
Entah berapa kali Damar harus menghela napas kasar, kepalanya terasa berasap. Bagaimana bisa? Damar tidak habis pikir, kenapa tiba-tiba saja pembatalan untuk pemindahan kerjanya di Medan masuk tanpa aba-aba. Apalagi di universitas tempat ia mengajar, sama sekali tidak membutuhkan dirinya lagi. Berkemungkinan besar mereka takut pada Amar—mantan ayah mertuanya.
"Mas," panggilan dari arah pintu masuk rumah minimalis mengalun.
Damar menoleh, ekspresi wajahnya tampak masam. Apalagi ini? Kalau sudah datang ke kontrakannya. Maka sudah pasti ada yang dinginkan oleh ibu hamil besar satu itu, hanya paham cara menyusahkan otak Damar. Pria itu bangkit dari posisi duduknya, melangkah mendekati pintu. Didorongnya perlahan, wajah cerah Anjani langsung terlihat. Tubuh yang awalnya tampak begitu langsing kini membesar, pipi Anjani semakin melebar saja.
"Mas Damar kok lama banget sih, buka pintunya. Lagi gapain aja?" Anjani melangkah masuk dengan kepala tampak celingak-celinguk.
Seolah-olah mencari keberadaan makhluk lain di dalam kontrakan sementara yang dihuni oleh calon suaminya, Damar sampai detik ini pun masih belum memberikan kepastian pada Anjani. Katanya akan menikahi Anjani, sebelum anak itu lahir. Anehnya, malah sebaliknya. Sampai saat ini Damar masih belum mau membicarakan perihal pernikahan mereka, Anjani pikir pasti ada ****** lain yang mencoba menggoda Damar.
"Kamu cari siapa?" Damar bersuara, lantaran melihat gelagat aneh perempuan di depannya itu.
Anjani melangkah mendekati dapur yang disekat, lalu bergerak lagi ke arah kamar mandi. Didorongnya perlahan pintu kamar mandi yang tertutup, kosong. Anjani kembali bergerak menuju ke arah pintu kamar, membuka pintu kamar langkah kakinya bergerak cepat ke arah lemari. Membuka kedua sisi pintu lemari secara bersamaan, kosong juga.
Damar berdiri dengan kedua tangan di atas pinggang, jangan katakan bahwasanya Anjani berusaha mencari eksistensi wanita lain di dalam kontrakannya.
"Kamu cari apa, Anjani? Gak ada orang di dalam kontrakan ini. Selain aku, dan sekarang kamu." Damar kembali bersuara.
Anjani melogok ke arah belakang, dan berkata, "Siapa tahu ada, Mas Damar bisa saja bersama dengan perempuan lain. Gak mudah ketahuan, kayak kita dulu."
__ADS_1
Mata Damar tampak menajam, diayunkan kedua kakinya melangkah lebar mendekati Anjani. Menarik cepat pergelangan tangan Anjani, untuk keluar dari kamarnya. Anjani menyentak dengan kasar tangan Damar yang menggenggam erat pergelangan tangannya, Damar jauh sekali berubah. Damar tidak lagi menghubungi Anjani, tidak mau bertemu dengan Anjani. Kalau bukan Anjani yang mendatangi lelaki ini, harusnya Anjani yang marah. Bisa saja Damar bermaksud meninggalkan dirinya, mencari daun muda yang lain. Yang lebih cantik daripada Anjani, sebagaimana Damar menyelingkuhi Dinar.
"Kamu sudah gak waras, Anjani. Nuduh-nuduh aku kayak gitu, kamu ada bukti aku selingkuh, hah? Semua kemauan kamu sudah aku turuti. Karena tergoda sama kamu, aku menceraikan Dinar. Sekarang kamu main tuduh-tuduh gak jelas, hah!" Damar kesal bukan main oleh tuduhan Anjani.
Damar menghindar dari Anjani dan keluarga wanita ini lantaran setiap ada kesempatan selalu minta uang, sedangkan sekarang Damar sungguh tidak punya uang. Ia kehabisan uang, ditambah Damar tidak lagi bekerja sebagai dosen. Masalah tidak berhenti saja sampai di sana, mana universitas tempat ia akan dipindahkan. Medadak menolak Damar, lantaran ada kabar angin yang berembus perihal Damar bercerai karena berselingkuh dari istrinya. Main gila dengan anak SMA, sungguh di luar dugaan. Meskipun di sana tidak dijelaskan lebih rinci, setidaknya intinya mereka menolak kehadiran Damar untuk mengajar.
Anjani mengulas senyum masam. "Ah, jadi sekarang Mas Damar menyalahkan, aku. Bukahkah Mas Damar sendiri yang mau sama aku, tanpa aku goda pun Mas Damar sudah tergila-gila sama aku. Karena apa? Karena Mas Damar merasa bosan dengan istri Mas sendiri. Dan ingin memiliki anak dari aku, sekarang apa Mas katakan? Semuanya karena aku. Asalkan Mas tahu. Kalau Mas sendiri, gak bukain pintu lebar-lebar mana bisa orang kayak aku masuk ke rumah tangga Mas, enak aja main salah-salahin aku," balas Anjani ikutan marah.
"Mau sebar apapun aku buka pintu, kalau kamu-nya gak mau. Tetap gak akan menjadi perusak hubungan rumah tanggaku dan Dinar. Kamu yang lebih keras menggodaku, Anjani. Bahkan membawa aku ke rumahmu di saat gak ada kedua orang tuamu. Lelaki dewasa kayak aku gak akan pernah jauh-jauh dari urusan ranjang," sahut Damar murka.
Keduanya sama-sama salah, tetapi sama-sama tak mau disalahkan. Terdengar lucu, untuk saling menyalahkan.
...***...
Dinar meraih mangkok bubur melangkah mendekati Anggun yang masih termenung, ia dapat merasakan kehadiran Dinar mendekat. Dinar mengusap perlahan punggung belakang Anggun, wanita itu menoleh ke arah Dinar.
"Makan dulu, Ma! Aku sendiri yang membuat bubur ayam kesukaan Mama. Aku jamin, pasti sesuai sama selera Mama." Dinar menarik lembut sang ibunda untuk duduk di sofa tepat di samping jendela.
Anggun duduk perlahan, tidak ada perlawanan. Wanita paruh baya ini paham kondisi Dinar, putrinya hamil. Anak dari lelaki gagah yang datang menemui dirinya tampo hari, untuk berbicara sendiri. Panjang-lebar Mark menjelaskan kondisi Dinar maupun kondisi Mark, lelaki itu meminta restu Anggun. Serta meminta Anggun untuk ikut dengan mereka, pemuda itu cukup aneh di mata Anggun.
__ADS_1
Bagaimana bisa berbicara mau 2 jam sendirian, meskipun tidak mendapatkan respon apapun dari Anggun. Setidaknya, Anggun dapat merasakan ketulusan dari mata Mark untuk putrinya ini. Jika dahulu ada lelaki yang seperti Mark mengulurkan tangan pada Anggun, apakah saat ini Anggun akan hidup bahagia? Sempat terbesit pertanyaan seperti itu di otak, Anggun.
"Aaa, dulu Mama!" Dinar ikut membuka mulut kala sendok berisikan bubur berada di depan mulut Anggun.
Anggun membuka mulut, Dinar tampak tersenyum lebar. Mengunyah bubur dalam diam, tak masalah. Selama Anggun mau memberikan Dinar kesempatan untuk merawatnya, Dinar akan sangat bahagia.
"Gimana? Enak, kan, Ma?" tanya Dinar antusias. "Apakah Mama tahu, Bik Sumi heboh sekali saat aku memasakkan bubur ini. Katanya aku harus banyak istirahat, padahal aku mah sehat sekali. Yang gak sehat itu si Mark, Mama tahu, kan? Pria yang telinganya ditindik dan pakai anting itu, loh. Hah, sebenarnya dia itu bukan lelaki tipeku, Mama. Tetapi setelah hidup bersama dengan dia, aku rasa Mark tidak seburuk apa yang ada di pikiranku," curhat Dinar, menggebu-gebu.
Merasa di dalam mulut Anggun telah kosong, Dinar kembali bergerak menyuapi sang ibu. Ia tersenyum lebar melihat Anggun makan dengan lahap, menatap Dinar dengan sorot mata intens. Apakah Anggun tertarik dengan ceritanya? Dinar merasa hatinya lega sekali.
"Apakah Mama tahu? Keluarga Mark juga gak kalah anehnya. Mereka semua kayak musuhnya si Mark. Tetapi di belakang Mark, mereka kelihatan begitu mencintai, Mark. Ibunya Mark adalah wanita yang baik, dan hangat. Ayahnya terlihat kaku, tapi baik banget. Ah, keliatan seperti keluarga harmonis," gumam Dinar kembali, kali ini sorot mata Anggun berubah.
Seakan begitu sendu, tangan Anggun terangkat. Menyentuh perlahan sebelah sisi wajah cantik Dinar dengan gerakan lembut, kedua kelopak mata Dinar terpejam perlahan. Ah, putrinya yang malang. Anggun masih menutup rapat bibirnya, ia menipiskan bibir.
'Maaf, meskipun aku tahu gak akan pernah mendapatkan maaf darimu, putriku.'
Anggun terlampau jauh meninggalkan Dinar, jika pun ia berubah apakah ada artinya? Kelopak mata Dinar terbuka perlahan. Dinar tersenyum lebar, menatap Anggun.
"Mama! Aku gak pernah merasakan di posisi Mark, tetapi aku pikir, aku bisa memberikan kehidupan berbeda untuk anakku. Tolong tetap bersamaku, sampai anak ini bisa memanggil Mama dengan wajah bahagianya. Aku ingin Mama mengendong dan bermain dengan anak ini, aku percaya. Semuanya belum terlambat, aku ingin mempercayai ada kebahagiaan juga untuk kita berdua. Maukah Mama memulai semuanya denganku, anak ini, dan Mark?" Dinar bertanya seolah-olah Anggun mampu memahami apa yang ia katakan.
__ADS_1
Bulir bening jatuh berderai, air mata Anggun. Kini ia sadari bahwasanya luka, derita, dan kesepian yang melanda dirinya. Lantaran Anggun terlalu terpaku pada Amar. Andaikan Anggun memilih hidup dan bahagia untuk dirinya sendiri, tidak perlu peduli bagaimana kehidupan Amar karena dirinya. Bisa saja Anggun merasakan kebahagiaan tanpa syarat, merasakan kehangatan keluarga. Untuk putrinya sendiri.
Bersambung...