Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 4. MATI, KAU!


__ADS_3

Dinar terlihat merapikan penampilannya, senyum lebar tercetak di bibir Dinar. Hari ini Dinar bahkan sengaja minta jatah cutinya, hanya untuk bisa menghampiri Damar di universitas. Sang suami katanya masih ada jam di kampus, setidaknya sesekali Dinar ingin melihat bagaimana gagahnya sang suami ketika mengajar. Dinar pernah mendengar jika Damar adalah dosen killer di kampus, setidaknya wajah tampan dan bentuk tubuh yang terlihat kekar. Menyelamatkan Damar dari kekesalan para gadis di kampus, meskipun mata kuliah Damar membuat kepala mereka berasap.


Dinar keluar dari bilik toilet, ia mendekati wastafel. Beberapa perempuan keluar dari bilik toilet umum, ada yang langsung masuk ke dalam bilik toilet. Ada pula yang hanya masuk untuk sekedar bercermin, merapikan penampilannya.


"Eh, sekarang jam mata kuliah fisika, kan, ya?" tanya gadis berambut bergelombang itu, sebelum melirik ke arah temanya.


Pergelangan tangan Dinar yang sedang mengusap telapak tangannya berhenti mendadak, ia berusaha mencuri dengar. Gadis berambut sebahu itu mengangguk kecil, sebelum menghela napas kasar.


"Tapi, Pak Damar katanya mengganti hari ini dengan besok," keluh si rambut pendek.


"Syukurlah, aku tidak kuat belajar fisika. Kepalaku mumet, tapi alasan Pak Damar, apa?"


"Oh itu, Pak Damar sih gak kasih alasan apapun. Cuma tadi Tari melihat Pak Damar dijemput istrinya."


"Bagaimana istrinya Pak Damar? Cantik, tidak?"


Dinar merasa seluruh aliran darahnya berdesir, bahkan debaran jantung Dinar terasa lebih cepat. Gadis berambut sebahu itu mengerutkan dahinya, sebelum berdecak kecil.


"Kata Tari sih, kayak anak remaja gitu. Mungkin istrinya Pak Damar malah di bawah kita. Abis katanya pembawaannya kayak anak SMA," balas si rambut pendek.


Dinar berkedip beberapa kali, kedua perempuan itu keluar setelah selesai dengan kegiatannya. Dinar mematikan air wastafel yang mengalir, sebelum tangannya meraih tisu di pojok. Mengusap cepat telapak tangannya, Dinar yang basah. Merogoh tas, mengeluarkan benda persegi panjang. Jari jemari lentik Dinar menari di atas layar, sebelum ditempelkan di daun telinganya.


TUT! TUT!


Nada sambung telepon terhubung, Dinar terlihat mengigit bibir bawahnya. Sayangnya suara operator yang menjawab, Dinar kembali menghubungi Damar. Masih sama, Dinar mulai kacau. Jari jemari lentik tangan Dinar mulai mengetik pesan, setidaknya ia harus tahu keberadaan sang suami.


(MY HUSBAND)

__ADS_1


(MAS DAMAR, MASIH DI KAMPUS SEKARANG?)


Dinar mengigit bibir bawahnya, beberapa menit dibutuhkan untuk ponselnya bergetar.


(MY HUSBAND)


(YA, AKU SEDANG MENGAJAR. AKU TIDAK BISA MENGANGKAT TELEPONMU.)


DEG! DEG! DEG!


Ujung jari jemari Dinar sontak sedingin es, Dinar termenung setelah membaca pesan penuh kebohongan. Bahkan telapak tangan Dinar bergetar hebat, Dinar merasa kesulitan bernapas. Dinar menarik napasnya perlahan, dan membuangnya tak kalah pelan. Dinar tidak bisa diam diri seperti ini, Dinar memasukan kembali ponsel di tas. Sebelum melangkah keluar dari toilet. Hatinya mendadak sesak, namun tidak ada yang bisa dilakukan. Jika Dinar tidak tahu kebenarannya, apakah benar Damar ada di kampus sedang mengajar seperti apa yang dikatakan oleh Damar. Atau malah Damar yang dimaksud oleh para perempuan tadi adalah nama dosen yang berbeda.


***


Embusan napas kasar dari mulut Damar membuat Anjani, berdecak sebal. Gadis remaja itu menipiskan bibirnya, dan merebahkan kepalanya di paha Damar. Sang pujaan hati, yang hari ini harus membatalkan jam mengajar demi, Anjani.


"Apakah itu Mbak Dinar, lagi?" tanya Anjani meskipun tahu jawabannya sudah jelas.


"Iya," sahut Damar sebelum jari jemari panjang Damar mengusap pelan anak rambut yang menghalangi wajah imut Anjani.


"Cih! Memangnya kenapa lagi? Tumben Mbak Dinar menelepon sampai mengirimkan Mas pesan," keluh Anjani.


Damar terkekeh kecil mendengar bagaimana sang kekasih cemburu, anggap saja Damar sudah gila. Karena mengencani Anjani, di saat status Damar sudah sah menjadi suami dari Dinar. Damar tidak menyangkal jika pernikahan sebegitu membosankan, apalagi Dinar yang dinilai monoton. Tidak ada tingkah imut yang menggemaskan, apalagi perempuan itu cenderung mandiri. Semua hal bisa dikerjakan sendiri, membuat Damar merasa tidak dibutuhkan. Jangan lupakan Dinar begitu keras kepala, dan terkadang membuat Damar sakit kepala. Namun berbeda dengan Anjani, anak gadis remaja ini begitu bergantung pada Damar. Tak jarang bertingkah imut disaat Damar sedang marah, bukan malah bertidak serius.


"Mungkin karena penyakit posesifnya," jawab Damar dengan asal.


"Mas! Aku, kan bulan depan sudah selesai ujian. Dan tentu saja sudah lulus SMA. Aku ingin kita secepatnya menikah, Ibu sama Bapak berharap Mas cepat nikahi aku," pinta Anjani dengan ekspresi penuh harap.

__ADS_1


Kedua orang tua Anjani tahunya Damar adalah pria lajang, seorang dosen di salah satu kampus ternama. Apalagi kehidupan keluarga Anjani yang tidak dalam taraf berada, keluarga Anjani hanya keluarga biasa. Anjani adalah putri sulung dari empat orang saudara, melihat kemapanan Damar. Sudah pasti orang tua Anjani setuju dengan hubungan keduanya, bahkan tidak sungkan meminta Damar menginap di rumah di kamar yang sama dengan Anjani. Gila memang, namun apa boleh buat. Karena ketakutan, Damar akan pergi meninggalkan putri mereka setidak jika dengan Damar putri cantik mereka akan hidup senang.


"Ya, tentu saja," balas Damar.


***


Damar mengerutkan dahinya saat merasa seluruh rumah gelap gulita, Damar melangkah mendekati saklar lampu ruangan tamu.


KLIK!


Lampu ruangan langsung menyala, Damar membalikkan tubuhnya. Pria itu terperejat saat melihat keberadaan sang istri yang duduk di sofa ruangan tamu, dengan pandangan kosong. Damar melangkah mendekati sofa.


PUK!


Tepukan di bahu kanan Dinar membuat wanita itu menengadah, menatap wajah Damar. Pria itu terlihat membawa satu buket bunga, ah, ingin sekali Dinar tertawa melihat buket bunga mawar merah. Jikalau Dinar tidak tahu dengan apa yang terjadi, tentu saja Dinar akan loncat kegirangan menerima buket bunga dari Damar. Damar mengulurkan ke arah Dinar, dengan senyum tipis.


"Apa ini?" tanya Dinar dengan nada lirih.


"Buket bunga, dong. Ayo, ambil," jawabnya tanpa beban.


Dinar ingin sekali berdiri, melemparkan buket bunga ke wajah Damar. Yang bisa tersenyum tanpa dosa, kurang apa Dinar selama ini? Hingga Damar main gila di belakang Dinar. Dengan anak SMA, Dinar bukan perempuan bodoh. Yang tidak akan bisa mencari keradaan sang suami, dan identitas gadis itu. Dinar menerima buket bunga dari tangan Damar.


"Terima kasih," jawab Dinar dengan nada pelan.


Damar mengangguk perlahan, pria itu melangkah mendekati kamar mereka berdua. Damar bahkan tidak bertanya, kenapa Dinar duduk di ruangan yang gelap. Pria itu tidak lagi peduli, nyatanya. Dinar meletakkan buket bunga di atas meja. Pisau lipat di tangannya langsung di buka, langkah kaki Dinar terlihat melebar. Telapak tangan Dinar menarik bahu Damar, hingga tubuh Damar beralih ke arah Dinar.


JLEB! JLEB!

__ADS_1


Dua kali tusukan di perut Damar membuat kedua mata Damar terbelalak, dengan darah segar yang merembes di perutnya.


"Mati, kau!" seru Dinar semakin menekan pisau semakin dalam ke perut Damar.


__ADS_2