
Dinar hanya mengikuti ke mana arah kakinya melangkah, tanpa tujuan. Lagi-lagi Dinar harus merasa kehilangan tujuan hidupnya, tidak mudah berada di posisi Dinar. Tetap waras meskipun dunia selalu bercanda tanpa henti pada Dinar, apa yang harus Dinar korbankan? Apalagi? Dinar tidak tidak sanggup untuk berkorban lebih jauh lagi. Derap langkah Dinar harus berhenti tepat di gedung besar, rumah sakit. Pada akhirnya, Dinar berhenti di gedung yang sangat lama tidak ia kunjungi. Bukan karena Dinar tidak ingin namun, Dinar harus menjaga kesehatan mentalnya.
Kepala Dinar menunduk, membuat wajah cantik Dinar harus ditutupi oleh rambut pendeknya. Sepasang sepatu putih berhenti di depan Dinar, wanita itu sontak mengangkat kepalanya. Senyum ramah nan bersahaja dari sang dokter menyapa Dinar, sebelum ekspresi wajahnya terlihat terkejut. Lalu berhenti dengan pandangan tak terbaca, kedua sisi pipi sang pria terlihat bersemu.
Ada apa dengan dokter berkulit pucat satu ini? Dinar melirik dokter dengan lesung pipi yang menghiasi pipi sang pria. Deheman dari sang dokter berusia sepantaran dengan Damar itu terdengar, Dinar menipiskan bibirnya.
"Wah! Kau sangat jauh berubah. Atau mungkin aku salah, sedari awal kau memang secantik ini?" tanyanya terdengar begitu berat.
Dinar yang awalnya menatap Jackson dengan dahi berkerut, sebelum terkekeh kecil. Jackson ikut tersenyum pada Dinar, memang istri orang selalu saja terlihat begitu menggoda.
"Dokter Jackson terdengar sedang menggoda istri orang, tidak baik," canda Dinar dengan nada ramah seperti biasanya.
Jackson tersenyum lebar, membenamkan lesung pipinya. Membuat Dinar mengembuskan napas kasar, ia melirik ke arah pintu masuk. Jackson awalnya pikir, jika perempuan yang berdiri di depan gerbang masuk adalah seorang gadis remaja. Yang mungkin memiliki kesulitan, Jackson Brawijaya adalah salah satu dokter ramah. Yang sangat disukai oleh semua orang, baik mulai dari pasien sampai tenaga medis lainnya.
"Apakah ada larangan tertulis untuk tidak menggoda istri orang? Rasanya tidak ada," sahut Jackson dengan gampangnya. "Apakah kamu ke sini mau ke gedung satu lagi? Menemui Bu Anggun?"
Dinar mengangguk patah-patah, meskipun sebenarnya Dinar tidak bermaksud ingin bertemu dengan ibunya. Hanya saja, semua anak di dunia ini. Disaat beban berat tidak bisa lagi dipikul, hanya menatap wajah ibu. Rasanya beban itu berkurang, memeluk tubuh ibu. Rasanya mendapatkan kembali kekuatan untuk bertahan, itulah ajaib sosok ibu bagi seorang anak. Dan itu juga berpengaruh bagi Dinar, meskipun Anggun bukanlah sosok ibu yang membesarkannya Dinar.
Namun, sebaliknya Dinar lah yang merawat Anggun. Sampai detik ini, Jackson hapal betul dengan Dinar. Wanita yang beberapa tahun belakangan ditemui oleh Jackson, perempuan yang sudah memiliki status sebagai istri orang. Saat itu Dinar juga terlihat bersinar di mata Jackson, dengan senyum bersahaja. Dan semangat pantang menyerah, Jackson akui Dinar memiliki pesona tersendiri.
__ADS_1
"Senang bertemu dengan Dokter, aku harus ke gedung di mana mamaku dirawat," ucap Dinar.
"Aku akan temani, kebetulan aku ada keperluan," balas Jackson dengan nada ramah.
Dinar mengangguk, tidak begitu peduli. Kedua tungkai kaki Dinar kembali melangkah menaiki satu persatu anak tangga, bersama dengan Jackson yang mengiringi langkah kaki Dinar. Pria berusia tiga puluh tahun ini merasa matanya kenapa selalu tak jemu menatap wajah Dinar, melihat Dinar semakin bersinar membuat Jackson semakin iri dengan suami Dinar.
Pria itu benar-benar beruntung menikah dengan perempuan seperti Dinar, beberapa kali manik mata sang dokter mencuri pandang ke arah Dinar. Beberapa tenaga medis menyapa Jackson saja, mereka bahkan tidak tahu siapa perempuan cantik di samping sang dokter. Menebak-nebak kalau perempuan cantik adalah kekasih dokter tampan dari gedung sebelah, Dinar tidak banyak omong. Setiap langkah kaki Dinar, perempuan itu merasa dadanya nyeri.
Satu persatu Dinar dan Jackson menaiki anak tangga, hanya sang dokter yang terus melirik ke arah Dinar. Sedangkan sang wanita hanya diam, dengan pandangan lurus ke depan. Hingga keduanya sampai di lantai tiga, lorong-lorong sepi. Hanya ada beberapa orang yang lewat. Langkah kaki Dinar berhenti di sebuah kamar, Jackson kembali memperhatikan eskpresi wajah Dinar.
"Tidak ingin masukkah?" tanya Jackson menyentak lamunan Dinar.
Bibir Jackson terbuka namun, tidak ada suara yang terdengar. Pintu ruangan terbuka dan terkatub kembali, Jackson terkekeh kecil karena kebodohannya. Ini untuk kesekian kalinya, Jackson sulit untuk berbincang dengan Dinar. Entah karena rasa berdebar yang menghalangi lidahnya untuk melontar banyak kata-kata, memancing Dinar untuk berbicara.
Berbeda dengan Jackson di luar pintu, Dinar menatap perempuan dengan rambut nyaris memutih semua. Duduk di atas ranjang, dengan pandangan kosong mata menatap ke arah jendela. Rasa sakit, membuat sang ibu harus terperangkap pada bayang-bayang. Pengkhianatan menghancurkan kehidupan Anggun, di mata Anggun seorang Amar Santoso lebih berharga. Karena Amar adalah dunia Anggun, hingga menelantarkan Dinar dari kehidupan Anggun.
Air mata Dinar langsung tumpah ruah, terkutuklah pada perasan cinta. Dinar mengigit bibir bawahnya, perlahan-lahan Dinar melangkah mendekati Anggun. Sebelum Dinar berdiri di depan Anggun, kepala Anggun menengadah menatap kosong ke arah Dinar.
"Mama," sapa Dinar dengan intonasi nada bergetar hebat. Air mata terus menetes deras. "Putrimu datang, apakah Mama tidak rindu, Dinar?"
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari bibir Anggun, Dinar merasa hatinya hancur berkeping-keping. Dinar butuh ibunya, butuh wanita paruh baya ini untuk memeluknya. Di saat anak-anak perempuan di luar sana mendapatkan pelukan kasih sayang, Dinar disambut dengan pandangan kosong. Perlahan-lahan kedua kaki Dinar merosot, menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Anggun.
Menangis tersedu-sedu, harus pada siapa lagi Dinar mengadu. Hatinya sakit, Dinar tidak kuat menahan tubuhnya yang harus berpura-pura kuat. Hatinya hancur lebur, akan tetapi dipaksa untuk memungut setiap kepingin kehancuran. Menyambung satu persatu pecahan untuk kembali utuh, bukan hanya untuk dirinya. Tapi untuk perempuan yang membisu tanpa kata, ini.
Mendengar pedihnya tangisan Dinar, tangan Anggun bergerak. Mengusap perlahan-lahan puncak kepala Dinar. Membuat tangisan Dinar semakin menjadi-jadi. Jika Dinar menyerah pada dunia, maka siapa yang akan merawat sang ibu? Wanita menyedihkan. Dicampakkan dengan kejam, mengemis cinta pada sang ayah.
Tetapi pria itu dengan bangganya, menampar bongkahan uang pada sang ibu. Masih melekat diingat Dinar, bagaimana sang ayah menyeret Anggun keluar dari rumah. Uang berhamburan di lantai rumah, Amar hanya butuh Dinar. Tidak dengan Anggun, wanita yang menjadi nyonya Santoso harus kalah oleh perempuan ketiga.
Sekeras Amar meminta Dinar masuk ke rumah besar itu, sekeras itu pula Anggun mengemis untuk tidak diceraikan oleh Amar. Bahkan Anggun rela memiliki madu, untuk sang suami. Dinar berteriak keras, pula untuk sang ibu melepaskan kedua kaki Amar. Dinar bersedia berpisah dengan sang ayah melepaskan kemewahan untuk harga diri sang ibu, tapi Anggun tidak butuh harga diri. Anggun hanya butuh sang suami.
"Gadis cantik, jangan menangis. Kenapa kamu menangis?" tanya Anggun dengan nada pelan.
Dinar mengangkat kepalanya, menengadah menatap sang ibu. Ibunya berbicara? Setelah sekian lama mengatub rapat bibirnya hanya untuk memanggil nama sang ayah.
"Mama! Mama tahu aku bukan? Mama ingat Dinar? Ini Dinar putri Mama!" teriak Dinar dengan nada keras.
Anggun mengeleng pelan, sebelum menatap hampa lagi ke arah Dinar. Dinar mengigit bibir bawahnya, tidak ada dia di hati dan otak sang ibu.
Sedangkan di luar pintu kamar, Jackson mendengar suara tangis Dinar. Menyentuh dadanya berdenyut nyeri, ingin sekali dokter ganteng ini menarik engsel pintu. Masuk dan memeluk Dinar, tetapi ia tak mungkin melakukan itu. Bisa-bisa Dinar akan menjauh dari Jackson, karena tingkah kurang ajar Jackson.
__ADS_1
Bersambung....