Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 5. KARENA KAU, MANDUL


__ADS_3

PUK!


Pukulan di bahu kanannya, membuat Dinar tersentak. Pandangan matanya dibawa ke arah wajah sang suami, dahi Damar terlihat berkerut dalam. Melihat tingkah aneh Dinar, Damar mengulurkan kembali buket bunga pada Dinar.


"Ini, ambillah. Kok, malah bengong begitu?" tanya Damar pada Dinar.


Dinar mendesah letih, ternyata apa yang terjadi hanyalah khayalan. Amarah yang tidak bisa Dinar lemparkan pada Damar, hati istri mana yang akan berbahagia melihat suaminya. Bermesraan dengan seorang gadis remaja, hingga masuk ke sebuah hotel. Dinar masih mencoba untuk mengendalikan dirinya untuk tetap waras, meskipun mungkin di bawah alam sadarnya. Dinar sudah menusuk-nusuk perut Damar dengan membabi buta, Dinar meraih buket bunga dari Damar.


Damar membalikkan tubuhnya, melangkah menuju ruangan kerjanya terlebih dahulu. Dinar melangkah mengekori Damar dari belakang, pintu ruangan terbuka. Damar menekan saklar lampu, menghidupkan lampu ruangan. Sebelum melangkah mendekati meja kerjanya, yang hanya dimiliki oleh Damar saja. Bahkan Dinar mengalah untuk menjadikan ruangan kerja Damar, sebelumnya ruangan ini adalah ruangan kerja Dinar. Wanita ini harus mengorbankan banyak hal untuk Damar namun, inikah balasannya?


"Mas," panggil Dinar dengan intonasi pelan.


Damar membuka kancing kemejanya, sebelum membalikkan tubuhnya yang tadinya sempat membelakangi Dinar. Menjadi saling berhadapan dengan Dinar, dahinya kembali mengerut. Dengan sebelah alis mata terangkat tinggi. "Ada apa, Din?"


Dinar mengembuskan napas kasar, yang entah untuk ke berapa kalinya, ia harus begitu. Dinar merasa dadanya sesak melihat Damar yang masih bisa terlihat biasa saja, setelah apa yang dilakukan di belakang Dinar. Sebenarnya sudah berapa tahun hubungan Damar berjalan dengan gadis itu? Dan sejauh mana? Sampai keluar masuk hotel. Dada Dinar nyeri, oh, Tuhan! Sakit sekali hatinya.


"Bagaimana dengan hari ini? Apakah ada banyak kelas yang Mas Damar ajari hari ini? Sampai sebegitu sibuknya? Aku rindu sekali sama Mas," ucap Dinar dengan nada sebisa mungkin untuk terdengar biasa saja.


Ekspresi wajah ceria, namun penuh dengan rasa gamang. Damar mengangguk pelan, pendusta! Pria ini dengan wajah datar berbohong. Sebenarnya apa yang terjadi pada Damar? Apa kurangnya Dinar? Hingga Damar harus bermain dengan anak remaja. Apakah karena Dinar tidak terlihat lagi menarik di mata Damar? Hingga Damar berpaling.


"Ya, hari ini aku full, mengajar di beberapa kelas. Karena itulah aku harus pulang larut," balas Damar dengan intonasi biasa. "Apakah ada hal yang penting yang ingin kamu bicarakan?"


Dinar menipiskan bibirnya, sebelum mengeleng pelan. "Apakah Mas Damar mau aku siapkan air hangat untuk membersihkan diri?"


"Ya, tolong, ya," jawab Damar dengan nada lemah.


Dinar mengangguk dan mengulas senyum, wanita adalah makhluk yang tegar. Wanita bisa ikut bersandiwara seakan tidak terjadi apa-apa, meskipun hatinya terasa remuk. Dinar membalikkan tubuhnya, melangkah keluar dari ruangan kerja Damar. Pintu ruangan ditutup sedikit, menyisakan sedikit celah. Ingin kembali melangkahkan kaki ke kamar mandi, dering ponsel di dalam membuat langkah kaki Dinar urung.


"Halo," sapa Damar dengan nada begitu lembut.


Dinar membeku, untuk beberapa saat. Masih berdiri di balik pintu, Damar terdengar terkekeh manja.


"Iya, aku sampai dengan selamat di rumah, Sayang. Kenapa kamu masih belum tidur? Ini sudah malam, loh!" seru Damar kembali terdengar.


Dinar mengepalkan kedua tangannya, apakah selama ini Damar seperti ini? Berbicara selembut itu. Intonasi nada yang pernah Dinar dengar di masa mereka masih berpacaran, lalu setelah menikah. Mulai berubah, tidak ada lagi sapaan lembut penuh kasih sayang. Damar mulai berubah, setelah Dinar menjadi istri Damar. Saat semuanya diserahkan oleh Dinar pada Damar. Dada Dinar semakin terasa sesak, mendengar kembali suara Damar. Sebelum Damar melayangkan kecupan pada ponselnya, untuk menutup pembicaraan.


Dinar melangkah menuju kamar mandi, kedua matanya memerah. Sebelum tumpah di ruangan tamu, Dinar memilih menangis sendirian, seperti biasanya.

__ADS_1


***


"Dinar!" seru Putri dengan nada lantang.


"Ah? Oh? Apa?" tanya Dinar dengan ekspresi membodoh.


Putri menghela napas kasar, apa dengan sang sahabat? Kenapa Dinar malah sering melamun. Beruntung pemilik butik tidak di tempat, beberapa kali Dinar dimarahi oleh pembeli. Karena Dinar memberikan bahan yang berbeda dari apa yang di minta oleh pembeli, padahal kemarin adalah hari kencan Dinar dan Damar.


"Kamu yang kenapa? Kenapa kamu satu hari ini terlihat begitu bengong?" tanya Putri dengan nada khawatir.


Dinar mengeleng kecil, dan berkata, "Bukan, apa-apa. Kayaknya aku mengantuk, deh! Makanya susah fokus."


Kilah Dinar terdengar begitu letih, mulut Putri terlihat terbuka. Namun terpaksa terkatub kembali, karena tidak ingin memaksa Dinar untuk berbicara. Bisa jadi Dinar ada masalah, yang membuat pikiran wanita satu ini terganggu.


"Kamu pulang saja, biar aku nanti bilang ke Bos kalau kamu sakit. Dan ada Eva yang akan mengantikanmu, daripada Bos yang melihat kamu sekacau ini," ucap Putri dengan nada khawatir.


"Tapi, ak—"


"Sudahlah, Dinar. Bukan hanya Putri saja yang melihatnya, pulanglah. Biarkan kami yang menghandle butik, dan Bos. Daripada kamu yang kena marah sama Bos. Mumpung, Bos belum datang," ucap Eva menimpali.


Dinar mau tak mau mengangguk kecil, dan tersenyum pedih. "Terima kasih, Putri! Eva!"


***


Makan malam keluarga terasa begitu ceria, meski hanya ada keluarga inti dari keluarga Wijaya. Dinar makan dalam diam, hanya Amira yang berceloteh. Membicarakan tentang rencana nikah yang sedang dipersiapkan, sedang Damar hanya mendengarkan saja.


"Nggak usah berlebihan, Amira. Yang dibutuhkan saja," nasihat Sri pada sang putri.


Amira mengangguk pelan, namun dari ekspresi wajahnya terlihat jelas jika Amira terpaksa. Sri meletakkan lauk pauk di atas piring Dinar, membuat Dinar mengangkat pandangan matanya ke arah sang ibu mertua.


"Terima kasih, Ma!" seru Dinar dengan nada lembut.


"Makan yang banyak menantuku," balas Sri dengan wajah bahagia.


Damar hanya melirik kecil keduanya, sebelum sendok dan garpu di letakkan di atas pering. Damar meraih gelas, meneguk air minumnya hingga tandas.


"Pa! Ma!" seru Damar memangil kedua orang tuanya.

__ADS_1


Sri dan Jon menoleh ke arah sang putra, panggilan Damar membuat Dinar maupun Amira ikut melirik ke arah dosen ganteng satu ini.


"Ada apa, Damar?" tanya balik Sri.


"Aku dan Dinar akan segera bercerai," ucap Damar dengan lantang dan jelas.


Bagaikan disambar petir di siang bolong, orang-orang di meja makan langsung terkejut. Dinar menahan napasnya untuk beberapa saat, ternyata ini akhirnya. Damar, sang suami menceraikannya di acara makan malam keluarga.


"Damar! Jangan bercanda begitu, gak baik," sahut Sri dengan nada ketakutan.


"Apa yang kau omong? Masa bercanda di saat seperti ini," timpal Jon.


"Bukankah Mama dan Papa sudah tahu, kalau aku berselingkuh? Dia sedang hamil Pa! Ma!" sahut Damar tanpa rasa bersalah. Sebelum membawa pandangan matanya ke arah sang istri. "Maafkan aku, Dinar! ini mungkin mengejutkan untukmu. Aku tidak bisa melanjutkan rumah tangga lagi denganmu. Aku tidak akan banyak alasan, karena ini memang salahku. Aku akan memberikan hakmu, harta yang harus kau dapatkan."


Dinar terlihat tenang, sedangkan tiga orang di meja makan tampak pucat pasi.


"Alasannya," balas Dinar dengan nada tenang. "Katakan! Meskipun itu hanya alasan tidak masuk akal."


"Haruskah?" tanya Damar dengan nada mencemooh.


Damar telah letih dengan Dinar, wanita tidak lagi mengairahkan. Tidak lagi terlihat menyegarkan mata, tidak membuat jantung Damar berdebar keras.


"Ya," sahut Dinar.


"Kau, mandul! Dan perempuan yang keras kepala. Aku bosan hidup denganmu. Kehidupan yang monoton, tidak ada gairah. Bahkan tidak ada anak. Lalu, kau masih bertanya apa, alasanku?" Damar menjawab tanpa hati.


"DAMAR!" hardik Jon dengan nada menggelegar.


Dinar menarik senyum kecil, sebelum kepalanya mengangguk. Dinar bangkit dari posisi duduknya, Amira panik. Gadis itu menyentuh tangan Dinar dengan tangan bergetar, Sri tak kalah paniknya.


"Pada akhirnya, kau sama saja. Ya, harusnya aku tidak semudah ini menikah dengan seorang pria. Aku dukung semua hal, sampai kamu menjadi seorang Dosen. Tanpa menutut apapun, aku lupa. Jika ****** kecil itu lebih menarik. Aku sempat lupa diri, kalau lalat tidak akan pernah paham. Kalau bunga lebih harum dari pada bangkai," sindir Dinar.


Membuat kedua sisi rahang Damar mengeras, Dinar menepis tangan Amira. Keluarga Wijaya langsung kalang kabut, Dinar melangkah pergi meninggalkan meja makan. Meskipun ibu dan ayah Damar memangilnya, Amira menatap sinis ke arah Damar.


"Mas, benar-benar membuat aku kecewa. Bukankah tiga hari yang lalu sudah aku katakan. Untuk meninggalkan gadis itu, tapi ini, apa? Mas sudah tidak waras!" teriak Amira marah.


Wajah Amira memerah, sebelum meninggalkan ruangan makan. Damar menghela napas kasar, apa salahnya dengan cinta? Perasan Damar sudah tak lagi sama. Apakah berdosa jatuh cinta?

__ADS_1


"Ah, sialan!" maki Damar pelan.


__ADS_2