
Di luar dugaan, bagaimana bisa dosen gagah satu ini melontarkan kata-kata yang membuat Anjani terdiam untuk beberapa saat. Tidak jadi menikah? Anjani tidak paham apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah semua sudah direncanakan sebaik-baiknya perencana, saat Damar meninggalkan Dinar. Anjani akan menjadi istri Damar, menjadi istri satu-satunya dari Damar Wijayanto. Lalu apa ini? Anjani membulatkan kedua matanya, menatap tajam ke arah sang pujaan hati.
"Tidak jadi? Bukankah kemarin Mas bilang kita akan segera menikah. Lalu kenapa bisa tidak jadi?" tanya Anjani dengan nada marah.
Damar menghela napas kasar, gadis remaja ini tidak paham dengan dunia orang dewasa. Ada banyak hal yang tidak bisa mereka utarakan, bagi lelaki biasa saja saat tergiur dengan bunga baru yang mekar. Sedangkan bunga cantik di rumah telah layu, dan tak lagi mengeluarkan aroma harum. Apalagi saat melihat perubahan Dinar yang membuat Damar pangling, tidak tahu kenapa Dinar terlihat semakin cantik saja.
"Ya, Mas tahu, kok. Cuma Mas tidak bisa menikah dengan Anjani. Lantara Mas ini seorang tenaga pengajar yang mendidik, Mas jika ketahuan cerai dengan Dinar menikah dengan gadis remaja yang hamil. Maka bisa saja Mas di keluarkan dari kampus tempat Mas mengajar," jelas Damar tanpa berdusta. "Kamu mau Mas keluar dari kampus? Kalau Mas keluar dari kampus. Mas mau kasih makan apa sama kamu?"
Anjani terkejut mendengar jawaban Damar, bukankah dahulu Damar bilang tak masalah kalau mereka berdua menikah. Lalu kenapa sekarang malah berubah haluan? Ada apa dengan Damar. Anjani tidak ingin kalau pernikahan mereka berdua batal, namun tidak pula ingin Damar dikeluarkan dari kampus. Kalau menikah dengan Damar, tetapi pemuda gagah bermata tajam ini tidak lagi ada pekerjaan. Mau makan apa mereka? Anjani ingin dengan Damar karena uang Damar. Selain wajah Damar yang begitu tampan, Anjani tidak bodoh. Gadis remaja ini mendekati Damar meskipun tahu Damar sudah ada istri, tentu karena Damar punya banyak uang.
"Kalau begitu anak kita bagaimana, Mas? Aku tidak ingin hamil di luar nikah. Anak ini akan lahir tanpa Ayah. Apalagi di tetangga sekitar tahu kalau beberapa bulan lagi Mas Damar akan menikahi aku. Keluargaku tidak bisa menanggung malu seorang diri Mas," ucap Anjani dengan nada panik.
Damar menghela napas kasar, pemuda itu meraih tangan Anjani. Dan menggenggamnya dengan erat, kedua manik mata Anjani terlihat berkaca-kaca.
"Anjani! Dengarkan Mas, ya!" seru Damar mencoba membujuk Anjani. "Meskipun kita tidak bisa menikah untuk saat ini, Mas akan tetap bertanggung jawab pada anak yang ada di dalam kandungan kamu. Kalau kamu tidak mau menanggung malu, Mas akan mengantarkan kamu ke kota lain. Dengan dalih kalau kamu sekolah di luar pulau."
Air mata Anjani menetes dengan deras kepalanya menggeleng, tidak bisa begitu. Anjani harus mendapatkan kepastian dari Damar, bisa saja setelah anak di dalam kandungan Anjani lahir. Damar akan langsung mengambil anak itu, dan menendangnya menjauh. Hidup dengan Dinar, wanita yang masih dalam status istri secara hukum. Anjani tidak mau rugi, begitu saja.
__ADS_1
Kepala Anjani sekali lagi mengeleng, dan berkata, "Begini saja Mas. Aku tidak mau kalau Mas tidak menikahiku, aku mau hubungan kita pasti. Kalau tidak bisa menikahi aku secara sah. Tolong nikahi aku secara siri, lalu aku akan pergi dari kota Jakarta. Seperti yang Mas inginkan, aku ingin Mas mentransfer uang setiap bulannya. Untuk kebutuhan aku dan anak ini."
Damar mengangguk cepat, dan menjawab, "Iya, aku akan melakukan itu. Tapi untuk sekarang tolong jangan katakan pada siapa pun. Karena ini adalah jalan terbaik untuk kau dan aku."
Bagi Damar uang yang akan dikirim kepada Anjani dan keluarga Anjani, tidak sebanding dengan gaji Damar sebagai seorang dosen. Damar ingin tetap mengajar di kampus ternama itu, lantaran gaji yang diterima sangat memuaskan. Saat ini Damar tidak bisa macam-macam, takut pada ayah Dinar.
***
Tidak ada yang terhidang di atas meja, sebenarnya untuk kedatangan pria paruh baya ini saja membuat udara yang Dinar hidup terasa begitu menyesakkan. Namun, tak mungkin untuk Dinar melakukan keributan dengan pria paruh baya satu ini. Hal hasil Dinar berada di ruangan khusus tamu, Lily meminjamkan ruangan untuk Dinar berbicara dengan pria yang memberikan darah yang sama pada Dinar. Dinar dapat merasakan bagaimana pandangan sang ayah ke arahnya, tatapan penuh kerinduan. Yang sangat jijik untuk Dinar terima, sumpah mati Dinar benci dengan Amar Santoso.
"Bagaimana keadaanmu? Papa sangat merindukanmu. Tapi kamu sulit sekali untuk ditemui, kalau Papa tidak menemuimu di sini, kamu pasti tidak akan mau bertemu dengan Papa," ucap Amar dengan nada lembut pada Dinar.
"Saya tidak merasa ada urusan dengan Anda Bapak Amar terhormat," balas Dinar dengan intonasi nada dingin.
Kedua tangan Dinar dilipat di bawah dada, menatap angkuh ke arah sang ayah. Amar menarik napas dalam-dalam dan mengembusnya perlahan, masih menatap Dinar dengan pandangan kembali. Meskipun mendapatkan jawaban dingin dari sang putri tercinta, mungkin saja bagi Amara hubungan antara Amar dan mantan istri terlah selesai. Namun, tidak dengan sang putri, karena di dunia ini tidak ada yang namanya mantan anak serta mantan orang tua.
"Ini sudah lebih dari dua puluh tahun sejak kejadian itu, Dinar. Papa sudah mengatakan padamu berulang-ulang kali, kalau Papa tidak bisa mencintai mamamu. Namun, hati Papa padamu tentu saja berbeda," jawab Amar dengan nada lembut. "Sampai kapan kau akan terus seperti ini Dinar. Cinta tidak bisa dipaksakan, kau kan juga paham kalau per—"
__ADS_1
"Tidak ada di dunia ini yang namanya kehilangan perasaan! Apalagi sampai membenarkan perselingkuhan karena tidak cinta lagi," potong Dinar dengan intonasi nada marah. "Anda begitu egois, minta dimengerti tapi tidak pernah mau untuk mengerti. Bagiku ayahku sudah lama mati dua puluh tahun yang lalu. Saat dia membuat mamaku harus kehilangan dunianya. Sampai mati pun, aku tidak akan pernah memaafkan Anda dan perempuan murahan itu!"
"DINAR!" seru Amar berang.
"Hah! Anda marah dengan apa yang aku katakan? Apakah Anda tahu kalau perempuan ini! Perempuan yang Anda panggil sebagai putri Anda. Merasakan perasaan yang sama dengan wanita yang Anda campakkan! Hatiku hancur karena pengkhianatan. Aku nyaris ikut tak waras karena siapa? Karena karma yang Anda turunkan!" Dinar berteriak keras menunjuk dadanya yang terasa begitu sesak.
Air mata jatuh tanpa bisa Dinar cegah, Amar bangkit dari posisi duduknya. Karena Dinar yang berdiri duluan, Dinar mengusap kasar air mata. Amar merasa sedih melihat air mata sang putri, bagaimana pun bagi Amar Dinar tetaplah putri yang sangat Amar sayangi.
"Maafkan, Papa," sahut Amar dengan nada lirih.
Dinar menarik napas dalam-dalam, dan mengembusnya perlahan. "Pergilah! Aku berharap untuk tidak melihat wajah Anda lagi. Karena setiap melihat wajah Anda, rasanya dunia terus mencekikku. Anda bahagia dengan keluarga Anda, maka pergilah dengan kebahagiaan itu. Percuma saja Anda ke sini, hanya untuk membangkitkan luka lama. Yang harusnya sudah mengering."
"Maaf," gumam Amar pelan. "Tapi Papa akan pastikan, kalau Dinar akan mendapatkan kebahagiaan yang Dinar impikan. Damar akan berlutut untuk membayar rasa sakitmu."
"Tidak perlu! Yang harusnya berlutut terlebih dahulu adalah Anda pada mamaku. Setidaknya aku masih waras dan bisa berdiri dengan tegap di sini. Tapi mamaku malau terus memikirkan tentang masa lalu. Apa boleh buat, takdir yang malang harus aku terima." Dinar menjawab dengan mendesah kasar. Ia lelah dengan semua hal buruk yang terjadi.
Amar tidak menjawab, pria paruh baya itu melangkah meninggalkan ruangan. Sesekali melirik ke arah belakang, melihat sang putri tercinta.
__ADS_1
Bersambung...