Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 18. BUKAN TANDINGAN


__ADS_3

Langkah kaki Sri semakin mengikis jarak di antara perempuan paruh baya itu dengan dua orang di depan sana,  Damar dengan cepat membalikkan tubuhnya. Hanya untuk menghalau sang ibu untuk langsung melihat kehadiran Anjani di sana, Sri mencuri pandang ke arah punggung sang putra.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Sri dengan nada menyelidik. "Amira minta tolong untuk mengantarkan keluarga mempelai pria ke rumah Bude."


"Iya, ini mau pergi kok, Ma!" Damar membalas dengan jantung berdebar keras.


Sri terlihat melirik ke arah punggung belakang Damar, mencoba mengintip siapa yang berbincang dengan sang putra. Sayangnya Damar menghalangi penglihatan Sri, tangan Damar terlihat mendorong kecil bahu sang ibu untuk membalikkan tubuhnya membelakangi Anjani.


Sri mau tak mau membalikkan tubuhnya, melangkah maju ke depan lantaran didorong kecil oleh sang putra. "Eh, kok pakai dorong-dorongan segala. Itu perempuan yang berbicara dengan kamu, siapa?"


"Itu, temannya Damar, Ma! Dia mau bicara tentang masalah pribadi. Makanya di bawa ke sini, lagian di dekat rumah berisik karena suara dangdutan." Damar berdusta dengan lancar.


"Lalu sekarang kok di tanggal gitu aja? Ajak masuk makan dulu di rumah." Sri menjawab, ingin kembali melirik kebelakang.


Damar dengan cepat merangkul bahu sang ibu, mengunci pergerakan sang ibu. Agar terus melangkah ke depan tanpa harus melirik ke belakang, Damar berusaha agar sang ibu tidak bertemu dengan Anjani. Bisa-bisa Anjani dikatai habis oleh sang ibu tercinta, dosen muda satu ini jelas lebih tahu bagaimana sayangnya sang ibu pada Dinar. Di mata keluarga Damar hanya Dinar yang sangat berharga, bahkan saat ada masalah sedikit saja. Maka dengan hebatnya semuanya akan menyalahkan Damar, yang bilang harus bisa mengayomi Dinar dengan baik. Karena semua pengorbanan Dinar pada keluarga mereka, rasanya Damar tidak dianggap sebagai seorang anak di dalam keluarganya sendiri. Dikit-dikit yang dibicarakan bagaimana hebatnya Dinar sebagai seorang wanita, menantu, dan ibu rumah tangga.


Prestasi Damar langsung redup jika disandingkan dengan Dinar, padahal Damar juga berusaha keras untuk bisa lulus menjadi seorang dosen di universitas terkemuka di Indonesia. Anehnya, Damar lupa bagaimana semua hal yang Damar dapatkan tak lepaskan dari campur tangan Dinar sebagai seorang istri. Bahkan Damar langsung dipanggil mengajar karena ayah Dinar yang menempatkan Damar di sana, Damar seolah lupa diri.


"Dinar kok gak datang? Semuanya sudah menanyai keberadaan Dinar? Mama harus jawab apa sama kerabat di rumah. Kamu sudah hubungi Dinar, bukan?"


See! Baru saja Damar memikirkan ketidakadilan yang Damar terima dari keluarganya, langsung saja sang ibu menanyakan di mana sang istri. Damar menghembus napas frustasi, masih saja berharap pada Dinar.

__ADS_1


"Aku sudah menghubungi Dinar. Bagaimana pun dia akan datang ke sini, sesuai keinginan Mama, Papa, dan Amira. Ya, karena kalian lebih butuh Dinar dari pada aku." Damar mengeluh.


Sri menepuk kecil permukaan telapak tangan Damar yang berada di sisi bahu kirinya. Terdengar kekehan ringan dari bibir Sri mengalun, putranya cemburu. "Huss! Apaan sih, kamu. Kami itu sayang Dinar kayak sayang sama kamu Damar. Memperlakukan Dinar kayak anak sendiri, karena kebaikan  Dinar. Seandainya pun Dinar tidak bisa memaafkan kamu. Mama dan Papa berharap Dinar akan menjadi putri kami, karena sampai mati pun jasa Dinar tidak akan bisa kita sekeluarga tebus. Mama dan Papa merasa marah sekali sama kamu, apa boleh buat. Kami cuma punya anak kandung dua orang. Hingga terpaksa harus bersabar menghadapi perangaimu, yang gila ini. Kalau banyak anak, kami pastikan membuangmu jauh-jauh demi Dinar."


Damar tercekat mendengar perkataan sang ibu yang dinilai cukup berterus terang, Damar menipiskan bibirnya. "Aku tak akan menceraikan Dinar apapun yang terjadi, Mama. Jangan khawatir seperti itu."


Samar-samar Anjani mendengar perbincangan ibu dan anak itu, membuat hati Anjani terkoyak. Padahal baru kemarin Damar menggadang-gadangkan bahwa yang dicintai oleh Damar hanyalah Anjani, Damar muak pada Dinar. Tapi, saat ini semuanya malah berubah cepat  sekali.


"Mas tak bisa seperti ini padaku! Aku akan pastikan Mas Damar yang harus menikahi aku. Mau Mas Damar bercerai dengan istrimu atau tidak, aku akan tetap menjadi istrinya, Mas." Anjani bergumam dengan kedua tangan mengepal kuat.


***


"Terima kasih sudah datang ke sini, Mbak Dinar. Aku takut sekali Mbak Dinar tidak akan datang ke sini," bisik Amira dengan intonasi nada lirih.


Dinar yang masih memeluk Amira, mengusap perlahan punggung gadis ayu itu dengan penuh kasih sayang. Mengulas senyum tipis di bibirnya, sebelum melepaskan pelukannya dari tubuh Amira. Kedua tangan Dinar menyentuh kedua telapak tangan Amira, yang dihiasi oleh ukiran hena berwarna putih senada dengan baju kebaya yang dikenakan oleh Amira.


"Aku hanya bermasalah dengan Mas Damar, bukan dengan kamu dan keluarga ini, Amira. Karena itu lah aku akan tetap datang ke sini, meskipun kami resmi bercerai," jawab Dinar dengan nada lembut dan begitu pelan.


Amira tidak menampik menelan kecewakan dirinya pada jawaban kakak iparnya ini, besar harapan Amira untuk Damar kembali bersatu dengan Dinar. Meski paham, ini adalah hal mustahil setelah apa yang terjadi di antara Dinar dan Damar, Amira juga seorang perempuan yang tahu bagaimana hati perempuan lain.


"Hah! Iya, aku paham, Mbak," balas Amira terdengar berat.

__ADS_1


Tirai kamar mempelai perempuan dibuka kasar, perempuan paruh baya terlihat menggenggam erat tangan Damar.


"Nah! Itu lihat! Bude gak salah lihat, bukan? Istrimu datang ke sini. Kau malah bilang kalau di keluar kota, mau bohongi Bude ya, gak bisa." Perempuan paruh baya itu menunjuk ke arah Dinar yang terpaksa mengulas senyum tipis.


Kedua pupil mata Damar terlihat membesar, kembali perempuan paruh baya itu melangkah mendekati Amira dan Dinar. Menarik-narik paksa Damar yang membeku, melihat kehadiran Dinar. Yang terlihat semakin cantik saja, padahal baru beberapa hari tak bertemu.


"Jangan tarik-tarik begini, Bude!" protes Damar.


Ningsih melepaskan tangannya dari pergelangan tangan sang keponakan, mengulurkan tangannya ke arah Damar. Membuat dahi Dinar mengerut dalam, karena telapak tangan yang berada tepat di depan muka Damar.


"CK! Ponselnya mana? Sini Bude foto kalian bertiga. Begini-begini Bude ini gaul juga, paham cara mefoto, loh. Mana ponselnya," ucap Ningsih dengan nada bangga.


Amira terkekeh kecil mendengar perkataan sang bibi, sontak saja Amira mengulur ponselnya ke arah sang bibi. Benda persegi panjang yang tergeletak di atas nakas ranjang, Ningsih menerimanya dengan ekspresi wajah antusias. Amira mengabil tepat di tengah-tengah keduanya, sebelum duduk di atas ranjang kamar pengantin yang penuh dengan riaasan. Mau tak mau Dinar dan Damar duduk di pinggir ranjang, kala tangan Amira merangkul keduanya.


"Bude hitung, ya," ucap Ningsih memberikan instruksi. Dan mereka bertiga sontak berpose, Amira mengulas senyum lebar. Dinar mengulas senyum tipis sedang Damar melirik ke arah Dinar di samping Amira. "Oke, satu, dua, ti—tiga!"


KLIK!


Satu gambar langsung terabadikan di layar ponsel Amira, Ningsih terlihat heboh. Sedangkan Dinar membuang pandangan matanya, lantaran mata tajam yang terus memperhatikan Dinar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2