Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 24. KURANGNYA RASA SYUKUR


__ADS_3

Damar meremas kertas di tangannya hingga tak lagi berbentuk, kedua sisi rahang Damar mengeras. Bagaimana bisa? Damar mendapatkan surat pemindah Damar yang dinilai secara mendadak. Tak cukup di sana saja, Damar dipindahkan ke daerah di luar pulau Jawa. Pria bermata tajam itu harus pindah ke Medan.


"Mar! Itu benar, surat pindah?" tanya Rendi takut-takut.


Rendi satu profesi dengan Damar sudah berteman sejak lama dengan Damar, bedanya Rendi berasal dari keluarga kaya. Hingga mendapatkan semua yang terbaik, yang tak pernah bisa Damar dapatkan dari kedua orang tuanya.


Keluarga Damar tidak pernah memberikan dukungan seperti keluarga pada umumnya, Damar berjuang sendiri. Sampai dipertemukan dengan Dinar, wanita cantik yang membuat Damar terpukau. Apalagi Dinar terlihat sangat bersungguh-sungguh untuk bisa bersama Damar.


Wanita itu penurut sekali, apapun yang Damar katakan. Dinar akan langsung melakukan itu, apa yang tidak Damar suka. Maka Dinar akan menjauhinya, sebelum Damar mulai merasa jenuh. Dengan hubungan mereka, Dinar yang serba sibuk. Dan selalu terlihat terdepan dari pada Damar.


Damar rendah diri kalau bersanding dengan Dinar, perempuan itu terlalu mandiri di mata Damar. Apa-apa bisa dilakukan sendiri, hingga Damar mulai merasa kesenjangan dalam rumah tangga mereka. Terkadang pria ini bertanya, sebenarnya fungsi Damar dalam rumah tangganya dan Dinar itu apa? Lantaran mantan istrinya itu terlalu sempurna.


Hingga Damar bertemu dengan Anjani, gadis remaja yang manja. Merengek dengan ekspresi imut, serta mendewakan Damar. Merasa tak bisa hidup tanpa Damar, terkadang mereka bertengkar kecil. Terasa lebih berwarna dibandingkan dengan hubungan rumah tangga Damar dan Dinar, ini menjadi alasan utama Damar selingkuh dari sang istri.


"Ya, ini surat pindah. Sialan sekali pria tua itu. Pasti dia yang sengaja medepakku dari Universitas ini," gerutu Damar kesal.


Sebelah alis mata tipis milik Rendi terangkat tinggi, siapa yang sedang dibahas oleh Damar. Rendi tidak tahu, Damar terdengar mengerang kasar.


"Siapa yang kau maksud, Damar?" tanya Randi tidak mampu membendung rasa penasarannya.


Damar menoleh ke samping, ia kembali berdecak sebal. "Siapa lagi kalau bukan mantan Ayah mertuaku. Karena cuma pria tua bangka itu yamg memiliki kekuasaan untuk memasukkan dan mengeluarkan orang seperti aku. Keluarga kaya memang seenak jidatnya, mentang-mentang keluarga berpengaruh," sahut Damar medumel.

__ADS_1


Rendi mengeleng kecil, kalau dilihat dari kaca mata Rendi sendiri. Damar Wijayanto sudah sangat sempurna kehidupannya, memiliki seorang sosok istri sehebat Dinar. Siapa yang tak tahu dengan jasa Dinar untuk Damar, kalau boleh Rendi jujur.


Dosen fisika ini tak pernah membayangkan kalau keduanya berakhir pisah, menjadi mantan. Setelah apa yang Dinar korbankan untuk Damar, dan seberapa cintanya Dinar pada Damar. Hingga terkadang banyak yang mengatakan Dinar itu bodoh, menikahi Damar. Menjadi perempuan yang mau melunasi hutang Damar, lalu membantu sang teman menjadi dosen tetap di universitas ternama.


Semuanya mulai hancur dan kacau, saat Damar malah menceraikan Dinar. Tak banyak yang tahu kalau Damar sudah menjadi seorang duda, kecuali Rendi. Dan tak ada yang tahu pula kalau pria yang kini mendumel sudah menyelingkuhi sosok istri yang hebat.


"Yeah, kalau aku yang jadi ayahnya Dinar. Juga pasti melakukan ini pada mantan menantuku, ah, tidak. Mungkin saja lebih parah dari ini," imbuh Rendi membuat Damar melotot.


"Kau gila," kesalnya.


"Hei, coba kau pikirkan. Ayahnya Dinar sudah cukup baik, untuk masih membiarkan kau menjadi Dosen di universitas lain. Andaikan dia malah membuat semua universitas menolak kehadiranmu, untuk bergabung. Kau mau bagaimana?" tanya Rendi mencoba membuka kedua mata Damar lebar-lebar.


Pria ini tidak pernah bersyukur dengan apa yang dimiliki, dan terlalu lalai untuk paham. Dan jauh dari kata terlambat untuk menyadari apa yang membuat Damar bisa menjadi sosok yang sekarang, dan bagaimana bisa ia mendapatkan posisi hebat ini.


"Nah, inilah salah satunya. Kesalahanmu, kau hanya mau melihat dari arah yang ingin kau lihat, tanpa benar-benar tahu dari kaca mata yang berbeda. Apakah kau tahu seperti apa kehidupan orang lain secara jelas, kau selalu fokus pada dirimu sendiri. Lalu menilai orang lain," balas Rendi dengan intonasi nada berat. "Aku mungkin dibantu dengan keuangan. Tidak kurang, aku akui itu semua benar adanya. Tetapi, aku tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuaku. Dan waktu dari mereka, kehangatan keluarga yang tidak semua anak-anak sepertiku miliki," lanjut Rendi.


"Lah, cuma waktu aja. Kau malah mengeluh. Apakah kau tahu rasanya hidup menjadi saingan pasanganmu sendiri. Dia semakin naik tinggi, sedangkan kau selalu berada di bawahnya. Dan apakah kau tahu, rasanya menjadi orang yang selalu saja dimintai uang. Seakan kau adalah bank berjalan," sahut Damar kesal.


Kepala Rendi sontak mengeleng, bukan ini yang Rendi maksud. Yang coba pria ini katakan adalah tidak ada kehidupan manusia yang sempurna namun, sepertinya tak bisa ditangkap dengan baik. Damar hanya ingin mengadu nasib mereka, tanpa mensyukuri apa yang dia dapatkan tapi tidak Rendi dapatkan. Begitu pula sebaliknya.


***

__ADS_1


Bibir Dinar berdecak kagum melihat pemandangan yang menyorot ke arah bawah sana, Jackson tersenyum lebar melihat bagaimana kagumnya sang wanita. Binar-binar kebahagiaan terpancar dari kedua manik mata Dinar, dokter tampan itu melepaskan jaketnya. Dengan telaten menyematkan ke arah bahu Dinar.


Dinar terkejut, ia menoleh ke arah Jackson. Pria itu tersenyum lebar, hingga kedua sisi matanya tampak segaris. Menghilang dari peredaran, terlihat lucu di mata Dinar. Membuat wanita itu sontak ikut tersenyum karenanya.


"Di sini sangat dingin kalau sudah selesai magrib," ujar Jackson dengan nada lembut.


Mereka berada di puncak, ada dua teman Dinar yang ikut. Wanita ini tak akan berani berpergian sendirian, ada Putri dan Eva yang menemani. Keduanya terlihat sibuk dengan kegiatan membakar jagung dibelakang, Jackson menawarkan ketiganya untuk berlibur ke vila di puncak. Menjamin kalau pemandangan yang disuguhkan akan membuat mereka terpukau, benar saja.


Apa yang dikatakan oleh dokter muda itu tak salah, dan semua persediaan untuk mereka berempat sudah disiapkan.


"Dok—eh, kamu sendiri juga pasti dingin," jawab Dinar dengan nada pelan, hampir saja memanggil Jackson dengan panggilan dokter. Seperti biasanya.


Pemuda di samping Dinar ini meminta menghilangkan panggilan formalitas di antara mereka berdua, meskipun Jackson lebih tua dari Dinar beberapa tahun. Ia keukeh meminta Dinar untuk memanggil namanya saja, biar lebih akrab. Jackson memangku kedua tangannya di depan dada, baju rajut yang digunakan dilapisi oleh kaus berlengan panjang. Pria ini sepertinya sudah siap sedia, untuk menghalau udara dingin.


"Lihatlah, aku memakai pakaian tebal Dinar," ujarnya.


Dinar memperhatikan dengan saksama, benar saja. Dokter muda itu berpakaian tebal namun, kenapa masih memakai jaket kulit. Hingga Dinar pikir kalau Jackson tidak memakai pakaian tebal di dalam, hanya memakai jaket.


Dinar membatu kala Jackson malah mengikis jarak di antara mereka, memasangkan kancing paling atas. Degup jantung keras mengisi kekosongan nada di antara mereka, kedua pupil mata Dinar membesar mendengar debaran jantung Jackson yang sangat keras.


Bersambung...

__ADS_1


Ayo, dukung siapa nih kakak-kakak?🤭🤭🤭


__ADS_2