggaet Dinar.


Manik mata Dinar melirik ke arah buket bunga yang disodorkan ke arah dirinya, ekspresi kesal ia layangkan pada Mark.


"Bawa kembali saja bunga yang Anda bawakan Tuan Mark, dan perlu Tuan ketahui. Ada adab yang mengatur dalam bertamu, ini sudah sangat malam. Dan Anda menganggu waktu istirahatku," ujar Dinar tanpa harus berbasa-basi, dan berkata manis.


Kepala Mark mengangguk-angguk kecil, kedua tungkai kaki Mark langsung bergerak. Ia melewati Dinar untuk masuk begitu saja, Dinar menghela napas berat. Melihat bagaimana kurang ajarnya Mark, menyelonong masuk ke dalam apartemennya.


"Kamu tenang saja, mulai hari ini adalah tetangga barumu. Apartemenku tepat di samping apartemenmu, buket bunga ini sebagai tanda keramah-tamahanku, Honey! Ah, lebih tepatnya karena aku merindukan kamu, jadi aku harus datang secepatnya ke sini untuk menyapa." Mark tampak sebegitu santainya melangkah menuju sofa.


"Letakan saja buket bunganya di atas meja, dan silakan keluar," tutur Dinar, mengusir halus Mark.


Memang pada dasarnya lelaki satu ini, selalu bertindak semaunya. Ia malah menjatuhkan dirinya si sofa satu lagi, tersenyum menyeringai. Eva dan Putri mendadak speechless melihat tindak-tanduk Mark Louis, entah tidak tahu malu. Atau tidak lagi ada urat malu, malah duduk santai di sana.


"Kenapa berdiri saja di sana, Honey!" seru suara bariton kembali mengalun. "Aku harus berkenalan secara resmi dengan dua perempuan cantik, yang merupakan sahabat dari calon istriku, bukan."


...***...

__ADS_1


"Ya, mau bagaimana lagi, Pa," jawab Damar terdengar tenang.


Jon mendengus melihat bagaimana keadaan Damar saat ini, semuanya tidak luput dari kesalahan si sulung. Diberikan seorang istri yang hebat maunya perempuan parasit, wanita seperti Anjani ada begitu banyak di luar sana.


"Sekarang pusing sendiri 'kan? Kalau aja kamu itu mau menuruti perkataan orang tua, sudah pasti gak harus pindah dari universitas besar itu, Damar. Sekarang kamu harus memulai semuanya dari nol lagi," ujar Jon, mengingatkan kesalahan Damar.


Dari arah belakang tampak Sri membawa nampan berisikan dua gelas kopi hangat dan cemilan pisang goreng, diletakkan perlahan di atas meja. Sri langsung duduk di samping sang suami, memperhatikan sang putra tampak kurus.


"Makanlah goreng pisangnya, kamu sampai kurus kayak gini sejak gak sama Dinar. Dia itu kasih kamu makan gak, sih," dumel Sri ikut membuat perasaan Damar makin lelah.


Tangan Damar bergerak meraih gelas kopi hangat miliknya, meniupkan perlahan permukaan kopi. Menyesapnya kopi sebelum kembali diletakan di tempatnya. Manik matanya beralih ke arah pisang goreng, lama sekali Damar memperhatikan goreng pisang di atas piring.


Dinar adalah sosok istri yang sempurna, selalu mendahului dirinya. Dinar dulu sering sekali menggoreng pisang, untuk mereka berdua nikmat di kala bersantai di ruangan tengah. Betapa hangatnya saat itu, panggilan lembut Dinar untuk Damar. Semenjak pertengkaran mereka berdua, Dinar langsung saja memanggil namanya tanpa embel-embel panggilan sayang.


Sri melirik ke arah sang putra, yang mendadak diam. Ekspresi wajahnya terlihat begitu sedih, sekarang apalagi yang bisa dilakukan? Kayu sudah jadi abu. Tidak ada yang bisa dilakukan, menyesal pun tiada guna.


"Sekarang nyesel, toh?" Sri menepuk kecil punggung telapak tangan sang putra.


Damar menoleh ke arah sang ibu, perempuan paruh baya itu mendesah berat.


"Perempuan itu tidak seperti Dinar, kan? Dinar mencintaimu dengan tulus. Melakukan apapun untuk kamu, gak pernah ngeluh. Mau kamu susahkan seperti apapun, mau keluarga ini cuma minta uang sama dia. Gak pernah sekali pun dia ngeluh, harapan dia cuma satu. Kamu, hanya kamu harapan Dinar. Dia ingin dicintai sebagaimana dia mencintaimu, tetapi kamu malah merasa dia merendahkanmu. Dan bosan padanya, sekarang dia udah gak sama kamu lagi. Kerasa 'kan bedanya," tutur Sri, semakin memukul Damar.


Nyatanya lampu jalanan tidak bisa menggantikan terangnya lampu rumah, Damar keliru jika merasa Anjani adalah yang ia cintai. Dan ia akan bahagia dengan Anjani, yang terjadi malah yang sebaliknya. Jon berdecak beberapa kali melihat air mata Damar jatuh berderai, seberapa pun indahnya gemerlap lampu jalanan, tetap saja akan kehilangan keindahan disaat dibawa pulang ke rumah.

__ADS_1


"Dasar anak bodoh," cemooh Jon, ia bangkit dari posisi duduknya. Meninggalkan sang putra dan istrinya di ruangan tamu.


Bersambung...


__ADS_2