
Sayangnya Dinar tidak akan gentar dengan apa yang dilakukan oleh Damar padanya, senyum sinis itu tercetak jelas di bibir merah merekah itu. Apakah Damar memang seperti ini aslinya, kemana larinya Damar yang berbicara bak pria yang bermartabat? Pria ini tidak lebih rendah dari pada anjing jalan. Yang bisa dengan muda mengawini betina mana pun, Dinar tak menyangka jika Dinar selama ini salah pilih. Di mana otak Dinar saat itu? Kenapa terpesona dengan Damar. Ah, Dinar lupa, kalau saat itu. Damar mengejar-ngejar Dinar dengan cara yang luar biasa menggetarkan hati, Dinar lupa. Mereka yang serius sekalipun, masih belum tentu memiliki rasa setia pada seorang wanita.
Tangan Dinar terlihat bergerak, menyentuh sisi wajah Damar. Ekspresi pria itu terlihat begitu dalam, menatap Dinar. Dengan pandangan berkabut penuh gairah yang menggelora, kedua kelompok mata tajam itu terpejam perlahan. Lantaran jari jemari tangan lentik Dinar menari-nari di wajahnya, tanpa ia sadari Dinar tersenyum remeh.
"Apakah aku terlihat begitu menggoda?" tanya Dinar dengan intonasi rendah.
Damar membuka kelopak matanya, dan tersenyum evil. "Ya, kau terlihat begitu menggoda."
"Lalu apakah aku mengairahkan?" tanya Dinar kembali seakan wanita cantik ini tengah mengkonfirmasi tentang dirinya di mata Damar.
"Tentu saja, sangat! Kau terlihat begitu panas." Damar menjawab dengan nada serak basah.
"Oh, begitu ternyata," sahut Dinar perlahan. "Aku tidak suka berada di bawah kuasamu."
"Kau mau berada di atasku?" tanya Damar dengan ekspresi bernafsu.
"Ya, boleh bukan?"
"Ya, tentu saja," jawab Damar antusias.
__ADS_1
Senyum di bibir Dinar terlihat tercetak mengembang, pahanya terlihat turun. Memperlihatkan seberapa putihnya, senyum aneh terbit di wajah Dinar.
"Kalau begitu mari kita—akh!"
BUG! BRUK!
Pergerakan tungkai kaki kanan Dinar patut diacungi jempol, ia menghantam tepat sasaran. Hingga Damar langsung berguling jatuh ke lantai, telapak tangan tangannya terlihat menyentuh adik kecilnya. Dinar bangkit dari posisi duduknya, dengan sebelah kaki disilangkan. Jangan lupa dagu diangkat tinggi ke atas, tangan dilipat di bawah dada. Pandangan angkuh melihat Damar yang mengerang kesakitan dengan tubuh berguling-guling, menahan sakit. Dinar ingat apa yang dikatakan oleh gurunya, jikalau saat tendangan keras mengenai milik pria. Melebihi sakit orang yang melahirkan, setidaknya menyenangkan melihat Damar harus mengerang sakit seperti itu.
Dan maafkan jika Dinar berdoa agar milik pria itu pecah atau patah, Dinar tidak peduli. Agar setidaknya Damar bisa tahu, sakit yang Dinar rasakan.
"Apa yang kau katakan tadi? Menggodamu? Kau pikir kau siapa? Sampai aku harus menggodamu yang bukan siapa-siapa. Kau bahkan lupa, apa yang kau katakan. Aku tidak mengairahkan, tidak lagi menarik, hah! Kau pikir aku ini pelacur pribadimu? Jangan sesekali merendahkan aku, lagi Damar. Karena apa yang aku korbankan untuk kau dan keluargamu lah yang membuat penampilanku tak terurus. Lalu setelah itu? Melihat bunga yang kau punya layu, kau berlari melihat bunga yang baru kembang. Cukup tahu aku, pribadi pria sepertimu ini!" seru Dinar dengan nada dingin.
"Dan terakhir, kau jangan mencoba menemui aku lagi. Melihat mukamu saja aku mual," peringat Dinar.
Sebelum kedua kakinya melangkah meninggalkan rumah minimalis itu, Damar mendengar semua ucapan Dinar. Sayangnya keadaan adiknya yang berdenyut sakit tidak bisa membuat Damar membalas perbuatan atau perkataan Dinar. Wanita itu meraih sepatu high heels di rak sepatu, sebelum menyelonong keluar dari rumah.
Dinar harus menyelamatkan dirinya dahulu, terserah apa yang akan dilakukan oleh Damar saat marah. Kerugian materiil masih bisa Dinar cari, tapi kalau fisiknya yang kenapa-napa. Dinar tidak mau.
***
__ADS_1
Hampir saja Eva dan Putri menyemburkan air minum yang baru saja masuk ke dalam mulutnya, keduanya langsung menatap Dinar dengan pandangan khawatir. Takut juga keduanya, sang sahabat kenapa-napa mengingat Damar termasuk orang yang gila. Buktinya bisa berselingkuh dan menghamili anak gadis orang, membuat keduanya tak habis pikir.
"Tapi kau tidak sempat dipukulkan sama dia? Atau apakah dia melakukan hal gila padamu?" tanya Eva panik.
"Ya, kalau dia melakukan sesuatu, ayo! Kita ke kantor polisi. Ah, tidak mau harus divisum dulu sebagai bukti. Agar ada yang bisa memberatkan hukuman dia," timpal putri dengan intonasi panik.
"Eva! Putri! Tenang. Aku baik-baik saja tidak ada yang tergores. Karena aku juga sebenarnya takut diapa-apakan sama dia, apalagi ada banyak kasus pembunuh yang terjadi di negara ini. Kalian tenang saja. Yang sekarang aku pikirkan ada menjual rumah itu, aku tidak ingin tinggal di sana lagi. Aku ingin punya rumah baru, gak masalah berapa besar pun rumah itu. Yang penting ada rumah baru," sahut Dinar mencoba menenangkan para sahabat.
Baik Eva maupun Putri mengembuskan napas lega mendengar jawaban Dinar, yang penting sahabatnya baik-baik saja. Ada banyak kasus KDRT, di mana sang suami memukuli istri ditempat-tempat tak terlihat. Agar tidak ada yang curiga, apalagi Damar adalah seorang dosen. Pria itu berpendidikan, bisa saja pria itu memukul punggung Dinar, atau kepala Dinar. Karena akan sulit untuk dilihat secara kasat mata, syukurnya Dinar adalah wanita yang hebat.
"Syukur, deh, Din! Hampir saja kami berdua kena serangan jantung. Berani dia macam-macam padamu, kita akan mempermalukan dia di depan umum," sahut Eva yang sedikit bar-bar.
Dinar mendengarnya tertawa kecil, sedangkan Putri ikut terkekeh. Eva memang paling gila di antara Dinar dan Putri, perempuan hitam manis itu tidak suka dengan Damar. Sebenarnya sedari awal Eva sedikit menentang keputusan Dinar yang menikah dengan Damar, lantaran Eva merasa tak akan ada bagusnya jika Dinar yang berkorban. Hanya satu pihak saja yang memikirkan dan mencintai, sedangkan Damar? Pria itu asik dengan uang Dinar. Dengan kerja keras Dinar, Damar dikuliahkan sampai S2.
Banyak hal Dinar mengalah untuk Damar, Eva tidak suka. Pada akhirnya perasaan tak enak yang dirasakan oleh Eva terbukti, Damar tidak membalas kebaikan Dinar. Malah pria itu menyakiti, merendahkan, dan melukai Dinar sedalam ini.
"Setuju mah aku sama Eva, kau jangan pernah mau lagi mengalah atau berkorban demi lelaki sebrengsek, Damar. Kau itu cantik Dinar, kau itu wanita yang mandiri Dinar! Kau itu layak diperlukan seperti ratu, dimiliki oleh pria yang bisa meratukan dirimu. Aku memperlakukan dia seperti raja, pada akhir dia malah merasa menjadi seorang raja beneran. Cih, dia benar-benar menjijikkan," dumel Putri ikut kesal.
Dinar hanya menarik senyum masam, Dinar tahu itu. Cukup jadi pelajaran hidup saja bagi Dinar, meskipun begitu. Dinar akui, ia mulai kembali merasa trauma.
__ADS_1
Bersambung...