
Selena merasa ubun-ubun kepalanya berasap, meladeni sang bos besar yang uring-uringan. Ini dan itu selalu saja salah, heran sekali Selena dibuatnya. Mood dari sang bos sudah seperti menaiki rollercoaster saja, dikit-dikit melambung tinggi. Beberapa menit lagi langsung terjun bebas tanpa bisa dicegah, setidaknya grafik saham lebih stabil naik-turunya dibandingkan dengan mood sang bos besar.
"Aduh, Pak Presdir. Ini sesuai yang Pak Presdir mau, semuanya sudah saya beli. Yang kotak ini manisnya gak pas, lalu aku beli lagi yang kedua. Malah katanya terlalu hambar, nah berlanjut yang ke kotak yang ketiga. Ini gak kemanisan atau gak hambar juga, ini tahap yang sedang-sedang saja. Pak Presdir bilang gak jadi pesan cake yang coklat, ganti yang strawberry. Yang ini bermasalah, jadi semua isinya etalase toko kuenya saya borong Pak Presdir. Sekarang Bapak bisa icip-icip, sepuasnya!" Selena menjelaskan dalam satu tarikan napas.
Sekretaris Mark berakhir ngos-ngosan, sumpah! Jika saja gaji yang ditawarkan oleh perusahaan Mark lebih dari kata mampu membuat Selena bahagia. Ogah juga untuk Selena meladeni bos yang mendadak gak jelas ini, sudah seperti perempuan datang bulan. Ah, tidak! Sang bos melebihi perempuan yang datang bulan. Mark sudah seperti ibu hamil yang lagi ngidam, semua hal gak ada yang benar.
Sebelah alis mata Mark menukik tajam ke atas, melirik ke arah deretan cup cake yang ada. Lalu beralih ke arah wajah sang sekretaris yang merah padam, Mark mendengus kesal.
"Kamu pikir, aku ini juri untuk lomba pembuatan cup cake, huh!" Mark berseru, mencemooh.
Nah, kan! Kelihatan bagaimana menyebalkan Mark Louis. Jauh di dalam hati Selena ingin membakar satu gedung karena sang bos, diembusnya napas perlahan.
Oke, sabar.
"Maaf banget nih, Pak Presdir. Kalau saya terdengar sangat lancang di telinga Bapak. Saya rasa, Bapak sudah menghamili wanita di luar sana. Bapak seperti lelaki yang terkena sindrom couvade, ini sudah 1 bulan lebih Bapak Presdir seperti ini," jawab Selena, sebenarnya ngasal.
Wanita satu ini tidak termaksud yang aneh-aneh, hanya tengah kesal dengan apa yang terjadi pada dirinya. Selena kerja banting tulang untuk menyenangkan selera aneh sang bos, dan apa tadi kata bosnya? 'Juri pembuatan cup cake!' Selena hanya mampu mendengus kesal secara diam-diam. Masih sayang gaji, tas branded dan apartemen elit, kalau sampai ia dipecat semuanya akan sirna.
Kedua kelopak mata Mark berkedip dua kali, menghamili perempuan lain? Setahu Mark sendiri. Ia sama sekali tidak menyentuh perempuan mana pun, sudah mau 1 tahun. Mark memang kehilangan minat berpetualang ranjang, mana mungkin ia menghamili wanita lain.
"Mampus," gumam Selena nyaris berbisik. "Hehe... maaf Bapak Presdir, saya hanya ngomong nga—"
BRAK!
__ADS_1
Tubuh Selena terkesiap lantaran sang bos tiba-tiba saja memukul permukaan meja, membuat laju perkataan Selena berhenti mendadak. Selena menahan napas, Mark bangkit dari posisi duduknya setelah memukul meja dengan kepala yang mengangguk-angguk tak jelas.
"Ya, ya, ya, bisa jadi itu bukan mimpi basah. Sialan! Kenapa aku bisa dikibuli," monolog Mark, senyuman miring tercetak di bibirnya.
"Ha? Apa yang Bapak Presdir katakan?" tanya Selena takut-takut.
"Kau!" Mark menunjuk ke arah Selena, membuat wanita itu menggigil ketakutan. "Gajimu bulan depan akan aku kasih dua kali lipat," lanjut Mark, membuat pupil mata Selena membesar.
Mark menyelonong melewati Selena membeku di tempat, tunggu! Selena bukan dipecat, tetapi gajinya dibayar dua kali lipat? Sebenarnya apa gerangan? Selena bingung harus bereaksi seperti apa.
...***...
Dinar hanya mampu mengulas senyum sungkan pada wanita paruh baya dan lelaki paruh baya di depannya saat ini, keduanya merupakan kerabat jauh dari mantan suaminya. Baru sampai di Jakarta, katanya.
"Bude sempet pangling loh, saat lihat Dinar. Sampai Pakde bilang kalau Bude salah orang," ucapnya ceria.
"Bagaimana Pakde gak ngerasa Bude salah orang, Dinar kayak gadis remaja. Cantik banget, lebih cantik daripada terakhir kali kita berdua ketemu di pesta nikahan Amira," celetuk lelaki dengan senyuman hangat itu, Dinar kembali mengulas senyum tanpa sahutan.
"Iya, sih, apa mungkin karena hamil. Katanya hormon Ibu hamil bisa bikin wanita berkali-kali lipat lebih cantik, loh, Pak," sahutnya, dengan semangat.
Dinar tercekat mendengar penuturan keduanya, wanita paruh baya itu malah terkekeh kecil.
"Orang yang udah tua kayak Bude ini bisa lihat perubahan orang hamil, Dinar. Dari postur tubuh, panggul, dan anu, itu kelihatan perubahannya," bisik Jubaidah, pada Dinar. Melirik ke arah dua hal, panggul dan dada Dinar.
__ADS_1
Dinar dengan cepat mengeleng, dan berkata, "Aku gak lagi hamil, Bude. Dan maaf banget, kayaknya Bude sama Pakde belum tahu, ya. Kalau aku sama Mas Damar sudah cerai, udah mau masuk 3 bulan."
Dinar harus memberikan embel-embel 'mas' kembali pada Damar, mantan suaminya itu di hadapan Jubaidah dan Tohir. Keduanya saling adu lirikan mata, dan meneguk air liur dengan kasar.
"Bude! Pakde!" seruan keras dari suara bariton yang memanggil keduanya di seberang trotoar mall mengalihkan fokus ketiganya.
Damar melirik ke kanan dan ke kiri, merasa aman. Damar dengan cepat menyeberang jalan, menuju ke arah keduanya. Langkah kaki Damar terhenti untuk sejenak, kala manik matanya mendapati kehadiran Dinar di sana. Berdiri di samping Jubaidah, ia kembali mengayunkan langkah kakinya mendekati ketiganya.
"Nah, itu Mas Damar sudah datang. Kalau begitu, Dinar pamit ya, Bude! Pakde!" Dinar berseru mengulurkan tangannya pada Jubaidah dan Tohir, menyalami keduanya sebelum melangkah lebar meninggalkan mereka menunuju ke arah lain.
Dinar harus secepatnya meninggalkan mereka, bisa bahaya kalau Damar tahu. Dinar dapat mendengar suara panggilan dari arah belakang, itu jelas adalah Damar. Kedua tungkai kaki jenjang Dinar bergerak semakin cepat, yang ada di otak Dinar saat ini adalah menghilang dari Damar.
HAP!
"Dinar!"
Tarikan di pergelangan tangannya membuat Dinar terkejut, ia menengadah retina mata Dinar melebar mendapati kehadiran Roy.
"Mobilku ada di depan sana, ayo aku antar ke apartemenmu," tuturnya, tampak paham apa yang terjadi.
Dinar melirik dari ekor matanya, ia masih mendapat eksistensi Damar dari kejauhan melangkah mendekati dirinya.
"Ya, tolong antarkan aku," sahut Dinar setuju untuk di antarkan oleh mantan tunangannya satu ini.
__ADS_1
Roy tersenyum lebar, ia menuntun Dinar menuju ke arah mobil yang masih menyala. Beruntung sekali Roy, mendapati Dinar yang tampak berjalan tergesa-gesa. Apapun kata ibunya, di mata Roy sendiri Dinar lebih berharga daripada harta dan tahta yang ditawarkan oleh keluarganya.
Bersambung...