Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 31. SINDROM COUVADE


__ADS_3

Denyutan pada kedua sisi dahi Dinar, membuat wanita hamil itu harus berada di apartemen seharian. Bagaimana tidak? Ibunya dinyatakan untuk sulit dibawa ke luar negeri, saat dievaluasi oleh sang dokter yang menangani. Lantas bagaimana kalau sudah begini? Dinar tidak mungkin untuk tetap di Indonesia.


"Aduh, plus dan minusnya, jelas banget. Sulit untuk berhadap dengan banyak orang," monolog Dinar terdengar nyaris memekik kesal.


TING! TONG!


Bel pintu apartemen menggema, Dinar sontak saja melirik ke arah pintu masuk. Siapa lagi yang datang menganggu, Dinar? Tidak mungkin kedua sahabat karibnya, keduanya akan mengirimkan pesan pada Dinar kalau ingin mampir ke apartemen.


Suara bel kembali menggema, tidak mungkin orang iseng. Dinar mau tak mau bangkit dari posisi duduknya, melangkah meninggalkan area sofa ruangan tamu. Bergerak ke arah pintu apartemen, seperti biasa. Dinar akan memilih mengintip di lubang pintu, takut-takut orang yang tidak ia kenal.


"Dinar! Dinar!" seruan intonasi berat itu memanggil namanya.


Dinar berdecak kesal, tangan Dinar meraih engsel pintu. Membukanya dengan perlahan, hanya menyisakan sedikit saja ruang yang terbuka. Kepala Dinar menyembul di balik pintu, melirik malas ke arah pemuda si tetangga gila.


"Apakah tidak ada hari tanpa mengangguku?" tanya Dinar sewot.


Guratan ekspresi kesal Dinar sungguh membuat gemas saja, inilah yang disukai oleh Mark. Rasanya semakin diganggu semakin garang, terlihat makin cantik. Mark cengengesan, dan mengangkat botol wine mahal yang ia bawa.


"Aku baru saja kedatangan beberapa botol wine, ini sungguh enak sekali untuk dicicipi. Lebih bagus dibanding dengan wine terakhir kali kita minum bersama, ku rasa kamu harus menyicipi wine satu ini," papar Mark terdengar panjang-lebar, seakan tengah mempromosikan produk yang ada di tangannya.


"Tidak udah, dan terima kasih," balas Dinar, menolak mentah-mentah.


"Eh! Tunggu dulu, dong. Kamu gak usah takut, ini kadar alkoholnya gak sekeras yang saat itu. Menghangatkan badan, jadi gak perlu khawatir," sahut Mark, kembali terdengar.


Dinar malah menghadiahi tatapan tajam pada Mark, lelaki ini kenapa sebegitu berisiknya dan menganggu ketenangan Dinar. Seakan-akan selalu tahu kapan Dinar ada di apartemen, dan kapan ia tak ada.


"Gak, aku gak bisa meminum wine saat ini," tukas Dinar, tegas.

__ADS_1


Mark panik, dengan gerakan cepat menahan pintu apartemen yang akan ditutup. Dorongannya perlahan ke dalam dengan hati-hati, takut-takut wanita itu malah terjatuh karena tindakannya yang tiba-tiba.


"Hei! Aku bisa melaporkan Anda pada pihak keamanan di bawah kalau Anda memaksa masuk seperti ini!" Dinar berteriak kesal, habis sudah kesabarannya.


Tenaga Dinar tentu saja kalah dengan Mark, lelaki dengan tubuh tegap berisi, kedua sisi masa otot lengan yang tampak keras. Mark tersenyum meringis, ia tidak tahu harus bagaimana.


"Aku ingin makan nasi goreng, tolong bikinin aku nasi goreng, ya!" Mark memelas pada Dinar, ia lapar.


Sayangnya seleranya ini aneh, sulit untuk Mark mengisi perutnya dengan benar. Masakan makanan mewah di restoran bintang lima, mendadak terasa hambar. Dicoba masakan di pedagang kaki lima malah tidak sesuai, mendadak ia berpikir untuk meminta sang kekasih hati membuatkan ia nasi goreng.


"Kalau lapar ya, tinggal beli di restoran. Aku ini bukan penjual nasi goreng," tolak Dinar, dahinya berkerut.


"Udah, semuanya sudah aku jajal. Tetapi gak ada yang pas di lidah, pagi-pagi selalu muntah. Siang-siang maunya yang asam, manis, pedas. Malam sulit untuk makan, tolonglah. Aku tidak akan seperti ini kalau tidak merasa kesulitan," jawab Mark, memelas pada Dinar.


Pupil mata Dinar membesar, ia memang tidak dalam keadaan seperti itu. Bawaan ibu hamil memang berbeda-beda, Dinar pikir jikalau anak yang kini ia kandungan tidak menyusahkan dirinya. Ia bisa tidur dengan nyaman, makan dengan baik, lalu mencium aroma berbagai parfum tanpa harus mual.


Jangan-jangan... sindrom couvade, wah! Dinar tidak percaya ayah dari sang janin mengalami sindrom couvade. Sangat jarang melihat para kaum pria mengalaminya, Mark Louis malah mengalami hal seperti ini.


"Oh? Ah, ya," sahut Dinar terkejut. Ia melirik ke arah Mark, kasihan juga. "Kalau begitu oke, aku buatkan. Untuk sekali ini aja, aku bukan pembokat Anda. Cukup sekali ini saja aku yang membuat makanan yang Anda mau, Tuan Mark. Setelah itu carilah cara lain untuk mengisi perut Anda," kata Dinar mengalah.


Mark mengangguk antusias, Dinar menghela napas kasar.


"Terima kasih, Honey," ujar Mark, mendapatkan delikan tajam dari Dinar.


"Silakan Anda duduk dengan tenang di sofa, ah, gak. Anda bisa kembali ke apartemen Anda saja. Kalau masakannya sudah selesai nanti akan aku antarkan," tutur Dinar, ada baiknya Mark kembali ke apartemennya saja. Selagi Dinar membuatkan nasi goreng.


Mark mengeleng cepat. "Gak bisa begitu dong, aku akan berada di dapur melihat Dinar memasak. Tenang saja, aku gak akan nakal. Duduk diam di kursi, aku janji!" Mark kembali memasang ekspresi wajah memelas. Bak anak kecil yang tengah meminta dibuatkan makanan kesukaan.

__ADS_1


Dinar berdecak sebal, setidaknya  ia hanya bisa membatu Mark seperti ini. Syukur-syukur lelaki ini tidak sadar, kalau dirinya tengah mengalami sindrom couvade.


"Ya, sudah kalau begitu. Duduk yang tenang selagi aku memasak." Dinar mengayunkan langkah kakinya ke arah dapur.


Mark mengangguk, ia mengikuti langkah kaki Dinar dari arah belakang. Ia suka sekali berada di sisi wanita satu ini, rasanya damai sekali. Mari berhenti di kursi meja makan, menghadap ke arah Dinar. Ia meletakan botol wine yang ia bawa ke atas meja makan. Dahinya berkerut kecil, saat samar-samar ia mengingat siluet Dinar dan ******* samar. Kepalanya mengeleng cepat, tidak mungkin Dinar dan dirinya tidur bersama. Dinar terlalu waspada, lantas apa arti mimpi basah yang seakan nyata itu? Apa karena Mark terlalu berpikir kotor?


...***...


Hampir saja Anjani memekik kecil, kala tubuhnya di sudutkan ke dinding dapur belakang rumah Damar. Aroma parfum mawar menyengat langsung menelisik masuk ke dalam paru-parunya, kepala Anjani mendongak. Matanya terbelalak mendapati siapa yang kini menyudutkan dirinya, senyum miring tercetak.


"Hidup bahagia sekarang, heem," katanya dengan nada mencemooh.


"Le—lepaskan aku, Pak! Nanti Bu Amira lihat," cicit Anjani tergagap.


Jaka mengendus-endus leher sang wanita, rasanya baru kemarin Anjani menunggangi dirinya dengan panas. Tak selang berapa minggu, Anjani tidak lagi pernah membiarkan ia menyentuh tubuh sintalnya. Dengan alasan Jaka akan menikah dengan Amira—adik kandung Damar.


"Lepaskan dulu, kita ngomong baik-baik," pinta Anjani memelas.


Jaka berdecak sebal, ia melepaskan perlahan mantan muridnya itu. Dan berdiri menghadap ke arah Anjani, manik mata Jaka turun ke bawah. Senyum sinis kembali terbit, jelas sekali anak itu adalah anak Jaka. Jaka tahu kalau Anjani main gila dengan Damar, calon kakak iparnya saat itu.


Kala tidur dengan Anjani sendiri, ia temui Anjani yang sudah tidak lagi perawan. Alasan mengapa Anjani menggodanya, tentu saja untuk hamil.


"Apakah putraku sehat di dalam rahimmu, Anjani?" tanya Jaka, menyeringai.


"Hati-hati kalau ngomong, ya, Pak! Bapak Jaka itu suaminya Bu Amira. Dan sebentar lagi aku akan menjadi Kakak Ipar Bapak, tolong yang sopan ngomongnya," bantah Anjani, wajahnya tampak pucat.


Jaka terkekeh renyah. "Kamu pikir aku bodoh, huh? Dia pasti mandul, kamu tidak mungkin setelah ditiduri oleh dia beberapa kali. Beralih padaku, Anjani. Aku gak bodoh, untuk mendapatkan Damar. Kamu rela naik di atas pangkuanku. Demi menjadi istri seorang Dosen, tapi kamu tenang saja. Aku gak akan bilang pada siapa pun, toh anak itu akan dibesarkan dengan baik oleh Damar. Tapi ingat satu hal, Anjani. Aku ingin kamu datang padaku, di setiap aku butuh pelepasan. Kalau tidak, maka aku gak akan sungkan-sungkan bilang. Kalau anak yang kamu kandung adalah anak dari lelaki lain," ancam Jaka dengan senyuman lebar.

__ADS_1


Suara Amira memanggil nama Jaka terdengar jelas, Jaka membalikkan tubuhnya meninggalkan Anjani yang bergetar hebat. Ia merosot di rerumputan, bagaimana jika Damar tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Bersambung...


__ADS_2