
Air mata Dinar tumpah ruah, Dinar menyusuri trotoar jalan. Dengan air mata yang terus mengalir, Dinar mungkin bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh di depan keluarga Damar. Karena pantang bagi Dinar untuk terlihat menangis karena perkataan Damar, mengemis cinta? Tidak akan pernah Dinar lakukan. Dinar bukan perempuan lumpuh akal, yang akan menangis dan mengemis di kaki Damar. Hanya untuk tidak diceraikan, atau meminta untuk Damar memutuskan si selingkuhan. Tidak akan pernah! Pantang bagi Dinar merendahkan harga dirinya dengan seorang wanita, lantaran Dinar pernah melihat sang ibu menyembah pada kaki sang ayah. Saat sang ayah, mau meninggalkan mereka. Dinar melihat bagaimana sang ibu dihina lantaran terus menyembah pada sang ayah, dan bagaimana senyum lebar dari wanita yang menghancurkan rumah tangga kedua orang tuanya. Kini, karma sang ayah, Dinar yang membayar tunai.
Ada banyak mata yang menatap aneh ke arah Dinar, melihat seorang wanita di malam hari menangis. Dinar masa bodoh, dengan ekspresi orang-orang menatapnya. Munafik jika Dinar berkata dirinya baik-baik saja, tidak ada seorang wanita yang akan baik-baik saja setelah di khianati. Dan dipermalukan di depan keluarga si suami, dikatakan mandul. Perkataan yang bak pedang yang langsung menancap ke ulu hati, Dinar. Membuat Dinar menangis sesenggukan, sebelum berhenti di trotoar jembatan.
Kedua tangannya meremas besi pembatas, membelakangi orang-orang. Di bawah flyover, terlihat kendaran melaju dengan kecepatan standar. Pandangan mata Dinar mengabur, otaknya mendadak kacau. Air mata terus menerus membasahi pipi, pernikahan kandas. Diterpa orang ketiga, dengan dalih Dinar mandul. Kenapa selalu pihak wanita yang disalahkan, kenapa harus wanita yang dianggap penuh kekurangan.
Bibir Dinar bergetar hebat, berusaha keras mengatup rapat bibirnya. Kedua kelopak mata Dinar terpejam, hingga air matanya tumpah ruah. Embusan napas perlahan mengalun, Dinar mengangkat kedua tangannya. Mengusap kasar kedua pipinya, apa salahnya? Dinar tidak temukan satu pun kesalahannya. Yang salah di diri Dinar hanya lah satu hal, terlalu setia.
"Dinar! Jangan bodoh. Jika dia yang mencampakkan kamu, jangan seperti ibumu. Hidup akan terus berjalan, matahari akan kembali terbit. Kuat 'kan hatimu, dan kembali tata masa depanmu. Jangan lakukan hal bodoh, hanya karena pria brengsek itu menceraikanmu. Kau harus mati? Jangan bodoh. Semakin dia menginjakmu, maka injak kembali mereka semua. Sampai ke akar-akarnya. Damar! Kau tunggu saja, aku bukan wanita bodoh. Aku bahkan bisa melakukan semuanya tanpa kau, tapi kau! Kau tidak bisa tanpa aku. Oke, aku akan menerima luka yang mau berikan. Tapi jangan, lupa. Kau juga akan aku injak dua kali lipat dari yang aku dapatkan." Dinar bergumam dengan geraham bergemerak.
Bahkan kedua matanya terlihat memerah, dengan pandangan tajam. Dinar bukan wanita bodoh, hanya karena perasaan cinta. Dinar harus mengemis? Dan mau terima saja. Tidak, semut saja terinjak bisa mengigit. Lalu manusia terinjak harus mengemis, tidak akan pernah. Kehidupan Dinar pernah lebih hancur dari ini, semuanya dilewati dengan baik-baik saja.
***
Damar hanya diam mendengarkan kemarahan Jon padanya, sedangkan Sri mengusap pelan kedua sisi pelipisnya. Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang? Anak pertama berselingkuh, dan selingkuhan sang putra malah tengah hamil. Di saat Amira, akan menikah. Kenapa Damar harus membuat mereka pusing seperti ini? Apa yang akan dikatakan oleh para tetangga.
__ADS_1
"Lalu Papa dan Mama, maunya apa?" tanya balik Damar dengan nada kesal. Kenapa orang tuanya terus membela Dinar. Yang menjadi anak mereka adalah Damar, bukan Dinar.
Jon langsung berkacak pinggang, si bungsu malah tidak mau keluar kamar. Sebab kesal pada sang kakak, kecewa karena Damar malah menghancurkan hati Dinar. Sebelum Dinar dan Damar menikah, Amira lebih dahulu akrab dengan Dinar. Gadis itu tahu betul bagaimana Dinar, wanita yang begitu baik. Tidak banyak gaya, wanita yang cocok menjadi istri sang kakak. Tapi malah terjadi hal yang tidak menyenangkan, Amira malu.
"Kau... kenapa tega sekali pada Dinar? Apakah kau lupa. Dia berhenti dan memutuskan untuk tidak sekolah ke luar negeri. Saat itu dia mendapatkan beasiswa ke Paris. Demi kau, dia melepaskan semuanya. Tapi, ini apa? Kemarin sudah sempat kita katakan. Menjauh dari gadis ingusan itu, kau... bisa-bisa aku cepat mati kalau begini," kesal Jon pada sang putra.
"Ya, Damar. Kau, apakah kau tidak ingat bagaimana Dinar membatu keuangan keluarga kita. Membantumu untuk menjadi seorang Dosen, mengorbankan kehidupannya. Impiannya, Nak! Bahkan binatang saja tidak akan melupakan kebaikan manusia lain Padanya. Kau, seorang manusia, tapi malah lupa dengan kebaikan istrimu sendiri," timpal Sri dengan nada pelan.
Mendengar perkataan orang tuanya, Damar langsung bangkit dari posisi duduknya. Damar marah, mendengarnya.
"Oh, jadi aku lebih rendah dari binatang? Hanya karena perasanku berubah. Hanya karena dia berikan uang pada keluarga kita. Oke, aku akan ganti semua uang dia. Berapapun dia mau, aku tidak bisa hidup dengan perempuan monoton seperti dia. Perempuan yang bahkan tidak bisa memberikan keturunan padaku," balas Damar dengan nada marah.
Sri mengembuskan napas kasar mendengar jawaban Damar, hati Sri nyeri. Putranya berubah begitu jauh, sifat rendah hati. Damar entah ke mana, apakah karena Damar menjadi seorang dosen. Memiliki banyak uang, membuat putra mereka berubah.
"Apa yang salah dengan itu semua, Pa! Ma! Kalian malah menghakimi aku seperti ini. Kalian tidak senang melihat putra kalian bahagia, begitu?"
__ADS_1
Damar masih mencoba untuk membela diri, atas kesalahannya. Sri mengeleng keras, Damar mungkin benar putranya. Namun, Sri dan Jon benci dengan kesalahan putra mereka, Jon mendorong keras sang putra keluar dari rumah. Sempat terjadi perdebatan, sebelum Damar menghempas pintu dengan keras. Deru mesin mobil menyala terdengar, sebelum meninggalkan halaman rumah mereka.
***
BUK!
Koper besar langsung dilempar oleh Dinar saat Damar berada di depannya. Kedua tangan Dinar berlipat di bawah dada, dagu Dinar terangkat tinggi. Dinar tidak memiliki dosa apapun, apalagi kesalahan. Anak adalah rezeki, bukan manusia yang mengatur. Anak mungkin tidak hadir di rahim Dinar, dan bukan berati wanita akan jadi rendah hanya karena tidak bisa memberikan keturunan.
"Jangan lupa, rumah ini atas namaku. Aku yang beli," ucap Dinar dengan nada angkuh.
Damar mengangguk pelan, dan berkata, "Tentu saja aku ingat. Perempuan angkuh dan congkak sepertimu ini. Tidak akan ada lelaki yang tahan, lihatlah penampilanmu. Tidak menggairahkan, kau bahkan tidak bisa menyulut nafsuku. Bagaimana bisa kau akan menarik lelaki lain untuk mencintaimu."
Hati Dinar sakit mendengarnya, namun, kedua sudut bibirnya ditarik tinggi. Melengkung membentuk sebuah senyuman cerah, hanya untuk tidak terlihat bodoh. Air mata? Oh, jangan harap. Dinar tidak akan mengeluarkan satu tetes pun di depan mata Damar.
"Apakah kamu lupa ada istilah 'rumput tetangga lebih hijau daripada rumput di halaman rumah kita?' kau mungkin melihatku tidak lagi menarik. Karena kau sudah memiliki aku, tapi kau lupa. Di mata lelaki di luar sana aku terlihat begitu menarik, bernafsu? Hahaha. Owh, kau sungguh lucu. Jika cinta itu adalah nafsu bagimu, tentu saja aku bukan wanita yang cocok untukmu. Karena wanita yang cocok bagimu adalah wanita yang siap membuka kedua pahanya untuk semua lelaki. Aku wanita berkelas, hanya salah pilih saja. Bagaimana bisa aku memilih pria rendahan sepertimu. Yang tentu saja jangankan untuk berada di atasku. Menyamakan aku saja kau tidak akan mampu, dan well, gelarmu aku yang memberikan. Dosen Damar, yang kurang akal. Dan otak ************!" balas Dinar sebelum menatap Damar dengan ekspresi merendahkan.
__ADS_1
Damar mengeraskan kedua sisi rahangnya, sebelum menarik koper tanpa kata. Melangkah menuju pintu keluar, wajah angkuh Dinar terlihat perlahan-lahan berubah. Kepalanya menunduk, kedua kakinya terasa lemas. Mendengarkan perkataan Damar, menjadi hatinya kembali terluka.
Bersambung....