
Aroma masakan mengudara membuat perut siapa saja akan kelaparan jika menciumnya, Dinar memperhatikan kotak bekal yang ia buat. Mark benar-benar diambang batas, pemuda itu beberapa kali menyusahkan Dinar. Yang awalnya hanya meminta sekali saja membuatkan makanan, nyatanya Dinar harus beberapa kali membuatkan Mark makanan. Sarapan pagi, lalu makan siang, dan terakhir direcoki saat makan malam.
"Hah!" desah Dinar lelah. "Apa yang sebenarnya aku lakukan? Mau sampai kapan aku melakukan hal seperti ini, kalau bukan karena rasa bersalah. Ogah banget membuat masakan untuk pria sinting satu itu," dumel Dinar.
Dinar merapikan kotak bekal, memasukan ke dalam paper bag khusus tempat makanan, ia melangkahkan ke arah pintu ke luar apartemen. Berdiri di depan pintu apartemen Mark, Dinar tahu kode pin apartemen Mark. Sang tetangga tak sungkan membagikan kode pin apartemennya hanya untuk Dinar, memudahkan perempuan cantik satu ini keluar-masuk ke dalam apartemen. Jari jemari lentik Dinar tampak memasukan kode pin, bunyi kunci pintu terbuka dengan cepat Dinar mendorong pintu ke dalam. Baru saja masuk ke dalam apartemen, suara Mark mengalun jelas.
"Dia mual lagi," monolog Dinar, melirik ke arah pintu kamar mandi luar yang terbuka lebar.
Dinar menutupi perlahan pintu masuk, melangkah mendekat ke arah kamar mandi luar. Suara Mark memuntahkan cairan bening masih jelas Dinar ditangkap oleh indera pendengarannya, sengsara sudah lelaki yang telah menghamili Dinar. Tangan Dinar bergerak meletakan asal paper bag di atas meja sofa, sebelum kembali melanjutkan langkah kakinya mendekati pintu kamar mandi.
Mark terkejut kala ia merasakan ada yang menepuk-nepuk kecil punggung belakangnya, mengusap perlahan lehernya. Dahi Mark tampak dipenuhi oleh keringat sebesar biji jagung, mulutnya pahit. Mark perlahan dibantu berdiri menuju ke arah wastafel, membasuh bibirnya. Dinar dengan cekatan meraih tisu menyerahkan ke arah Mark, tanpa kata. Mark mengusap kasar bibirnya, manik matanya melirik siluet Dinar yang dipantulkan oleh kaca.
"Makasih," gumam Mark terdengar lemah.
Dinar mengangguk kecil, sebagai jawaban. "Ayo, aku bantu duduk di sofa," ujar Dinar, melirik khawatir ke arah Mark.
Mark mengangguk lemah, keduanya keluar dari kamar mandi. Dinar membatu Mark duduk di sofa, perempuan hamil muda itu bergerak ke arah dapur yang tidak disekat. Ia meraih gelas lalu melangkah menuju dispenser, menuangkan sedikit air panas dicampur air dingin. Dinar mengayunkan langkah kakinya ke arah sofa, mengulurkan segelas air hangat kuku ke arah Mark.
__ADS_1
"Minumlah, setidaknya ini akan membuatmu sedikit lebih baik," ucap Dinar, lembut.
Mark dengan senang hati meraihnya, minum beberapa teguk saja. Sebelum diberikan kembali ke arah Dinar, oke! Kali ini Mark kehabisan tenaga. Sebenarnya penyakit sialan apa yang tengah menghancurkan pagi indah seorang Mark Louis? Sang casanova untuk pertama kalinya mengutuk mual di pagi hari yang ia alami.
"Aku rasanya lemas sekali," gumam Mark lirih, manik matanya terlihat meredup. Gombalan dan godaan yang biasanya ia lemparkan kala bersama Dinar, hilang entah kemana. "Bisakah kamu membantuku hari ini? Aku tidak akan bisa ke kantor. Temani aku di sini, ya," lanjutnya, menatap Dinar dengan ekspresi wajah berharap.
Dinar diam untuk beberapa saat, manik mata Dinar melirik ke arah peluh yang menetes deras di dahi Mark. Kasihan, mungkin satu kata yang dapat Dinar definisikan saat ia melihat ayah biologis dari sang janin. Kalau saja Dinar yang mendapatkan siklus ngidam, dan morning sick satu ini. Sudah pasti ia kesusahan, setidaknya ia cukup bersyukur tidak mengalami kepayahan dalam masa kehamilan.
"Ya, sudah. Tapi jangan macam-macam," sahut Dinar, memperingatkan Mark.
Mark terkekeh lemah. "Jangankan untuk macam-macam, Dinar. Satu macam saja aku tak kuat, karena kehabisan tenaga," balas Mark jujur.
"Kita ke rumah sakit saja, aku akan mengantarkan kamu ke rumah sakit. Mungkin bisa saja di infus untuk mengembalikan cairan tubuhmu," tutur Dinar, mendapatkan gelengan lemah dari Mark.
"Jangan! Aku benci rumah sakit. Bawa aku ke kamarku, dan tolong hubungi Dokter keluargaku. Nomor teleponnya ada di ponselku," tolak Mark, ia sesungguhnya sangat tidak suka rumah sakit.
Aroma obat-obatan, terutama pada kenangan buruk yang membuat ia merasa semakin pening saat dirawat di sana. Dinar menelisik ekspresi wajah Mark, yang tampak mulai berangsur pucat. Dahi Dinar berlipat, kalau dokter pribadi pria ini dipanggil. Apakah tidak masalah? Bisa saja sang dokter membocorkan apa yang terjadi pada Mark.
__ADS_1
"Ah! Bagaimana kalau begini saja. Aku punya kenalan Dokter, ku rasa dia bisa membantuku untuk memeriksa keadaanmu," usul Dinar, mendapatkan tatapan tak mengerti dari Mark. "Kalau Dokter keluargamu yang memeriksa, bisa saja dilarikan secepatnya ke rumah sakit 'kan? Karena kayaknya kamu emang butuh dirawat di rumah sakit," sambung Dinar memberikan alasan pada Mark.
...***...
"Kenapa lagi, Anjani?" tanya Damar dengan ekspresi wajah lelah.
Dosen muda satu ini baru saja selesai dari mengurus surat kepindahannya dari Jakarta ke Medan, membuat ia lelah. Belum lagi ia harus mengadakan acara perpisahan dengan para dosen di universitas tempat ia diberikan kesempatan untuk mengajar. Pulang-pulang harus mendengarkan rengekan Anjani, perempuan hamil besar satu ini terlihat langsung cemberut. Lantaran reaksi Damar di luar ekspektasi Anjani, ia pikir Damar akan memeluk dirinya dan menenangkan Anjani.
"Mas kok gitu, sih? Aku tuh capek seharian di rumah ini, Mas. Mana mamanya Mas seharian menyusahkan aku, tolong ini lah. Lalu kerjakan yang itu lah. Padahal aku belum jadi menantu sah rumah ini, tetapi udah kayak jadi babu," adu Anjani kesal, ia manyun.
Damar memijat kecil sisi dahinya, mendesah berat. Rasanya Dinar tidak begini saat bersama keluarga Damar, mantan istrinya itu saat PDKT dengan Damar benar-benar hebat. Tidak pernah mengadu apalagi mengeluh seperti Anjani, semua anggota keluarga Damar suka dengan Dinar. Baik itu keluarga inti, maupun sanak saudara jauh.
"Mas dengar, gak sih? Aku lagi ngomong ini," ujar Anjani, mengerutkan dahinya.
Damar mendesah kasar, manik mata tajamnya terarah pada wajah Anjani. "Gak bisakah kamu melihat aku itu lelah Anjani, hampir seharian di luar melakukan banyak kegiatan. Sampai di rumah ini mau istirahat Anjani, boro-boro kamu nyiapin kopi dan makan untukku. Baru aja aku sampai sudah harus mendengarkan rentetan keluh-kesahmu, soal keluargaku. Belum jadi menantu dari keluargaku saja kamu sudah begini. Apalagi kalau sudah jadi menantu, yang ada apapun acara di rumahku. Kamu malah gak akan mau datang buat membatu," sahut Damar, ekspresi wajahnya tampak merah padam.
Mulut Anjani terbuka lebar, ekspresi wajahnya tak percaya. "Mas aku itu akan jadi istrimu dan menantu keluargamu, bukan pembantumu atau pembantu dalam keluargamu, Mas! Zaman sekarang udah berubah Mas. Harusnya Mas itu paham, anak-anak sekarang itu gak bisa diberlakukan kayak menantu zaman baheula, menantu harus tunduk sama mertua. Dan istri harus tunduk sama suami, kalau nikah ya, kita sederajat dong. Mas maupun aku itu, sama. Aku seharian bawa anak Mas, ke sana dan ke sini. Lah, Mas cuma gak aku bikinin minum aja langsung marah. Cuma dengerin curhatan aku aja langsung begini," cerocos Anjani yang ikut marah.
__ADS_1
Damar mengeraskan kedua sisi rahangnya, untung wanita di depannya ini sedang hamil anaknya. Kalau tidak, sungguh! Damar sudah pasti langsung melayangkan tamparan lantaran dinilai direndahkan oleh Anjani.
Bersambung...