
Dia... lelaki yang diam-diam aku cintai, diam-diam aku perhatikan dari kejauhan. Dunia yang kami jalani berbeda, Amar sosok pria aktif. Banyak sekali perempuan mengejarnya, cinta ini bermula kala kami berada di SMA yang sama.
Sosokku hanyalah perempuan culun, berprestasi. Setiap ada kesempatan aku terus memperhatikan dia, teman-temanku mengatakan jikalau sulit untuk benar-benar dekat dengan Amar. Tahun demi tahun berganti, hatiku masih tetap sama. Aku mencintainya, sungguh.
Bak takdir, aku masih bisa mengambil potretnya diam-diam di bangku fakultas. Amar masih menjadi idola untuk para wanita, selain karena ia adalah seorang tuan muda kaya raya. Amar sama denganku, berasal dari kalangan atas. Aku mulai berusaha memperjuangkan dirinya, aku memulainya pertama kali kala Amar dikatakan mengambil kelas seni di luar universitas.
Rasaku semakin dalam pada Amar, kala dia begitu ramah padaku. Kami beberapa kali jalan bersama, ku pikir karena adanya peluang antara kami berdua untuk menjalin hubungan. Kebahagiaanku tak berjalan lama, kala aku dengar rumor, Amar ternyata menjalin kasih dengan perempuan dari jurusan seni. Dia manis, dan ceria beda sekali dengan diriku.
__ADS_1
Duniaku runtuh, selama 6 tahun aku mencintai Amar. Memendam rasa sukaku, disaat aku diberikan kesempatan untuk memasuki dunianya. Nyatanya, perempuan yang ia cintai bukanlah aku. Lidia Nurlaila, itulah namanya. Wanita yang membuat aku terpukul terlampau jauh, perempuan yang mampu membuat hati Amar berbunga-bunga.
Cinta yang patah sebelum tubuh, aku hancur sekali. Hari-hariku jalani terasa begitu hambar, 1 tahun aku kehilangan nafsu. Aku mencoba meninggalkan semua hal, lucunya takdir bermain-main denganku. Takdir mengantarkan Amar padaku, dengan jalan perjodohan antara orang tua kami. Aku menolak, lantaran ada keraguan di dalam hatiku. Dia—Amar meyakinkan aku, untuk menikah dengannya. Karena dia membutuhkan aku.
Bak, musim semi mekar di duiaku. Amar mengatakan ia butuh aku, hingga aku lupa daratan. Aku menyanggupi pernikahan kami, walaupun awalnya aku tahu hatinya bukan untukku. Namun, aku berkeyakinan. Amar akan mencintaiku, seiring berjalannya waktu. Lucu, sangat! Aku ingin menertawakan kenaifanku. Amar tidak pernah melepaskan Lidia, menjalin kasih dengan Lidia.
Apakah aku tahu? Oh, jelas. Aku tahu, mereka bermain api di belakangku. Namun, aku berpura-pura bodoh, asalkan Amar tetap di sisiku. Sekali, aku membawa Amar menonton pertunjukan musik, memperlihatkan kelas kami yang berbeda dengan wanita itu.
Dia bilang, 1001 wanita secantik aku, tidak ada satu pun yang bisa mengalahkan perasaannya pada Lidia. Tetapi, aku masih belum bisa menyerah. Aku meminta agar bisa hamil, Amar menyanggupi permintaanku. Ia menyentuhku untuk pertama kali, dan paling gilanya. Pria itu menyebut nama wanita lain saat ia mencapai puncak, air mataku tumpah. Kenapa rasanya begitu sulit untuk dicintai?
Aku terus berjuang untuk hamil, ku pikir kalau ada anak di antara kami berdua. Perasan Amar akan berubah, tidak lagi tertuju pada Lidia. Tuhan maha baik, aku hamil anaknya Amar. Aku yang bersemangat menemui Amar untuk mengatakan kalau aku hamil, anak kami berdua. Bukan kata selamat atau senyum bahagia, aku malah ditampar oleh adegan gila.
__ADS_1
Aku meraung di dalam kegelapan malam, terlampau takut menarik rambut wanita itu. Menamparnya berkali-kali, merasakan bagaimana rasa pedihnya tercabik-cabik, oleh sebuah pengkhianatan.
Ah, iya juga. Aku kembali tertawa dengan air mata berlinang, di sini akulah yang katanya orang ketiga. Aku yang tiba-tiba masuk dan membuat hubungan mereka harus berakhir, tidak peduli bahwasanya. Aku lah wanita pertama yang mencintai Amar dalam diam, berjalan dengan ketulusan.
Duniaku jungkir-balik, ku lahirkan anak perempuan dengan taruhan nyawa. Anak yang sempat tidak Amar pedulikan, anehnya ada keajaiban di sini. Amar menyayangiku putri kami, yang aku namai Dinar Aprilia Santoso. Aku bahagia, tentunya. Aku berjuang kembali meskipun sudah dipenuhi oleh darah dari luka sebuah pengkhianatan, katanya. Apapun yang bukan takdirmu, akan pergi meninggalkan kamu. Ya, benar adanya. Dia tak pernah mau mencoba menerima keberadaanku, pada akhirnya semua yang aku mulai hancur disapu riak gelombang.
Hatiku sakit, jiwaku rusak. Figur seorang ibu di dalam diriku sirna cinta dan dendam mengoyak duniaku. Aku mencintai dia sekaligus teramat membencinya, apakah aku salah? Apakah aku salah? Dan apakah aku salah? Kalau benar, dari mana kesalahan ini bermula. Hingga bermuara pada lautan luka?
Aku tidak bisa kembali pada masa itu, aku terlanjur jauh jatuh pada neraka dendam. Menyeret putriku untuk ikut terluka, hanya agar bisa membuat Amar tersakiti. Karena tidak ada yang bisa menyakiti Amar selain Dinar—putri kami. Diam-diam aku berpura-pura menjadi gila, ku perhatikan dia dari kejauhan. Terkurung dalam ruangan, ku habiskan masaku di dalam sana. Dunia kembali mengeluarkan cambuk karma, dia yang ku pikir bahagia.
Datang dengan air mata dan duka, putriku. Juga merasakan sakitnya pengkhianatan dari menantuku, aku menangis keras kala putriku meninggalkanku. Kenapa dia harus merasakan bagaimana pedihnya sebuah pengkhianatan? Aku mungkin bukan ibu yang baik, bukan berati hatiku rela disaat putriku disakiti oleh pria lain. Sebenarnya ada apa denganku? Apa yang sebenarnya telah aku jalani? Harusnya aku tak pernah bertemu dengannya sejak awal, mungkin saja ceritanya akan berbeda. Amar aku membencimu, dan juga membenci takdirku, serta yang paling aku benci adalah diriku sendiri.
---------------------------------------------------
__ADS_1
Sekilas, Angst bgt kan? 🤧 kalau dijelaskan lagi lebih sakit lagi, berada di posisi Anggun. Dia juga korban keegoisan Amar, namun ia pun juga salah karena tergila-gila pada pria yang tak tepat, well🥹 ada banyak wanita di dunia ini bertahan untuk pria yang tak pernah menjadikan mereka prioritas. Anehnya berharap mereka akan berubah 😮💨😮💨😮💨😮💨